Dentang Gamelan Dari Selatan Pasifik

Para Pemain Gamelan Jawa / Catatanadi.com
Para Pemain Gamelan Jawa


Jawa dan Kaledonia Baru. Seakan tidak ada satu benang merah pun yang menghubungkan keduanya. Jawa bisa diartikan sebagai salah satu suku bangsa yang mendiami Indonesia, sebuah negara dengan luas wilayah yang cukup besar di Asia Tenggara. Sedang Kaledonia Baru, adalah negeri kepulauan yang secara wilayah bisa dibilang kecil, apalagi jika dibandingkan dengan Indonesia. Kaledonia Baru sendiri terletak di lautan Pasifik, tepatnya di seberang barat  Benua Australia.

Walau terpisah cukup jauh, tapi ternyata ada semacam kedekatan yang tidak terbantahkan antara Indonesia dan Kaledonia Baru. Suatu kedekatan yang dihubungkan oleh selembar benang merah yang mungkin belum banyak diketahui orang. Benang merah tersebut adalah: orang Jawa.

Ternyata di negeri yang sampai saat ini masih berada dalam kolonialisasi Perancis tersebut, terdapat banyak orang Jawa atau keturunan Jawa di sana. Tidak tanggung-tanggung, ada sekitar 7000 orang Jawa atau keturunan Jawa di sana. 2000 diantaranya bahkan memilih untuk berstatus sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Walau lebih dari setengah populasi Jawa tersebut yang memilih berpaspor Kaledonia Baru (Perancis), tapi mereka semua tetap berusaha untuk menjaga dan melestarikan budaya leluhur mereka.

Surga di Samudra Pasifik.

Seperti apa sebenarnya negeri bernama Kaledonia Baru tersebut? Seperti sudah disebutkan, Kaledonia Baru adalah sebuah gugusan kepulauan yang terletak di Selatan Samudra Pasifik, tepatnya berada di sebelah timur Benua Australia. Bersama dengan Fiji, Vanuatu dan negera-negara Pasifik Selatan lainnya, Kaledonia Baru masuk dalam wilayah sub-benua Melanesia.

Secara politis dan administratif pemerintahan, Kaledonia Baru masih berada dalam wilayah kekuasaan Republik Perancis. Status Kaledonia Baru pun sering berganti-ganti. Pada tahun 1853, negeri ini dianeksasi oleh Napeleon menjadi daerah jajahan Perancis. Kemudian pada tahun 1946, statusnya berubah sebagai wilayah seberang lautan Republik Perancis dengan ibukota bernama Noumea. Tetapi itu hanya bertahan tidak lama, karena pada 1999, statusnya kembali berubah. Kali ini Kaledonia Baru  menjadi wilayah jajahan Republik Perancis dengan status khusus (Sui Generisis)  pada tahun  1999. Ini memungkinkan Kaledonia Baru memiliki hak otonomi yang lebih besar dari sebelumnya.

Kaledonia Baru memiliki banyak tempat wisata yang indah dan menarik. Pantai-pantainya masih bersih dan terawat. Hutan-hutannya juga masih hijau dan asri. Di sana juga beberapa kali digelar event-event internasional, terutama yang berkaitan dengan olahraga air, seperti renang, ski air dan menyelam.  Hotel dan restoran juga cukup banyak, menjamur di hampir setiap tempat. Salah satu pemasukan negeri itu memang berasal dari bidang pariwisata, selain dari pertambangan dan subsidi pemerintah Perancis.

Wilayah Kaledonia Baru memiliki penduduk asli, yakni bangsa Melanesia yang berkulit hitam yang biasa disebut Kanaki. Oleh sebab itu, tak jarang Kaledonia Baru juga disebut sebagai Kanaki, merujuk pada nama suku pribuminya. Selain dihuni oleh suku Kanaki, Kaledonia Baru ternyata juga adalah negeri multiras, yaitu negeri yang dihuni oleh berbagai ras. Ada ras kulit putih Eropa, Cina, India, Tamil, Jepang, dan Jawa.

Pekerja yang ulet dan tangguh

Bagaimana bisa orang-orang Jawa tersebut tiba dan berkembang menjadi sebuah populasi yang cukup besar di Kaledonia Baru? Ternyata jika dirunut, sejarah kedatangan orang-orang Jawa ke wilayah jajahan Perancis tersebut sangatlah panjang.

Berawal dari dianeksasisnya (dikuasainya) kepulauan Kaledonia Baru oleh Perancis, maka wilayah itu difungsikan sebagai tempat pembuangan bagi para narapidana dan pemberontak dari Perancis. Kebanyakan, para pemberontak itu dipekerjakan di bidang pertanian dan perkebunan. Tetapi kemudian, sejak tahun 1894, Gubernur Perancis untuk Kaledonia Baru, Paulus Feillet membuat kebijakan baru. Ia menggantikan para narapidana dengan kaum pekerja imigran yang kemudian diikat dalam sebuah kontrak kerja.

Kebanyakan dari pekerja tersebut berasal dari Asia, termasuk Jawa (Indonesia). Selain bekerja di sektor pertanian dan perkebunan, ternyata mereka juga bekerja di sektor pertambangan (nikel dan krom). 

Kedatangan orang-orang Jawa pertama ke negeri itu terjadi pada 16 Februari 1896. Saat itu, ada 170 orang pekerja yang tiba ke Kaledonia Baru menggunakan kapal.  Tanggal itulah yang hingga kini dirayakan dan dihormati oleh komunitas Jawa sebagai hari peringatan kedatangan nenek moyang mereka di negeri Pasifik tersebut. 

Ada yang merayakannya dengan berkumpul bersama tetangga lalu menyelenggarakan berbagai pertunjukkan kesenian seperti ludruk dan wayang, ataupun  hanya sekedar makan bersama. Ada pula penduduk yang ‘nyekar’ ke tugu Centainer Du Gaz, di kota Noume. Tugu itu dibangun di lokasi pendaratan nenek moyang orang Jawa di Kaledonia Baru, ratusan tahun yang lalu.

Ketika terjadi demam Nikel dan Krom, maka jumlah pekerja asal Jawa yang pergi ke Kaledonia Baru pun bertambah banyak. Mereka selain bekerja di sektor pertambangan, juga ada yang berkerja sebagai pembantu rumah tangga bagi keluarga-keluarga Perancis maupun Belanda yang ada di sana. 

Gelombang kedatangan orang-orang Jawa tersebut berlangsung antara tahun 1896 hingga 1930. Ketika masa kontrak mereka habis, sebagian besar pekerja tersebut memilih kembali ke tanah Jawa.

Orang-orang Jawa yang datang ke Kaledonia Baru pada gelombang pertama (antara tahun 1896-1900) biasa disebut sebagai golongan Nouli. Merekalah yang dianggap sebagai pionir dan panutan bagi generasi-generasi sesudahnya. Semangat dan kerja keras mereka mampu meraih simpati dari kelompok masyarakat lain di Kaledonia Baru.

Tetapi kemudian terjadi gelombang kedatangan orang-orang Jawa yang kedua, yakni di tahun 1948 hingga pertengahan tahun 1995. Kebanyakan dari mereka kembali lagi ke tanah air karena mendengar Belanda sudah kalah dan Indonesia sudah merdeka. Walau begitu, ada pula yang lebih memilih untuk menetap di Kaledonia Baru.

Setelah tahun 1995, tidak ada lagi gelombang kedatangan orang-orang Jawa ke Kaledonia Baru. meskipun ada, sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang dibawa oleh orang Jawa-Kaledonia Baru untuk menetap di sana. Golongan ini kemudian disebut sebagai golongan ‘Jawa Jukukkan’. Kata Jukukkan sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti ‘diambil’.

Oleh masyarakat di Kaledonia Baru, orang Indonesia cukup dihormati. Ini tak lain karena keramahan dari orang-orang Jawa. Selain terkenal ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja, orang-orang Jawa di sana juga terkenal ulet dan pekerja keras.

Keramahan dari orang-orang Jawa tersebut juga  membuat mereka terhindar dari sentimen rasis yang biasa ditujukan penduduk asli (orang Kaniki) terhadap warga keturunan non-pribumi. Di Kaledonia Baru sendiri beberapa kali memang terjadi kerusuhan sipil yang dimotori oleh tokoh-tokoh masyarakat Kaniki. Mereka selalu berjuang untuk melepaskan diri dari kekuasaan Perancis dan berdiri sendiri sebagai sebuah negara merdeka.

Selain karena ramah, orang Jawa juga cukup disegani sebagai pekerja keras yang tangguh dan rajin. Semboyan yang selalu dipegang hingga hari ini adalah: ‘jika kamu mau mendapat lebih, maka kamu harus bekerja lebih’. Semboyan itu pula yang terus dipegang dan diamalkan oleh warga hingga hari ini. Maka tak heran kini, banyak dokter, sarjana, pengusaha dan bahkan tokoh politik dan pemerintahan yang berasal dari keturunan orang Jawa-Kaledonia Baru.  Mereka antara lain:

1.    Roesmani Sanmuhammad, anggota parlemen di Kaledonia Baru.
2.   J Waspan, wakil walikota Nouemea.
3.   Corine Voisin, walikota La foa, sebuah kota di Provinsi Selatan
4.  Emmanuelle Darman, Miss Kaledonia Baru 2005
     

Melestarikan Budaya

Ternyata, banyak keluarga Jawa yang masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Hal ini juga adalah upaya untuk melestarikan budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Sayangnya, kini sebagian generasi muda mereka mulai meninggalkan tradisi ini. Mereka bahkan lebih suka berbicara dalam bahasa Kreol Kaniki atau Prancis.

Selain bahasa, beberapa tradisi leluhur juga coba dilestarikan. Salah satunya adalah seni tari dan gamelan. Selain itu beberapa praktik budaya khas Jawa (Indonesia) yang juga masih dilakukan adalah sunatan dan silaturahmi ketika hari raya lebaran. Selain itu, kuliner khas Indonesia juga ternyata cukup diminati oleh warga Kaledonia Baru yang lain. Salah satunya adalah bakmi. 

Bangga atau malu?

Untuk terus melestarikan kebudayaan dan tradisi nenek moyang, maka dibentuklah sebuah organisasi yang memayungi warga Jawa, baik WNI ataupun yang berpaspor Kaledonia Baru (Perancis). Organisasi tersebut adalah PMIK atau singkatan dari Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya di Kaledonia Baru.

Bekerja sama dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di sana, PMIK kerap menyelenggarakan acara-acara budaya dan kesenian. Bahkan secara rutin dilaksanakan kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Terkadang ada kerinduan dari beberapa warga keturunan Indonesia di sana untuk menengok dan berziarah ke tanah air mereka di Indonesia.

Melihat fakta semacam ini, kita seharusnya berbangga. Ternyata walau telah meraih kesuksesan di negeri orang, mereka tidak melupakan budaya dan tradisi. Walau banyak yang sudah menjadi warga Kaledonia Baru (Perancis), tapi masih ada 2000 orang yang tetap memilih berpaspor Republik Indonesia. Setiap tanggal 16 Februari, mereka rayakan sebagai Hari Kedatangan.

Coba bandingkan semua itu dengan apa yang terjadi di sini, ketika warga bangsa yang terpisah lautan luas di sana tetap berusaha mempertahankan dan melestarikan budaya luhur nenek moyang, justru sebaliknya yang terjadi di tanah air sendiri. Budaya dan tradisi lambat laun menghilang dan hanya hidup dalam kenangan generasi masa lalu.

Lucunya, ketika budaya tersebut diklaim oleh negeri-negeri tetangga seperti yang heboh terjadi beberapa waktu lalu, secara emosional dan menggebu-gebu masyarakat marah, mengutuk bahkan mengajak perang. Padahal setelah sumpah serapah dan kemarahan tersebut menguap, kebudayaan yang diperebutkan itu tetap bernasib menyedihkan, berjuang terseok-seok melawan globalisasi dan budaya hedonis.

Mungkin, suatu saat nanti, orang Jawa di Indonesia harus menyebrangi lautan menuju  Kaledonia Baru, untuk belajar Gamelan dan Ludruk.

0 Response to "Dentang Gamelan Dari Selatan Pasifik"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel