cerpen tentang pengkhianatan - catatanadi.com
Drama untuk Kakek


Suatu hari di bulan April, 1966. matahari bersinar begitu teriknya. Sedang angin panas menyapu jalanan yang kering. Sersan Cokro baru saja akan kembali ke kantornya ketika tiba-tiba muncul seorang laki-laki memanggil namanya.
Merasa dipanggil, Sersan Cokro menoleh. Sejurus kemudian lelaki itu mengacungkan sebuah pistol dan menembakkannya ke dada sang sersan. Sersan Cokropun ambruk. Darah segar merembes membasahi tanah. Lalu lelaki itupun mencoba kabur.
“Berhenti!”, teriak Kapten Mahmud sambil mengacungkan pistolnya. Lelaki itu tak menurut. Maka dengan sigap Kapten Mahmud menembaki pembunuh biadab itu. Tapi pembunuh itu cukup beruntung. Ia mampu lolos dari terjangan timah panas Kapten Mahmud, sebelum akhirnya berlari dan menghilang di sudut kota. Ia merasa telah aman..
Tapi Tuhan Maha Kuasa. Tanpa diketahuinya, lelaki itu menjatuhkan sebuah dokumen yang sangat penting. Sebuah kartu anggota. Ternyata pembunuh itu adalah anggota partai terlarang. Kapten Mahmud segera mengambilnya. Esoknya, seluruh pengikut partai itu ditangkap dan diamankan. Kotapun kembali tentram.
Lalu tepuk tangan membahana, bahkan disertai sorakan tanda kekaguman.
 “Wah cerita yang bagus Ali”, puji Pak Tomi.
“Terima kasih Pak”, sahutku
“Ceritamu begitu hidup, imajinasimu luar biasa!”, lanjut Pak Tomi dengan senyum mengembangnya.
“Tapi ini cerita sungguhan, pak”, lanjutku kembang kempis. Tiba-tiba ekspresi Pak Tomi berubah.
“Sungguhan katamu?”, ia bertanya padaku.
“Iya pak, ini cerita hidup kakek saya, kakek Mahmud”. Pak Tomi diam sejenak sebelum akhirnya mempersilahkanku duduk. Aku tak bisa membayangkan bagaimana gembiranya kakek ketika tahu ceritanya yang aku bacakan membuat semua kagum.
Begitu sampai rumah, segera kuhampiri kakek dikamarnya. Kuketok perlahan. Tak ada jawaban. Ternyata kakek sedang tidur. Lalu akupun menuju ruang makan. Kuceritakan semua pada ayah dan ibu.
“Benarkan kata ayah, kakekmu itu bukan orang sembarangan. Sudah berapa puluh gerombolan pemberontak itu ditangkap atau ditembak kakekmu”,
“Ayah, Ali kan masih kecil” sahut ibuku.
Aku pun mengangguk-angguk. “Kata Pak Tomi, akan diadakan pementasan drama. Dan cerita dramanya  diambil dari cerita Ali”, kataku.
“Benarkan. Gurumu saja terpesona”.
Ingin kuberitahukan ini pada kakek, tapi ia sedang tidur, tak enak membangunkannya. Apalagi kondisinya sedang agak buruk.
Esoknya naskah dibagi. Pak Tomi yang menyusunnya. Jalan ceritanya benar-benar mirip cerita Kakek. Hanya beberapa adegan dan nama diganti, seperti Mahmud diganti Sani dan  Sersan Cokro diganti Baskoro.
Begitu pulang aku langsung mencari kakek. Tapi ternyata kakek sedang kambuh. Ibu membawanya ke rumah sakit. Kata ibu kakek harus rawat inap selama sekitar seminggu.
Aku sedikit kecewa. Ingin sekali kuceritakan semua pada kakek. Tapi aku tak punya waktu. Setiap pulang sekolah, aku harus berlatih drama yang akan pentas seminggu lagi. Kadang latihannya sampai sore hingga aku sudah sangat letih.
Tapi kesempatan itu akhirnya datang. Pada hari Minggu aku dan ayah menjenguk kakek. Kuceritakan semua padanya. Termasuk beberapa nama yang diubah oleh Pak Tomi.
“Kamu itu, nama Kakek kan Mahmud Sani. Berarti guru kamu tidak kreatif”, ujar ayahku. Kamipun tertawa. Kecuali kakek.
Bibirnya tertutup rapat, tapi giginya saling bergesekan. Ia seperti sedang menerawang. Lalu tiba-tiba tangan Kakek mencengkram pundakku.
“Siapa nama gurumu?”
“Pak Tomi. Tomi Prawira. Bahkan Pak Tomi juga mengundang kakek untuk melihat drama kami.”
“Oh iya? Katakan aku pasti datang”, ujar kakek setelah kembali ramah.
Tapi ayah memarahiku habis-habisan. Kata ayah, gara-gara aku, kakek berkeras ingin menonton pementasan, padahal keadannya belum fit benar. Sebagai rasa bersalah, aku bertekad tampil sebaik mungkin. Apalagi aku berperan sebagai Kapten Mahmud Sani.
Lalu hari pementasan tiba. Semua wali murid hadir, termasuk Kakek Mahmud. Dramapun dimulai. Adegan demi adegan dimainkan. Kulihat kakek begitu serius menonton drama kami. Lalu adegan paling dramatispun tiba.
“Akan kulaporkan semua pada Jendral”
“Apa kau yakin”
“Ya. Bayangkan Sani, berapa banyak jiwa yang akan terselamatkan, jika Jendral tahu ternyata bukan mereka pelaku utamanya.!”.
“Baiklah Baskoro usulmu memang bagus. Tapi sebelumnya, ada pesan dari Jendral untukmu!”, sahutku sambil mengambil pistol mainan dari balik bajuku.
“Oh ya? Apa itu?”.
“ahhhh….”. tiba-tiba dari bangku penonton terdengar jeritan. Ternyata kakek terjatuh. Ia terjerembab dan memegangi dadanya. Seakan seorang telah menembaknya.
Ketika aku hampiri, ia memandangku dan berkata,”Ucapkan maaf kakek pada gurumu, Tomi Prawira Baskoro”.
Itulah kata terkahir kakek. Sebelum akhirnya ia meninggal dengan tersenyum. Tak pernah kulihat ia tersenyum sebahagia itu.
*********************************************************
Catatan Penulis : Terima kasih sudah membaca. Dilarang memplagiat cerpen ini dalam bentuk apapun. Dipersilahkan untuk membagikan ke sosial media Anda jika berkenan demi mendukung keberlangsungan Catatan Adi - Blog Kaum Progresif.

Baca juga aneka cerpen lainnya serta esai dan puisi. Semoga bisa menghibur dan berkenan di hati Anda semua.