Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

TIGA LANGKAH KECIL SELAMATKAN BUMI

Fakta Yang Tidak Menarik Bagi Televisi

Tahukah Anda setiap 7 detik seorang anak mati karena gizi buruk di seluruh dunia? Tahukah Anda bahwa 8000 anak mati kelaparan karena tidak memperoleh air bersih setiap tahunnya? Tahukah Anda setiap 3,5 juta balita mati akibat kekurangan gizi dan kelaparan? Tahukah Anda di negara kita, Indonesia, ada lebih dari 5 juta balita yang mengalami kekurangann gizi karena kurangnya asupan makanan yang dikonsumsi dan rendahnya daya beli masyarakat?

Selamatkan bumi
Selamatkan Bumi

Padahal jika kita pergi ke supermarket ataupun mal, dapat dengan mudah ditemukan ratusan atau bahkan ribuan kemasan susu dan item makanan lainnya. Lantas mengapa balita-balita malang calon penerus masa depan harus mati kelaparan?

Kalau masih ada susu yang bahkan mungkin sudah mendekati tanggal kadaluwarsa konsumsi, kenapa masih ada balita yang hidupnya berada di ujung tanduk?

Apakah barang-barang tersebut memang diciptakan untuk membusuk di dalam lemari pajang supermarket?

Apakah semua susu dan makanan itu memang sengaja dibuat untuk mengejek para balita yang menyabung nyawa bertarung melawan malaikat maut karena kelaparan?

Suatu barang dikatakan berguna jika memang barang tersebut bisa digunakan. Tetapi jika ada barang yang ternyata setelah diciptakan tidak bisa digunakan, maka barang tersebut bisa dikatakan sebagai produk gagal. Apakah ada barang yang bernama produk gagal tersebut?

Tentu saja. Ambil contoh makanan bayi. Setelah diproduksi dengan biaya pembuatan yang bisa dikatakan cukup mahal, ternyata hanya berakhir di tong sampah karena kadaluwarsa. Apakah pantas jika kemudian dikatakan sebagai produk gagal? Ya, mengapa tidak!

Sayangnya banyak sekali dari produk-produk gagal ini yang sebenarnya amat dibutuhkan. Tetapi mereka dipaksa untuk menjadi tidak berguna karena sang pembeli tidak memiliki mantra yang tepat untuk mendapatkan barang tersebut: uang. Lantas mengapa terus memproduksi susu, kue, sereal, dan berbagai makanan lainnya jika pada akhirnya hanya dibuang-buang percuma?

Itulah hebatnya kapitalisme. Tidak peduli berapa juta bayi yang membuka mulutnya sambil menangis kelaparan, asal tidak ada uang, haram hukumnya bagi produk-produk esensial itu untuk sampai ke tangan mereka.

Karena dalam kapitalisme, yang terpenting adalah bukan seberapa besar manfaat suatu hasil produksi (barang), melainkan seberapa besar barang itu mampu menghasilkan uang.

Mungkin argumen yang bisa dipakai oleh para kapitalis tersebut adalah: hukum ekonomi. Bukankah menciptakan suatu barang butuh biaya? Bukankah mencari keuntungan melalui penjualan barang tersebut dengan harga yang setinggi-tingginya adalah hal yang wajar? Selain itu, bukankah pabrik beserta segala modal yang ada untuk proses produksi tersebut adalah milik pribadi sang pemodal/pemilik perusahaan? Lantas apa urusan orang lain untuk turut campur?

Hei, tunggu dulu bung! Semua argumen itu tidak sepenuhnya benar. Memang pabrik adalah milik pribadi. Tapi tahukah bahwa semua kegiatan produksi yang berlangsung di suatu pabrik ternyata turut berkontribusi dalam pemanasan bumi (global warming).

Padahal akibat dari pemanasan bumi tersebut pada akhirnya dirasakan oleh semua makhluk? Sedang keuntungan dari kegiatan produksi pabrik? Tentu saja lari ke kantong pemiliknya.

Efek Negatif Industri Pengolahan Daging

Mari kita mulai dari industri pengolahan daging. Industri ini menghasilkan berbagai produk makanan yang tersebar di seluruh dunia. Banyak dari makanan yang beredar di pasaran dan digemari oleh semua orang termasuk dalam golongan ini, seperti kornet, sosis, bakso dan berbagai produk olahan daging lainnya? Walau mampu memberi pekerjaan bagi banyak orang, ternyata efek buruk dari industri berbahan daging ini juga tak kalah besar.

Industri daging adalah salah satu penyebab besar berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Hal itu berbeda dari industri makanan yang berbahan dasar tumbuhan.  Mengapa hal itu bisa terjadi? Untuk mengubah daging menjadi layak dikonsumsi ternyata membutuhkan berbagai proses panjang dan sangat berpotensi memperparah pencemaran lingkungan.

Untuk mendapatkan 1 kalori protein hewani membutuhkan 10 kali lipat bahan bakar fosil (minyak tanah/bensin/batu-bara) dibanding dengan 1 kalori protein nabati.

Berarti proses untuk mendapatkan 1 kalori protein hewani,  melepaskan 10 kali lipat gas Karbon Dioksida (CO2) dibanding dengan produksi 1 kalori protein nabati.

CO2 sendiri adalah senyawa gas yang memiliki dampak buruk pada lapisan ozon kita, membuat sinar matahari terperangkap di atmosfer serta menjadikan bumi semakin panas. Selain CO2, industri daging juga adalah tersangka utama penyumbang gas Nitro Oksida (NO2) terbesar.

Sama seperti CO2, NO2 juga adalah senyawa gas yang timbul dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Senyawa ini juga memperparah berlangsungnya pemanasan bumi. Bahkan NO2 memiliki potensi 300 kali lipat lebih besar untuk menjadi gas rumah kaca. PBB merilis bahwa industri ini adalah penghasil NO2 terbesar, sekitar 65% dari semua NO2 yang ada di dunia.

Selain menghasilkan gas-gas berbahaya tersebut, industri daging yang berakar pada peternakan tersebut ternyata juga mengorbankan banyak sekali hutan. Hutan-hutan dirambah dengan alasan sebagai media perluasan wialyah peternakan.

Peternakan juga telah menjadi penyebab utama kerusakan tanah dan membuat air tercemar. Dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, peternakan menggunakan 30% dari permukaan tanah di seluruh bumi. Di Brazil, lebih dari 70% bekas hutan di Amazon (2) telah beralih fungsi menjadi area peternakan.

Industri daging beserta peternakan juga sangat boros energi. Industri ini memerlukan energi yang melimpah untuk mengubah hewan ternak menjadi daging di atas piring. Belum lagi air dan tanaman yang digunakan untuk perawatan dan pakan ternak setiap harinya.

Rata-rata, pemborosan yang dilakukan oleh industri daging adalah 27 kali lipat lebih besar dari yang dilakukan oleh industri berbahan nabati. Jika digabungkan dengan biaya energy, konsumsi air, penggunaan lahan, polusi lingkungan serta kerusakan ekosistem. Tidaklah mengherankan apabila ada 1 orang yang berdiet daging dapat memberi makan 15 orang yang berdiet nabati.

Solusi Dr Pachauri

Melihat kenyataan seperti itu, tak heran bila dalam suatu konferensi pers di Paris, Dr Rajendra K Pachauri(3) mengimbau agar masyarakat dunia dalam tingkatan individu bersama-sama mengurangi konsumsi daging. Sebenarnya Dr Pachuari menganjurkan tiga hal, yaitu:

Kurangi konsumsi daging

Kendarai sepeda

Jadilah konsumen cerdas

Mengapa mengurangi konsumsi daging ada di prioritas pertama? Karena sudah sangat jelas fakta yang menyebutkan tentang efek buruk industri daging bagi pemanasan bumi. Memang pengurangan konsumsi daging tidak serta merta akan mengurangi kegitan industri daging. Tapi dengan langkah kecil tersebut, kita bisa lebih berperan dalam upaya melawan pemanasan bumi.

Selain mengurangi konsumsi daging, solusi lainnya adalah bersepeda. Menurut Dr Pachauri, kendaraan bermotor juga menyumbang angka yang tidak kecil bagi pembentukan gas rumah kaca. Lantas mengapa harus bersepeda?

Pertama, karena mengendarai sepeda tidak membutuhkan energi fosil, baik minyak, bensin ataupun solar. Hal inilah yang menjadi alasan utamanya. Karena semakin lama, cadangan energi fosil semakin menipis tiap harinya.

Kedua, karena bersepeda tidak menimbulkan polusi udara seperti apa yang terjadi ketika mengendarai kendaraan bermotor. Banyak dari gas-gas hasil pembakaran mesin kendaraan bermotor tersebut yang juga berbahaya bagi kesehatan manusia.

Karbon monoksida, senyawa yang paling banyak pada asap kendaraan bermotor, dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan penyakit. Sebut saja sesak nafas, ISPA, paru-paru, bahkan sampai kanker.

Dari semua jenis kendaraan bermotor, yang paling banyak menimbulkan polusi adalah kendaraan yang berbahan bakar solar. Hal yang paling kentara adalah kepulan asap hitam pekat yang keluar dari knalpotnya. Asap-asap itulah yang nantinya naik ke atmosfer dan membuat bumi semakin panas.

Sedangkan, walau sedikit lebih baik, kendaraan yang berbahan bakar bensin tetap memiliki potensi yang memperparah proses pemanasan global. Apalagi kendaraan jenis ini adalah yang paling banyak diminati.

Setiap liter bensin menghasilkan 2,5 kg CO2. Padahal diperkirakan ada lebih dari seratus juta kendaraan bermotor hanya di Australia dan Asia saja, yang beroperasi setiap harinya. Bayangkan betapa berat beban bumi kita yang renta itu menghadapi banyaknya kepulan asap tiap harinya.

Untuk itu, penggunaan sepeda sebagai sarana tranportasi sehari-hari sangat diharapkan. Beruntung dalam 5 tahun terakhir ini, demam gowes mulai menyebar dan menjangkiti banyak kalangan masyarakat. Virus yang disebarkan oleh tidak hanya para aktivis lingkungan hidup, tetapi juga para pejabat, artis, sampai sosialita ini telah berhasil menaikkan semangat dan kesadaran positif bagi masyarakat.

Walau begitu dalam keadaan tertentu, memang kendaraan bermotor tidak dapat tergantikan peranannya. Terutama jika harus menempuh jarak yang jauh. Alternatif yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah penggunaan sepeda listrik. Walau tetap menimbulkan emisi karbon, tetap jauh lebih kecil jika dibanding dengan apa yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah memilih memakai layanan kendaraan umum. Sayangnya di Indonesia hal ini menjadi masalah yang serius. Selain minat masyarakat yang masih rendah, tingginya angka kriminalitas serta faktor kenyamanan membuat layanan kendaraan umum menjadi kurang diminati.

Prof. Otto Somarmanto, seorang pakar lingkungan hidup senior, memiliki formula jitu dalam kaitannya dengan melawan global warming. Formula tersebut  sebenarnya cukup sederhana. Jika harus pergi dengan jarak kurang dari 1 kilometer, Ia memilih untuk berjalan kaki. Jika harus menempuh jarak antara 1 hingga 5 kilometer, Beliau memilih naik sepeda. Baru ketika harus menempuh jarak di atas 5 kilometer, kendaraan bermotor menjadi pilihannya. Itu pun Beliau lebih sering memakai kendaraan umum daripada kendaraan pribadi.

Menjadi Konsumen Cerdas

Adapun  solusi ketiga yang dipaparkan oleh Dr Pachauri adalah menjadi konsumen cerdas dan jeli. Ini tidak hanya akan menyelamatkan kantong Anda, tapi juga membantu melestarikan alam dan bumi kita yang makin menderita ini.

Hal terpenting yang harus dilakukan berkaitan dengan menjadi konsumen cerdas adalah mengurangi penggunaan barang-barang yang terbuat dari plastik, terutama tas kresek (tas plastik). Di Indonesia, kebanyakan supermarket dan mal masih memberikan tas plastik secara cuma-cuma. Padahal di negara lain, untuk mendapatkan tas plastik, seseorang harus mengeluarkan biaya tambahan.

Mengapa harus mengurangi penggunaan barang plastik? Karena barang-barang tersebut tidak dapat diurai oleh bakteri dan tanah dengan mudah. Butuh ratusan bahkan ribuan tahun untuk mengurainya. Oleh karena itu semakin banyak plastik dibuang, maka semakin banyak  limbah plastik di muka bumi ini.

Berikut adalah beberapa tips sederhana untuk mengurangi limbah plastik

Selalu bawa keranjang saat berbelanja

Hindari membeli makanan atau minuman kaleng yang dikemas secara berlebihan. Ada beberapa produk tertentu yang kemasannya terlihat lebay, tidak sesuai dengan isi produknya

Belilah produk yang bisa di refill/isi ulang.

Gunakan jeli karet secara hemat dan bijak. Jangan membuang sampahnya sembarangan.

Belilah peralatan rumah tangga yang tahan lama sehingga tidak perlu sering membeli.


Cobalah untuk mendayagunakan sampah-sampah yang terbuat dari plastik untuk keperluan lain. Seperti untuk kerajinan atau hiasan


 Pisahkan sampah menurut jenisnya, bisa didaur ulang atau tidak.

Selain mengurangi benda berbahan plastik, sebagai seorang konsumen cerdas, harus bisa membedakan antara kebutuhan mendesak atau hanya sekadar keinginan sesaat. Jangan sampai membeli benda hanya karena tergoda oleh iklan saja, tapi menyesal kemudian karena ternyata barang itu tidak begitu diperlukan.

Hal-hal lain yang bisa Anda lakukan adalah membuat sebuah rencana belanja sebelum pergi berbelanja. Hal ini dapat mengantisipasi pemborosan serta membuat Anda lebih cermat dan jeli dalam memilih barang. Cobalah juga untuk selalu melihat tanggal kadaluwarsa pada bungkus produk. Hal ini untuk memberi gambaran seberapa lama barang itu dapat disimpan sebelum dikonsumsi.

Tiga anjuran dari Dr Pachuari tersebut adalah langkah awal yang bisa dilakukan siapa saja. Asal ada niat dan kemauan. Jika Anda sadar mengenai bahaya pemanasan global. Jika Anda memang mencintai alam dan kehidupan. Jika Anda ingin berbuat sesuatu untuk melawan pemanasan global, maka jangan tunda-tunda lagi. Mari kita lakukan tiga anjuran brilian dari Dr Pachuari tersebut.

Tidak perlu menunggu untuk menjadi aktivis Greenpeace atau menteri lingkungan hidup, siapapun Anda, asal ada niat, Anda bisa turut serta dalam upaya penyelamatan bumi. Mari berbuat sekarang juga. Mulai dari diri sendiri, mulai dari saat ini  dan mulai dari hal yang paling kecil. Bukankah perbuatan adalah doa yang paling tulus walau tanpa kata-kata?



Referensi

www.the-inla.org


www.msf.org.au


www.thesahara.net


www.dw-world.de


www.gizi.net


www.kompas.com


Dee-idea.blogspot.com


National Geographic
Adi
Adi Saya adalah seorang bloger yang sudah mulai mengelola blog sejak 2010. Sebagai seorang rider, saya tertarik dengan dunia otomotif, selain juga keuangan, investasi dan start-up. Selain itu saya juga pernah menulis untuk media, khususnya topik lifestyle, esai lepas, current issue dan lainnya. Blog ini terbuka untuk content placement, sewa banner atau kerja sama lain yang saling menguntungkan.

Posting Komentar untuk "TIGA LANGKAH KECIL SELAMATKAN BUMI"