Kongres Hutan - Sebuah Cerpen

Cerpen - Mentari yang memanggang bumi benar-benar terasa. Sudah sejak beberapa jam yang lalu sidang dimulai tapi sampai detik ini belum ada satu keputusan final. Hingga akhirnya Yang Mulia Eldrik si Gajah meminta waktu untuk berbicara.

cerpen kongres hutan - catatanadi.com
Kongres Hutan
“Wahai saudara-saudaraku warga hutan yang terhormat. Dedaunan dan rumput menjadi saksi bagaimana kita sudah memberikan apa yang kita bisa demi sebuah keputusan yang sampai sekarang kita belum tahu apa itu. Untuk itu ijinkan aku sebagai yang dituakan di sini untuk meringkas menjadi dua pilihan. Kita pindah atau kita menyerahkan diri."

Langsung saja semua anggota sidang kembali berkasuk kusuk. Dan kusuk-kusuk serta sungut-sungut ini makin menjadi-jadi tanpa satupun yang berani menyampaikan pendapatnya, hingga Bogo, si Gorila raksasa berkata.

“Wahai Eldrik pimpinan koalisi herbivora yang agung, apakah itu berarti kita harus vooting dan meninggalkan budaya luhur leluhur kita untuk bermusyawarah  demi mencapai mufakat?"

“Benar," seru Eldrik

Semua pun terpana, karena sejak mempimpin sidang beberapa hari yang lalu, Eldrik cenderung menjadi seorang yang demokratis, menyerahkan semua pada pimpinan sidang. Tapi dengan berlalunya waktu, dan para penjajah berkaki dua itu semakin mendekat, merekapun mahfum.

“Baiklah mari kita mulai saja, wahai Eldrik. Aku mewakili aliansi badak mengingatkan dengan memilih kata menyerah, maka kita akan menyerahkan kebebasan kita, karunia yang diberikan oleh Sang Pangeran pada kita selaku makhluk liar akan terganti di sel-sel besi di mana para manusia dan anak-anak manusia akan melihat kita lalu melempari kita dengan kacang! Maka kami mengajak sekali lagi bagi kita untuk pindah, mencari hutan baru.” seru Rio, badak bercula dua yang sudah pernah merasakan timah panas manusia.

“Hahahah kau bergurau bung. Lihat, Sang Pangeran sebenarnya sudah memberi kita penjelasan. Siapakah yang bisa melawan primata berbaju itu? Sang Pangeran pun hanya menciptakan kita tak lain untuk memenuhi kebutuhan dan kebudayaan mereka. Mereka mampu melewati tahap revolusi yang luar biasa cepat. Apa lagi? Kemana lagi kita lari? Aku sarankan kita menyerah secara terhormat kepada manusia dan dengan bangga menjadi pemuas nafsu dan kebutuhan mereka," usul Beni, si Ayam Hutan.

“O saudara kami tidak sekalipun merendahkan manusia sebagai wakil Sang Pangeran di bumi, tidak tidak sekalipun. Karna mempertanyakan kedaulatan manusia adalah sama dengan kemurtadan. Bagi kami manusia adalah pewaris sah Sang Pertiwi. Tapi kita juga tidak bisa mengingkari bahwa kita makluk hidup yang butuh kebebasan. Akan lebih baik kita menyingkir saja." tambah Bogo

“Menyingkir kemana wahai gorila? Hah? Ke lautan, seperti saudara kami ribuan tahun lalu, dan menjadi seekor lumba-lumba?” ejek Kurdi si kuda yang lalu mengundang tawa.

“Aku baru tahu, wahai kawan Kurdi, jika nenek moyang kuda adalah seekor lumba-lumba pemakan rumput”, timpal Eldrik.

Akhirnya semuapun tertawa lalu terdiam, dalam sepi. Semua termenung, dengan pikkiran yang masih mengawang.

Apapun keputusannya, berarti mereka harus meninggalkan hutan ini, bahkan mungkin juga sang pertiwi dan bersatu dengan tanah. Ada satu rasa iri mereka pada manusia, makhluk kesayangan Sang Pangeran. Tidak ada yang menyangsikan kedaulatan manusia untuk dapat merubah alam sekehendak yang mereka ingin.

Manusia memang tak memiliki gading sekuat Eldrik, lengan sebesar Bogo atau cula setajam Rio. Tapi mereka mampu menciptakan kuda-kuda dari besi yang mampu berlari lebih cepat dari Kurdi, kuda pelari nomor satu dihutan ini.

Mereka punya otak, sesuatu yang tidak dimiliki hewan manapun dalam perjalanan evolusinya. Bahkan konon katanya, nenek moyang para gajah seperti metadon dan mamot bukan apa-apa dibanding manusia.

Voting pun dimulai. Angin berdesir menyisir dedaunan. Ini adalah bagian hutan yang masih tersisa, yang belum dibuka untuk lahan batubara dan hotel-hotel oleh manusia.

Semua hewan berbaris dan menunggu giliran ditanya oleh para monyet apakah mereka memilih opsi A: berpindah atau B: menyerah dan pasrah dengan keputusan manusia.

Lalu tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki yang khas. Para kelinci yang mula-mula mendengar, lalu bersembunyi di balik punggung para banteng dan gajah. Kemudian disusul semua hewan lainnya

Ternyata benar itu adalah langkah gerombolan karnivora dari fraksi kucing besar.

“Salam hutan, kameradku!!!” seru Dimitri, ketua perkumpulan macan bertutul.

“Wahai saudaraku keluarga karnivora fraksi kucing besar, aku kira kita sudah sepakat bahwa ini adalah sidang tertutup?” balas Eldrik bijak.

Para banteng dan badak berwaspada, terutama kepada kelompok macan kumbang yang terkenal radikal pimpinan Ernesto dan Hugo.

“Oh Eldrik yang bijak, kami tak bermaksud untuk menggangu kongres hutan yang mulia ini. Kami hanya ingin mengabarkan hasil kenferensi kami para karnivor”, balas Dimitri sambil mengambil posisi di atas sebuah batu besar.

“O ya, apa itu, wahai karnivor, kaum pembangkang musuh hutan?” seru Kurdi, yang langsung direaksi oleh para serigala yang mengaum-aum.

Para gajah bersiap menyerang, sedang elang dan burung nasar bingung harus berpihak pada siapa.

“Tenang kawan, kami datang dalam damai”, jawab Park Hsu Siong, serigala gurun.

“Kami hormati segala keputusan kalian, tapi ijinkan kami mengabarkan beberapa hasil konferensi kami”.

"Hei dasar Kiri, pergi saja kau ke gurun”, seru Bogo galak

“Oke kami akan mempersingkatnya”. Dia mulai berkhotbah. “Kami kaum karnivor sadar benar posisi kita, kita adalah warga kelas dua, di alam semesta ini, tapi percayalah tak ada satupun makhluk yang mampu memperlakukan kita seperti ini, bahkan Sang Pangeran Pranata Jagad masih menurunkan hujan walau para primata bersenjata itu terus menerus membakar hutan kita”.

“Kita memang binatang, tapi apa itu sebuah alasan bagi kita untuk diinjak-injak? Berpindah atau menyerah adalah dua buah pilihan konyol yang sebenarnya menutupi ketidakpuasan kita pada nasib. Ya itu yang membedakan kita".

"Kami bukan ateis, kami percaya pada Sang Pangeran, tapi kami tak percaya bahwa alam ini diciptakan untuk memenuhi keinginan manusia. Apa karena untuk membangun pabrik kertas, hutan boleh ditebangi, Apa karna untuk terlihat lebih macam sampah bagi betina-betina itu, emas boleh ditambang dan merusak tanah kita? Tak ada satu pilihan lainpun bagi kita selain melawan".

"Memang kita akan menyusul nenek moyang kita para saibertoot dan eyang harimau putih yang habis tak bersisa, tapi justru ini adalaah perlawanan sejati kita. Akan makan apa mereka jika tak ada kita?"
"Bayangkan jika kita semua melakukan perlawan, ya kita semua, termasuk cacing tanah dan para lebah, apakah nanti alam akan berlangsung. Mereka pasti akan dapat menghabisi kita, tapi mereka pun akan habis, dan Sang Pertiwi akan memulai era baru".

"Kami tak akan banyak cakap, tapi jika diijinkan kami ingin menambahkan satu opsi baru, REVOLUSI EKOLOGIS!”, sebuah penjelasan dari Dimitri yang langsung disambut dengan lolongan, auman dan jeritan para pasukan karnivor.

Tak lama merekapun pergi, untuk bergabung dengan pasukan buaya dan ular hutan pimpinan Said Al-Akbar, Sang Buaya Rawa, untuk menyerang pondokan para pekerja yang akan membangun sebuah pertambangan dan perumahan mewah, plus hotel-hotel berbintang, di sini, di hutan ini, sebuah hutan tempat 6000 tahun yang lalu nenek moyang pertama manusia datang dengan kapak batunya untuk mengolah hutan menjadi lebih ramah.

Kongrespun bubar sendirinya tanpa sebuah keputusan.

Tiga hari kemudian di surat kabar

“50 orang tewas dan ratusan lainnya terluka ketika segerombolan hewan buas menyerang pondokan pekreja proyek di hutan X. Polisi yang datangpun tak mampu berbuat banyak, bahkan beberapa motor polisi dan kendaraan polisi mengalami kerusakan parah. Para ahli yang kemudian datang mengaku heran, bagaimana hewan-hewan ini bisa menyerang secara bersamaan. Serangan ini menurut mereka, terlalu sistematis untuk ukuran hewan. Hewan-hewan buas yang terdiri dari serigala, macan tutul,macan kumbang, harimau loreng, buaya dan berbagai jenis ular ini menyerang tepat di siang hari ketika semua pekerja sedang beristirahat. Pimpinan proyek lalu berkoordinasi dengan panglima tentara, dan pada malamnya, dilakukan operasi “pembersihan” di hutan tersebut. Kabarnya, mereka berhasil menembak semua ular, buaya dan macan".

Tak ada satupun yang dibiarkan hidup. Setelah operasi, pimpinan proyek yang tak lain adalah bupati setempat dengan bangga memamerkan bahwa kini hutan itu sudah bersih dari semua ancaman”.

Seminggu setelah peristiwa itu, kongres hutan kembali digelar. Semua hewan mulai dari gajah sampai  semut merah mengikuti kongres yang digelar di tanah yang masih menyisakan noda darah para harimau yang belum kering itu.  Kini, tak ada opsi lain selain: REVOLUSI EKOLOGIS. 

*********************************************

Catatan Penulis : Revolusi Ekologis adalah sebuah perubahan yang terjadi secara total dan mempengaruhi alam beserta semua kehidupan di dalamnya. Baca artikel kami tentang revolusi ekologis dan Teori Gaia. 

Untuk membaca cerita pendek lainnya silahkan kunjungi rubrik cerpen. Untuk membaca cerita misteri silahkan tengok di rubik cermis. Dilarang kelas memplagiat, tetapi dipersilahkan untuk berkomentar ataupun membagikan konten ini ke media sosial Anda. 

0 Response to "Kongres Hutan - Sebuah Cerpen"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Populer

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel