Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyelaraskan Pikiran, Raga dan Hati

Keseimbangan merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan. Setidaknya itu yang mulai aku percayai. Bayangkan seseorang yang kaya raya, namun sakit-sakitan. Tentu hal tersebut adalah sebuah penderitaan tersendiri meski hidup bergelimang harta.

Demikian manusia yang punya wajah rupawan tetapi hatinya penuh iri dan dengki. Hidupnya tidak akan tenang. Gelisah selalu. Setiap hari rasanya seperti minum racun. 

Di dalam masyarakat kapitalistik yang sekarang ini, uang adalah segalanya. Tapi sebenarnya meski uang bisa dikatakan sebagai salah satu sumber kebahagiaan, namun bisa juga menjadi awal mula petaka. Untuk itu diperlukan kebijaksaan dan kecerdasan dalam menjalani kehidupan. Salah satunya dengan berusaha menjadi seimbang.

Berapa uang yang perlu kita miliki? Apakah hal itu diperoleh dengan mengorbankan jiwa dan raga secara berlebihan? Uang, meski banyak, tidak akan berguna jika tidak bisa dinikmati.

Bekerja keras harus juga diimbangi dengan kegembiraan. Kerja riang gembira adalah kunci sukses. Mungkin beberapa kali kita akan jatuh, tetapi selalu ada kekuatan untuk bangkit kembali.

Mind, Body and Soul

keseimbangan hidup
Keseimbangan

Pertama, tentu saja harus menjaga pikiran agar tetap waras. Inilah langkah yang utama dan tentu saja tidak mudah. Terlebih jika kita tidak bisa melepaskan hidup dari media sosial.

Banyak sekali hal toxic di media sosial. Hal ini pada akhirnya akan membuat pikiran kacau, resah dan gagal fokus. Hiduplah untuk hari ini. You only live once. Sebuah seruan penting untuk menyadarkan setiap insan agar dijauhkan dari sikap overthinking

Raga juga pasti penting. Tubuh yang sehat akan memungkinkan kita meraih banyak hal tinimbang ketika sakit dan lemah. Untuk itu menjaga kesehatan jasmani sama pentingnya dengan menjadi waras secara pikiran. 

Lalu pada akhirnya kita sebagai manusia haruslah memelihara jiwa. Hati yang gembira adalah obat. Keluasan hati dan semangat untuk terus menguasai ilmu ikhlas akan sangat membantu dalam kita bernegosiasi dengan semesta. 

Hidup yang Sebenarnya

Tidak perlu filsafat untuk membedah hidup, karena yang terutama adalah menikmatinya. Dalam kondisi apapun dimanapun, kita harus berjuang untuk bisa menikmati hidup. Meski ada banyak hal yang menyesakkan. Aku tahu ini mudah diucapkan tetapi akan sulit untuk dilakukan.

Hidup yang sebanrnya adalah saat ini, sekarang. Bukan kemarin, bukan nanti. Kesadaran ini sering hilang di saat kekhawatiran melanda. Maka semangat YOLO memang ada benarnya untuk terus digaungkan. Meski demikian jangan jadi orang bodoh yang tidak mempersiapkan lumbung padi sebelum musik paceklik tiba. 

Membahagiakan Diri Tanpa Membuat Orang Lain Menderita

Fokus pada diri sendiri. Berlomba mengalahkan diri sendiri. Sejatinya itulah kompetisi paling hakiki dalam hidup. Siapa bisa menang, ia akan bahagia. Namun yang sering dilakukan adalah menjegal orang lain demi kepuasan yang fana. Tentu itu perbuatan hina. 

Pada akhirnya hidup adalah sesuatu yang singkat. Bahkan bisa lebih singkat dari yang kita duga. Untuk itu, sebelum terlambat, mari menjadi bahagia. 

Adi
Adi Saya adalah seorang penulis dan blogger yang sudah mendalami dunia blog sejak 2010. Saya menulis tentang banyak hal, seperti games, teknologi, filsafat, pendidikan, politik, fashion, olahraga, buku, kuliner, dll. Pernah mengikuti berbagai pelatihan dan kursus dari NGO maupun pemerintah.

Posting Komentar untuk "Menyelaraskan Pikiran, Raga dan Hati "