Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi Adalah Masa Depan Manusia

Bertrand Russel pernah mengungkapkan bahwa kelahiran ilmu pengetahuan telah dan akan menghapuskan tradisi yang sudah berumur sangat lama.

Pengetahuan, sains dan teknologi, adalah ibarat cahaya baru namun bukan berasal dari surga, melainkan dari dalam diri manusia.

Gerhana | Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi
Gerhana | Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi

Para imam di Babilonia tahu bahwa gerhana bulan hanyalah peristiwa alam biasa dan bisa ditebak kapan terjadinya. Namun mereka menggunakan itu untuk mengkekalkan kekuasaan mereka serta melahirkan ajaran-ajaran palsu yang terlihat mistik, hebat serta surgawi.

Pengetahuan adalah cahaya yang akan mengusir kegelapan yang ada dalam peradaban manusia. Dengan pengetahuan kita tak perlu lagi menyiksa orang yang mengalami gangguan jiwa karena menuduhnya kerasukan setan. Atau mengorbankan pria dan wanita yang tak bersalah demi menyogok Tuhan untuk menurunkan hujan.

Namun ada harga yang harus dibayar bagi sebuah kesadaran. Einstein terlarut dalam kondisi nyaris gila demi menyusun teori relativitas khususnya. Lebih daripada itu, hasil kontemplasi dan perjuangannya justru berkontribusi dalam menciptakan senjata-senjata pemusnah massal yang diproduksi Amerika Serikat.

Dalam tulisan kali ini, aku ingin membahas mengenai apa yang seharusnya dicapai manusia dengan sains dan pengetahuan dan bagaimana seharusnya manusia meningggalkan tradisi kosong melompong yang sudah terbukti tidak ilmiah, menyiksa serta penuh kebohongan.

Dua hal di atas akan menjadi fokus bahasanku kali ini dan aku sadari itu jua tidaklah mudah mengingat dari bangun tidur hingga mau tidur kita khususnya sebagai masyarakat sangat dekat dengan tradisi, ajaran-ajaran sorgawi serta hal-hal yang tidak mampu dibuktikan secara ilmiah namun terus dibela mati-matian dan dipertahankan berdarah-darah.

Sorga Di Bumi

Jadilah kehendakMu, di bumi seperti di sorga. (Yesus Kristus dalam Doa Bapa Kami)

Seperti apa itu sorga? Ada ribuan tuhan dan belasan ribu agama, namun semua punya pandangan masing-masing tentang alam baka. Lantas mana yang benar? Dengan matematika paling dasar sekalipun kita bisa simpulkan tidak mungkin semua benar. Ada yang benar ada yang salah.

Kenapa demikian? Bukankah agama bukan matematika? Tentu saja bukan, tetapi agama tetaplah sesuatu yang harus diikuti dengan nalar, atau kita akan terus melahirkan kepedihan, perang, pengeboman, pembantaian, termasuk perceraian.

Lihatlah rumusan paling sederhana yang bahkan sudah diajarkan sejak SMP.

Jika A ≠ B, maka :

bila A benar, B salah.

bila B benar, A salah.

Keduanya mungkin salah.

Keduanya tidak mungkin benar sekaligus. Ada yang salah, ada yang benar. Atau bahkan keduanya salah.

Sejauh apa perbedaan antara agama? Atau sedekat apa kesamaan antar agama? Sangat bervariasi. Ada yang percaya satu tuhan, ada yang menyembah banyak dewa. Semua memiliki peraturan, dalil, dan yang terpenting adalah sistem pertahanan diri.

Sistem pertahanan diri ini memungkinkan agama untuk tetap mendapatkan pengikut garis keras yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Nyaris semua agama, dalam hematku, memiliki sistem ini.

Apa yang terdapat dalam sistem pertahanan diri ini. Setidak-tidaknya mencakup beberapa hal umum berikut ini :

  • Agama lain salah, agama tersebutlah yang paling benar.
  • Pengikut agama lain masuk neraka, pengikut agama tersebut yang masuk sorga.
  • Keluar dari agama tersebut pasti masuk neraka.
  • Agama tersebut memiliki banyak ramalan, nubuatan, dan firman yang semakin hari semakin terbukti kebenarannya disesuaikan dengan isu terkini, penemuan terbaru di bidang sains atau hal-hal besar pada suatu masa seperti gunung meletus, perang, wabah penyakit, gerhana, dll. 
  • Menyiarkan agama tersebut ke semua orang adalah kewajiban serta berhadiah pahala/surga.
  • Membuat orang lain menjadi penganut baru agama tersebut adalah tindakan muliah berhadiah pahala/surga.
Dua poin terakhir merupakan sebuah sistem pertahanan diri sekaligus sistem ofensif yang agresif. Lantas apa tujuan dari semua agama? Sekali lagi adalah bervariasi, namun secara umum mereka selalu memfokuskan diri pada alam baka, yakni hidup setelah mati. Maka muncullah istilah sorga dengan berbagai macam kondisi.

Lantas apa yang difokuskan oleh sains, ilmu pengetahuan dan teknologi? Apakah juga mengurusi masalah alam baka? Tentu tidak dan tidak akan pernah.

Ketiga hal tersebut, yakni ilmu pengetahuan, sains dan teknologi berdiri di atas landasan ilmiah yang tentu saja mewajibkan semua orang untuk menggunakan nalar, melakukan penghitungan, mengamati fakta serta membuktikan dugaan dengan tindakan yang bisa diperdebatkan serta diuji kembali. 

Alam baka dan sorga bukanlah fokus utama dari sains, meskipun bermunculan cabang-cabang baru yang rasa-rasanya entah bagaimana melulu fokus pada hal-hal gaib. Misal metafisika dan astrologi.

Aku sendiri meragukan metafisika dan astrologi. Santo Agustinus dengan baik mendobrak kebohongan astrologi dengan mengatakan dua orang kembar bisa saja memiliki nasib yang berlainan. Sesuatu yang tentu mengejutkan bagi astrologi namun segera diserang balik dengan dalil-dalil baru yang dibuat-buat. 

Jikalau tujuan akhir dari agama adalah hidup setelah mati atau yang dikenal dengan alam baka, maka tujuan akhir dari ilmu pengetahuan, sains dan teknologi adalah tidak ada. 

Ketiga hal tersebut tidak memiliki tujuan akhir karena seperti semesta yang selalu memuai dan meluas, obsesi dan taraf hidup serta peradaban manusia haruslah berkembang jua. Bahkan dengan hal ini, maka kita bisa menghadirkan surga di bumi. 

Seperti apa gambaran surga yang bisa dicapai oleh sains, pengetahuan dan teknologi? Adalah sebagai berikut sesuai dengan setidak-tidaknya gambaran umum mengenai surga dari agama yang ada : 

  • Terbebasnya manusia dari sakit penyakit. Dengan kemajuan teknologi kedokteran dan meningkatnya moralitas para tenaga medis, hal seperti ini bisa mendekati kenyataan.
  • Berhentinya semua perang. Manusia akan memfokuskan diri pada hal-hal yang lebih fundamental bagi hidupnya begitu tahu fakta-fakta mengerikan tentang pencairan es di kutub, jumlah minyak bumi yang menipis atau ledakan penduduk. Tidak ada lagi waktu untuk memaksa orang lain mengikuti kepercayaan nenek moyang mereka yang bahkan mereka sendiri mulai meragukan.
  • Kedamaian melalui ketersediaan kebutuhan dasar berupa makanan. Ilmu pangan, pertanian, biologi dan tentu saja komputer akan makin memainkan peranan. Manusia tak perlu angkat senjata untuk membantai sesamanya demi mendapatkan makanan, lahan pertanian maupun bahan mentah.
Pencapaian sorga di bumi tinggal menunggu waktu. Namun waku itu akan semakin panjang jika manusia masih melulu ribut berperang atas nama tradisi dan hal-hal yang sulit dibuktikan secara ilmiah. 

Alam baka dan kehidupan sesudah mati menjadi fokus orang-orang untuk saleh. Ini baik. Namun yang berbahaya adalah ketika mereka memaksakan tujuan hidup mereka pada orang-orang yang memiliki tujuan berbeda. 

Merebut Tombak Zeus

Dewa Zeus | Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi
Dewa Zeus | Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi

Zeus adalah perwujudan dari rasa takut manusia Yunani kuno pada petir. Kecerdasan orang-orang Aegea dan Asia Kecil dari masa ke masa yang masih berlandaskan ketakutan ini akhirnya melahirkan kisah-kisah bualan tentang dewa yang hobi menghamili manusia atau manusia setengah kambing maupun para monster penguasa samudera. 

Jika benar Zeus dan para dewa Olimpus adalah ciptaan manusia, maka celakalah nenek moyang kita yang ketakutan dan melakukan penyembahan pada apa yang mereka ciptakan sendiri.

Inilah saatnya manusia yang sudah hidup di zaman baru yang dipimpin oleh akal dan penalaran untuk merebut kembali tombak yang diberikan nenek moyang kita pada Zeus.

Tanpa tombak itu, Zeus kembali hadir sebagai fenomena alam biasa yang terbebas dari kekuatan untuk membuat manusia harus tunduk padanya.

Tanpa dada yang rimbun itu, manusia tak perlu lagi menyembelih anaknya untuk menyenangkan Aystoret si dewi kemakmuran.

Kitalah yang menciptakan para naga dan Medusa. Para dewa dan penduduk Asgard yang terlampau hebat itu.

Persis seperti kata Bertrand Russel, wilayah dengan tingkat pengetahuan tinggi akan memungkinkan pertumbuhan teknologi. Tentu sebagai penduduk bumi, kita harus menyebarkan ini agar semua setan dan makhluk astral tak lagi punya tempat termasuk di gua yang gelap, lorong-lorong bangunan kuno ataupun gunung-gunung yang katanya sakral.

Suku Aztek | Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi
Suku Aztek | Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi

Pada masa lalu, orang-orang menyembelih sesamanya demi menyenangkan dewa. Ada yang bertujuan supaya menang perang, mendatangkan hujan, sukses ketika panen atau supaya kota yang didirikannya ramai. 

Apa hubungan ilmiah antara mengkuliti lalu memutilasi orang tanpa pembiusan demi turunnya hujan? Tentu tidak ada tetapi tradisi ini bertahan sangat lama. Dengan sistem pertahanan diri yang kuat, kepercayaan jahanam ini tidak memungkinkan nalar manusia untuk bekerja. Inilah contoh sederhana mengenai bahayanya memeluk agama tanpa menggunakan otak, setidaknya agama orang Indian kuno.

Sedihnya, untuk kadar kesadisan yang berbeda, kasus semacam ini tidak hanya ada di Aztek, namun juga di berbagai belahan bumi lainnya. 

Ketakutan yang berlebihan manusia pada ciptaan dan cerita yang mereka karang sendiri juga berakibat fatal bagi kehidupan. Orang-orang Viking mengira berperang dengan brutal dan mati adalah sesuatu yang sangat terpuji sehingga membuat arwah mereka masuk Valhala, sebuah surga orang Nordik kuno. 

Apa akibatnya? Perampokan, penyerangan, penghancuran dan pemerkosaan disertai korban-korban bergelimpangan. Ajaran yang menyatakan membunuh adalah sarana masuk sorga, seperti Viking ini, harus segera dimusnahkan. Untung jaman sekarang orang-orang Swedia, Norwegia ataupun Denmark tak sudi melakukan kebodohan yang sama seperti nenek moyangnya. Mereka fokus pada pengembangan IPTEK dan hasilnya negaranya maju pesat. 

Masa Depan Gemilang

Dewa Odin dari Viking| Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi
Dewa Odin dari Viking| Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi

Menciptakan sorga di bumi dan menyingkirkan tradisi yang berbahaya serta biadab adalah tugas manusia, bukan sains, pengetahuan maupun teknologi. 

Dengan akal budi dan kecerdasan, manusia punya modal maha hebat untuk mengakhiri penderitaan yang diakibatkan dari hal-hal yang tidak perlu.

Namun tantangan masih sangat besar. Termasuk salah satu diantaranya adalah menghancurkan struktur yang diciptakan manusia yang membelah mereka menjadi bagian-bagian terpisah dan saling bersaing. 

Manusia harus hidup sebagai sebuah spesies yang bersatu di bawah satu komando tunggal yang menerbitkan kemerdekaan bagi semua orang, kebebasan bagi setiap jiwa dan kecukupan untuk seluruh penduduk bumi. 

Masa depan gemilang bisa kita raih dan mematahkan mitos bahwa di masa depan, bumi akan mengalami kiamat yang ditandai dengan perang besar dan bencana tak berkesudahan. Semua itu biasa yakni ketika manusia mampu menghadirkan surga di bumi.

Selain itu manusia harus menyingkirkan ajaran-ajaran yang menghambat kemajuan IPTEK serta membuat sesama sodara saling bunuh demi kesenangan di alam baka.

Semakin maju manusia, semakin berkembang otaknya. Lalu dengan otak yang cerdas, manusia tak akan sudi membunuh hanya karena berbeda keyakinan.

Ini sama sekali tidak terkait dengan atheisme atau agnostikme. Masa depan gemilang manusia tidak terkait dengan isme apapun melainkan adalah berpondasi pada kesadaran universal untuk memfokuskan diri pada hal-hal yang mendesak dan ilmiah. 

Elon Musk dan para cerdik cendekia sudah mulai melakukannya dengan memikirkan hal-hal yang selama ini tak mampu dibayangkan oleh manusia-manusia kuno. 
Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

Posting Komentar untuk "Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi Adalah Masa Depan Manusia"

Selebriti Asia

Recent Posts Label

Selebriti Indonesia

Recent Posts Label

Artikel Bisnis

Recent Posts Label

Artikel Kesehatan

Recent Posts Label

Artikel Misteri

Recent Posts Label

Artikel Perang

Recent Posts Label

Artikel Sejarah

Recent Posts Label

Seputar Pendidikan

Berlangganan via Email