Esai Lepas - Aku teringat pada cerita Peter Pan, seorang bocah ajaib di negeri dongeng. Ia bukan hanya pandai bertarung, tetapi juga bisa terbang. Sungguh sebuah hal yang menyenangkan.

Menjadi Dewasa
Menjadi Dewasa

Tetapi ada yang salah dengan kisah si bocah ajaib itu. Ya, selamanya ia memilih jadi anak kecil dan menolak dewasa. Pertumbuhannya berhenti, baik fisik maupun jiwa. Sebagai gantinya, ia tetap bisa terbang ke sana ke mari, memimpin anak-anak dari seluruh dunia melakukan petualangan mendebarkan.

Apakah kamu juga pernah berpikir seperti Peter Pan? Menolak tumbuh besar dan dewasa lalu berkutat pada dunia kanak-kanak yang bahagia selamanya? Aku pernah.

Rasanya masa kanak-kanak adalah yang terbaik. Selalu ada tangan untuk mengusap air mata, membopong ketika lelah dan melindungi ketika takut.

Selalu ada susu, kue dan roti di meja makan tanpa perlu bersusah membuatnya. Pasti ada hadiah ketika Natal tanpa perlu mengusahakannya. Semua ramah. Bapak, ibu, tetangga, pendeta, guru, teman. Semua memasang tampang elok penuh tawa ketika bertemu kita.

Tetapi memilih terus terjebak dalam dunia kanak-kanak adalah sebuah tindakan pengecut lagi mustahil.

Semua orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, dan memikul beban atas masyarakat. Menjadi dewasa bukan pilihan, tetapi sebuah keharusan, sekuat apapun kamu menolaknya. Sepahit apapun faktanya. Dan betapapun hebatnya keinginanmu untuk tertambat pada masa lalu indahmu menjadi bayi yang ditimang-timan ayah bunda dalam buaian kata-kata indah.

Ketika dewasa aku yang harus memastikan ada nasi dan lauk di meja makan. Mencari cara bagaimana agar Natal tetap gemerlap penuh keceriaan. Menyediakan tangan untuk mengusap, memeluk dan jika terpaksa meraih tongkat demi melindungi orang-orang yang kukasihi.

Kita tidak akan selamanya kecil. Dunia bertumbuh begitupula manusia. Menjadi dewasa memang tidak mudah, tetapi persepsi atasnya akan menjadikannya jauh lebih berat. Ketika hati masih ingin dimanja-manja serta jiwa masih mengkerdil, maka dewasa adalah sebuah masa penuh derita, mirip dengan Prometheus yang disiksa para dewa di sebuah bukit batu. Melewati tiap detik dengan jeritan dan sumpah serapah.

Menyenangkan atau tidak, kita akan dewasa. Aku tahu hidupku belum maksimal. Ada banyak hal yang bisa membuatku stress dan tertekan. Untuk itu aku memohon jiwaku agar mau bekerja sama. Aku memintanya untuk tetap ceria, sehingga bebanku sedikit berkurang.

Jika hidup sudah susah, maka jangan menjadi lebih susah dengan memilihara jiwa-jiwa kerdil yang tertambat pada masa lalu. Padahal, ketika kecil sebenarnya dunia tak sesempurna itu.

Ada kakak kelas yang suka membully, PR yang bikin gila, keterbatasan uang untuk membeli semua mainan di dunia dan tubuh yang masih lemah sehingga tidak bisa melakukan banyak hal.

Menghadapi dunia harus dengan mental yang kuat. Dan itu semua hanya dimiliki orang dewasa. Bukan anak-anak.

Ada yang salah dengan Peter Pan. Dia gagal menunaikan panggilannya untuk masuk ke dunia baru yang lebih menantang, dengan musuh yang lebih tangguh dari Kapten Hook atau petualangan yang lebih seru.

Jika hidup adalah petualangan, maka menjadi dewasa adalah tahapan yang harus dilalui. Memang tidak mudah, tetapi tetap menyenangkan.

Untuk semua pembaca Catatan Adi
30 April 2020, di ruang imaji.