Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Enuma Elish dan Epik Gilgames

Enuma Elish dan Epik Gilgamesh adalah dua karya tulis purba paling fenomenal serta kontroversial. Isinya bukan semata-mata kisah dongeng biasa seperti layaknya mitos dan legenda, namun menyangkut juga sisi teologis dimana diceritakan banyak hal yang mirip dengan yang dimiliki Kitab Suci Yahudi maupun Kristen.

Sejak penemuannya, banyak tanggapan yang muncul. Ada yang kemudian menyanggahnya sebagai hanya dongeng biasa yang lahir dari imajinasi orang-orang Sumeria Kuno seperti layaknya mitos suku-suku asing dari belahan bumi yang lain yang baru ditemukan.

Namun sebaliknya, ada yang menggunakannya sebagai senjata untuk meruntuhkan iman orang Kristen dan Yahudi. Hal ini bisa terjadi karena dalam Enuma Elish dan Epik Gilgamesh ada banyak kisah tentang penciptaan dunia, banjir besar maupun munculnya manusia di bumi, sesuatu yang menjadi salah satu fokus utama dalam Bible maupun Taurat.

Enuma Elish

tablet enuma elish
tablet enuma elish

Apa itu Enuma Elish? Enuma Elish adalah tujuh tablet purba yang berisi sajak tentang para dewa dari mitologi Mesopotamia Kuno,

Seperti diketahui, Mesopotamia adalah wilayah munculnya peradaban maju tertua yang diakui hingga saat ini. Di sana muncul juga berbagai ajaran, kepercayaan dan cara pandang yang beragam yang biasa di sebut agama Mesopotamia Kuno.

Enuma Elish diperkirakan merupakan karya teologis yang digunakan untuk ritual atau ibadah dari bangsa-bangsa yang mendiami wilayah Mesopotamia, khususnya bangsa Babel/Babilonia.

Tablet dari kisah ini sendiri terdiri dari tujuh buah sehingga sering disebut sebagai tujuh tablet tentang penciptaan (The Seven Tablets of Creation).

Penemu tablet-tablet ini adalah Austen Henry Layard di Irak pada tahun 1849. Sedangkan pada tahun 1876, George Smith menterjemahkannya menjadi The Chaldean Account of Genesis

Isi dari Enuma Elish adalah pertempuran antara dua kelompok dewa yang menghasilkan penciptaan semesta, termasuk juga penciptaan manusia. 

Dikisahkan pada awalnya semesta masih dalam keadaan kacau balau. Alam ini masih kosong dan terdiri dari dua elemen saja, yakni Air Asin dan Air Manis.

Air Asin adalah representasi dari Dewi Tiamat, sedangkan Air Manis adalah perwujudan dari Dewa Absu. Kedua dewa dan dewi ini kemudian bersatu dan melahirkan banyak dewa, termasuk diantaranya adalah Ea atau Enki. 

Para dewa ini tinggal bersama Tiamat dan Apsu, namun mereka sangat berisik dan mengganggu. Lalu Apsu berencana membunuh mereka semua. Tetapi Tiamat tidak setuju. Ia memberitahukan hal ini kepada Ea atau Enki, dewa terkuat dari antara semua dewa muda.

Ea lalu membunuh ayahnya sendiri menggunakan sihir. Dia membuat dewa Apsu tertidur lalu membunuhnya dan kemudian menjadi raja para dewa. . Hal ini sangat mengejutkan Tiamat. Karena sedih dan marah, ia lalu berencana membunuh para dewa, termasuk Ea.

Kekuatan Tiamat sangat ditakuti. Terlebih ia dibantu oleh Kingu, seorang dewa yang kuat dan menjadi suami barunya. Tiamat juga menciptakan sebelas monster yang menakutkan, termasuk manusia kalajengking untuk menghadapi para dewa.

Namun Ea akhirnya mampu mengalahkan Tiamat. Ia dibantu oleh Marduk, anaknya yang kemudian menjadi raja para Dewa. 

Pada akhirnya Marduk memotong-motong baigan tubuh Tiamat dan menciptakan daratan, sungai Efrat dan Tigris.

Marduk juga pada akhirnya menciptakan manusia sebagai pembantu (atau rekan) para dewa dalam memelihara kehidupan. Manusia pertama adalah Lulu. 

Epik Gilgamesh

Raja Gilgamesh
Raja Gilgamesh


Epik Gilgames adalah sebuah cerita kuno yang ditemukan oleh Hormuzd Rassam di Niniveh, Irak Utara pada tahun 1853. Kisah ini berasal dari abad 1300 sebelum Masehi.  Kisah ini menceritakan seorang raja bernama Gilgames yang berkuasa atas bangsanya, Uruk.

Gilgamesh adalah seorang campuran manusia - dewa, maka jangan heran ia memiliki kekuatan yang sangat besar melebihi manusia lainnya.

Sayangnya kekuatan itu digunakan untuk hal yang tak semestinya, seperti menindas rakyatnya. Ia bahkan meniduri setiap mempelai wanita sebelum hal itu dilakukan oleh calon suami sahnya.

Apa yang dilakukan oleh Gilgamesh pada akhirnya membuat dewa marah. Aruru sebagai dewi pencipta akhirnya menciptakan seorang manusia yang juga punya kekuatan besar, yakni Enkidu untuk mengimbangi Gilgamesh.

Enkidu digambarkan sebagai lelaki kuat yang dipenuhi rambut. Ia dekat dengan binatang dan berperilaku seperti binatang. 

Seorang pemburu melihat Enkidu sedang berada di hutan. Ia lalu melapor ke kerajaan. Seorang imam perempuan diutus untuk menyesatkan Enkidu. Namanya Shamat. Enkidu akhirnya berhubungan dengan wanita itu.

Akibatnya ia tidak diterima lagi dikawanan binatang karena mereka mencium bau aneh dari Enkidu. Merasa kesepian, Enkidu lalu kembali ke Shamat.

Wanita itu lalu menceritakan perihal Raja Gilgamesh yang kuat namun jahat. Enkidu tertarik untuk menghentikan Gilgamesh. Ia lalu mencarinya dan mereka bertemu lalu berkelahi. 

Perkelahian mereka cukup menarik perhatian. Meski adalah sosok yang kuat, tapi Enkidu kalah oleh Gilgamesh. Akhirnya mereka berteman baik. 

Petualangan keduanya dimulai. Mereka menuju hutan para dewa untuk mencari Humbaba, makhluk penjaga hutan itu.

Setelah mereka bertemu monster Humbaba, mereka berkelahi. Dengan bantuan Dewi Shamash, yakni dewi matahari, Gilgamesh berhasil menang. Humbaba minta ampun untuk tidak dibunuh karena jika itu terjadi, Enlil, dewa langit akan marah.

Gilgamesh tetap membunuhnya dan menebang pohon-pohon suci untuk dijadikan gerbang kota Uruk. Merekapun pulang. 

Setelah itu terjadilah hal yang tidak diduga. Ishtar, dewi penguasa Surga jatuh cinta dengan Gilgamesh. Namun Gilgamesh menolak cintanya. Ia lalu mengadu pada ayahnya Anu.

Ishtar meminta agar Anu melepaskan Banteng Surga untuk menghabisi Gilgamesh. Ia mengancam akan membebaskan semua orang mati dari Dunia Bawah jika permintaannya ditolak.

Akhirnya Anu membebaskan Banteng Surga. Hewan itu membuat kerusakan parah di Uruk dan membunuh banyak orang. Namun akhirnya sang Banteng Surga tewas ditangan Enkidu dan Gilgamesh. Mereka lalu memotong si banteng kemudian mempersembahkannya kepada Shamash.

Kemudian Gilgamesh bermimpi. Dalam mimpinya para dewa marah dan akan membunuh salah satu dari kedua pahlawan Uruk itu. Tidak beberapa lama, Enkidu jatuh sakit dan mati.

Gilgamesh sangat bersedih. Ia membangun sebuah patung emas raksasa untuk sahabatnya itu. Ia juga memakai pakaian dari kulit binatang dan berkeliling dunia demi meratapi Enkidu.

Lama kelamaan, sebuah perasaan menyelimuti Gilgamesh. Perasaan aneh itu menyadarkannya akan kematian. Ia takut mati. Iapun mencari cara agar tidak bisa mati.

Ia kemudian berencana pergi ke Gunung Mashu untuk mencari Utnapishtim, orang yang selamat dari banjir besar yang nyaris menghancurkan semua kehidupan di muka bumi. 

Ketika bertemu Utnapishtim, ia mendapat cerita tentang banjir besar itu. Dulu dia adalah raja Shiruppak. Pada waktu itu, Enlil berencana mengirim hujan dan banjir besar di bumi agar semua orang mati.

Ea datang dan memperingatkan Utnapishtim akan hal ini. Ea meminta dirinya untuk membuat kapal yang besar dan menyelamatkan hewan-hewan, masing-masing sepasang, yakni jantan dan betina.

Setelah selamat, Enlil merasa bersalah atas kejadian itu. Ia lalu memberkati Utnapishtim dan istrinya. Sekarang kedua orang itu menjadi abadi dan sudah sejajar dengan para dewa.

Gilgamesh lalu bertanya bagaimana agar ia bisa menjadi seperti itu. Utnapishtim memberi tantangan. Gilgmamesh bisa jadi abadi asal ia mampu tujuh hari tidak tidur. Gilgamesh merasa tertantang. 

Namun ternyata Gilgamesh gagal. Ia bersedih. Utnapishtim-pun meminta Gilgamesh pergi. Tetapi istrinya meminta ia memberi bekal pada Gilgamesh. Akhirnya Utnapishtim bercerita kalau di tengah laut ada tanaman dewa yang membuat orang bisa muda kembali.

Gilgamesh senang dan langsung mencari tanaman itu. Ia berencana memakannya dan membagikannya pada tetua di Uruk.

Setelah dapat, ia lalu ke darat dan ingin pulang. Di tengah perjalanan pada saat mandi, seekor ular memakan habis tanaman itu. Si ular akhirnya berganti kulit dan jadi muda kembali. Gilgamesh sedih karena kesempatan terakhirnya untuk jadi abadi lenyap.

Popularitas Enuma Elish dan Gilgamesh

karakter Gilgamesh di Marvel
karakter Gilgamesh di Marvel

Itulah dua cerita paling terkenal dari Mesopotamia Kuno. Keduanya sangat terkenal dan bahkan diadaptasi menjadi banyak karya modern, seperti film, drama, puisi hingga novel. Terbaru, Gilgamesh digunakan Marvel sebagai salah satu karakter dalam filmnya. 

Tidak hanya itu, keduanya juga pada akhirnya mengguncang keimanan banyak orang yang selama ini percaya bahwa Kitab Suci adalah tulisan tertua yang pernah ada.

Baca dan nantikan tulisan kami yang lain seputar Enuma Elish dan Gilgamesh, seperti : 

Adi
Adi Saya adalah seorang blogger yang sudah menulis di blog sejak 2010. Blog ini terbuka untuk berbagai kerjasama, seperti sewa banner, content placement ataupun review produk.

Posting Komentar untuk "Enuma Elish dan Epik Gilgames"