Nasib Tragis Dua PARTINDO

Catatan Adi-Partindo adalah salah satu partai yang berpedoman pada Marhaenisme. Dalam sejarah ada dua Partindo. Bagaimana kiprah mereka? Mari kita nikmati dalam tulisan ke tujuh dari Seri Artikel  : Catatan Marhaenis yang kami terbitkan dalam memeriahkan Bulan Bung Karno. 



NASIB TRAGIS DUA PARTINDO / PARTINDO / CATATAN MARHAENIS / CATATANADIWRITER.BLOGSPOT.COM

Dalam dunia politik, ada banyak partai yang memiliki nama yang sama. Kesamaan tersebut muncul karena banyak hal. Bisa karena kebetulan, numpang tenar atau karena adanya saling klaim.

Pada pemilu 1999, ada tiga partai yang menggunakan nama PNI, masing-masing adalah  PNI (Pimpinan Ny. Supeni), PNI Massa Marhaen dan PNI Front Marhaenis. Ditambah PDI, PDI Perjuangan dan PND, maka total ada 6 partai yang memakai lambang banteng sekaligus mempunyai produk jualan yang mirip-mirip.

Sebenarnya hal yang demikian sudahlah sering terjadi. Bahkan di masa lampau sekalipun, kesamaan nama partai adalah hal yang cukup mudah ditemukan. Salah satu yang paling terkenal adalah Partai Indonesia atau Partindo.

Setidaknya ada dua Partindo yang sempat mewarnai kehidupan politik Indonesia. Partindo yang pertama adalah sebuah partai yang eksis di masa perjuangan kemerdekaan. Yang kedua, hidup di masa orde lamanya Bung Karno.

Partindo 1931

Partai Indonesia awalnya didirikan sebagai upaya menyelamatkan PNI. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, PNI 1927 hancur setelah tokoh-tokoh kuncinya ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial.

Latar Belakang

Partindo 1931 sering dianggap (dan menganggap diri) sebagai pewaris sah PNI. Hal ini tidak berlebihan mengingat setidaknya 3 fakta : Sama-sama berazas nasionalis, didirikan oleh para tokoh PNI dan dipercaya oleh Bung Karno.

Latar belakang Partindo sendiri jauh dari kata manis. Bahkan bisa dikata partai ini lahir di tengah keadaan yang penuh ancaman.

Pada 29 Desember, Bung Karno diciduk aparat Belanda. Sudah sejak lama Belanda mengawasi gerak-gerik pentolan PNI itu.

PNI memang sedang panas-panasnya. Selain makin populer di tengah masyarakat, PNI juga makin pedas mengkritik pemerintah kolonial.

Selain Sukarno ada ratusan pengurus dan tokoh penting PNI yang ikut ditangkap. Kabarnya sampai 180 orang.

Begitu Sukarno dan rekan-rekannya di tangkap, PNI seperti banteng limbung. Gerak PNI mulai tak sehebat sebelumnya.

Paska Sukarno ditangkap, pimpinan PNI beralih ke Sartono, sosok pengikut Sukarno dan seorang yang cukup cakap berorganisasi.

Mengingat Belanda nampaknya tidak main-main terhadap ancamannya, Sartono membekukan semua cabang partai. Bahkan pada 25 April 1931, PNI menyatakan diri bubar dan aset-aset partai dihibahkan, antara lain ke Perguruan Rakyat dan Taman Siswa.

Pada 29 April 1931, berdiri Partai Indonesia atau Partindo. Ketuanya adalah Sartono yang empat hari lalu membubarkan PNI.

Ideologi

Jelas sekali bahwasanya sebagai penerus PNI, Partindo adalah sebuah partai Marhaenis. Selain juga berlambang banteng, jargon-jargon khas marhaen sering didengungkan. Selain itu gerakan-gerakan Partindo yang menggemari aksi massa memang adalah ciri dari PNI.

Program Dan Tujuan

Seperti khas partai-partai nasionalis, Partindo menginginkan Indonesia merdeka penuh. Namun berkaca dari PNI, Partindo lebih hati-hati dalam melangkah. Adapun beberapa seruan pokok Partindo adalah :

Perluasan hak-hak politik dan pembentukan pemerintahan berdasarkan demokrasi.
Perbaikan keadaan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Gerakan-gerakan Partindo sangat mirip dengan PNI. Terlebih setelah Sukarno keluar dari penjara dan ikut bergabung.

Beberapa gerakan Partindo yang khas antara lain diadakannya rapat-rapat umum, penyelenggaraan kursus-kursus politik dan menyerang kolonialisme melalui surat kabar, yakni Suluh Indonesia Muda dan Fikiran Rakyat.

Tokoh-Tokoh Penting

Tokoh utama dari Partindo 1931 adalah Sartono. Dia adalah mantan petinggi PNI sekaligus sosok yang membubarkan PNI.

Banyak yang tidak menyadari peran yang sangat penting dari ketua Partindo ini. Selain sebagai politikus, Sartono juga adalah Ketua DPR 1950-1959 serta Gubernur Bank Indonesia.

Selain Sartono, nama yang harus disebut tentu saja Sukarno. Bahkan pada kenyataannya, Sukarno mampu berbicara lebih banyak dibanding Sartono sang pendiri.

Sukarno berhasil melipatgandakan kader Partindo dan mengembangkan organisasi partai. Ini tentu saja sangat bermanfaat bagi Partindo.

Adam Malik juga harus disebut. Tokoh besar yang karirnya cemerlang baik di masa Sukarno maupun Suharto itu adalah pemimpin Partindo cabang Pematang Siantar.

Beberapa nama lainnya yang ternyata pernah berkecimpung di Partindo adalah A.K Gani, M. Yamin dan Amir Sjarifoedin. Walau pada akhirnya ketiga tokoh raksasa tersebut lebih banyak aktif di partai-partai yang lain.

Partindo vs PNI Pendidikan

Partindo memiliki kultur yang sama dengan PNI 1927. Hal yang sama juga diakui oleh PNI Pendidikan dimana salah satu tokohnya adalah M. Hatta. Namun entah kenapa, dua partai Marhaenis itu tak menemukan kata sepakat untuk berfusi.

Bung Karno juga berusaha keras mempersatukan keduanya, namun sia-sia. Akhirnya Bung Karno lebih memilih Partindo tinimbang PNI Pendidikan yang lebih mirip ormas dengan prinsip pengkaderan daripada aksi massa.

Bubarnya Partindo 1931

Persis seperti PNI, Partindo akhirnya bubar, Pun sama, alasan utamanya adalah karena ditangkapnya para pemimpinnya.

Belanda memang kebacut geram dengan Sukarno. Bapak Marhaenisme itu nampaknya ogah untuk berhenti orasi. Akhirnya Belanda menciduk kembali Bung Karno pada 1 Agustus 1934 dan membuangnya ke Ende, Flores.

Partindo limbung. Ini memang ciri dari partai massa, yakni kurangnya stok pimpinan. 
Akhirnya berangsur-angsur, Partindo melemah. Puncaknya, ketika PPKI meminta Partindo tidak bermanufer terlalu keras.

Sartono tersinggung. Ia menganggap PPKI hanya sebuah federasi partai dan organ politik yang tidak punya kuasa untuk melarang Partindo.

Tetapi Sartono juga sadar bahwa Partindo tidak sekuat ketika masih ada Sukarno. Akhirnya pada 1939, Partindo resmi bubar.

Partindo 1958

Pada saat itu PNI sedang krisis. Walau menang pemilu 1955, namun banyak yang menilai PNI sudah mulai keluar dari jalur ideologinya. Salah satu orang yang berpendapat demikian adalah Asmara Hadi.

Latar Belakang

Asmara Hadi jengah melihat rekan separtainya. Ia yang juga adalah anggota Komite Khusus PNI yang bertugas merancang ideologi partai, merasa PNI sudah melenceng.

Akhirnya ia pun memilih jalan ekstrem. Keluar dari PNI dan mendirikan sebuah partai baru tetapi dengan nama yang sudah sangat populer di telinga rakyar. Partai Indonesia atau Partindo.

Partindo baru ini didirikan pada tanggal 5 Agustus 1958. Tentu ini mengundang reaksi dari para pengurus PNI lainnya. Namun Asmara Hadi tidak peduli.

Ideologi

Ada yang unik dari Partindo Asmara Hadi. Ia dengan usil membuat suatu rumusan nakal yang membuat bingung peta politik dan ideologi Indonesia.

Dengan tegas ia ungkapkan bahwasanya Marhaenisme adalah Marxisme ala Indonesia. Tentu semua orang terkaget-kaget. Bukankah tiga tahun lalu Marhaenisme mati-matian berjuang di pemilu melawan Marxisme yang diusung PKI?

Persis seperti Partindo ketika berkonfrontasi dengan PNI Pendidikan, Partindo juga melakukan hal yang sama dengan PNI / Front Marhaenis.

Hebatnya lagi, Bung Karno Sang Bapak Marhaenisme bagi PNI, juga mengiyakan konsep Asmara Hadi. PNI seperti dipermalukan dua kali.

Program dan Tujuan

Tujuan Partindo adalah memurnikan ajaran Marhaenisme bung Karno. Walau bersitegang dengan PNI mengenai definisi Marhaenisme, namun nyatanya Partindo sempat mendapat perhatian Bung Karno.

Program-program Partindo antara lain adalah menambah jumlah cabang. Salah satu kegemilangan Partindo adalah mampu merayu Partai Persatuan Dayak untuk melebur dengan Partindo, walau akhirnya partai lokal Kalimantan itu keluar dan bergabung dengan IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia).

Tokoh-Tokoh Penting.

Asmara Hadi adalah tokoh penting sekaligus pendiri Partindo. Walau begitu, ketua partai baru ini adalah Winarno Danuatmojo.

Beberapa nama lain yang patut disebut antara lain Werdojo, Muwalladi dan Budhiyarto Maroatmodjo. Selain itu ada juga nama F. Suharto Rebo dan Adisumarto. Dua orang terakhir ini bernasib sangat tragis paska Suharto berkuasa.

Partindo 1958 vs PNI / Front Marhaenis

Aksi saling tuduh dan ejek mewarnai hubungan Partindo dan PNI / Front Marhaenis.
Front Marhaenis menilai Partindo sebagai partai sempalan berisi orang—orang pengkhianat yang tak tahu malu. Bahkan mereka menilai para kader Partindo sebagai manusia-manusia oportunis yang hanya mencari keuntungan diri sendiri.

Hal yang kurang lebih sama juga dikatakan Partindo kepada PNI /Front Marhaenis. Aksi saling tuduh ini juga berlangsung di daerah-daerah.

Bubarnya Partindo 1958

Paska peristiwa 1965, Suharto dan Angkatan Darat membersihkan kekuatan-kekuatan kiri. Banyak organ non-komunis juga turut menderita. Salah satunya tentu Partindo.
Sebagai partai yang loyal pada Bung Karno, Partindo memang harus dijinakkan. Banyak tokoh Partindo yang dijebloskan ke penjara lalu disidang. Partindo juga disebut sebagai Partai Koloni ke-5 PKI.

Akhirnya lambat laun Partindo menghilang dari dunia politik Indonesia.

Kesamaan Partindo 1931 dan Partindo 1958

Kedua partai ini memiliki kesamaan, antara lain.

Sama-sama mengaku Partai Marhaenis.

Sama-sama dekat dengan Bung Karno.

Sama-sama bersitegang dengan PNI, baik PNI Pendidikan maupun PNI / Front Marhaenis

Sama-sama berakhir tragis.

Seri Artikel : Catatan Marhaenis / catatan adi


0 Response to "Nasib Tragis Dua PARTINDO"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel