Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Riddle Bulan Januari 2021 : Teman Pena

Mencari teman pena dari seluruh dunia adalah hobi Jeane Whitehart sejak kecil. Gadis yang tinggal di Delta County, New Barthew ini memang tidak bisa diam. Selain ramah dan periang, dia juga tak segan membantu semua orang yang kesulitan.

Seiring berjalannya waktu, Jeane membuka akun Twitch, Snapchat dan Instagram untuk menyalurkan hobi barunya. Meski demikian, dia tetap menggunakan fitur e-mail secara rutin. Khusus untuk saling berkabar dengan seorang gadis seumurannya asal Jepang yang katanya bernama Tamaro Utari.

Jeane memang penasaran dengan wajah Utari tetapi ia menunggu sampai temannya itu menunjukkan fotonya sendiri. Lagipula ada ratusan teman lain dari seluruh dunia yang memang agak pemalu.

Meski demikian ada yang spesial dari Utari. Dia hanya menggunakan e-mail sejak pertama mereka saling berkabar, yakni 10 tahun yang lalu, saat Jeane masih berusia 9 tahun.  

Riddle dan cerita misteri terbaru januari 2021
Riddle Januari 2021

Ia ingat sekitar 5 tahun yang lalu, Utari sempat menghilang. Mereka tidak saling kabar selama 4 minggu. Hingga akhirnya ada e-mail masuk meminta tolong agar Jeane mengirim sedikit uang untuk Utari yang katanya sedang sakit.

Jeane tidak menaruh curiga apapun. Ia bongkar tabungan natalnya ditambah upah hasil mencuci piring di restoran Indonesia dekat sekolahnya lalu mengirimkan kepada Utari. Bahkan ia mengirimkan sedikit lebih banyak dari yang diminta gadis Jepang itu.

Mereka kembali akrab. Jeane senang bisa membantu Utari.

"Terima kasih sahabatku. Mulai sekarang aku akan selalu ada untukmu dan menjagamu."

"Oh, lupakan. Lagipula kau ada di tempat antah berantah. Hahaha..... santai saja."

"Ya, kau benar. Aku berada di tempat antah berantah."

Utari tidak mau mengganggu Jeane. Mereka hanya mengobrol di waktu senggang atau ketika akhir pekan. Dan kemudian keanehan itu tiba. 

Sore itu, Jeane asyik melihat video Youtube tentang Perang Dunia II. Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Ternyata dari sahabat baiknya yang belum pernah ia jumpai. Tamaro Utari.

"Pasti kau sedang nonton Youtube lagi kan, dasar pemalas. Kenapa tidak kau pergi keluar bermain basket."

"Ah, kau nasi telur. Diamlah, aku sedang asyik. Lagi pula cuaca sedang mendung."

"Apa kau yakin? Ayo bergeraklah. Ada Thomas di lapangan."

"Sok tahu. Aku sudah tidak naksir cowok itu. Dia tidak bisa makan pedas. Lagipula tahu darimana kalau ada Thomas si kepiting rebus di lapangan."

"Hanya menebak."

Percakapan itu terus berlangsung di sela-sela Jeane sedang menonton video. Utari terus mendesak Jeane untuk keluar. Katanya sedang ada diskon di toko Bambs, rombongan pemain voli kesayangannya mampir di taman kota, dan seseorang sedang menjual bunga-bunga bagus koleksinya di galeri budaya lokal.

"Diamlah cerewet. Aku sedang tak ingin keluar. Ayah dan ibu sedang ke Charlestown, di South Greg. Mereka memintaku untuk diam di rumah selagi tidak ada orang."

Hingga akhirnya, Utari mengirim pesan yang cukup membuat Jeane sedikit bergidik.

"Temanku. Aku mohon padamu. Apapun yang akan kau dengar, jangan turun ke bawah. Apapun itu. Sekarang juga dengar perintahku dan lakukan. Matikan semua komputer, laptop dan lampu kamarmu, lalu tidurlah. Begitu kau menutup mukamu dengan selimut, kau akan tertidur. Lakukan dan jangan bertanya kenapa."

Jeane membaca pesan yang agak panjang itu berkali-kali. Dia merasa sedikit ketakutan. Meski Utari setahunya ada di Jepang, tetapi kenapa ia mengirim pesan itu. 

Meski demikian, ia sudah bersahabat dengan gadis itu bertahun-tahun. Bahkan sepuluh tahun sejak dia kecil. Maka diapun melakukannya. Ia matikan semuanya dan mulai berbaring. 

Anehnya ia merasa ada seseorang masuk. Suara langkah-langkah kaki terdengar meski sangat pelan. Keringatnya mulai berceceran. Ia sedikit ketakutan. Hingga akhirnya ia teringat kembali perintah dari sahabatnya. Bahkan itu bukan hanya dalam bentuk tulisan, melainkan seperti sebuah suara yang berbisik di telinganya.

Ia kemudian menarik selimut pelan. Jantungnya masih berdetak cepat. Ia benar-benar ketakutan. Suara-suara langkah kaki itu kelihatannya akan menuju ke tangga. 

Namun pesan dari sahabatnya kembali terngiang. Ia lalu menyelimuti dirinya dengan selimut tebal pemberian salah seorang teman lainnya dari Belanda. Anehnya Jeane langsung tidur. Ia bahkan tidur pulas dan bermimpi sedang berada di sebuah tempat yang indah dengan gunung besar dan bunga-bunga yang bermekaran yang belum pernah ia lihat selama hidupnya.

Ia berjalan di tepi sungai, menyusurinya. Sungai itu membawanya ke sebuah kuil. Dia bertemu dengan seorang nenek tua. Nenek itu tidak cantik. Bahkan wajahnya putih seperti salju. Pucat. Tetapi senyumnya ramah.

"Kemarilah, kami sudah menunggumu, Jeane."

"Darimana nenek tahu aku. Dan siapa yang sudah menunggukku?"

Dia dan nenek itu masuk ke rumah. Di dalam, sudah banyak orang. Ada beberapa gadis seumurannya dan seorang pria yang memasak air. 

"Oh, Jeane. Ayo kemari. Kita minum teh."

Jeane sedikit takut tetapi ia akui mereka sangat ramah. Namun ketika sedang asyik mengobrol, pintu diketuk. Nenek membukakan.

"Jeane, waktunya pulang." Seorang pria berbicara.

"Ayah? Ibu? Kalian bisa sampai kemari?"

"Pulanglah Jeane." Seorang gadis yang sedari tadi duduk di sebelahnya berkata. Ia lalu membisikkan sesuatu. 

"Terima kasih sudah menolong kami. Aku janji akan selalu melindungimu."

Jeane mengernyitkan dahi. Ia tidak asing dengan kalimat itu. Tetapi tiba-tiba ayah dan ibunya menariknya kasar. Ia tersentak. Lalu terbangun.

"Syukurlah kau tidak apa-apa, Jeane." Ayahnya panik. Di sebelahnya ibunya tak henti-hentinya berdoa. Jeane merasa sedikit pusing. Ia terbangun dan langsung melihat jam. Pukul 12. Hah? Dirinya tidur selama ini? Jeane kaget.

Dua hari kemudian, Jeane berada di kantor polisi. Dia akhirnya mendapat cerita lengkap dari semua kejadian ini. 

Ketika Jeane tertidur, seorang kriminal yang bernama Joe Barky membobol rumah Jeane. Dia dikenal sebagai pemerkosa dan pembunuh berantai. Targetnya adalah para remaja putri. Ternyata Jeane sudah diincar.

Namun anehnya sekarang Joe jadi gila. Ia terus mengigau dan mengucapkan sebuah kalimat aneh berulang-ulang. Di tempat lain, polisi menerima sebuah telepon dari seorang gadis bahwa ada seseorang masuk ke rumah Jeane. Gadis itu tidak menyebutkan namanya tetapi aksennya sangat aneh.

"Seperti orang Asia." Kata seorang polisi.

Mata Jeane melotot. Ia hampir tak percaya mendengar itu semua. 

"Lantas, apa yang terjadi dengan penjahat itu? Kenapa dia tiba-tiba jadi gila?" Ayah Jeane bertanya ingin tahu.

"Well, kami juga tidak terlalu bisa mencerna ini. Katanya, ia melihat Jeane, atau seorang gadis lainnya, tergantung di ruang tamu. Tetapi katanya, gadis itu masih bisa tersenyum dan bahkan mencekiknya."

Karena tidak ada gadis lain selain Jeane, polisi berpendapat Joe sudah gila. Dan kini ia harus dikurung di penjara khusus karena perbuatan dan kondisinya.

Seminggu kemudian, Joe Barky ditemukan mati dengan cara gantung diri.

Satu hal yang membuat Jeane makin bingung, yakni ketika polisi mengatakan kalimat yang selalu diucapkan Joe hingga menjelang kematiannya. 

"Terima kasih, aku akan selalu menjagamu."

Apa yang sebenarnya terjadi? Bisakah kalian menceritakannya? Siapa Tamaro Utari sebenarnya? Pecahkan teka-teki ini. Tulis jawabannya di kolom komentar. 

Terima kasih sudah membaca. Catatan Adi rutin mengunggah riddle, urban legend maupun kisah misteri setiap bulannya dalam bentuk yang bisa Anda nikmati dengan santai. Silahkan kunjungi konten kami yang lain di rubrik RIDDLE. Jangan lupa untuk memberi komentar demi perkembangan blog yang Anda cintai, Catatan Adi.  
Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

Posting Komentar untuk "Riddle Bulan Januari 2021 : Teman Pena"

Artikel Pilihan Hari Ini

Artikel Teknologi

Recent Posts Label

Artikel Bisnis dan Peluang Usaha

Recent Posts Label

Kumpulan Cerpen

Recent Posts Label

Artikel Pendidikan

Recent Posts Label