Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Ilmu Ikhlas

Ilmu ikhlas diturunkan oleh nenek moyang orang Jawa, yang entah beragama apa. Setidaknya itu yang aku tahu. Dengan segala kesederhanaannya, mereka mampu mengolah batin agar selaras dengan alam. Menghindari pertentangan. Menolak gerutu. Memegang teguh laku bersyukur. Dan menjaga kehidupan dengan seimbang. 

Baca juga : Ayo Kerja Cerdas, Jangan Cuma Kerja Keras.

Banyak sekali ungkapan dalam Bahasa Jawa yang menggambarkan pancaran cahaya keikhlasan. Sayang, sebagai seorang manusia Jawa di era modern, aku mulai melupakan ajaran adiluhung tersebut. Terjerembab dalam filsafat kapitalistik nan hedonis dan melupakan ilmu pengetahuan dari nenek moyangku sendiri.

Orang Jawa yang entah memeluk agama apa itu, percaya adanya Jagad Alit dan Jagad Gedhe. Tentu ini tidak ada di dalam agama-agama yang datang kemudian hari. Keduanya, Jagad Alit dan Gedhe itu, adalah perwujudan alam semesta. Yang besar ada di alam raya ini, yang kecil ada di dalam diri manusia. 

Ketika Jagad Alit tidak sesuai dengan Jagad Gedhe, akan timbul penderitaan dan kekacauan. Terjadinya guncangan kosmik di dalam diri. Alhasil hidup menjadi tidak tenang. Warna kehidupan jadi gelap gulita.

Masyarakat Jawa paling dekat dengan ikhlas. Ketika ada celaka, masih bisa bersyukur tidak mendapat celaka yang lebih besar. Hidupnya diusahakan tidak menyakiti orang lain. Lidahnya dijaga, dengan basa-basi yang panjang dan kadang membosankan. Namun itulah upaya. Ikhlas menjalani jalan yang panjang tersebut demi tercapainya resonansi antara dua pihak atau lebih. Agar tidak ada yang disakiti. Agar tidak sampai menyakiti.

Orang Jawa lakunya lambat, jelas itu salah. Lupakah mereka ketika menghina Kuli Jawa sebagai insan pembangun negara? Orang Jawa selalu terukur. Mengukur segalanya dari sudut pandang dirinya dan orang lain. Memayu Hayuning Bawana. Berusaha mencari solusi terbaik dan menjauhkan diri dari sfat egois. Memanusiakan manusia siapapun dia. 

Orang Jawa sejati tidak percaya kasta dan sebaliknya, mereka juga seharusnya tidak percaya pada struktur sosial yang dipaksakan, yakni feodalisme. Tata bahasa yang berbelit-belit, entah sejak kapan manusia Jawa mengenalnya, tapi di Samin dan Tenger, hal itu tidak ada.

Orang Jawa menghargai alam. Memuja Tuhan melalui manifestasinya berupa dewi yang menjaga kesuburan sawah dan ladang. Juga gunung-gunung megah yang bermahkotakan langit. Itu semua menemani orang Jawa dari bayi sampai mati. 

Baca juga : penjelasan lengkap Simple Present

Belajar ilmu ikhlas
Ilmu Ikhlas

Aku mulai mempelajari ilmu ikhlas, melalui dongeng dan wayang. Melalui laku orang-orang tua yang kini sudah tidak ada lagi. Mereka adalah contoh terbaik bagaimana kehidupan harusnya dijalani. Tidak ada nasi makan ketela. Asal semua keluarga berkumpul dan hidup saling nyengkuyung.

Orang Jawa punya senjata. Keikhlasan pada kehendak Sang Pranata Jagad. Berusaha untuk tidak melawanNya. Berusaha untuk selaras dengan keputusanNya. Berusaha untuk manunggal denganNya. 

Adi
Adi Saya adalah seorang penulis dan blogger yang sudah mendalami dunia blog sejak 2010. Saya menulis tentang banyak hal, seperti games, teknologi, filsafat, pendidikan, politik, fashion, olahraga, buku, kuliner, dll. Pernah mengikuti berbagai pelatihan dan kursus dari NGO maupun pemerintah.

Posting Komentar untuk "Belajar Ilmu Ikhlas"