Kasih Bumi Sepanjang Masa

Sampai kapan Bumi akan bertahan? Apakah dunia ini akan segera berakhir karena dirusak oleh manusia itu sendiri? Atau Planet Bumi akan tetap selamat namun umat manusia yang akan punah sesuai Teori Gaia?


Planet Bumi dan Teori Gaia
Planet Bumi dan kepunahan manusia

Salah satu hobi baru saya adalah membuka arsip-arsip lama dan mengumpulkannya lalu membaca dan jika masih layak, mengeditnya untuk ditayangkan di salah satu blog saya.

Tulisan berjudul “Kasih Bumi Sepanjang Masa” ini adalah suatu karya yang bisa dibilang jelek.

Tata-bahasanya kacau, alur berpikirnya meloncat-loncat, plus dengan tipo disana-sini.  Luar biasa. Terlebih ternyata gaya bahasanya yang cenderung gahar dan garang, terlalu vulgar dalam menyerang pihak tertentu seperti seolah-olah siap mengajak baku pukul.

Wajar, karena seingat saya karya ini lahir ketika saya sedang getol-getolnya jadi aktivis mahasiswa. Terlebih pada saat itu, kebakaran hutan juga sedang gila-gilaan.

Satu lagi disclaimer: dahulu saya memang penganut Gaiaisme (lain kali kita akan membicarakan ini lebih lanjut), tetapi seiring dengan berkembangnya waktu, karakter saya makin terbuka dan cara pandang sayapun makin meluas. Setidaknya saya melihat dari beberapa sudut saja, sehingga tidak layak saya menyebut diri saya seorang Gaiais lagi.

Baiklah, tanpa opening terlalu panjang lagi, silahkan baca artikel saya berjudul :

Kasih Bumi Sepanjang Masa

Bumi sering disebut persada. Atau tanah air, dunia dan planet biru. Tapi ada satu sebutan bumi yang memiliki arti yang cukup emosional, ibu pertiwi.

Bumi, berasal dari kata BU-MI, yang dapat kita pecah dan perpanjang menjadi iBU ManusIa. Kenapa ibu? Apakah karena dalam budaya-budaya kuno bumi sering disebut bagai perempuan sedang langit adalah sang ayah?

Konon dalam kebudayaan Aztek yang tua, dewa memisahkan ibu pertiwi dari suaminya sang langit. Begitupula pada kebudayaan Kejawen, bumi adalah perwujudan sejati  Sang Dewi Sri, ibu segala padi dan tetumbuhan. 

Satu hal yang pasti, tanpa bumi tak akan ada kehidupan.

Tak ada yang tahu usia bumi, tapi tentunya lebih tua dari manusia. Dalam perjalanan sejarah yang sangat panjang, bumi adalah saksi sejati apa-apa saja yang dilakukan nenek moyang kita dan mungkin juga (semoga) anak cucu kita kelak.



Dalam teori Gaia, bumi adalah sebuah sistem organisme, seperti tubuh manusia. Asosiasinya, jika ada orang menimpuk kepala kita dengan batu, maka pasti kita merasa sakit. Begitupula jika kaki kita tersandung, tangan kita tergores atau kulit kita dicubit.

Otomatis jika teori ini benar, betapa merananya Sang Hyang Ibu Pertiwi, dimana hutan-hutan Kalimantan kita bakar, sungai-sungai di Jakarta kita cemari dan gunung-gunungnya kita perkosa seenaknya demi pasir dan batu-batunya.

Sebagai seorang ibu, memang sudah sewajibnya bumi menafkahi kita, memberi kita baju dan rumah, juga mensejahterakan anak-anaknya.

Tapi bagaimana bakti kita pada bumi?

Jika Sang Gusti Pangeran mengutuk si anak durhaka menjadi batu, akankah itu menimpa pada kita. 

Mungkin ini adalah sesuatu yang lucu, mana mungkin bumi bisa merubah kita, manusia, makhluk hidup yang terhebat yang pernah diciptakan Tuhan, menjadi batu. 

Jika masih menganggap demikian, ada baiknya kita ingat kembali peristiwa dimana warga Pompey, Italia beberapa ribu tahun lalu memfosil karna luapan barah amarah sang gunung berapi. 
Walau memang mungkin tidak bisa membuktikan tentang teori Gaia, karena jelas bumi bagai sebagian besar manusia adalah sebuah benda. 

Dan sebuah benda hanya bisa bermanfaat bila bisa digunakan untuk kepentingan manusia. 

Semoga bumi juga tidak terlalu marah mendengar manusia dengan pemikiran seperti ini.

Tapi sebagai seorang penganut Gaiaisme, dengan rendah hati saya mohon agar jika kita tidak bisa berhenti mencemari ibu pertiwi, setidaknya sisihkan sedikit untuk anak cucu kita. Kasih bumi tak terhitung pada kita sebagai umat manusia. Segala hewan di lindunginya. Mungkin kita akan tertawa mendengar perkataan ini, tapi ini yang saya imani.  

Bayangkan jika kiwi tidak disembunyikan dibelantara New Zealand, Dia pasti akan senasib dengan moa, burung cantik yang tidak beruntung hidup di tengah planet dengan makluk2 berakal tapi kadang tidak bernurani. 

Dengan perlindungan bumi, manusia dapat menanam walau atmosfer habis-habisan di robek oleh manusia2 rakus calon penghuni neraka, dengan pabrik2 yang mirip monster saja. Tapi bumi memerintahkan fitoplankton di samudera untuk segera memproduksi bahan-bahan penambal atsmosfer. 

Begitupula ketika manusia manusia Indonesia memperkosa hutan Sumatera dan Kalimantan, dengan  habis-habisn pula hujan diturunkan agar segera humus bisa bekerja mereboisasi alami hutan terebut, walau butuh waktu yang tiak sedikit dan industrialis kita yang tak bertanggung jawab itu dengan pintarnya tetap saja tidak sadar dan terus merubah wajah hijau ibu kita menjadi hitam.

Apa kurangkah kasih bumi kepada kita.

Sudah benarkah evolusi kita menjadi makluk cerdas hanya untuk menghamba pada nafsu saja. Kapitalisme dan hedonisme adalah kunci untuk segera terjadi pemusnahan manusia atas bumi.

Lantas jika bumi ini hancur, pada siapa kita akan menanam jagung, beternak kelinci, dan membangun rumah?

Mari bersama, kita segera sadar. Satu langkah untuk satu generasi.

Tidak usah sok sombong dengan slogan selamatkan bumi,  secara kita dengan segala kerakusan kita akan sangat sulit melakukannya, tapi cukup mari kita selamatkan generasi esok, agar tetap bisa merasakan kasih sayang bumi dengan melakukan hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari. Hal-hal sepele nan remeh seperti membuang dan memilah sampah atau mengurangi penggunaan plastik.
Sepele namun berdampak. 

Lalu bagaimana dengan umat manusia? Apakah mereka akan binasa dan Bumi tetap ada seperti Teori Gaia?

0 Response to "Kasih Bumi Sepanjang Masa"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel