CERITA TENTANG SEBUAH SUDUT



         
sumber foto : senibudayaku.com
Sebagai seorang gelandangan aku mengenal hampir tiap inci kota ini. Mulai dari gedung balai kota yang mewah, sampai kepada sudut perkampungan yang kumuh dan kotor. 

Mulai dari taman kota yang indah, sampai kepada tempat pembuangan akhir yang jorok dan busuk. Tapi kali ini aku ingin menceritakan sebuah tempat yang mungkin tak pernah terbayang, bahkan dalam mimpimu sekalipun.

Awalnya hanyalah sebuah cerita dari mulut ke mulut sesama kaumku. Lalu seperti bangkai tikus di tong sampah yang baunya menguap ke udara, berita ini lantas menyebar di kalangan kami semua. 

Tapi anehnya hanya kami, atau setidaknya aku, yang mau repot-repot ambil pusing mengenai hal itu.

“Sudahlah urus saja urusanmu Kang. Orang lain saja tidak ambil pusing!”, kata pacar gembelku.

“Mereka tidak ambil pusing karena mereka tidak tahu”, jawabku.

“Kata siapa mereka tidak tahu, lebih baik akang ngegelandang lebih giat. Katanya mau membelikan aku kalung”

Memang susah bicara dengan gelandangan. Mungkin itulah sebab mereka menggelandang, karena mereka tak mau repot-repot memikirkan hal lain. 

Atau bisa juga karena hanya sisa-sisa nasi dan ikan asin yang masuk ke perut mereka, sehingga otak mereka tak cukup bergairah untuk memikirkan hal yang lain.

Setelah merasa tak ada guna meminta nasihat dari pacar gembelku, akupun bertekad akan mengambil keputusan sendiri. Akan aku laporkan semuanya, sejelas-jelasnya. Siapa tahu mereka percaya dengan mulut bauku ini. 

Tapi sebelumnya untuk kesekian kalinya, aku ingin memastikan terlebih dahulu, agar dapat menyusun laporan sebaik mungkin.

Aku ingat malam itu malam minggu, tempat itu pasti sepi. Kecuali saat itu ada satu dua pendosa yang berpikiran yang sama denganku, sehingga melakukan kekejiannya juga di saat itu.

Tempat itu sebenarnya hanyalah sebuah sudut pertemuan antara tembok belakang sebuah gedung dengan tembok pembatas taman kota. Dan aku rasa  tempat itu tak  terlalu tersembunyi. 

Bahkan aku yakin Pak Walikota pun sering lewat kemari jika ingin menyampaikan permohonannya pada Sang Khalik. Cuma ketika malam gelap, tempat yang lebih mirip sudut terkutuk itu terlihat sangat gelap dan menyeramkan. Entah kenapa tidak ada penerangan disana.

Ketika aku sibuk mereka-reka kalimat yang akan kulaporkan, tiba-tiba dari mulut gang muncul sepasang manusia. Ternyata mereka adalah sepasang calon pendosa baru. Berjalan mereka perlahan menuju tempat itu. 

Ketika sampai di pojok sudut, si lelaki muda mengamati keadaan. Melongok-longok ia. Lalu adegan sok dramatis tiba. Si wanita, yang tampak lebih muda dari lelaki itu, merengek-rengek dan menangis haru. Setelah dengan sedikit rayuan, akhirnya ia mau meletakkan sebungkus keranjang mungil itu di pojok sudut, lantas berlalu gontai.

Seakan mendapat inspirasi aku berusaha merekam semua kejadian itu dengan otakku yang pas-pasan. Berharap mampu untuk melaporkannya besok. Tiba-tiba  lamunanku terhenti ketika t pintu gedung belakang itu terbuka. Sesosok wanita keluar dari gedung itu dan memungut bingkisan itu. Mungkin karena kaget, yang di dalam bingkisan pun menangis. Dengan sigap wanita itu membawa bingkisan itu masuk. Entah sampai kapan ini berhenti.
“Jadi itu laporan anda?”
“Benar pak?”
“Baiklah kalau begitu akan kami proses dan kami sampaikan pada pihak yang berwajib”
“Terima kasih Pak”, ucapku bangga. Ingin segera kutemui pacar gembelku dan mengatakan kalau ternyata di mata hukum gembel pun boleh bicara. Kepala polisi setengah baya yang berwajah tegas dan berwibawa itu adalah bukti nyata bahwa masih ada yang peduli dengan ini semua.
“Ah masak kang?”
“Dasar, makanya kalau jadi orang jangan berpikiran sempit. Mentang-mentang gembe!” ujarku puas. Iapun hanya mampu mengangguk sambil meremas jemariku. Mungkin kagum padaku. 
Malamnya, entah mengapa aku mengunjungi sudut sialan itu. Aku  berharap sepasukan polisi datang dan menangkap para pendosa yang tak bertanggung jawab disana. Tapi ternyata aku salah. Di malam itu, seperti malam-malam yang lain, tetap ada saja pasangan terkutuk yang membuang buah cinta terlarang mereka di sudut laknat itu. Sebenarnya bagiku itu sudah biasa. Tapi yang membuat aku ngilu adalah ternyata malam itu si pendosa adalah seorang lelaki setengah baya yang berwajah tegas dan berwibawa yang aku temui tempo lalu.
“Jadi di sini mas tempatnya?”
“Iya, aku juga baru tahu dari si gelandangan itu tadi siang”, ujarnya enteng sambil membuang sebuah bingkisan. Setelah itu, seperti biasa muncul seorang wanita dan membawa masuk bingkisan itu.
Sebenarnya aku tak akan repot-repot untuk mengurusi ini semua, andaikan mereka tahu yang sebenarnya. Dahulu memang seorang pemuka yang  baik hati mendirikan tempat itu, agar semua jiwa yang tidak diinginkan mampu tetap hidup. Tapi semenjak kematian sang pemuka, yayasan miliknya bangkrut. Terpaksa sebagian besar jiwa-jiwa yang tak diinginkan itu dijual, agar mampu menghidupi sebagian kecil jiwa lainnya dan yayasan.
Tapi mungkin pacarku benar, siapa mau peduli dengan ucapan yang keluar dari mulut gelandangan
 

0 Response to "CERITA TENTANG SEBUAH SUDUT"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel