Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pergumulan Iman, Pekerjaan Melelahkan Manusia

Lagi-lagi harus menulis tentang iman. Tentang agama. Tentang kepercayaan. Ada yang berkata bahwa semua itu cukup untuk jadi pegangan saja. Ada yang merasa harus membahasnya panjang lebar. Apapun itu, asal tidak mengganggu orang lain, bolehlah.

pergumulan iman
iman


Pergumulan iman sejatinya berkutat pada beberapa hal berikut :

  1. Apakah Tuhan itu ada? Jika ada, dimana Dia? Seperti apa bentuknya? Sedang ngapain selama ini? Apakah hanya satu atau banyak?
  2. Apakah yang diinginkan Tuhan dalam hidupku? Atau benarkah hidupku harus sesuai dengan keinginan Tuhan? Bagaimana jika Tuhan itu ternyata tidak ada, lantas keinginan siapa yang aku turuti selama ini?
  3. Kemana manusia setelah mati? 
  4. Haruskan kita percaya pada kisah dan doktrin yang disampaikan orang-orang lain pada kita? Apa mereka pernah melihat Tuhan? Apa mereka tahu wujud Tuhan? Apa mereka tahu kemana setelah mati?

Semua pertanyaan di atas melelahkan namun itu bukan berita buruknya. Satu hal lagi yang jauh lebih buruk adalah ketika kita harus benar-benar hati-hati bahkan dalam menyampaikan apa yang kita pikirkan terkait iman dan kepercayaan. 

Karena jika membahas soal yang ini, maka garis pemisah antara hak dan kewajiban jadi agak membingungan. 

Ada orang yang merasa punya kewajiban mengingatkan orang lain. Ada yang merasa jika dirinya punya hak untuk tidak diingatkan karena yang mengingatkan juga belum tentu benar. 

Kreativitas Manusia

Berdebat atau bahasa kerennya berdialektika adalah bukti manusia itu makhluk yang kreatif. Coba bayangkan dalam dunia hewan, mana ada aplogetika, debat panel ataupun uji skripsi. Tidak terima wilayahnya diserbu ya langsung saja baku hantam sampai mampus. 

Kreativitas manusia ini berhubungan dengan natur manusia yang memang disadari berbeda dengan bekantan, orang utan, gorila atau munyuk. Kita punya cipta, rasa dan karsa. Namun yang susah adalah ketika kita punya imajinasi dan opini, lalu memaksakan orang lain untuk menyetujui itu semua. Padahal mungkin sekali orang lain punya imajinasi dan opini yang berbeda. 

Menyamakan Ritme

Aku menyadari sebagai seorang yang lemah dan butuh sekali bantuan. Namun terkadang aku juga menanyakan, akankah Tuhan membantuku. Jangan-jangan apa yang aku lakukan ini tidak berkenan di mataNya, jadi pastinya Dia tak akan membantu.

Di sinilah pentingnya menyamakan ritme, sehingga keinginan kita sejalan dengan keinginan sosok yang disebut Tuhan, agar semua berjalan lancar tanpa hambatan. 

Meski begitu, aku sendiri tak pernah melihat Tuhan, terlebih berbicara denganNya. Aku hanya berbicara dengan hatiku sendiri, yang dahulu aku sering menganggapnya sebagai Suara Tuhan. Padahal jelas itu suara hatiku sendiri. 

Karena aku tak pernah melihat atau berbincang dengan Tuhan, maka proses menyamakan ritme terdiri dari 2 hal : 

  • Menyamakan keinginan pribadi seturut dengan apa yang sudah digariskan di kitab-kitab-Nya.
  • Menggunakan hati nurani sebagai penguji.
Aku percaya akal dan hati nurani juga adalah hadiah Tuhan bagi manusia. Tanpa keduanya, mungkin sejak lama manusia punah. Namun keduanya juga harus senantiasa dilatih agar makin tajam dalam memandu kehidupan. Salah satu cara paling nyata adalah berupaya menjadi adil sejak dalam pikiran.

Adi
Adi Saya adalah seorang penulis dan blogger yang sudah mendalami dunia blog sejak 2010. Saya menulis tentang banyak hal, seperti games, teknologi, filsafat, pendidikan, politik, fashion, olahraga, buku, kuliner, dll. Pernah mengikuti berbagai pelatihan dan kursus dari NGO maupun pemerintah.

Posting Komentar untuk "Pergumulan Iman, Pekerjaan Melelahkan Manusia"