PNI dan Dinamika Marhaenisme


Catatan Adi - Bung Karno tidak bisa dilepaskan dari Partai Nasional Indonesia. PNI adalah partai yang didirikan oleh Ir. Soekarno bersama kawan-kawannya. Bagaimana sepak terjang partai ini dalam mengusung Marhaenisme? Berikut artikel ke empat dari Seri Artikel : Catatan Marhaenis.

PNI dan Dinamika Marhaenisme / catatatan Adi / catatanadiwriter.blogspot.com

Ada banyak partai politik yang mengaku nasionalis di negeri ini. Tetapi hanya ada satu partai yang tidak hanya nasionalis, namun juga memenangkan pemilu sekaligus menancapkan ideologinya pada ingatan kolektif masyarakat Indonesia.

Ia memang sudah bubar tetapi sepak terjangnya terus hidup dalam ingatan generasi terdahulu. Dan bagi generasi mendatang, namanya tetap harum laksana melati di taman surga. Ia adalah PNI.

Berdirinya Partai Nasional Indonesia


Setahun setelah kaum komunis memberontak dan dibasmi pemerintah Hindia Belanda, para intelektual berhaluan nasionalis berkumpul dan bersatu tekad.

Rasa galau melihat bagaimana pedihnya nasib rakyat yang hidup di bawah sepatu Naderland membuat mereka prihatin.
  
Akhirnya rasa keprihatinan itu membuncah dan meledak menjadi sebuah keputusan. 

Mendirikan sebuah partai politik.

Walau lebih muda dari PKI dan SI, namun PNI, nama partai itu kelak, terbukti mampu menjadi kekuatan politik terbesar. Ia tampil sebagai Partai terkuat sekaligus menempatkan ideologi nasionalis di depan ideologi politik-Islam dan komunis.

Secara resmi, PNI didirikan pada tanggal 4 Juli 1927 oleh Sukarno dan enam orang anggota Algemeene Studieclub. 

Keenam orang tersebut adalah Sunario, Iskaq Tjokrohadisurjo, Sartono, Budyarto Martoatmojo, Samsi Sastrowidagdo, dan Tjipto Mangunkusumo.

Sedangkan menurut Soenario, ada dua orang lagi yang harus diperhitungkan sebagai pendiri, yakni Sujadi dan J. Tilaar.

Sukarno terpilih menjadi ketua sedang Iskaq menjadi sekertarisnya. Ini tidak mengherankan. Sebab nama Sukarno memang sudah sangat populer saat itu.

Ideologi PNI


Lantas apa sebenarnya ideologi dari PNI sendiri? Di sini sebaiknya kita berhati-hati dan cermat dalam menelaah perjalanan PNI sebagai sebuah partai yang utuh.

PNI memang terlahir pada 4 Juli 1927. Namun pada kenyataannya, sejarah membuktikan PNI berkali-kali terlahir kembali. Ini adalah sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri.

Jikalau kita mau berpikir secara menyeluruh maka sejatinya hanya ada satu ideologi yang dianut PNI sedari semula : Pancasila.

Pancasila PNI adalah sebuah idelogi murni yang lahir dari perasan pemikiran Bung Karno yang bersumber dari nuansa zaman ketika Indonesia masih berada di bawah cengkeraman Belanda dan yang merupakan pengikat bagi seluruh rakyat Indonesia hingga hari ini.

Bung Karno melihat bahwa satu agenda yang harus dikerjakan adalah mewujudkan kemerdekaan.

Namun bukan melulu kemerdekaan, melainkan terbentuknya sebuah sistem yang adil dan makmur serta terbebas dari penindasan oleh kapitalisme.

Ini sesuai dengan semangat Bung Karno yang berkali-kali ia kobarkan dalam berbagai pidato dan tulisannya.

Namun apakah semangat itu bisa ditafsirkan sebagai ideologi resmi partai, mengingat Bung Karno adalah pendiri sekaligus tokoh sentral PNI?

Di sinilah kita perlu cermat. Seperti sudah dijelaskan, PNI beberapa kali terlahir kembali.

Dan dalam tiap reinkarnasinya, nampaknya PNI membawa sebuah pembaharuan yang menarik untuk didiskusikan.
  
PNI era awal jelas memiliki ideologi nasionalisme. Namun bukan sembarang nasionalisme, melainkan nasionalisme yang khas.

Walau tertinggal beberapa langkah dari Sarekat Islam dan beberapa belas langkah dari kaum komunis, PNI jauh lebih berhasil untuk diterima masyarakat Indonesia.

Nasionalisme khas PNI tidak mempertentangkan dan menonjolkan persatuan atas nama kesamaan agama.

Tidak pula melulu memfokuskan diri pada perjuangan dan pertentangan kelas khas orang komunis.

Inilah nasionalisme khas PNI atau yang disebut Bung Karno sebagai Marhaenisme. Namun perlu digaris-bawahi di sini, bahwasanya pada prakteknya, Marhaenismeisme PNI 1927 masih sangat mentah jika dibandingkan dengan PNI era Partindo apalagi PNI era awal kemerdekaan.

Nasionalisme PNI 1927 adalah kerakyatan dan gotong royong. Kerakyatan berarti menolak feodalisme dan kapitalisme. Gotong royong berarti menonjolkan kebersamaan rakyat dari berbagai latar belakang suku, agama dan golongan.

Maka jangan heran PNI harum namanya dari Sumatera hingga Indonesia Timur. Anggotanya juga beragam, dari petani, buruh, pelajar, hingga pengusaha.

PNI Pendidikan


Kemudian ketika PNI Pendidikan muncul, nampaknya gerakannya (massa aksi) cenderung mengendur. Namun justru di sini kita bisa melihat nuansa demokrasi dan pencerahan hadir. Ia tak semata-mata menyeruduk tak tentu arah, namun bergerak dengan halus tetapi tetap berbahaya.

Di bawah komando Bung Hatta, PNI Pendidikan mampu melajutkan tongkat estafet nasionalisme ala PNI 1927. Namun dengan ciri khasnya sendiri. Mirip dengan karakter Bung Hatta yang lebih tenang dari Bung Karno.

Sedang di sisi lain, Partindo lebih menemukan bentuknya. Marhaenismeisme berkembang seiring dengan gerak lugas Partindo dalam mengorganisir massa rakyat. 

Di sinilah Marhaenisme lebih berperan dan nuansa nasionalisme kerakyatan muncul dengan lebih kentara.

Itu pula yang melatarbelakangi Bung Karno untuk lebih memilih Partindo ketimbang PNI Pendidikan.

Jelas Nasionalisme-Kerakyatan atau Marhaenisme yang dijalankan Partindo adalah proses kedewasaan dari Nasionalisme PNI 1927. 

Terlebih ketika itu Partindo berada di tengah-tengah perjuangan dan perlawanan rakyat yang menggebu-gebu menuntut merdeka dari Belanda.

Marhaenisme sendiri adalah sebuah idelogi yang berpusat pada pemikiran Bung Karno untuk sebuah pembebasan. 

Pembebasan ini adalah terbebasnya manusia dari penindasan oleh manusia lain yang secara kurang bijaksana sering diidentikkan dengan kapitalisme.

Tapi nampaknya pandangan inilah yang dipegang oleh Partindo dimana sebagai sebuah Partai penerus PNI, Partindo mampu berdiri jauh lebih progresif dalam mengejewantahkan pemikiran Marhaenisme ala Bung Karno dibanding PNI Pendidikan maupun PNI 1927 sendiri.

Marhaenisme vs Fasisme


Era Gerindo, nampaknya Marhaenisme cenderung lebih lunak. Namun bagi orang yang melihat Gerindo seperti sebuah Partindo yang berkamuflase, maka tak ada beda antara Marhaenisme  Partindo yang keras dan cenderung reaksioner dengan Marhenisme Gerindo yang ‘rela’ bekerja sama dengan belanda, antara lain untuk menghadapi Fasisme Jepang.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi di sini, Gerindo, walau umurnya sangat pendek, memiliki peran penting dalam sebuah gerakan perlawanan fisik.

Banyak anggotanya tidak hanya berdebat di mimbar namun juga angkat senjata. Merekalah yang kemudian dikenal sebagai front anti-fasis dan menunjukkan bahwasanya Marhaenisme tidak mentolelir fasisme.

Marhaenisme era PNI 1955


PNI menang pemilu, walau tidak telak. Ia dibuntuti Masyumi yang mengusung haluan Politik-Islam dan PKI yang komunis.

Namun di era inilah Marhaenisme benar-benar mendapatkan bentuknya. Ia mampu menjadi magnet bagi jutaan rakyat Indonesia. Bukan sekedar ideologi ilmiah yang dibedah dan diulas di kampus-kampus, Marhaenisme  PNI 1955 bertarung sengit dengan islam-politik Masyumi dan marxis-leninis PKI.
  
Marhaenisme era ini disambut dengan gegap gempita. Di desa-desa ia sorak sorai kaum tani. Di kota, ia disambut pekik riuh kaum buruh. Dan figur Sukarno benar-benar menghipnotis massa rakyat untuk turut berbaris dalam satu barisan. Barisan Marhaenis.

Perwujudan Marhaenisme PNI 1955 adalah semangat untuk beraksi-massa. Juga semangat untuk menyusun suatu pemerintahan yang berdasarkan atas landasan kerakyatan. Maka jangan heran di era ini, formula Ketuhanan/Sosio-nasionalisme/Sosio-demokrasi mulai menemukan bentuknya yang utuh.
  

Marhaenisme / Marxisme Ala Indonesia


Jika muncul suatu formula unik Marhaenisme sebagai Marxisme ala Indonesia, maka Partindo bentukan Asmar Hadi adalah 'biang keladinya'.

Sebutan Marhaenisme sebagai Marxisme ala Indonesia tidak hanya memperumit peta ideologi Indonesia, melainkan juga sebuah tamparan keras bagi PNI.

Partindo Asmara Hadi, yang mengklaim kelanjutan dari Partindo sebelumnya, menilai PNI sudah melenceng dari jalan Marhaenisme.

Ini seolah-olah menjelaskan bawasanya antara PNI dan Partindo Baru memiliki cara pandang berbeda terhadap Marhaenisme.

Sayangnya Bung Karno justru menyetujui klaim Partindo. Maka benarlah akhirnya muncul formula "Marhaenisme adalah wujud lain Marxisme dalam nuansa Indonesia".

Rumit karena pada faktanya PNI lebih sering berdebat dengan PKI yang tak lain adalah Partai Marxisme itu sendiri.

Marhaenisme kini


Jujur sangat sulit untuk melihat perkembangan Marhaenisme masa kini. Di era PNI 1927 hingga Partindo-nya Asmara Hadi, Marhaenisme walau serumit apapun itu nampak sangat menonjol dibanding ideologi lainnya.

Partai-partai yang mengusung Marhaenisme selalu mempunyai ciri khas : menentang secara terang-terangan ideologi-ideologi yang berpotensi mengancam Indonesia.

Selain itu, PNI manapun pasti akan selalu dekat dengan rakyat melalui kursus politik, pendirian sekolah-sekolah nasionalis dan pendidikan-pendidikan kader.

PNI, Gerindo ataupun Partindo juga memiliki kedekatan yang erat dengan para Marhaen yakni kaum buruh dan tani Indonesia. Baik melalui massa aksi maupun pengembangan ideologi Marhaenisme di tingkat akar rumput.

Apakah gambaran yang demikian terlihat di masa kini.

Seindah apapun retorika maupun upaya membela diri, nyatanya jangankan melakukan pengembangan ideologi Marhaenisme, melabeli diri sebagai Partai Marhaen saja nampaknya tidak mau. Atau jangan-jangan malu?


Sumber dan bacaan lebih lanjut :
  • Tiga Komponen Marhaenisme (Berdikari Online)
  • Partai Nasional Indonesia dan Ahli Warisnya (Historia)
  • Bung Karno : Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
  • Kronik Revolusi Indonesia
  • Banteng Segitiga
  • Rizali-Id (sumber gambar vektor Bung Karno)


0 Response to "PNI dan Dinamika Marhaenisme"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel