Menikmati Jogjakarta

Berwisata Ke Yogyakarta - Jogja adalah bubur, bubur paling lezat yang pernah ada. Tuhan menyediakan bahan-bahannya, masyarakat mengolahnya, dan Indonesia menikmatinya. Bahkan seluruh dunia mengakuinya.

Ibarat bubur, Jogja mampu meramu berbagai keragaman menjadi suatu bentuk budaya yang harmonis, mengagumkan dan menyejukan.

Seperti hari ini, kami yang masih lelah akibat aksi (sok) adventure ke Kulon Progo kemaren, ternyata masih diizinkan Gusti Pangeran untuk menikmati Jogja dari dalam kota.

Di mulai dari pasar Prawirotaman, hamba menikmati proses jual beli yang nJowo banget. Barang-barang tradisional masih merajai. Ternyata warga masih mencintai pasarnya. Hambapun melihat beberapa penjual ketupat yang asyik duduk menanti pembeli. Sungguh nikmat berwisata ke Yogyakarta

Bertandang di Malioboro, alias the heart of Jogja, kami tak hentinya di buat kagum. Jalan legendaris itu makin asri, tertib namun tetap fascinating!

Berlibur ke Yogyakarta. Taxi online berpadu dengan ojek, bentor, becak dan delman. Mereka semua tertib melaju, membelah Malioboro layaknya Kapuas membelah Pontianak.

Para pedagang ngalap berkah dari para wisatawan. Siang itu puji Tuhan belum terlalu macet. Kami mampir di Ramayana untuk mampir pipis. Lalu hanyut dalam hingar-bingar Malioboro.

Raminten tentu tak boleh dilupakan. Mata seakan dimanjakan oleh produk-produk lokal khas Jawa. Ada baju, rempah, aneka tembakau dan ornamen unik lainnya.

Sayang kedai kopi di sebelahnya masih tutup. Padahal kedai itu menyajikan kopi paling enak se-Ngayogyokarto.

Puas di Malbor, kami cabut. Dengan tujuan memenuhi hasrat purba manusia yang dalam bahasa Jawa disebut luwe. Bahasa Inggris, hungry. Bahasa Indonesia, lapar. Bahasa Arab, lafaar.  Kamipun cari maem. Liburan ke Yogyakarta.

Takdir membawa kami ke warung pecel 77. Jauh-jauh ke Jogja, kulinernya madiunan. Hidup itu keras, kamerad!

Berwisata ke Jogjakarta. Hamba memesan gado-gado, air mineral dan jus tomat biar tetap tampan di penghujung Ramadhan. Si nona pesan sup daging sapi dan air mineral. Nyamleng enough, vroh!

Sayang gado-gadonya terlalu manis. Mungkin aura hamba mempengaruhi sang juru masak. Apalah itu, yang penting kenyang. Enaknya liburan ke Yogyakarta

Sorenya back to markaz. Si nona pulang, sedang hamba molor. Biar fit ikut takbiran. Katanya seru. Dan ternyata itu bukan cuma katanya.

Maghrib tiba, saya meluncur. Duduk manis menikmati kopi kapal api di angkringan palsu. Entah kenapa namanya ga marketable gitu, tetapi cukup joss. Dua cat rice tandas, ditambah tiga biji gorengan. Ini lafaar setengah maruk.

Setelah membayar sembilan ribu dirham, saya duduk manis di depan Libre Cuba. Ga nyaman, pindah lagi di depan  kios daging. Masih ga nyaman, loncat lagi di depan gang Sartono. Ini baru nyaman.

Di pinggir jalan. Warga sudah menanti rombongan takbir. Ada anak kecil yang lucu-lucu, ibunya yang juga lucu-lucu dan bapaknya yang biasa aja.

Setengah jam kemudian, rombongan takbir tiba. Takbir berkumandang diiringi perkusi khas yang unik. Mirip karnaval. Ayo ke Yogyakarta.



Ada yang bawa replika perahu, ada juga yang naik pick up yang sudah dihias. Yang paling ciamik yang bawa replika Garuda.


Sayang, rasa kantuk menyerang. Maka hambapun balik kucing ke kamar, cuci muka, pake cream malam trus ngeblog.

Itulah adventure day 2 yang masih tetap luar biasa. Hamba sadari, hamba yang amatir, hina, penuh dosa tapi tetep tampan ini tidaklah mungkin mampu bercerita dengan apik perihal Jogja.

Untuk itu, saudara-saudariku sebangsa dan setanah air, mampirlah ke Jogja. Nikmatilah berkat Tuhan yang satu ini. Jangan melulu ke Singapura, Taiwan, Jepang, Eropa, Australia, Zimbabwe atau Pluto. Liburan ke Yogyakarta.

Jogja selalu siap menantimu, seperti ibu yang selalu bahagia anak lanangnya pulang kampung.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

Rock u now and forever.

0 Response to "Menikmati Jogjakarta"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel