Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cita-cita

Aku pernah dengar orang menyebalkan yang mengharuskan setiap anak punya cita-cita. Katanya kalau tidak punya cita-cita berarti tidak punya tujuan hidup. Apa benar?

Menurutku pribadi, cita-cita itu bisa terbentuk seiring dengan berjalannya waktu. Mungkin waktu TK ada yang ingin jadi pemain sepakbola. Ketika SD pingin jadi dokter. Pas SMP mau jadi pendeta atau ustad. Waktu SMA getol mau masuk angkatan. Atau polisi. Gagal kemudian kuliah. Semester awal pingin jadi politikus. Minimal anggota DPR. Maksimal Presiden. Semester akhir mau jadi apa aja asal bisa wisuda. 

Kalau cita-cita itu dibatasi hanya dalam bentuk profesi, jatuhnya adalah saling tarik-menarik antara satu jenis pekerjaan dengan pekerjaan lainnya yang dianggap menarik. Masalahnya tidak semua anak tahu jenis-jenis pekerjaan. 

Mungkin ada anak yang seumur hidup tahunya kalau sudah gede jadi PNS, guru, mantri kecamatan ataupun polisi. Di lain pihak ada anak yang wawasannya luas dan punya gambaran betapa hebatnya menjalani profesi penulis, trader saham, direktur pabrik ataupun ahli robotika. 

Pada waktu kecil, ketika hidup di lingkungan proletar, yang aku tahu ya seperti itu : jadi insinyur, pilot atau pedagang ikan. Sekarang aku tahu bahwa seorang selebgram bisa kaya raya. Atau pendapatan pemain kripto bisa bikin kaya tujuh belas turunan. 

Daripada menuntut anak untuk mempunyai cita-cita, ada baiknya memberi wawasan betapa luas dunia ini. Ada yang tiap hari bikin kampanye dan jadi buzzer. Ada yang melobi kepentingan perusahaan multinasional. Ada juga orang yang kerjaannya ngulik video tiap hari. 

Selain memberikan wawasan tersebut, hal yang penting lainnya adalah memberikan bekal berupa keterampilan dan pengetahuan yang akan membekali mereka untuk survive di masa depan. Jangan cuma baca tulis dan bikin hoax, ajari juga apa itu team-work, kolaborasi, problem solving ataupun public speaking

Juga yang tak kalah penting adalah menanamkan karakter mulia, bahwa nantinya bekerja merupakan sebuah sarana untuk kemuliaan umat manusia. Duh, tinggi amat bahasanya. Intinya jangan sampai anak melulu pingin ini itu demi uang. Jadi abdi negara supaya bisa kaya. Jadi pengusaha supaya bisa kaya. Tentu saja itu halal dan boleh, namun alangkah lebih baiknya disisipin juga pengetahuan bahwa apa yang kita lakukan sebisanya juga berkontribusi bagi kemanusiaan ataupun kepentingan bangsa. 

Aku salut dengan seorang bocil yang ketika kutanya apa cita-citata, eh cita-citanya, dia menjawab ingin jadi peneliti yang menemukan obat kanker. Lha, kampret. Aku seumuran dia pingin jadi ultramen. Tahu darimana ini bocil ada profesi mulia seperti itu? Apalagi tujuannya menolong orang, bukan supaya bisa bikin franchise medis dan jadi crazy rich

Apa cita-citamu?
Cita-cita


Cita-cita, setinggi apapun itu, bisa berhasil bisa juga gagal. Ada yang ingin jadi pelaut malah jadi pengacara. Ada yang berjuang supaya bisa jadi pegawai BUMN malah nyemplung ke dunia tarik suara. Ada yang mati-matian pingin jadi pebisnis handal malah jadi pelukis. Asal bukan jadi koruptor atau begal rasa-rasanya semua cita-cita patut didukung. 

Sedih sekali ada anak yang berbakat jadi koki namun dihalangi keluarganya yang ngotot dia harus jadi tentara. Atau sebaliknya, si anak pengen jadi petani jamur tapi dipaksa jadi dosen kaya bapaknya. 

Ingat, bisa jadi cita-cita ayah berbeda dengan anak. Apalagi anak tetangga. Nah, kayak begini harus ditanamkan karena meski terlihat sepele tetapi banyak terjadi konflik. Setidaknya di sinetron atau cerita-cerita teen lite. Moga aja tidak di dunia nyata.

Satu lagi sebelum kututup postingan tidak jelas ini, jangan beri contoh buruk. Misal, suatu hari ada anak ngomong pengen jadi dukun pengganda uang karena tahu bapaknya bisa kaya raya makan enak tiap hari dari profesi itu. Mana tahu anaknya kalau bapaknya sebenarnya cuma penipu yang cepat atau lambat bakalan disate sama warga. 

Jadilah contoh yang baik. Milikilah pekerjaan yang baik. Lakukan semua aktivitas dan pekerjaan dengan jujur dan bertanggung jawab, karena bukan hanya Tuhan yang melihat tetapi juga anak cucu kita. 

Kalau kamu gimana gaes? Apa cita-citamu?


Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

1 komentar untuk "Cita-cita"

  1. memang beda jaman ya, saat ini ragam profesi makin banyak. orang tua perlu open minded untuk menerima passion anak, bukan memaksakan anak untuk mewujudkan cita-cita orangtua.

    BalasHapus

Artikel Pilihan Hari Ini

Artikel Teknologi

Recent Posts Label

Artikel Bisnis dan Peluang Usaha

Recent Posts Label

Kumpulan Cerpen

Recent Posts Label

Artikel Pendidikan

Recent Posts Label