Seperti layaknya bangkai tikus

Yang digilas roda-roda mobil

Demikian pula harapan ini pupus

Diinjak oleh para majikan degil



Membanting tulang memeras keringat

Bekerja dari pagi hingga pagi lagi

Tetapi caci maki dan kata-kata laknat

Selalu menyayat setiap hari



Kami memang orang rendahan

Dari kasta yang tidak dihitung negara

Bintang pergi langit memberi cemoohan

Bahkan semestapun pura-pura memejamkan mata



Kami memang wong cilik

Bahkan bila dibanding dengan kutu busuk

Hidup kami malang nasib kami pelik

Anjingpun tidak layak kami garuk



Lalu dengan apakah kami menggambarkan diri kami ini?

Ketika bahkan kegelapan ikut menangisi nasib kami.



Kamilah budak.

Properti hidup.

Mesin bernyawa

Bagi majikan kami.

Kamilah bangkai tikus.

Yang setelah mati dilindas roda mobil.

Dibiarkan teronggok.

Diatas aspal panas jalan raya.



-GAS