Kenangan Travelling Ke Yogyakarta

Catatan Adi - Seperti kelakar istri adalah wanita paling cantik di dunia, demikian pula aku mendeklarasikan Surockboyo sebagai kota paling indah. Tetapi ampun duh Gusti, rasanya aku tak luput dari dosa jahanam yang disebut: selingkuh. Surabaya tetap nomor satu, tetapi Jogja juga istimewa.

Apa istimewanya Jogja, wilayah kuno-ketinggalan jaman yang sampai detik ini masih keukeuh berbentuk feodal?

Sebagai Suroboyo citizen yg egaliter, memiliki seorang raja yang duduk di singasana emas dengan dikelilingi para selir dan dayang mbahenol berkemben adalah sebuah hal absurd. Tetapi tidak bagi rakyat Jogja. Terlebih Sultannya bukan pelestari absolutisme!

Ngarso Dalem sering ubyakan, mbulusukan, dan jalan-jalan bersama rakyatnya. Sultan juga menikmati takdir darah birunya, yang bikin ngiri banyak orang, hanya bersama satu wanita. Sungguh, jika ini dilakukan oleh para raja jaman dahulu, rakyat tak akan gegabah memusnahkan feodalisme secara besar-besaran.

Demokrasi memang yang terbaik, tetapi ketika para politisi kemudian mendominasi kekuasaan secara keparat dan mewariskannya pada istri, anak dan keluarganya, maka sejatinya itu sama brengseknya dengan si Louis yang meraja di Perancis.

Jogja memiliki demokrasinya sendiri. Dan itu dijamin undang-undang. Tak perlu khawatir kebebasan akan dipasung di sini. Justru di tempat ini, rakyat benar-benar mengamalkan demokrasi.

Demokrasi ala Jogja terpancar dari beteng-beteng kolonial yang terawat, juga mal-mal modern yang mulai bertebaran. Kebebasan di Jogja terlihat dari aktivitas dakwah Muhammadiyah, bendera GPK yang berkibar-kibar, kegiatan diskusi ala PRD dan organ turunannya yang masih lestari atau kantor penerbit kiri yang tetap disegani.

Semuanya hidup dan berkembang di Ngayogyakarto Hadiningrat, bersama dengan obrolan khas para warga di pos ronda atau angkringan.

Maka jangan heran kedamaian tetap terjaga di sini. Semoga saja, istimewanya Jogja tetap lestari dan bestari, di kala radikalisme dan kebencian yang pada dasarnya hanya digerakan oleh oknum pemburu kepentingan, terpentalkan oleh mental warga Jogja.



Mental mayoritas warga Jogja yang rukun, guyub dan lugu. Mental warga Jogja yang demokratik dan berbhineka. Mental warga Jogja yang mau tulus menyambut pendatang apapun agamanya. Mental warga Jogja yang tidak mau ditunggangi oleh politikus yang berlamis lambe menjanjikan kesucian dan tetek mbengeknya, tapi ujung-ujungnya menghadirkan perpecahan.

Jogja, selalu istimewa. Seistimewa kamu dan hati tulusmu.

Gusti, maafkan aku berselingkuh dengan JogjaMu.
Prawirotaman, 23 Juni 2017

Rock You Like Jogja

Catatan Adi

0 Response to "Kenangan Travelling Ke Yogyakarta"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel