Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Jangan Mudah Meminta Orang Lain Bersyukur

Jangan suka mencampuri urusan orang lain atau sok bijak dengan memberi nasehat yang terdengar indah tetapi justru membuat jiwanya menderita.

Sering seseorang yang sedang dalam masalah justru merasa makin menderita. Nampaknya oknum di masyarakat kita lebih suka tampil sebagai jaksa yang menuntut dan mendakwa. 

Akibatnya, alih-alih menjadi ringan penderitaannya, saudara-saudara kita tersebut makin merana. Mendapat himpitan masalah sekaligus label sebagai insan yang tak bisa bersyukur.

Salah satu hal yang menyakitkan dan salah kaprah yang dilakukan oleh sebagian besar oknum masyarakat kita adalah mudah menasihati. 


Jangan Mudah Meminta Orang Lain Bersyukur
Jangan Mudah Meminta Orang Lain Bersyukur

Alih-alih memberi nasihat tepat guna yang efektif yang setidaknya berasal dari perenungan dan pemikiran yang cukup dalam, oknum-oknum tersebut lebih suka untuk sambil lalu melengos dari curhatan masalah yang mencekik saudara sesama manusia sambil berpura-pura peduli denganc cara berlindung dibalik ucapan sok bijak; banyaklah bersyukur.

Tentu saja bersyukur itu baik. Itu wujud kepasrahan kita pada Tuhan sekaligus persetujuan nurani kita bahwasanya selama ini hidup kita tak pernah lepas dari perlindunganNya serta selalu merasakan berkat-berkatNya dalam berbagai bentuk. 
Semua tahu itu, termasuk seseorang yang sedang dalam masalah tersebut.


Sering seseorang yang sedang dalam masalah justru merasa makin menderita. Nampaknya oknum di masyarakat kita lebih suka tampil sebagai jaksa yang menuntut dan mendakwa. Akibatnya, alih-alih menjadi ringan penderitaannya, saudara-saudara kita tersebut makin merana. Mendapat himpitan masalah sekaligus label sebagai insan yang tak bisa bersyukur.

Rasanya amat tidak perlu jika seseorang yang sedang dalam masalah masih saja ditambah bebannya dengan nasihat bebal nirmanfaat tersebut. Nasihat tersebut lebih tepat disebut sebagai penambah derita alih-alih peringan masalah.

Mengapa demikian? Karena nasihat itu sebenarnya lebih banyak lahir dari keengganan si pengucap nasihat untuk duduk dan sekedar berpikir sejenak, memposisikan dirinya sebagai yang mendapat masalah. 

Ia mendapati saudaranya seperti klien dan dirinya sebagai seorang peramal, lalu memberi sebuah formula umum yang semua orang pada dasarnya sudah tahu. 

Kata-kata seperti; bersyukurlah, banyaklah bersyukur, syukuri saja, tidak lebih dari sekedar kata-kata kosong jika hanya diucapkan oleh manusia-manusia jenis ini.

Pertama-tama, sekali lagi, semua orang sudah tahu kalau bersyukur itu baik dan seyogyanya memang manusia wajib bersyukur. Tidak perlu kita yang penuh dosa dan masih suka lupa ini sok mengingatkan. Belum tentu itu akar permasalahannya.

Sebagai contoh, seorang yang didera penyakit tertentu. Ucapkan saja demikian, maka sebenarnya Anda lebih jahanam dari iblis. Jika tak mampu memberi nasihat, mari kita sadari ketololan kita dan mencoba untuk diam saja.

Bersyukur itu baik, tapi jika Anda peduli pada saudara kita tadi, apa susahnya untuk bersama memikirkan cara yang lebih efektif. Mengapa tidak merekomendasikan dokter anu di rumah sakit itu, dengan pengobatan ini. Kalau cuma menyuruh bersyukur nampaknya semua orang juga bisa.

Itulah yang tidak kita sadari. Mudah sekali merespon tetapi dengan sebuah template yang seragam untuk semua jenis masalah. Meminta bersyukur. Hebat sekali bukan. Seperti seorang dokter gadungan nan pemalas yang memberi obat yang sama untuk semua pasien yang penyakitnya berbeda-beda.

Kedua, kenapa kita tidak usah menyuruh seseorang untuk bersyukur adalah karena siapa tahu  ia sudah melakukannya. Kita yang sok tahu, sok nge-judge dan sok jadi nabi. Luar biasa bukan? Lebih parah lagi, ternyata level bersyukur kita berada di bawahnya.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Ingat hal ini. Jikalau memang peduli pasti kita akan menggunakan otak kita untuk berpikir. Mungkin kita bukan orang kaya yang bisa memberinya uang ketika ia terlibat dalam masalah ekonomi yang pelik. Atau kita tidak memiliki basic sebagai seorang penasihat finansial. 

Namun pasti ada yang bisa kita lakukan.

Anda pasti tahu konsep Jendela Johari. Konsep yang ditemukan oleh Jesph Luft dan Harringtong Ingham ini akan membantu kita memberi saran yang tepat.


Jangan Mudah Menyuruh Orang Lain Bersyukur / Catatan Adi
Jendela Johari / Catatan Adi


Jadi dalam konsep Jendela Johari, ada 4 dimensi. Dimensi pertama, kita tahu dan orang lain tak tahu. Dimensi kedua, kita tahu dan orang lain tahu. Dimensi ketiga, orang lain tahu dan kita tak tahu. Dimensi keempat, baik kita dan orang lain sama-sama tak tahu.

Cari sesuatu yang luput dari analisa kawan kita yang bermasalah tersebut. Bahkan seorang jenius membutuhkan seseorang untuk melihat dimensi yang tidak dilihatnya bukan. Tepat. Lakukan itu. Memang terlihat lebih sulit daripada sekedar ngomong ‘kamu kurang bersyukur’. Tetapi itu bukti Anda mau peduli. Dan mau mempergunakan otak dengan benar.

Anda juga bisa menggunakan pengalaman Anda untuk merekomendasikan saran terbaik. Tetapi hati-hati, beda orang, beda masalah. Bisa saja pengalaman Anda berbeda dengan apa yang sedang dialaminya, tetapi setidaknya ini juga jauh lebih membantu daripada men-judge dirinya sebagai manusia yang tidak bisa bersyukur.

Atau Anda bisa merekomendasikan orang lain yang lebih expert di bidangnya yang kebetulan Anda tahu. Ini jelas sangat membantu. Sebuah masalah di tangan orang yang tepat niscaya akan selesai dengan baik. Benar, bukan.

Hindari mudah memberi nasehat-nasehat yang justru membuat si penderita makin menderita sengsara. Mari duduk bersamanya dan pikirkan jalan terbaik. Sebuah nasehat yang taktis yang memang bersumber dari perenungan dan keinginan kita untuk ikut meringankan bebannya.

Sebagai contoh, ketika bangsa ini dijajah oleh Belanda, tentu para pemimpin bangsa tidak menganjurkan nenek moyang kita pasrah dan bersyukur bukan? Ya, mereka menguatkan hati bangsa kita untuk berjuang dan merebut kemerdekaan. Bahkan, lebih dari itu, mereka juga turut berjuang bersama dan melakukan apa yang mereka katakan.


Tetapi itu bukti Anda mau peduli. Dan mau mempergunakan otak dengan benar.

Itulah esensi kepedulian. Memberi jalan keluar yang berasal dari keinginan untuk meringankan, bukan keinginan untuk jadi lebih terlihat suci dan bijak. Maka berhentilah dengan mudah menyuruh saudara Anda yang menderita itu bersyukur, kecuali Anda adalah seorang nabi.

Adi
Adi Saya adalah seorang bloger yang sudah mulai mengelola blog sejak 2010. Sebagai seorang rider, saya tertarik dengan dunia otomotif, selain juga keuangan, investasi dan start-up. Selain itu saya juga pernah menulis untuk media, khususnya topik lifestyle, esai lepas, current issue dan lainnya. Blog ini terbuka untuk content placement, sewa banner atau kerja sama lain yang saling menguntungkan.

Posting Komentar untuk "Jangan Mudah Meminta Orang Lain Bersyukur"