Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kalah Mental di Negeri yang Gagal

Dahulu saya sering sekali mengalah pada para sopir angkot yang ugal-ugalan. Pernah nyaris jatuh karena angkot yang berbelok tiba-tiba, melipir ke kiri tanpa tanda-tanda sebelumnya. Pernah juga nyaris keserempet karena bis yang ngawur ambil haluan.

Banyak orang yang sadar dirinya salah tapi lebih galak dari iblis ketika ditegur. Bagi mereka, dunia harus tunduk. Ini terjadi pada siapa saja dengan beragam alasan. Ada yang mengharuskan orang lain memaklumi keegoisan mereka karena mereka kaya ataupun sebaliknya karena mereka miskin. Dipikir orang lain tidak punya masalah.

Negeri yang gagal memberikan keadilan berpotensi membuat rakyat membusuk dan sengsara, khususnya mereka yang lemah, termasuk juga yang enggan sama-sama melakukan pelanggaran.

Alhasil yang jadi korban sebenarnya adalah mereka yang sesungguhnya taat aturan. Melihat orang melakukan pelanggaran terang-terangan tanpa dihukum, membuat hati mereka yang suci terluka. Alhasil banyak yang akhirnya menyerah pada praktik monastik mereka dan sama-sama jadi edan. Dunia memang edan, ora edan ora keduman.

Banyak orang yang berani melawan penindasan, ketotolan dan kengototan dari pelanggar hukum karena mereka punya sesuatu yang bisa dijadikan perisai. Ini adalah golongan orang suci yang beruntung, dan para bebal yang hobi melanggar itu pada akhirnya ditundukkan dengan sempurna. 

Tapi tidak semua orang baik punya perisai atau privilege. Dan harusnya pemerintah serta segenap aparatnya yang memiliki kewajiban untuk melindungi segenap warga negara, khususnya dari kebebalan warga yang lain. 

negeri yang gagal
ketakutan

Negeri ini banyak menoleransi pelanggaran, seakan-akan semua itu hal biasa. Lihatlah pedagang yang dengan enaknya menjajah rakyat. Mereka beralasan orang miskin yang punya hak berjualan di tempat yang seharusnya. Tentu ini tidak boleh dibiarkan. 

Termasuk juga orang-orang yang punya kendaraan namun tidak punya otak yang cukup waras untuk mengendarainya. Mereka menyerobot lalu lintas, menginjak-injak hukum, membahayakan orang lain, dan dengan santai menunjukkan kebebalan mereka. Ada yang merokok dengan santai sambil naik motor, potong jalur tanpa memperhatikan arus hingga mengebut di jalanan. 

Ini belum termasuk mereka yang membuang sampah di kali, ngetem sembarangan di depan pintu terminal, tetangga yang berisik, hingga menjual makanan tidak higienis.

Alhasil orang yang jujur punya pekerjaan tambahan, yakni harus pandai-pandai bersikap. Para pelanggar tersebut bisa lebih galak dari anjing penjaga gudang. Padahal jelas mereka salah. Manusia gagal menjadi dirinya secara utuh dan sempurna

Kalau sudah begini, bukan hanya mental, nurani juga terluka. Alhasil mencari negeri baru yang berisi masyarakat yang jauh lebih baik menjadi pilihan. Apalagi harus disadari hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan mengorbankan perasaan. 

Adi
Adi Saya adalah seorang penulis dan blogger yang sudah mendalami dunia blog sejak 2010. Saya menulis tentang banyak hal, seperti games, teknologi, filsafat, pendidikan, politik, fashion, olahraga, buku, kuliner, dll. Pernah mengikuti berbagai pelatihan dan kursus dari NGO maupun pemerintah.

Posting Komentar untuk "Kalah Mental di Negeri yang Gagal"