Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar dari Prinsip Hidup Orang Tionghoa

Pada umumnya orang menganggap warga keturunan Cina atau yang juga disebut Tionghoa memiliki banyak sekali kelebihan, khususnya di bidang pengelolaan finansial. Saya sebagai salah satu orang yang dekat dengan mereka membenarkan hal tersebut.

Menurut pengalaman pribadi saya, orang-orang Tionghoa ini memiliki banyak prinsip hidup yang luar biasa yang mana dari sana saya bisa belajar, tetapi belum tentu mampu melakukannya.

Saya memang bukan orang keturunan, tetapi dalam hampir 15 tahun ini berkecimpung di lingkungan yang mayoritas adalah Chindo.

Orang-orang Chindo atau Cina Indonesia ini punya banyak kesamaan pandangan hidup. Meski demikian haruslah dicatat orang Tionghoa tidaklah seragam.

Tidak semua orang Tionghoa beragama Kristen. Ada yang Buddha, Katholik, Muslim, Konghucu, bahkan Hindu. Teman yang saya kenal dari online bahkan terang-terangan mengaku agnostik. 

Selain itu patut diakui meski ada warga keturunan yang miskin atau tidak kaya-kaya banget, tetapi daftar crazy rich di Bandung, Jakarta, Solo terlebih Surabaya banyak diisi pengusaha berlatar belakang Cina. 

Orang Tionghoa juga tidak semua menjadi pengusaha. Kini banyak dijumpai guru, dosen, dokter, PNS ataupun politisi Cina Indonesia.

Sebut saja Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang juga merupakan tokoh publik paling populer dari kalangan Tionghoa. Selain itu ada nama lainnya seperti Grace Natalie yang adalah ketua Partai Solidaritas Indonesia, Kwiek Kian Gie tokoh lawas di dunia politik sekaligus ekonomi, dan terbaru pengusaha tampan yang bikin iri banyak pria, Harry Tanoe.

Perlu digaris-bawahi juga bahwasannya tidak semua orang Chindo menolak berkumpul dengan warga non-Tionghoa. Ahok misalnya, bahkan menikahi Puput Nastiti Devi, mantan polwan kelahiran Nganjuk, Jawa Timur.

Prinsip Hidup Orang Cina

prinsip hidup orang Tionghoa
prinsip hidup orang Tionghoa

Rasa-rasanya, secara umum ada satu frasa yang bisa menghubungkan mayoritas Cina di seluruh dunia : kerja keras. Dan saudara-saudara kita suku bangsa Tionghoa juga memilikinya.

Orang Tionghoa memiliki leluhur perantau Cina. Mereka menyeberangi lautan yang penuh bahaya untuk kemudian sampai di Batavia, Bangka, Palembang, Singkawang, Semarang, Surabaya atau kota-kota lain di Indonesia untuk mencari penghidupan.

Tinggal di tempat yang baru dengan bahasa, budaya dan kondisi politik yang berbeda mengharuskan mereka untuk memiliki kemampuan bertahan hidup yang mumpuni.

Tidak mungkin mereka ekslusif, karena pada dasarnya banyak leluhur Cina yang bermata-pencaharian sebagai pedagang ataupun kuli kasar di pertambangan dan perkebunan.

Jadi jelas, mereka ada kaum yang terbuka, meski dalam level tertentu memiliki perbedaan dengan suku-suku asli Indonesia lain.

Sifat orang Cina yang membuat mereka sukses adalah kerja keras. Orang-orang ini biasa kerja melebihi teman-temannya. Bahkan di masa sekarang, mereka siap ambil lembur atau punya usaha sampingan. 

Saya punya banyak pengalaman yang bisa menceritakan bagaimana hebatnya orang tua Tionghoa ini memperlihatkan etos kerja mereka kepada anak cucunya, dengan tindakan, bukan hanya ucapan.

Sebut saja Bu Linda, seorang wanita dengan tiga anak yang bongsor. Ia bangun setiap hari sebelum jam tiga subuh. Begitu bangun hal yang ia lakukan adalah memeriksa pekerjaan rumah anaknya, menuliskan latihan soal-soal yang harus mereka kerjakan sebelum berangkat sekolah, lalu mulai merapikan rumah dan memasak.

Pukul lima, ia sudah berangkat ke toko, meninggalkan anak-anak bersama dengan oma mereka. Di toko, ia bukan berperan sebagai bos yang duduk di belakang meja dengan nota dan pensil di jemari. Ia pergi ke gudang, mengambil gula atau sabun dan membawanya ke etalase. Selain itu ia menghitung sendiri barang dari suplier. Ia juga sering terlihat membantu menuangkan minyak goreng curah ke kemasan yang siap jual. Sebagai seorang wanita, tenaganya tak kalah dengan lelaki.

Pulang pukul 12, ia masak dan makan. Lalu segera kembali toko. Pukul 4, ia mengawasi anaknya les sambil mengkoreksi jawaban mereka. Setelah memasak atau sekedar menghangatkan makanan untuk makan malam, ia kembali lagi ke toko.

Dari cerita singkat di atas bisa dilihat beberapa prinsip hidup yang dipegangnya selaku orang Tionghoa dengan jelas : 

  • Kerja keras.
  • Mementingkan pendidikan.
  • Mengutamakan keluarga.
  • Tekun.
  • Pantang menyerah.

Semua sikap itu, hebatnya diajarkan bukan melalui ucapan semata tapi juga dicontohkan lewat tindakan nyata. 

Orang Tionghoa Kaya

orang Tionghoa
orang Tionghoa

Siapa menabur ia menuai. Sebaliknya siapa yang hanya rebahan, jangan heran nasib malang akan datang. Hidup kere juga jadi sebuah keniscayaan.

Orang-orang pekerja keras Tionghoa akhirnya mendapatkan buah dari kerja keras mereka. Kesuksesan datang. Tokonya berkembang karena pembeli percaya pada kualitas dan pelayanan yang prima. Anak-anak mereka mendapatkan pendidikan di institusi bonafid yang jelas beda dari sekolah ecek-ecek pinggiran yang sebenarnya eksistensinya juga perlu dipertanyakan. 

Semua hal itu akan bermuara pada kekayaan yang bahkan terlihat jauh melebihi mereka yang ada disekitarnya. 

Sayang sekali hal ini sering dibuat alasan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk meledakkan stigma kebencian kepada orang Tionghoa. Itulah mengapa banyak orang benci orang Cina karena perbedaan nasib, mereka kaya sedang yang lain cuma bisa makan seadanya. 

Adaptif

orang cina
orang cina

Orang Tionghoa telah menyebar ke seluruh dunia, mulai dari pucuk Kanada hingga ke pulau-pulau kecil di Pasifik. Tentu ini karena mereka punya kemampuan adaptasi yang luar biasa sehingga bisa survive dimanapun berada.

Semua sikap ini seharusnya bisa dipelajari dan diadaptasi. Bukan berarti orang Tionghoa sempurna seratus persen. Tirulah yang baik dan buang yang jelek.

Bisa kita lihat sekarang, Cina mampu menantang Amerika dalam percaturan global dunia, bukan hanya di bidang ekonomi tapi juga politik, sosial dan bahkan militer.

Lantas kenapa tidak dicontoh? Satu hal lagi, orang Cina sebenarnya sangat pragmatis. Mereka berpikir efektif dan efisien. Sesuatu yang memang sangat diperlukan untuk bisa sukses di era seperti sekarang ini. 

Orang Tionghoa juga suka berbisnis. Bisnis juga merupakan pintu gerbang kekayaan. Oleh karena itu memang sebaiknya anak-anak dikenalkan bagaimana berbisnis dengan simpel, seperti menepati janji, memahami prinsip menabung, tahu apa itu investasi dan senantiasa menghormati siapapun partner bisnisnya. 

Adi
Adi Saya adalah seorang blogger yang sudah menulis di blog sejak 2010. Blog ini terbuka untuk berbagai kerjasama, seperti sewa banner, content placement ataupun review produk.

Posting Komentar untuk "Belajar dari Prinsip Hidup Orang Tionghoa"