Masa Depan Marhaenisme : Transformasi Negara Agraris Menjadi Industri

Catatan Adi - Ini adalah artikel kedua belas dari Seri Artikel : Catatan Marhaenis dalam rangka memeriahkan Bulang Bung Karno. Kali ini kami akan membahas sebuah pertanyaan : sampai sejauh mana Marhaenisme bisa bertahan?

Parade GSNI Bandung / Marhaenisme
Parade GSNI Bandung / sumber : LIFE


Salah satu isu yang terus menghantui sebuah ideologi adalah: sampai sejauh mana sebuah ideologi bisa bertahan? Terlebih dimasa dimana masyarakat nampak sangat pragmatis. Bahkan beberapa ahli mengatakan, sekarang ideologi sudah mati.

Isu ini semakin menguat jika kita kaitkan dengan masa depan Marhaenisme. Mampukah Marhaenisme sebagai sebuah ajaran dan ideologi, bertahan di tengah-tengah bangsa Indonesia? Ataukah Marhaenisme akan punah dan lenyap?

Masa Depan Marhaenisme : Transformasi Negara Agraris Menjadi Industri / catatan adi


Masa Depan Marhaenisme : Transformasi Negara Agraris Menjadi Industri

Indonesia Sekarang

Indonesia abad 21 jelas berbeda dengan Indonesia 1920an, yakni ketika Sukarno muda berkuliah di Bandung untuk menjadi insinyur. Indonesia telah melewati banyak tahap perubahan yang membuatnya menjadi sangat berbeda, baik secara kultur, sistem, dan kondisi alamnya.

Katakan saja dahulu Bandung yang disebut Paris Van Java yang terkenal dingin dan lenggang, kini sudah berubah menjadi kota yang sibuk, sempit dan tidak sesejuk sebelumnya. Hal ini adalah contoh kecil dari perubahan yang ada di depan mata.

Adanya perubahan ini pada akhirnya mempengaruhi perikehidupan masyarakat. Perubahan struktur masyarakat dari feodalisme menjadi (setengah) industri mau tidak mau berakibat pada nasib Marhaenisme.

Keberadaan Belanda ini jugalah menjadi alasan bagi lahirnya Marhaenisme, yakni sebuah ideologi yang bertujuan membebaskan kaum Marhaen dari belenggu penindasan dan pemiskinan.

Hancurnya Kolonialisme Belanda

Salah satu musuh terbesar rakyat Marhaen adalah imperialisme dan kolinialisme, dalam hal ini Belanda. Imperialisme era Sukarno adalah Imperaliasme yang memiliki wujud nyata, yakni pemerintahan Belanda dan segalah sistem penjajahannya.

Tidak seperti Jepang yang melihat Indonesia sebagai jajahan dan sumber pasokan bahan / pasukan untuk memenangkan Perang Asia Timur Raya, Belanda melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diperas habis-habisan baik sumber dayanya maupun manusianya.

Hal ini diperparah dengan para raja dan bupati lokal yang tidak lain adalah kolaborator dan jarang memiliki semangat untuk membebaskan rakyat mereka.

Keberadaan Belanda ini jugalah menjadi alasan bagi lahirnya Marhaenisme, yakni sebuah ideologi yang bertujuan membebaskan kaum Marhaen dari belenggu penindasan dan pemiskinan.

Lalu bagaimana setelah Belanda hengkang?

Sebenarnya hengkangnya Belanda tidak serta merta melenyapkan penderitaan rakyat Marhaen. Hanya saja imperialisme dan kolonialisme kemudian mengubah bentuknya menjadi lebih halus dan terselubung, yakni melalui para kapitalis dan perusahaan-perusahaan multinasional yang mengkangkangi bumi pertiwi.

Inilah yang kurang disadari dan memang sulit untuk disadari. Musuh seperti ini tidak terlihat dan tidak berwujud. Ia hanya sekilas terlihat dalam bentuk kebijakan-kebijakan pro-kapitalisme, bukan dalam bentuk nyata seperti Belanda atau VOC.

Lenyapnya Kelas Petani

Industrialisasi di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat atau Eropa. Di sana, mereka mampu melampau era masa agraris dan semi-industri dengan baik. Tentu semua ini terjadi karena Amerika dan Eropa terbantu oleh kekayaan negeri-negeri jajahan mereka.

Sedang di Indonesia, kelas petani dilenyapkan secara tergesa-gesa. Banyak lahan pertanian yang kemudian beralih menjadi perumahan, ruko, pabrik, dll.

Profesi petani juga mengalami penurunan kualitas dan citra. Selain tidak menjanjikan bagi generasi muda selanjutnya, juga citra petani yang tidak keren menjadi alasan banyak anak muda tidak memilih menjadi petani.

Hal ini mengakibatkan nasib buruh menjadi hanya semacam komoditas. Walau upah minimum terus mengalami kenaikan, namun para investor memiliki cara lain untuk terus melakukan penghisapan, yakni melalui sistem outsurching.

Selain itu dukungan, pembelaan dan keberpihakan terhadap profesi petani harus diakui masih sangat kurang. Ini menyebabkan banyak petani produktif yang kemudian memutuskan gantung cangkul dan ganti profesi.

Padahal petani merupakan basis utama kaun Marhaen. Di samping semakin berkurangnya kelas petani, petani yang tersisa juga semakin apatis. Jangankan menjadi Marhaenis, mendengar kata Marhaen saja mungkin mereka belum pernah.

Semakin Menguatnya Industrialisasi

Industrialiasi semasa orde baru dititikberatkan pada padat karya. Selain itu juga, pemerintah Suharto sangat bergantung pada investasi asing.

Maka ketika para investor itu pergi, Indonesia limbung.Banyak pabrik pindah ke luar negeri. Akibatnya buruh banyak yang mengalami PHK.

Begitupun ada semangat untuk berserikat hanya belum matang dan hanya sebatas pada keuntungan sesaat, seperti kenaikan upah. 

Sedangkan yang terjadi kemudian, walau sudah tidak terlalu bergantung pada investasi asing, Indonesia masih belum mampu membangun kultur Industri yang kuat seperti Cina atau Jepang misalnya.

Hal ini mengakibatkan nasib buruh menjadi hanya semacam komoditas. Walau upah minimum terus mengalami kenaikan, namun para investor memiliki cara lain untuk terus melakukan penghisapan, yakni melalui sistem outsurching.

Menguatnya industrialisasi sebenarnya juga akan memperkuat basis kelas pekerja. Namun yang terjadi selanjutnya, kelas pekerja yang banyak ini tidak mampu menjadi sebuah kekuatan revolusioner yang massif dan produktif.

Hal ini tentu mempengaruhi Marhaenisme secara efektif. Ada perbedaan mendasar antar Marhaen dan Proletar. Dengan semakin menguatnya industri, maka terjadi migrasi dari Marhaen menjadi proletar. Di sinilah Marhaenisme patut dipertanyatakan. Apakah terus hanya bergantung pada kaum Marhaen.

Berkurangnya Gaya Hidup Komunal

Gaya hidup komunal adalah ciri khas bangsa Indonesia sedari dulu. Namun kini yang terjadi justru sebaliknya. Gaya hidup individualis menjadi sebuah fenomena massif di tengah-tenggah bangsa kita.

Gaya hidup individualis adalah ciri khas masyarakat industri. Seharian mereka bekerja, maka sepulang kerja akan digunakan untuk beristirahat. Begitupun ada semangat untuk berserikat hanya belum matang dan hanya sebatas pada keuntungan sesaat, seperti kenaikan upah.

Transformasi Indonesia dari negara agraris menjadi negara setengah industri ternyata tidak diimbangi dengan transformasi Marhaenisme dari ideologi pembebasan untuk merebut kemerdekaan dari Belanda menjadi idelogi untuk memberikan kesejahteraan bagi kaum Marhaen. 


Gaya hidup komunal adalah penyokong bagi Marhaenisme. Bahkkan gaya hidup komunal adalah salah satu kekuatan Marhaenisme untuk membebaskan warga Marhaen melalui aksi massa.

Parahnya lagi, gaya hidup individualis juga menjangkiti organ-organ dan aktivis-aktivis Marhaenis. Mereka jarang turun ke bawah untuk berkomunikasi dengan warga Marhaen.

Marhaen Yang Teralienasi

Akhirnya yang terjadi adalah alienasi. Marhaen dan Proletar terputus dari idelogi yang berpotensi membebaskan mereka. Lebih dari itu, yang ada mereka hanya menjadi komoditas politik untuk kepentingan elit.

Marhaen teralienasi dari jiwanya, dari ideologinya. Mereka tidak lagi memikirkan upaya untuk terbebas dari kapitalisme. Bahkan mereka tergiring untuk berpikir praktis dan pragmatis.

Marhaen yang di tahun 1920-1960 tergabung dalam sebuah partai Marhaenis di bawah komando Bapak Marhaenisme Bung Karno kini tak lebih dari kaum yang tidak memahami dirinya sendiri, ideologinya sendiri dan kekuatannya sendiri.

Transformasi Indonesia dari negara agraris menjadi negara setengah industri ternyata tidak diimbangi dengan transformasi Marhaenisme dari ideologi pembebasan untuk merebut kemerdekaan dari Belanda menjadi idelogi untuk memberikan kesejahteraan bagi kaum Marhaen.

seri artikel catatan marhaenis / catatanadiwriter.blogspot.com



0 Response to "Masa Depan Marhaenisme : Transformasi Negara Agraris Menjadi Industri"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel