7 Karakter Organ Marhaenis

Catatan Adi - Ada banyak partai dan organisasi yang mengaku mengusung Marhaenisme. Organ Marhaenis sejatinya memiliki karakter yang khas. Seperti apa karakter tersebut?

Dalam tulisan ke lima dari Seri Artikel : Catatan Marhaenis ini, Catatan Adi akan mengupas tuntas 7 Karakter Organ Marhaenis.


Salah satu alasan mengapa Marhaenisme masih hidup (walau tidak lagi sepopuler dulu) di hati masyarakat Indonesia adalah karena kenangan masa lampau. Tidak dapat dipungkiri, organ-organ Marhaenis pernah menorehan tinta emas yang tak mungkin lekang oleh ingatan. 


Namun sayang, seiring dengan berjalannya waktu, nampaknya Marhaenisme semakin memudar. Alih-alih dapat makin berkembang, istilah Marhaen makin menghilang di tengah perikehidupan berbangsa dan bernegara.

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya bisa berdiam diri melihat ini semua? 

GmnI era Bambang Kusnohadi begitu menakutkan. Mereka berani, kuat, dan militan. Hanya CGMI-nya PKI yang bisa menandingi gerakan anak-anak Marhaen ini. Walau kurang diliput media massa kapitalis, tapi nama besar GmnI saat itu tak terbendung.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Marhaenisme sebagai sebuah nafas pimikiran dan tindakan. Salah satunya adalah mengembalikan karakter organ-organ Marhaenis.

Tidak hanya partai, seperti PNI, Gerindo atau Partindo, organ Marhaenis ada pula yang berbentuk ormas. Mereka pernah hidup dan tumbuh bersama rakyat. Mereka pernah dicintai rakyat. Dicintai dan mencintai rakyat.

Mengapa? Karena mereka tidak hanya memanfaatkan Marhaenisme sebagai adegium pendulang suara. Apalagi sarana memakmurkan diri sendiri. Mereka hidup dan menghidupi Marhaenisme. Mereka berkarakter Marhaenis.

Seperti apa karakter Marhaenis tersebut?

1. Nasionalis


Marhaenisme berjuang dari, bersama dan untuk rakyat. Ia adalah idelogi yang menjunjung tinggi semangat nasionalisme dan kebangsaan.

Sebagai seorang Marhaenis, atau organ yang mengaku Marhaenis, maka sewajibnyalah menginsafi karakter nasionalis ini.

Maka jika ada organ yang mengaku Marhaenis tetapi jauh dari jiwa nasionalis, bisa dipastikan organ tersebut adalah organ pengkhianat.

PNI, organ Marhaenis tertua, tidak hanya menggunakan kata ‘nasional’ sebagai jargon dan trade mark. PNI berhasil mengejewantahkan kata itu dalam tindakan.

Alih-alih mengikuti Sarekat Islam yang membatasi diri hanya untuk orang muslim, atau Budi Utomo yang masih bersifat feodal dan ndoroisme, PNI tegas berdiri tegak sebagai organ nasional, yang menaungi semua orang Hindia dari berbagai latar belakang.

Karakter nasionalis ini juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk melawan fundamentalisme dan sukuisme. 

Jika organ mengaku nasionalis tetapi membiarkan fundametalisme agama makin menjadi-jadi, maka tak salah rakyat Marhaen mempertanyakan posisi organ tersebut. Nasionalis tulen atau nasionalis gadungan?

PNI pernah gagal dalam hal ini. Banyak anggota PNI di masa lalu yang ternyata adalah pengusaha-pengusaha berjiwa kapitalistik serta sisa-sisa feodal. 

2. Pemberani


Marhaenis itu laksana banteng. Ia bukan sapi perah apalagi kucing garong. Ia adalah kerbau liar yang siap menyeruduk musuh-musuhnya. Organ Marhaenis harus juga menjadi organ pemberani.

Lihatlah Barisan Banteng Republik Indonesia, Gerakan Pemuda Marhaenis atau GMNI era awal 1965. Mereka tak ragu turun ke jalan dan berkonfrontasi dengan musuh-musuhnya.
BBRI bahkan benar-benar menjadi momok bagi pasukan kolonialis. Organisasi milisi berlambang banteng kekar menyeruduk dalam lingkaran itu bertempur dengan gagah berani mengahapi agresi nekolim.

Sedang GPM adalah pasukannya PNI. Bukan hanya berfungsi mengawal petinggi PNI pada saat kampanye, GPM juga turun ke lapangan menghadapi merkea-mereka yang mengancam partai.

GmnI era Bambang Kusnohadi begitu menakutkan. Mereka berani, kuat, dan militan. Hanya CGMI-nya PKI yang bisa menandingi gerakan anak-anak Marhaen ini. Walau kurang diliput media massa kapitalis, tapi nama besar GmnI saat itu tak terbendung.

Merekalah yang membela Bung Karno dari gerombolan mahasiswa dan preman yang ingin menjatuhkan sang Bung Besar. 

Sayang setelah orba berkuasa, GmnI dipasung dan dijinakkan.

Lalu bagaimana dengan masa kini? Apakah organ-organ Marhaenis masa kini masih berjiwa pemberani?

3. Progresif-Revolusioner


Berkarakter progresif-revolusioner artinya organ Marhaenis harus menentukan sikap dan posisi yang jelas, yakni beroposan terhadap kolonialisme dan kapitalisme.

Dua isme tersebut harus jadi musuh besar setiap organ yang mengaku Marhaenis.
Dalam tindakan nyata, organ Marhaenis harus senantiasa berjuang menghabisi karakter-karakter kapitalistik dan bersama-sama dengan sesama organ progresif-revolusioner lainnya, bahu membahu menciptakan pembebasan bagi rakyat.

Berkarakter progresif-revolusioner juga berarti tidak sudi dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang menindas rakyat. PNI pernah gagal dalam hal ini. Banyak anggota PNI di masa lalu yang ternyata adalah pengusaha-pengusaha berjiwa kapitalistik serta sisa-sisa feodal. 
Lalu bagaimana dengan organ Marhaenis di masa kini? Apakah sudah memiliki karakter progresif-revolusioner?

Organ Marhaenis bukan organ elitis. Organ Marhaenis harus berkarakter massa-aksi.  

4. Loyal


Organ Marhaenis semestinya juga bersifat loyal pada pimpinan, terlebih pada tujuan yang sudah ditetapkan bersama.

Pemuda Demokrat, Wanita Marhaenis dan IPRIN adalah organ-organ Marhaenis masa lalu yang telah menunjukkan loyalitas tinggi pada partai.

Mereka sadar untuk berjuang memenangkan Front Marhaenis, alih-alih memikirkan golongan dan organnya sendiri.

Front Marhaenispun jaya, memenangi pemilu 1955. Seharusnya ini bisa jadi contoh bahwa loyalitas harus dibangun dengan benar dan penuh kesadaran. Demi tercapainya tujuan yang lebih besar. 

5. Bermassa-aksi


Organ Marhaenis bukan organ elitis. Organ Marhaenis harus berkarakter massa-aksi.  
Organ Marhaenis harus dekat dengan rakyat dan senantiasa bergerak bersama rakyat. 
Haram hukumnya jika organ Marhaenis hanya melulu berkutat dengan dirinya sendiri tapi tidak pernah bermassa-aksi dengan para Marhaen. 

Sudahkah karakter-karakter di atas dimiliki organ-organ yang mengaku Marhaenis di masa kini? Atau jangan-jangan justru yang sebaliknya? 

6. Dinamis dan Intelek

Marhaen tidak menutup diri pada perkembangan isu-isu terkini. Lihatlah perjalanan organ-organ Marhaenis. Mereka selalu menganjurkan kader untuk mau belajar.

Pada awalnya organ Marhaen berfokus pada upaya memerdekakan bangsa dari Belanda. Merkea melakukannya di dalam dan luar medan tempur.

Lalu fokus berubah menjadi bagaimana menghancurkan kapitalisme di negeri yang masih muda ini. Organ Marhaenis harus dinamis. Tidak boleh kaku dan bertumpu pada isu-isu kuno dan usang.

Selain itu organ Marhaenis sangat kaya sumber bacaan. Organ Marhaenis selalu giat melakukan ansos dan meningkatkan kualitas diri.

Lihatlah tokoh-tokoh Marhaenis masa lalu yang kaya akan wawasan dan memiliki pemahaman mendalam terhadap filsafat.

Jika seorang Marhaenis tidak mau membaca, apalagi berkontemplasi, maka sebenarnya dia bukan Marhaenis sejati. Pun demikian dengan organisasi Marhaenis yang menjauhkan diri dari jiwa intelektual.

7. Berdisiplin tinggi


Marhaenisme adalah sebuah ideologi yang menuntut disiplin tinggi. Salah satu kunci kemenangan Front Marhaenis adalah tingkat disiplin yang luar biasa dari para kader maupun pengurusnya.

Hal ini bisa dilihat dari seringnya organ-organ 

Sudahkah karakter-karakter di atas dimiliki organ-organ yang mengaku Marhaenis di masa kini? Atau jangan-jangan justru yang sebaliknya? 

Bung Karno berkata ‘warisi apinya, jangan abunya!’ Ini adalah sindiran untuk masa kini dan mendatang. Jika tidak berbenah, maka Marhaenisme hanya akan hidup di dalam buku-buku usang sejarah. Tetapi musnah dari bumi Indonesia. Bumi kelahiran Marhaenisme. 



Seri Artikel : Catatan Marhaenis / Catatan Adi / catatanadiwriter.blogspot.com

0 Response to "7 Karakter Organ Marhaenis"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel