Jangan Jadi Pecandu Politik

Salah satu penyakit yang muncul dalam sepuluh tahun terakhir ini adalah kecanduan politik. Jangan ketawa bung, karena penyakit yang satu ini sama bahayanya dengan narkoba atau alkohol.

Apa itu kecanduan politik? Ini adalah suatu ganguan mental yang membuat seseorang menjadi pecandu politik, mengikuti semua alur politik dan gampang terperdaya serta mematikan nalarnya.

Banyak sekali orang yang saya kenal ternyata mengidap penyakit ini. Mereka jadi pecandu politik yang menyedihkan. Akibatnya hidup dan kehidupan mereka didikte sepenuhnya dari berita di tivi yang haus rating maupun hoax dari grup WA yang tololnya bukan kepalang.

Ini berbahaya. Kehidupan mereka sebenarnya telah ditawan dan hidup mereka dalam pengaruh para politisi.

Mereka tidak sadar bahwa ketika menjadi pecandu politik, mereka mengorbankan banyak hal yang sebelumnya baik-baik saja.

pecandu politik / catatanadi.com
Pecandu Politik

Ada suami yang bersitegang dengan istri gara-gara beda pilihan politik. Ada atasan yang berkonfrontasi dengan bawahan karena beda partai. Semua intinya sama, setiap pecandu menyembah berhala mereka sendiri dan ketika ada yang berseberangan, merekapun siap untuk berdebat.

Tololnya, perdebatan ini melebar hingga ke hal personal. Sayang sekali pada akhirnya kehidupan mereka yang baik-baik saja memudar dan terganti dengan suasana mencekam saling curiga antar tetangga, teman, relasi, maupun keluarga.

Pecandu Politik


Sudah jelas bahwa di negeri 62 ini, turbulensi politiknya sangat biadab. Pagi tempe, malam bisa jadi tahu. Para pemain yang memainkan akrobat politik itu tak memikirkan bahwa ada jutaan rakyat yang memuja mereka dan saling membenci di lapangan.

Apa untungnya jika Anda membenci saudara sendiri karena beda politik. Atau memusuhi sahabat masa keci karena punya berhala politik yang berbeda? Nah, hidup jadi mencekam kan? Harus senantiasa tegang dan waspada?

Untuk itu saran terbaik adalah berhenti menjadi pecandu politik. Tidak ada gunanya. Tidak ada manfaatnya sama sekali.

Mereka yang tampil di tivi dan talk show, atau yang ucapannya nongol di koran dan portal online, tak akan tahu seberapa menderitanya kamu memutus tali persahabatan dengan kawan main kelerengmu. Atau tidak lagi ngopi di kedai langganan demi para politikus itu.

Turbulensi di negeri Indonesia ini benar-benar tidak bisa diprediksi karena ideologi hanyalah obyek pencari uang dan massa. Tidak ada yang benar-benar ingin menjadi insan idealis. Semua mencoba mencari peran demi kepentingan.

Nah bagaimana dengan kamu? Apa kepentinganmu? Apa keuntunganmu menonton debat dan berita yang memang dibuat supaya kamu marah dan menonton tivi yang sama terus menerus? Kamu diperalat!

Beda Kulit Beda Isi


Apa yang ditampilkan di depan publik mungkin sekali berbeda dengan yang sebenarnya. Lihat saja berita terbaru mengenai koalisi ataupun pemilihan para menteri. Duarr!!!!!

Mereka punya perannya masing-masing. Sama seperti kamu. Yang dokter berperan sebagai penyelamat nyawa pasien. Petani berperan memberi makan bangsa. Buruh berperan membangun negeri. Jangan terlalu kurang kerjaan berperan sebagai budak politik para politikus, kecuali memang dengan itu kamu bisa makan.

Tidak Ada Partai Ideologis


Apa masih jaman ngomongin ideologis sekarang ini? Tentu jika dengan itu kamu bisa makan! Tetapi coba lihat, akrobat politik di negeri ini sudah sedemikian lucu hingga harusnya anak kecil tahu mereka sedang berebut kue.

Partai-partai yang ada sekarang jauh berbeda dengan jaman Bung Karno dan Bung Hatta. Alhasil kamu yang jadi pecandu politik akan makin baperan kena sihir mereka namun pada akhirnya menyesal.

Sebenarnya negeri ini butuh sebuah partai ideologis yang benar-benar berjuang untuk rakyat. Sebuah partai yang tidak asal tunjuk kader kemaren sore untuk jadi calon walikota, melainkan benar-benar paham bahwa ada kader yang sudah berkorban demi tegaknya partai.

Bertobatlah, Kawan!


Sudah cukup panjang aku rasa uraian ini aku buat. Tapi satu lagi yang kurasa perlu untuk diuraikan, harga yang kau bayar terlampau mahal!

Apa yang sebenarnya kau cari dari ikut-ikutan emosi bersama para politikus itu? Kepuasan seperti apa yang ingin kau kejar? Tentu aku anggap kau idealis hingga tak mungkinlah uang yang kau inginkan? Lalu apa?

Tidak lebih dari sekedar kesenangan semu belaka! Bertobatlah kawan. Biarkan mereka berakrobat, tetapi dirimu dan diriku tetaplah bekerja seperti biasa. Mencari makan demi anak cucu. Ngopi sambil bersenda gurau. Bercinta dengan pasangan masing-masing. Nonton bola dan tertawa terbahak-bahak.
Tak perlu kita jadi penyembah-penyembah berhala yang haus akan puja-puji!

Kita harus berhenti memberi mereka sesaji dan persembahan. Hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mendengar omong kosong yang tak lucu itu. Bukankah lebih enak mendengar komedi atau musik yang asik.

Ayo kawan, tak perlu lihat wajah-wajah mereka lagi. Matikan saja tivi dan hapus hoax-hoax yang seolah membuat diri dan negaramu ini terancam!

Peran


Sudah kuuraikan, kita adalah rakyat yang punya peran masing-masing. Biarkan mereka tenggelam dengan peran yang memang harus mereka jalani. Kitapun punya tugas untuk keluarga kita.
Lalu apakah kita harus apatis dengan nasib bangsa? Tidak, ferguso, tentu tidak.

Ketika bangsa ini benar-benar terancam, rakyat akan turun tangan. Itulah panggilan pertiwi yang harus kita sambut.

Namun jangan sampai demagogi dan propoganda yang seolah-olah membuat alam pikiran kita berkata negeri 62 sedang terancam, lalu kita saling membenci. Yang ada nantinya justru adalah perang saudara. Kelompok A dikibulin oleh berhalanya, dikatakan negeri ini sedang terancam oleh kelompok B. Demikian pula keolompok B, C, D, D1, D2, D3 dan seterusnya. Jadinya adalah kericuhan yang berujung pada perang sipil!

Belajar


Itulah pentingnya belajar. Mencari kembali asal dari segala keributan ini. Menerka akan kemana semua ini berakhir. Namun nyatanya hanya sedikit yang mau belajar.

Kita tak perlu terlalu berharap pada pendidikan politik yang formal itu. Belajarlah dari kehidupan. Ingat, tidak ada makan siang gratis.

Selain itu jangan mau disuruh-suruh. Disuruh menyumpahi saudaramu sendiri, disuruh membenci tetanggamu sendiri, disuruh mengusir kawanmu sendiri. Lha mereka sendiri aja santai-santai.
Mari belajar dari omongan mereka sendiri. Apa para politikus itu sejalan antara ucapan dan tindakannya? Ingat, jangan bodoh kawan. Ingat peran kita sebenarnya.

Sekali Lagi, Jangan Jadi Pecandu Politik


Inilah pamungkasnya. Jangan terlalu percaya pada apa yang tampil di tivi. Mereka semua dibayar.

Ada yang dibayar untuk mewawancarai, itu perannya. Ada yang dibayar untuk menyampaikan sesuatu. Itu tugasnya. Lha kamu?

Seharusnya karena kamu dan aku penonton, kita punya kuasa lebih. Matikan saja tivinya. Lalu ambil sarung dan pergi ke warung. Main catur sambil dengerin lagu. Enak khan?

Menjadi pecandu politik tidak ada gunanya. Yang ada baperan dan hidup jadi kacau. Suasana hati jadi galau tak menentu.

Mari menjadi lebih sehat. Berolah ragalah. Mainlah yang jauh. Kalau tidak ada yang peduli nanti mereka akan baikan sendiri kok.




0 Response to "Jangan Jadi Pecandu Politik"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel