Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Surat Untuk Diriku 10 Tahun Lagi

Apa kabar, kamerad. Semoga selalu sehat dan bahagia.

Perkenalkan aku adalah dirimu 10 tahun sebelumnya. Maka jika kau sekarang jaya serta sudah mencapai apa yang aku (maksudku kita) cita-citakan dahulu, akupun ikut senang. 

Hanya aku berpesan, jika memang secara umum kau sudah hidup enak, dan semoga itu dari hasil kerja keras kita berdua selama ini, jangan kau lupakan aku. Jangan kau lupakan darimana kau berasal, siapa kau sebelumnya atau untuk apa kau bekerja keras.

Kita adalah produk dari lingkungan dan orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita, sekejap ataupun selamanya.

Ingatlah untuk terus berjalan lurus, jangan berbelok ke kiri ataupun ke kanan. Ada banyak orang apes di masa tua hasil dari kegagalannya menjaga jalannya tetap lurus di masa muda.

Ingat juga untuk hanya makan dari hasil kerja kerasmu, jangan merampas keringat orang lain apalagi berbuat culas. Itu semua dilakukan oleh para pecundang biadab yang tak punya hati. Sedang kau, kamerad, jangan sekali-kali melakukannya. 

Ohya, apakah kau sudah punya anak? Seperti apa rupanya? Tampankah dia? Atau sejelita mentari di Senin pagi? Jaga dia sama seperti ayah ibu dulu menjaga kita dengan nyawa, kebenaran dan kerja keras.

Ngomong-ngomong soal kerja keras, jadikan itj nafas kehidupanmu senantiasa. Dengan kerja keras dan atas restu Tuhan kita masih bisa mempertahankan hidup dengan cukup baik.

Menyinggung soal Tuhan, bagaimana denganmu, diriku di masa depan? Bilakah kau masih beragama? Dunia memang senantiasa berubah. Banyak bangsa yang beralih kepercayaan. Itu semua keniscayaan seturut laju jaman. Namun jika boleh aku berucap, agama kakek nenek kita tak pernah mengecewakanku. Semoga juga berlaku bagimu.

Lantas seperti apa keadaan negeri ini di masamu? Apakah makin sentosa atau bertambah buruk? Aku doakan yang terbaik saja dan sedapatnya kau tetap mengusahakan kesejahteraan negeri ini tempat Tuhan mengijinkanmu hidup di atasnya.

Ataukah kau sudah mencari negeri baru, sama seperti Musa mencari dan mendapatkan Tanah Palestina bagi bani Israil? Jika itu yang terjadi, akupun ingin ikut bersukacita. Semoga itu jadi hal yang baik bagi masa depan kita berdua.

Mengenai masa depan, aku percaya pada uang dan kekayaan. Aku menulis ini karena aku berjuang untuk tidak jadi munafiq yang bermuka bunglon. Percayalah pada uang, jika memang benda itu masih keramat. Simpan baik-baik dan kumpulkan sebanyak mungkin asal tidak sampai menyetir kehidupan keluargamu. Uang yang didapatkan dengan cara yang baik akan melahirkan kesentosaan.

Juga kesehatan. Maaf kamerad, kau harus perbikir serius tentang hal ini. Usahakan selalu olahraga dan jaga pola makan.

Apakah kau juga masih rajin ngeblog? Bagaimana side-job yang aku rintis? Bilakah itu berkembang dan membantumu di masa depan?

Surat untuk diri sendiri
Surat

Akhirnya harus kuakhiri surat ini. Semoga kau bahagia dan aku diijinkan membacanya 10 tahun lagi. Tuhan memberkati kita berdua.

Adi
Adi Saya adalah seorang penulis dan blogger yang sudah mendalami dunia blog sejak 2010. Saya menulis tentang banyak hal, seperti games, teknologi, filsafat, pendidikan, politik, fashion, olahraga, buku, kuliner, dll. Pernah mengikuti berbagai pelatihan dan kursus dari NGO maupun pemerintah.

Posting Komentar untuk "Sebuah Surat Untuk Diriku 10 Tahun Lagi"