Masyarakat Pecandu Hoax

Kenapa mudah dibohongi berita hoax? Apakah kita sudah menjadi pecandu budaya kebohongan dan menjauhi nalar sehat serta kebenaran? 

Budaya hoax di negeri ini sudah mencapai level Asgard, bukan lagi level Meikarta. Hampir setiap sendi kehidupan berbangsa, bernegara dan ber-ber lainnya sudah terkontaminasi berita palsu. Ujung-ujungnya, masyarakat yang dirugikan.

Tengok saja hoax paling bikin greget, pemutihan denda SIM/STNKB. Tentu bagi para pengendara dan pemilik kendaran bermotor non-teladan, kabar adanya pemutihan ini bak dapat durian runtuh, bahkan durian montong runtuh plus es kopyor. Namun apa dinyana, berita yang indah didengar telinga itu tak lebih hanya hoax. 


Lalu mengapa hoax begitu mudah menyebar, bahkan kecepatannya sudah melebihi kecepatan cahaya?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah limanya adalah; masyarakat kita malas membaca, permainan oknum-oknum tertentu, lemahnya kontrol pihak terkait, media mainstream yang sialnya juga ikutan jadi hoax spreader, dan takdir. Mari kita bahas satu persatu, agar tulisan ini juga bukan salah satu hoax baru.

Kenapa masyarakat mudah percaya hoax?
Kenapa masyarakat mudah percaya hoax?

1. Malasnya masyarakat kita membaca. 
Sangat disayangkan, di era kuda gigit iphone seperti ini, penyakit masyarakat kita masih sama: malas baca. Paling banter baca judulnya, syukur-syukur baca satu/dua kalimat pembukanya, Parahnya lagi, membaca dengan serius tapi ogah menyelidiki sumber yang dicantumkan. sebagai contoh:

Ternyata mengemil daun ganja yang ditaburi MSG dapat membuat kekebalan tubuh kita meningkat. Research dari Gotham University menyebutkan, kandungan metalonogen, kromosom dan sinar ultra-violet pada ganja dapat membuat kinerja sistem imun manusia meningkat. Penelitian yang dipublikasikan oleh Asian Journal of Bullshit itu merekomendasikan untuk mengkonsumsi daun ganja yang masih hijau dan terletak di paling pucuk. Agar khasiatnya lebih terasa, sangat dianjurkan untuk menaburi daun ganja itu dengan MSG lalu dikunyah bareng-bareng sambil dengerin lagu Despacito. Demikian ungkap Sir Jose Jurgen Alexander Wenger dari faculty of stupidity Gotham University

Dalam contoh hoak di atas, nampak ada tipikal yang hampir selalu nongol, berlindung di balik nama institusi/ahli/badan yang seolah-olah memang expert. Padahal jika mau di kroscek, jangankan bertanggung-jawab atas artikel tersebut, eksistensi dari badan/lembaga yang bersangkutan saja patut dipertanyakan. Gotham University, oh emji.

2. It's just a game.  Nyesek memang, jika ternyata ada oknum-oknum yang kerjaanya tidak lebih hina dari seorang koruptor atau maling, yup....memproduksi hoak. Kaum-kaum lucknut terkutuk ini bisa dikategorikan dalam beberapa golongan: Karena persaingan usaha, black campaign dan buzzer. Intinya sama, ingin menjatuhkan pihak tertentu dan mempercantik pihak pesaing. Bisa perkara saingan dagang, adu kuat pilihan kepala RT sampai invisible hands yang bertujuan menganggu stabilitas suatu negara. Contoh:

Waspadalah!!! Indonesia sudah dikepung!!! Kemaren di beritakonyoldotcom.new terungkap fakta kedatangan seratus juta imigran asing asal Zimbabwe dan Guinea. Mereka disusupkan melalui proyek-proyek penguasa, lalu kemudian diberi kedudukan sebagai WNI. Dicurigai, mereka antek Partai Kumpul Kebo, salah satu jaringan Gerakan Jionis. Waspadalah!!! Mau kerja apa anak cucu kita, sedang jelas kita memang kalah produktif, kalah terampil dan kurang pengalaman. Parahnya, para imigran Zimbabwe dan Guinea ini sangat anti berdemo minta kenaikan UMR. Ini sungguh ancaman di depan jidat! Sebarkan agar semua tahu! 

Tidak  asing dengan narasi di atas? Yup, jika anda tidak ikut-ikutan share, selamat anda masih waras. Masalahnya, seorang waras di tengah kumpulan wong gendheng, maka justru dia yang dianggap edan. Salam edan.

3. Tidak adanya superhero. Kita sungguh merindu adanya The Avangers atau Fantastic Four yang konsen meng-counter hoak. Kalau perlu kita sewa sekalian The Punisher.  Mengandalkan pemerintah saja tidak cukup, lha wong buzzer ini selain makin lihay juga maennya keroyokan. Inilah saatnya orang waras turun gunung, jangan hanya bertapa di dalam menara gading. Gerakan para netijen waras ini juga harus diintegrasikan dengan badan pemerintah yang khusus menangani hoak yang bikin muak ini. Untung saja UU ITE sudah terbit, walau kadang ditenggelamkan ketika berhadapan dengan mereka yang memiliki kekuatan politik. Syedihhh....
Sekarang saatnya kita memilih. Jadi pecandu hoak, penyebar hoak, lalu menikmatinya. Atau kesadaran kita terusik, kuping kita gatal, mata kita nyeri, ketika ada hoak tampil nyempil di gadget kita? Jika anda tipe yang kedua, maka ayo.....lawan! Setidaknya jangan ikut menyebarkan. Cukup dibaca, ketawa sebentar, terus delete.

4. Tidak ada yang menjadi acuan. Bahkan sering kita saksikan media-media arus utama yang harusnya menjadi acuan berita sesungguhnya, ikut-ikutan menyebarkan hoak, entah itu sengaja atau khilaf. Memang sangat susah jika pers sudah ikut-ikutan maen politik. Kalau sudah begini, kita kadang merindu TVRI yang adem ayem. Padahal di lapangan saudara-saudari kita meregang nyawa, diculik dan dianiaya.

5. Fenomena. Hoax terkadang memang sebuah fenomena zaman yang... tertakdirkan muncul dan menjadi hiburan khalayak. Inget kabar Eno Lerian dihamili Bondan Prakoso? Padahal keduanya masih piyek, bro. Atau Michael Jackson meninggal padahal yang bersangkutan masih bisa joget-joget seru? Yap, kalau yang ini susah dibahas ya, tapi biasanya juga tidak berbahaya. Kecuali ente korbannya...

Sekarang saatnya kita memilih. Jadi pecandu hoak, penyebar hoak, lalu menikmatinya. Atau kesadaran kita terusik, kuping kita gatal, mata kita nyeri, ketika ada hoak tampil nyempil di gadget kita? Jika anda tipe yang kedua, maka ayo.....lawan! Setidaknya jangan ikut menyebarkan. Cukup dibaca, ketawa sebentar, terus delete.

Demikianlah artikel kali ini tentang masyarakat yang mudah dibohongi berita hoax. Baca terus artikel menarik lainnya dari Catatan Adi  

0 Response to "Masyarakat Pecandu Hoax"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel