Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gerakan Suku Samin

Samin adalah salah satu suku yang berdiam di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pemukiman suku Samin ini berada di sekitar Pegunungan Kendeng yang memanjang dari Pati di Jawa Tengah, hingga Tuban di Jawa Timur.

Sejarah Suku Samin
Ki Samin Surosentiko?

Selain di sebut Samin atau orang Samin, ada beberapa sebutan lain yang digunakan untuk merujuk pada para penganut Saminisme ini, seperti wong Samin (orang Samin), wong Sikep (orang Sikep) , Sedulur Sikep ataupun orang Kalang. (suku Hutan?)

Untuk yang terakhir, lebih digunakan sebagai hinaan pada orang Samin, sebagai orang rimba atau orang hutan yang tak tahu sopan santun.Ada banyak hal yang cukup unik mengenai suku Samin ini, salah satunya bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Walau menggunakan bahasa Jawa, tapi dialek serta sistem bahasa mereka berbeda dengan yang ada di masyarakat Jawa pada umumnya.

Demikian pula dengan tata cara berpakaian mereka. Mereka sering terlihat memakai pakaian serba hitam. Apalagi kaum Samin konservatif, yang tidak pernah memakai peci, celana jeans apalagi kaos oblong.

Tapi yang paling unik adalah mengenai pandangan hidupnya. Orang Sikep sangat menjunjung tinggi kejujuran, welas asih, persaudaraan dan mencintai lingkungan hidup serta alam semesta.

Dalam komunitas Sedulur Sikep, terutama bagi mereka yang konservatif, tidak ditemukan satu anggota komunitas pun yang berprofesi sebagai pedagang.

Bagi mereka, perdagangan adalah pintu masuk bagi ketidak jujuran, keserakahan dan hedonisme. Memang dalam perdagangan, dikenal dengan istilah laba atau keuntungan. Laba inilah yang nantinya menjadi tujuan bahkan sering orang menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi orang Samin.

Laba adalah cerminan ketidak jujuran. Suatu hal yang sangat diharamkan dalam ajaran Saminisme. Suku Samin, yang kebanyakan berprofesi sebagai petani, juga menolak menggunakan barang-barang elektronik.

Mereka lebih memilih menggunakan kerbau untuk membajak sawah daripada traktor. Itulah mengapa kaum Samin sangat memuliakan alam. Kelestarian alam adalah berarti kelestarian kehidupan. Sedang kehancuran alam berarti juga hancurnya kehidupan mereka.

Sejarah Gerakan Samin

Sejarah Samin tidak dapat dipisahkan dari sepak terjang Raden Kohar. Tokoh politik dan intelektual yang hidup pada masa penjajahan Belanda di abad 18 tersebut adalah tokoh kunci dalam penyebaran ajaran Saminisme.

Pria yang terkenal karena keberpihakannya kepada wong cilik yang termajinalkan itu dengan berani melawan kolonialisme kulit putih, berkelana dari satu kota ke kota lain untuk mengajarkan sebuah metode baru dalam melakukan perlawanan.

Raden Kohar sendiri sebenarnya masih keturunan bangsawan. Ia lahir pada tahun 1859 di Ploso, Kedhiren, Randublatung, Blora, Jawa Tengah.

Ia adalah putra dari Raden Surawijaya, atau yang oleh masyarakat Sedulur Sikep kemudian disebut dengan nama Samin Sepuh.

Raden Kohar sendiri masih memiliki hubungan darah dengan Kyai Keti (seorang tokoh kenamaan yang cukup tersohor dari daerah Rajegwesi, Bojonegoro, Jawa Timur) dan Pangeran Kusumoningayu, penguasa daerah Sumoroto (sebuah daerah kuno yang kini masuk Kabupaten Tulungagung).

Jika di Inggris memiliki seorang tokoh legendaris yang sarat mitos bernama Robin Hood (seorang kesatria bersenjata panah yang merampok orang-orang kaya dan membagikan hartanya pada orang miskin), maka di Jawa memiliki tokoh sejarah bernama Raden Kohar, putra Raden Surawijaya.

Ia mengajak para begundal dari Rajegwesi untuk kemudian melakukan berbagai perampokan dan membagikan hasil rampokannya pada orang-orang miskin.

Simpati dan rasa kepedulian Raden Kohar pada kaum miskin memang begitu besar. Untuk lebih mendekatkan diri kepada masyarakat (wong cilik), ia kemudian berganti nama menjadi Samin Surosentiko. Oleh beberapa pengikutnya, ia juga dipanggil dengan sebutan Kyai Samin. Kelak nama itulah yang menjadi sebutan bagi ajaran dan pengikut yang melestarikan ajarannya.

Selain melakukan aksi heroik ala Robin Hood, Kyai Samin juga mengajarkan sebuah metode baru untuk melawan para penjajah kulit putih kepada rakyat jelata. Metode ini cukup unik, tapi pada akhirnya benar-benar mampu membuat pemerintah penjajah Belanda geram. Salah satu metode tersebut mengajak rakyat untuk tidak membayar pajak apapun kepada negara (Belanda) karena hanya akan memperkaya para pejabat saja.

Mengenai kampanye boikot pajak ini, ada sebuah cerita unik. Suatu ketika, seorang pejabat pajak mencoba menarik pajak kepada seorang Sikep. Dengan enteng wong Samin itu mengambil uang dan bertanya “iki duwite sopo?” (ini uang siapa?). Ketika sang Pejabat pajak berkata “duwitmu” (uangmu), maka warga Sikep itu langsung memasukkan uang tersebut ke kantong kembali dan pergi ngeloyor begitu saja.

Kyai Samin juga mengajarkan kesederhanaan dan hidup selaras dengan alam kepada para pengikutnya. Mereka mengatakan bahwa alam Jawa bukanlah milik penjajah. Untuk itulah banyak warga Samin yang membuat pusing Belanda, ketika mereka dengan seenaknya mengambil kayu dan ranting dari hutan-hutan jati yang dikelola pemerintah.

Padahal orang Sikep hanya mengambil sebatas yang mereka butuhkan. Tidak pernah mereka menebang kayu untuk dijual kembali.

Ajaran Saminisme
Pada tahun 1890, Kyai Samin mulai menyebarkan ajarannya kepada rakyat di daerah Klopodhuwur, Blora, Jawa Tengah. Hanya dalam waktu singkat, Kyai Samin mulai memiliki banyak pengikut yang seluruhnya adalah petani miskin.

Akibatnya Belanda mulai curiga. Kemudian, melalui para pejabat Desa dan antek-anteknya, Belanda melakukan teror terhadap para penganut Saminisme. Hal ini cukup membuat gerak Kyai Samin dan para pengikutnya tidak leluasa.

Puncaknya, pada tahun 1907, Samin Surosentiko dan delapan orang pengikutnya ditangkap oleh Asisten Wedana Randublatung, Raden Pranolo.

Mereka kemudian dibuang ke Padang, Sumatera Barat. Sejak saat itu, Samin Surosentiko tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke tanah Jawa, hingga akhirnya meninggal pada tahun 1914.

Penangkapan Kyai Samin sendiri hanya berselang 40 hari sejak dirinya diangkat oleh para pengikutnya sebagai sang Ratu Adil (raja adil) dengan gelar Prabu Suryongalam. Penangkapan dan pembuangan prabu suryongalam tidak membuat para pengikutnya kapok. Mereka bahkan semakin bersemangat untuk menyebarkan ajaran Saminisme ke berbagai penjuru mata angin.

Ajaran Saminisme pun berkembang pesat di kota-kota di daerah utara Pulau Jawa. Tetapi dua tempat, yakni Desa Klopodhuwur di Blora, dan Desa Tapelan di Bojonegoro, tetap menjadi pusat ajaran Saminisme.

Beberapa kota yang memiliki komunitas Sedulur Sikep yang cukup banyak antara lain Kudus, Blora, Purwodadi, Sragen dan Pati di Provinsi Jawa Tengah. Selain itu, ajaran Saminisme juga sempat berkembang pesat di Bojonegoro, Ngawi, Madiun, dan Tuban di Provinsi Jawa Timur.

Pakaian Orang Samin

Pada zaman dahulu, seorang panganut Saminisme dapat diketahui dengan jelas dengan hanya melihat pakaiannya. Orang-orang Samin, terutama Samin pada era awal, tidak pernah memakai peci.

Sebagai gantinya mereka mengenakan udeng, semacam ikat kepala yang terbuat dari kain dan bermotif batik berwarna hitam. Udeng ini (orang Samin menyebutnya iket) adalah salah satu identitas khas yang dimiliki orang Samin.

Selain memakai iket, bagi kaum lelaki Samin, juga memakai pakaian serba hitam, baik baju maupun celananya. Bajunya sendiri berupa baju lengan panjang tanpa kerah. Sedang celananya adalah celana pendek selutut (komprang).

Sedang untuk wanita, pakaian adatnya adalah kebaya lengan panjang berkain (gaun) sebatas di bawah tempurung lutut atau di atas mata kaki.

Bahan pakaian orang Samin sendiri terbuat dari kain keras yang bertekstur cenderung kasar. Kini sangat sedikit orang Samin, terutama dari generasi mudanya, yang melestarikan ciri khas ini. Generasi mudanya kini malah banyak yang sudah gemar memakai kaos oblong, jeans, hingga aksesori lainnya.

Ketika pada zaman penjajahan Belanda dulu, orang Samin masih memegang kuat tradisinya. Ini membuat mereka mudah dikenali. Akibatnya Belanda dengan mudah menjadikan mereka sebagai sasaran teror dan penangkapan.

Bahasa Orang Samin

Ajaran pokok orang Samin adalah kejujuran. Hal ini terlihat dari cara berpakaian mereka yang sederhana dan bersahaja. Selain itu kejujuran itu juga tampak dari bahasa yang digunakan seharai-hari. Pada dasarnya orang Samin menggunakan bahasa Jawa kawi yang bercampur dengan Jawa ngoko.

Bagi kebanyakan orang Jawa, bahasa yang digunakan oleh orang Sikep ini cenderung kasar. Hal ini cukup bisa dimengerti, menginggat dalam struktur tata bahasa Jawa kawi yang digunakan oleh orang Sedulur Sikep, mereka tidak mengenal adanya tingkatan jenis bahasa.

Sedang bahasa Jawa pada umumnya mengenal beberapa tingkatan bahasa, dengan berbagai tetek bengeknya yang jauh lebih ribet dari bahasa orang Samin.

Walau begitu bukan berarti orang Samin adalah kaum yang tidak mengerti sopan santun. Mereka sebenarnya justru sangat halus, sopan dan ramah.

Bagi mereka, cara menghargai orang lain dapat ditunjukkan melalui perbuatan, bukan bahasa. Jika bertamu ke rumah orang Sikep, biasanya orang luar akan langsung tercengang melihat bagaimana mereka sangat menghargai tamunya.

Orang Sikep akan mengeluarkan semua makanan yang dipunyai untuk dihidangkan. Mereka juga tidak akan berbohong tentang apapun.

Kejujuran orang Samin yang luar biasa itu akhirnya menimbulkan kesan bodoh atau dungu bagi sebagian orang non-Samin. Umpamanya, ketika ditanya berapa anaknya, maka setiap orang Samin selalu menJawab dua, yakni lelaki dan perempuan. Pun jika ditanya dari mana mau ke mana, orang Samin dengan lugu menjawab dari belakang mau maju ke depan.

Bahkan istilah jual beli juga baru-baru ini saja mereka gunakan. Sebelumnya mereka menggunakan istilah ijol atau dalam bahasa Indonesia berarti tukar/barter. Bagi orang Samin, beli, jual atau ijol tidak ada bedanya.

Hanya dalam beli atau jual, alat tukarnya selalu sama, yakni uang. Sedang dalam komunitas Samin, mereka lebih suka melakukan ijol tanpa perantara uang.


Bahkan andaikata harus melakukan transaksi yang menggunakan uang, mereka juga sangat cermat dan hati-hati. Jika membeli barang seharga Rp 1.000 maka mereka akan menjualnya dengan harga yang tidak lebih dari itu. Sayangnya hal itu sering dimanfaatkan oleh oknum-oknum non-Samin untuk meraup keuntungan.

Agama Adam

Banyak orang luar, terutama pada era orde baru, mengangap orang Samin adalah kaum barbar yang tidak beragama. Hal itu jelas-jelas merupakan fitnah keji. Sejak awal terbentuk, komunitas penganut ajaran Samin Surosentiko ini sudah memilliki agamanya sendiri, walaupun agama tersebut tidak masuk dalam enam agama yang diakui pemerintah.

Bagi golongan tua kaum Samin, hingga kini agama yang mereka anut adalah agama yang sama yang dianut oleh orang Samin awal, yaitu agama Adam. agama Adam sendiri dikembangkan oleh pendiri gerakan Samin, yakni Kyai Samin, sebagai agama kaum Samin. Dalam agama Adam, nilai-nilai moralitas seperti kejujuran, welas asih, tangggung Jawab, dan menyayangi alam sangat ditekankan.

Selayaknya agama yang lain, agama Adam juga memiliki kitab sucinya sendiri, yakni Kitab Jamus Kalimasada. Kitab ini kebanyakan berisi berbagai ajaran dan falsafah hidup yang tertulis dalam bentuk syair atau guritan. Dengan kitab itulah, orang Samin senantiasa menjaga semangatnya untuk terus patuh pada tradisi Saminisme yang menjunjung tinggi kejujuran.

Ada beberapa orang yang mengatakan agama Adam ala orang Sikep ini merupakan kombinasi atau sinkretisme dari ajaran Hindu Jawa (berbeda dengan Hindu bali, tetapi lebih mirip seperti yang dianut oleh orang kejawen/kebatinan Jawa) dan ajaran Buddha dan Islam.

Sedang oleh beberapa peneliti yang berlatar belakang pendidikan berlabel liberalis, agama Adam dipandang sebagai agama bumi (lawan dari agama samawi/agama langit) yang berkaitan dengan kesuburan, pertanian dan tahayul.

Mereka juga menyebut agama Adam sebagai sebuah aliran kepercayaan yang segolongan dengan aliran animisme dan dinamisme.

Jelas orang Samin tidak bisa menerima itu semua. Bagi mereka, agama adalah agama Adam. Walau kini banyak juga generasi orang Samin yang mulai menganut islam atau Buddha.

Agama Adam sendiri mengajarkan untuk tidak membenci penganut agama lain. Itu mengapa orang Sikep tidak pernah bermusuhan dengan penganut agama lain, walau pemerintah dan pihak-pihak tertentu terus memaksakan beberapa agama resmi negara pada orang Samin.

Masalah Komunitas Samin

Dalam era globalisasi seperti sekarang arus informasi dan budaya hedonism telah menenggelamkan banyak kearifan lokal. Sedang sisanya yang masih bertahan, harus berjuang dengan keras untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Tak terkecuali orang Samin beserta budayanya.

Salah satu kesulitan dalam melestarikan ajaran Saminisme adalah kenyataan bahwa Belanda sudah pergi dan Indonesia sudah merdeka. Saminisme tumbuh karena rasa muak rakyat terhadap penjajahan, salah satunya dengan menolak membayar pajak dan berkontribusi pada pembangunan. Tapi kini, daya tarik itu mulai luntur dengan sendirinya.

Selain itu, lahan pertanian yang menjadi sumber utama pencaharian orang Samin semakin sempit. Panen juga semakin sedikit karena cuaca dan iklim yang berubah-ubah. Ini membuat banyak pemuda Samin mulai keluar komunitas mencari pernghidupan lain.

Akhirnya mereka bersentuhan dengan budaya luar dan mulai melepas identitas Saminnya. Ajaran agama orang Samin, yakni agama Adam, juga mulai terancam. Hal ini karena anak-anak Samin, terutama yang memilih bersekolah, tidak mendapat layanan pendidikan agama Adam.
Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

Posting Komentar untuk "Gerakan Suku Samin"

Artikel Bisnis dan Peluang Usaha

Recent Posts Label

Artikel Teknologi

Recent Posts Label

Artikel Pendidikan

Recent Posts Label

Kumpulan Cerpen

Recent Posts Label

Artikel Pilihan Hari Ini