Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pergolakan Batin

Tulisan ini lahir di penghujung malam, ketika tubuh sudah cukup lelah namun mata masih menolak buat terpejam. Alhasil berbaring di kasur namun bukan untuk tidur, hanya menggeserkan badan tanpa bisa terlelap.

Kali ini aku ingin bercerita tentang pergolakan batin, tentang gejolak jiwa yang aku rasakan selama ini. Tentu aku tidak akan menuliskannya semua di sini, karena selain tidak terlalu berguna, juga aku berpedoman berbagi martabak lebih baik daripada berbagi masalah. 

Meski begitu, nampaknya kegalauan ini harus disalurkan sedemikian rupa, agar setidaknya tetap bisa menghasilkan sesuatu yang positif. Menambah daftar jumlah artikel misalnya.

Pergolakan Batin
Pergolakan Batin

Pergolakan batin. Itu judul yang aku pilih untuk tulisan kali ini. Memang pada dasarnya, selama manusia hidup pasti tidak akan lepas dari yang namanya pergolakan. 

Bagi diriku pribadi, pergolakan batin lahir karena keadaan yang mengharuskan kita melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan. Terkadang kita bisa mengatasinya dengan bersikap masa bodoh, terkadang juga hal ini membuat jiwa tersiksa. Sakit tapi tidak berdarah. 

Ada banyak pergolakan batin dalam diriku, yang rasa-rasanya berhulu pada kegagalanku mengambil keputusan dan tindakan yang tepat sehingga berbuntut pada hal-hal yang kurang baik.

Andai ada jin cantik berbodi gitar Spanyol menawarkan tiga permintaan, maka salah satunya aku ingin meminta mesin waktu, yang akan membawaku ke masa lalu untuk kemudian memperbaiki segala hal yang kurang baik. 

Namun bahkan Elon Musk sekalipun belum tentu bisa menciptakan mesin waktu. Selain berpotensi mengacaukan keseimbangan semesta, mesin waktu juga terkadang hanyalah luapan ketidakjantanan untuk menghadapi masa kini dengan segala problematikanya.

Benar, setiap masa punya masalahnya sendiri. Dulu kita punya masalah dengan Belanda dan Jepang yang entah bagaimana cara berpikirnya, merasa berhak menjajah kita. Sekarang kita punya problem dengan pandemi yang ternyata sampai dua tahun belum juga reda. 

Pun sama halnya dengan diriku, dirimu dan dirinya. Kita semua punya pergolakan batin. Untuk siapapun yang sedang berjuang, aku doakan kiranya engkau bisa memenangkan pertarunganmu untuk kemudian bertransformasi menjadi sosok yang lebih kuat. 

Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

Posting Komentar untuk "Pergolakan Batin"

Artikel Bisnis dan Peluang Usaha

Recent Posts Label

Artikel Teknologi

Recent Posts Label

Artikel Pendidikan

Recent Posts Label

Kumpulan Cerpen

Recent Posts Label

Artikel Pilihan Hari Ini