Hikayat Empat Generasi


 catatan adi

Mbah Kromo adalah seorang petani yang ulet. Walau hanya sorang penduduk desa yang miskin dan buta huruf, tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak terpikirkan oleh kaum sedesanya; meloloskan diri dari jurang kemiskinan. 

Andaikata mutiara, maka Mbah Kromo adalah mutiara yang sangat unik dan berharga. Ia adalah satu dari sangat sedikit orang yang menyadari bahwa kehidupan di desanya laksana lingkaran setan yang tak kunjung dapat terputus: bekerja keras di  sawah, menghutang untuk kebutuhan sehari-hari, ketika panen membayar utang beserta bunganya  dengan semua hasil sawahnya, lalu kemudian bekerja lagi. Dan mengutang lagi.

Atas dasar keinginan untuk bisa lepas dari belenggu kemiskinan dan hutang yang bunganya tidak mungkin bisa lunas walau berinkarnasi tujuh kali putaran kehidupan, Mbah Kromo kemudian memutuskan untuk bekerja sangat keras. 

Akhirnya,  walau tidak mengenyam pendidikan formal apapun, ia mampu lolos dari jurang kemiskinan, memiliki sepetak kecil sawah dan sebuah gubug dari papan. Tidak seperti teman-temannya yang terperangkap dalam utang dari para pengijon serta alpa dalam menabung yang mengakibatkan mereka terus hidup dalam lingkaran kemiskinan akut, Mbah Kromo berhasil memenuhi kebutuhan dasar dirinya dan keluarganya, yakni seorang istri dan seorang anak. Mbah Kromo adalah si generasi pertama.

Pak Diro adalah putra dari Mbah Kromo. Tidak seperti ayahnya, Pak Diro berhasil menikmati pendidikan, walau hanya sampai tingkat SMA. Itu semua adalah kerja keras dari Mbah Kromo dan istrinya yang rela hidup super-prihatin agar anak mereka, Pak Diro berhasil lulus SMA. Pak Diro kemudian bekerja di sebuah pabrik kayu lapis.

Penghasilannya yang pas-pasan hanya cukup untuk ngontrak. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia bahkan harus  berhutang kesana-kemari.  Ini wajar karena selain kesempatan bersekolah, Pak Diro tidak mendapat warisan harta apapun dari Mbah Kromo.

Demi keinginan untuk lolos dari jurang kemiskinan khas kaum proletar, Pak Diro bekerja sangat keras. Di pagi hari, ia memburuh  di pabrik, sedang ketika malam  Pak Diro nyambi jadi satpam. Hari liburpun ia isi dengan bekerja, yakni  membantu istrinya berjualan nasi bungkus di depan supermarket. Pak Diro berhasil memenuhi kebutuhan dasar dirinya, istrinya dan anaknya, Mas Budi. Pak Diro adalah si generasi kedua.

Mas Budi adalah anak dari Pak Diro dan cucu dari Mbah Kromo. Ia seorang lelaki kota yang sedari kecil sudah dekat dengan lingkungan urban. Atas kerja keras luar biasa dari Pak Diro, Mas Budi berhasil lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang universitas, walau hanya universitas pinggiran dengan mengambil jurusan yang tidak populer. Ia belajar sangat keras, lulus dengan memuaskan dan bekerja sebagai pegawai pada sebuah kantor swasta. 

Tak kalah dengan Pak Diro, Mas Budi juga seorang pekerja keras. Sepulang ngantor dia menyambi jadi abang ojek online dan di akhir pekan, dia membantu istrinya yang berjualan di warung kopi kecil-kecilan yang mereka rintis. Ia juga membuka usaha laundry, pulsa dan jasa aneka nukang. 

Mas Budi berhasil memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, bahkan membeli rumah kecil di pinggiran kota dan melengkapinya dengan tivi pabrikan China, sebuah motor bekas dan beberapa mesin cuci untuk usaha laundry-nya. Mas Budi adalah si generasi ketiga.

Adapun Ilham adalah putra dari Mas Budi. Ia menikmati banyak hal yang tidak dinikmati ayahnya atau bahkan dibayangkan oleh nenek moyangnya, sebuah rumah tembok di pinggiran kota yang sudah SHM, bebas dari hutang, bersekolah hingga universitas, sebuah motor warisan orang tuanya dan modal usaha berupa laundry dan warung kopi. Berbekal itu semua, ia tidak terlalu pusing untuk harus bekerja keras memenuhi kebutuhan dasarnya, karena pada dasarnya ia sudah berlebih.

Ia lulus dari universitas, mendapat modal dari orang tuanya untuk membeli mobil, kawin dan bahkan tiap hari kebutuhannya dan istrinya masih dipenuhi orang tuanya. Ia tidak perlu pusing memikirkan tagihan listrik, air, apalagi KPR rumah. 

Ketika berusia 30 tahun, KPR rumah orang tuanya lunas dan ia menjadi pewaris tunggalnya. Ia bekerja sebagai seorang staf pada sebuah departemen, dengan gaji pokok dan tunjangan yang luar biasa. Ia mampu untuk menabung. Istrinya yang juga seorang pegawai negeri ternyata juga mendapat sertifikasi. Lalu ketika Mas Budi meninggal, ia menjual rumah masa kecilnya dan tinggal di perumahan elit.

Keseharian Ilham begitu tertata. Pagi hari, ia pergi bekerja menggunakan mobilnya. Jam 10 hingga 1 siang, ia akan terlihat di kantin, duduk menemani siswi-siswi SMK yang magang di kantornya. Setelah itu, ia akan pergi ke halaman belakang, main tenis meja dengan sekretarisnya atau merokok bersama rekan-rekannya.  Menjelang pukul 3 sore, ia mampir ke apartemen mewah yang dihuni oleh pacarnya.

Apartemen itu ia dapatkan dari uang komisi sebuah proyek beberapa tahun sebelumnya. Pukul enam, ia pulang ke rumah, menemui istrinya yang juga sudah lelah setelah seharian membolos kerja dan berjalan-jalan dengan seorang pria muda di luar kota. 

Anak pertama mereka belum pulang. Katanya les fisika, padahal sedang bingung mencari bidan yang bersedia menggugurkan janinnya. 

Sedang anak yang kedua sedang teler di kos-kosan sesama teman prianya setelah berdua mereka mengkonsumsi morfin terlalu banyak. Anak ketiga mereka? Sudah tidur lelap dipelukan suster. Suster muda cantik yang ketika istri tuannya sakit, menggantikan peran beliau, menemani majikannya.




6 Responses to "Hikayat Empat Generasi"

  1. Inspiratif sekali min cerpennya.... Sepertinya ane harus banyak belajar buat menulis cerpen sama mimin 👍

    ReplyDelete
  2. bersambung kah ini ceritanya gan?
    menarik yak kalo diikutin.

    makin kesini hidupnya makin enak. hhe

    ReplyDelete
  3. Wah bisa dijadikan percontohan nih saya buat cerpen. Keren min

    ReplyDelete
  4. Waw... Keren cerpennya min..

    ReplyDelete

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel