25 Riddle Akhir Tahun - Jangan Coba Baca Jika Anda Penakut!

Kumpulan Riddle Seram Desember 2019


Catatan Adi - Hai penggemar riddle dan cerita seram, kali ini kami akan memberikan kejutan untuk kalian. Tidak terasa tahun 2019 akan berakhir. Ada suka duka yang sudah terlewati. Ada banyak cerita yang sudah terukir.

Termasuk dengan blog Catatan Adi. Kami bertumbuh cukup baik walau masih jauh dari harapan. Semoga saja di tahun 2020 nanti, akan makin banyak pembaca yang membaca cerita-cerita seram dari Catatan Adi.

Amin.

riddle terbaru 2019 / catatanadi.com
25 Riddle Terbaru Catatan Adi


Untuk edisi kali ini, kami akan memberikan 25 Riddles Seram. Sebagian di antaranya adalah riddle dan urban legend yang sudah banyak tersebar di berbagai situs dalam dan luar negeri yang kami sajikan kembali dengan sedikit perubahan. Kami yakin riddle tersebut masih cukup seram dan menakutkan.

Untuk kalian yang ingin mengirim cerita seram, riddle, urban legend, foto seram, maupun curhat silahkan kirim ke email melalui kotak formulir yang ada di bawah ini ya. Walau belum tentu kami tayangkan, namun pasti akan kami baca.

Oke, ini dia 25 riddle menyeramkan di penghujung tahun 2019.



Guru Baru


Aku seorang guru baru di TK ini. Anaknya lucu-lucu dan rekanku juga baik. Hanya saja satu hal yang membuatku agak tidak betah. Gedung sekolah ini bukan hanya tua, namun sedikit horor.

Pagi itu Calista memintaku mengantarkannya ke belakang. Aku menggandeng tangan gadis kecil itu. Ia memaksa untuk masuk toilet sendiri. Aku agak was-was namun mengingat ia anak pemberani dan cekatan, apa salahnya.

Aku lalu menunggu di pintu depan. Kulihat sekeliling. Wow, mungkin gedung ini sudah ada sejak jaman kolonial. Lalu tiba-tiba Calista sudah di sampingku. Aku menggandeng tangannya dan kembali ke kelas. Setelah cukup jauh kami berjalan, seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh. Nampak Calista sedang ada di pintu kamar mandi sambil melongo.



PILEK


“Halo, apa ini Bob?”

“Halo, ya ini Michelle. Ada apa?”

“Apa kau baik-baik saja? Suaramu sedikit aneh.”

“Yah, jadi tambah seksi ya?” temanku tertawa, “Aku sedang sakit pilek.”

“Oh benarkah? Kau harus beristirahat dan minum obat!”

“Ya, aku seharian ini tidur terus kok.”

“Oh ya, aku ingin mengingatkanmu. Kau sudah baca berita belum? Ada pembunuh berkeliaran di kota ini. Ia masuk ke rumah mereka dan mencekik mereka dari belakang. Kau harus berhati-hati!”

“Tenang, aku selalu mengunci rumahku kok.”

“Kau tinggal sendirian kan? Lagian kau juga lagi sakit begitu. Bagaimana kalau hari ini kau menginap di rumahku saja?”

“Oh, apa kau yakin? Aku akan senang sekali.”

“Baiklah, cepatlah ke sini. Paling tidak aku yang merawatmu di sini.”

“Oke. Eh, aku lupa dimana rumahmu hehehe. Maaf, aku pusing sekali, tak bisa berpikir.”

“Bagaimana sih, kita kan tetangga? Aku tinggal di gang Kenanga nomor 5.”

“Oke tunggu, aku ke sana ya. Bye!”



Bocah Kurang Ajar


Karena lembur, terpaksa hari itu aku pulang cukup larut. Temanku lapar, jadi kami berhenti di sebuah minimarket. Temanku masuk untuk membeli roti dan mie instan, sedang aku di luar menungguinya.

Beberapa menit kemudian ada seorang bocah yang berlari dan menabrakku. Ia kemudian berbelok ke sebuah gang kecil yang ada di sebelah bangunan minimarket ini. Bocah kurang ajar, pasti dia tak pernah diajari sopan santun oleh keluarganya.

Selang beberapa waktu sesosok wanita nampak tergopoh-gopoh. Ia berlari lurus melewatiku. Karena penasaran aku memanggilnya.

Ia lalu menghampiriku.

"Maaf pak, apa bapak melihat seorang anak kecil lewat sini?"

"Oh, dia berbelok ke gang itu bu. Cari saja, pasti ketemu."

Ibu itu tersenyum, "Terima kasih, pak".

Temanku kemudian keluar dan kamipun melanjutkan perjalanan. Karena sangat mengantuk, begitu sampai rumah, aku segera tertidur.

Paginya aku membaca sebuah berita di koran tenang pembunuhan seorang ibu. Sedang anaknya dipastikan diculik. Polisi curiga ini adalah ulah penjual organ Yang membuatku kaget, peristiwa ini terjadi tak jauh dari warung dimana temanku membeli makanan tadi malam.

Ah, semoga saja wanita itu bukan ibu yang kutemui tadi malam. Kasihan jika benar. Lingkungan ini benar-benar tidak aman. Aku harus pindah secepat mungkin.



Pembunuhan


Aku terbangun tengah malam dan merasakan suatu perasaan tak enak.

Aku menyalakan lampu mejaku dan melihat genangan darah yang sangat banyak di selimutku.

Aku menjerit dan berlari keluar kamarku. Aku buru-buru turun ke lantai bawah dan melihat Bruni, anjingku, kini terbaring bersimbah darah di ruang tamu tangga.

Aku hendak keluar melalui pintu depan ketika aku mendengar suara di ruang makan. Tidak, pembunuh itu masih ada di sini!

Aku segera berlari ke atas lagi untuk menemukan orang tuaku, berharap mereka masih hidup.

Aku membuka pintu kamar orang tuaku dan melihat kolam darah di lantai. Ayah tewas tergeletak dengan banyak tusukan di dadanya. Sedang di sebelahnya terbaring mayat ibu yang juga penuh lumuran darah.

Aku mendengar sang pembunuh naik ke atas. Pelan namun pasti, ia membuat suara decitan ketika kakinya menginjak anak tangga yang terbuat dari kayu.

Aku meringkuk di pojok ruangan, tak ada lagi jalan keluar. Aku hanya bisa berdoa.

Pembunuh itu kemudian membuka pintu.

Aku bernapas lega. Itu bukan pembunuh, ternyata itu pria berseragam polisi.

Aku hendak berlari ke arahnya, meminta tolong. Namun ia justru bergerak mundur ketika ia melihatku.

“Ke...kenapa?” tanyaku ketakutan, “A...apa ia ada di belakangku?”

Kemudian ia berkata dengan suara tegas sambil berusaha meraih pistol yang ada di sabuknya.

“Nak, tenanglah dan berikan kepadaku pisau itu!”



Penyusup


Belakangan ini aku mengalami kejadian tak mengenakkan. Begitu aku pulang, kamarku selalu saja acak-acakan. Tak ada yang hilang sih, tapi ini mulai mengangguku . Akhirnya aku memutuskan untuk memasang kamera CCTV di pojok kamarku.

Ketika aku pulang hari ini, akupun mengecek isinya. Awalnya tak ada apapun yang terjadi, namun kemudian aku melihat kenop pintuku berputar. Pintu kamarku terbuka dan seorang wanita, sambil membawa pisau di tangannya, masuk ke dalam kamarku. Sambil tertawa-tawa ia mengobrak-abrik seisi kamarku dan kemudian bersembunyi di dalam lemari.

Di dalam video, seseorang kembali memutar kenop pintu dan membukanya. Itu aku.



Hidup Sendiri


Aku tinggal bersama dengan orang tuaku. Tadi malam bertengkar hebat kami bertengkar hebat. Akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri sejak dari hari itu.

Hari pertama aku hidup mandiri, aku memulainya dengan hal-hal biasa, seperti sarapan, mandi, dan kemudian bersiap berangkat. Oh ya, hampir lupa ... aku harus membuang sampah. Akupun keluar dari rumah dan menyapa tetanggaku yang selalu meyirami tanamannya setiap pagi. Aku kemudian mengunci pintu dan berangkat kerja. Benar-benar hari pertama yang sempurna!



Pembunuh Psikopat


Hari ini hari Sabtu. Aku mengundang temanku, Hanif, untuk bermain game di rumah. Hanif dan aku bermain game 'point blank' hingga larut malam.

Setelah cukup lama bermain, kami kelelahan dan memutuskan menonton televisi. Malam itu sangat membosankan karena semua acara prime time sudah habis dan yang tertinggal hanyalah acara berita. Namun ada satu berita yang menarik perhatianku,

“Pagi ini di jalan kenanga terjadi sebuah kasus pembunuhan misterius. Korbannya adalah seorang guru seni bernama Sinta. Ia dibunuh dan mayatnyaditemukan terpotong-potong. Perlu diingat bahwa senjata pembunuhnya belum ditemukan jadi sangat sulit bagi polisi untuk melacak pelaku sebenarnya ..”

“Wah seram sekali. Bukankah tempat tinggalmu di Chiyoda? Berhati-hatilah!” kataku pada Hanif.

Hanif hanya tertawa, “Hahaha, menakutkan sekali, ada pembunuh berantai berkeliaran ...”

“Aku serius. Mungkin ia mengincar korban selanjutnya. Barangkali ia psikopat dan menargetkan guru sebagai korbannya. Bukankah kau guru olahraga?”

“Ya...ya...ya...justru karena aku guru olahrga, aku tak akan takut. Lagipula aku bisa membela diri kalau bertemu dengannya. Eh, hari sudah malam, aku pulang saja.”

“Hei, mengapa kau tidak menginap saja di sini! Bahaya kalau kau pulang malam-malam!”

“Hahaha....aku sama sekali tak takut dengan pembunuh. Apalagi jika dia hanyamembawa pisau dapur. Bye!”

Aku mengantar Hanif ke pintu dan begitu ia pulang, aku langsung menelepon polisi.



Gelang


Sudah cukup lama aku berputar-putar di lorong ini. Rumah sakit ini membingungkan. Setelah cukup lama, akhirnya ketemu juga lift itu. Aku sudah tak sabar ingin keluar.

Lampu menyala dan pintu lift terbuka. Tampak seorang pria beruban dengan jas dokter di dalam. Aku masuk. Lift turun ke lantai 3, dan terbuka lagi. Lalu seorang wanita dengan dandanan kacau masuk. Sebelum pintu tertutup, tiba-tiba pria berjas dokter itu meraih tanganku dan keluar. AKu terkejut.

"Hei ada apa ini?", tanyaku marah.

"Anda harusnya berterima kasih padaku. Anda lihat wanita tadi. Di tangannya ada gelang khusus untuk jenasah. Kami baru saja mengotopsinya tadi siang", jawab pria itu dengan nafas terengah-engah.

Aku tersenyum. "Maksudmu gelang seperti ini?"



Apakah Kau Melihat Suamiku


Seorang wanita muda tampak kebingungan. Ia mendatangi semua orang yang dilihatnya di jalanan.

“Apa kau melihat suamiku?” seorang wanita bertanya dengan panik pada seorang gadis di seberang jalan.

“Maafkan saya, tapi saya tak melihatnya.” gadis itu menjawab dengan iba.

“Apa kau melihat suamiku?” ia kemudian bertanya pada polisi dengan nada ketakutan.

“Tidak, bu ... kami tidak melihatnya. Namun kami akan mencarinya segera!” polisi itu segera menghubungi kantornya dengan radionya, sambil berusaha tidak menatap mata wanita itu yang sembab oleh air mata.

“Tolong ... tolong katakan dimana suamiku ...” tanyanya pada tetangganya yang tinggal di sebelah rumahnya.

“Maaf, kami belum melihatnya ...” jawab sang tetangga dengan kasihan.

Wanita itu mencari di segala penjuru jalan sambil berteriak, “Dimana suamiku!” Ia menangis dan menjambak rambutnya dengan putus asa. Semua orang di lingkungan tempat tinggalnya berusaha untuk membantu mencarinya, namun percuma. Mereka tak menemukan pria itu dimanapun.

Sebulan setelah itu, wanita itu masih saja mencari suaminya. Tetangga-tetangganya bertambah iba karena menganggap wanita itu telah menjadi gila karena kehilangan suaminya.

Ia akhirnya pergi ke kantor polisi dengan langkah lambat dan hati berdebar-debar.

“Apa kalian sudah menemukan anakku?” tangisnya.

Polisi yang bekerja di meja depan hanya menghela napas, “Maaf Bu kami sama sekali tidak tahu dimana dia”

Wanita itu berjalan gontai ke rumah sambil sesekali menangis tersedu-sedu. Namun begitu sampai di dalam, ia segera menutup pintunya sambil tersenyum.

“Berarti aku menyembunyikan mayatnya dengan sangat baik ...”



Guru Yang Perhatian


Suatu hari terjadi percakapan antara seorang guru dengan sepasang suami istri.

“Ada apa dengan anak kami, pak?” tanya sang ibu.

Guru itu menjawab pelan, “Semoga saya tidak membuat anda berdua khawatir. Saya tahu apa yang akan saya katakan mengenai anak gadis anda terlihat mustahil, namun kasus ini sebenarnya pernah terjadi di sekolah ini. Anak perempuan anda sebenarnya adalah anak laki-laki. Ini memang terdengar aneh, namun sebenarnya ia memiliki titit, hanya letaknya tersembunyi. Ia memerlukan operasi secepat mungkin.”

Sepasang suami istri itu kemudian sangat terkejut. Awalnya mereka sulit menerima hal ini. Namun akhirnya mereka membawa anak gadis mereka ke rumah sakit. Di sana dokter mengatakan hal serupa dan anak mereka akhirnya dioperasi.

Mulai saat itu, anak itu hidup sebagai anak laki-laki.

Ini memang terdengar sebagai hal yang aneh. Apapun itu, pada akhirnya kedua orang tua tersebut sangat berterima kasih pada guru tersebut. Berkat dia, kini anak mereka dapat menjalani hidup yang normal sebagai lelaki.



Pembantu Baru


Seorang pria sedang dalam perjalanan dinas ke luar kota ketika ia memutuskan untuk menghubungi istrinya di rumah lewat telepon. Ia terkejut ketika mendengar suara wanita yang tidak dikenalnya di telepon.

“Siapa kau?” tanya sang suami.

“Saya pembantu yang bekerja di rumah ini.” jawabnya.

“Kami tak punya pembantu di rumah kami.” kata sang suami dengan curiga.

“Saya baru saja mulai bekerja hari ini. Nyonya rumah yang memperkerjakan saya.”

“Dapatkah kamu memberikan telepon ini pada istriku?” pria itu semakin curiga.

“Beliau sedang beristirahat di kamarnya sekarang,” sang pembantu terdiam sebentar sebelum akhirnya ia melanjutkannya perkataannya kembali, “Saya pikir pria yang berada bersamanya di kamar tidur itu suaminya ...”

“Apa?!” sang suami terkejut. Sebuah akal kemudian muncul di kepalanya, “Apa kau mau uang 50 juta?”

“Apa yang anda inginkan untuk saya lakukan?” ia terdengar ragu-ragu, namun uang 50 juta terdengar sangat banyak untuknya.

“Ada pistol di laci meja telepon. Seharusnya pistol itu sudah terisi. Aku ingin kamu naik ke atas dan menembak mereka. Mengerti?”

“Ba...baik. Saya akan mencobanya.”

Sang pembantu pergi tanpa menutup teleponnya. Sang suami bisa mendengarnya menarik laci, melangkah naik ke atas, dan kemudian terdengar samar dua suara letusan tembakan sebelum akhirnya terdengar langkah kaki mendekat ke arah telepon.

“Halo?” tanya sang pembantu. Sang pria tersenyum dengan puas.

“Kau bekerja dengan sangat bagus. Jauh lebih bagus daripada dugaanku.”

“Terima kasih. Apa yang harus saya lakukan dengan jenazah mereka?”

“Pertanyaan bagus. Tenggelamkan saja mereka di kolam renang.”

“Kolam renang? Kolam renang yang mana? Rumah ini tidak memiliki kolam renang.”

Keduanya hanya terdiam.



Anjing


Aku punya anjing kintamani coklat namanya Sasha. Ia lucu dan menggemaskan. Suatu pagi, ia keluar untuk mengambil koran seperti biasa. Namun setelah kutunggu, ia tak juga kembali. Sasha hilang. Kami sekeluarga bersedih.

Dari kami semua, yang paling terpukul adalah istriku. Ia sampai menyewa jasa paranormal agar anjingku kembali. Sebulan kemudian, paranormal itu mengantarkan Sasha pulang. Wow, aku sampai tak percaya. Setelah kuamati, itu memang Sasha.

Tetapi ada yang aneh. Sasha sekarang tak suka tidur di lantai. Ia lebih suka tidur dengan istriku. Ia bahkan hanya mau mandi di kamar mandi. Suatu saat aku memanggilnya untuk mengambil koran. Ia diam saja sambil terus menonton tivi. Aku cukup marah hingga menimpuk kepalanya dengan sebutir kacang. Ia kemudian menoleh dan berbicara. "Apa aku seperti anjingmu?"



Kacamata


Aku baru berumur 10 tahun ketika orang tuaku mengetahui bahwa aku sebuta kelelawar. Sebenarnya kelelawar tidaklah buta. Mereka memiliki penglihatan, namun sangat buruk.

Seperti itulah kondisiku. Aku belum pernah mengikuti tes penglihatan sehingga aku beranggapan bahwa orang lain melihat sebagaimana aku melihat dunia. Aku hanya melihat bayangan-bayangan kabur, figur yang samar-samar, cukup untuk membuatku tidak menabrak mereka.

TV bagiku adalah radio yang dilengkapi dengan permainan cahaya dan aku hanya bisa membedakan mainanku dari warna-warnanya. Ketika aku tak kunjung belajar membaca, orang tuaku membawaku ke rumah sakit dan akhirnya mengetahui kekuranganku.

Duniaku berubah selamanya ketika aku mendapat kacamata pertamaku. Aku melihat segalanya! Aku melihat kamar dokter mata, dinding, langit-langit, tanganku, dan orang-orang yang ada di ruangan.

Aku melihat ayah, ibu, dokter, dan para perawat. Dengan takjub aku melihat warna mata ayahku untuk pertama kalinya.

Namun untuk pertama kalinya pula aku masih melihat beberapa orang di ruangan tetaplah samar, gelap, dan kabur. Mereka ada banyak dan aku tahu mereka mengawasiku seperti aku mengawasi mereka.

Dan aku menyadari kaki mereka tak menyentuh tanah.



Gunung


Aku adalah seorang pegawai negeri yang rutin traveling maupun naik gunung. Biasanya aku hiking secara berkelompok, namun tidak sepertiku, kini teman-temanku sering sibuk dengan pekerjaannya. Akhirnya aku hiking sendirian.

Suatu hari aku tersesat di gunung ini. Kata orang, gunung ini angker, namun aku tak percaya. Tersesat adalah hal biasa. Apalagi setelah itu aku justru bertemu seorang gadis cantik yang ternyata penjual kopi. Aku mampir di kedainya dan menikmati secangkir kopi hangat sebelum melanjutkan perjalanan.

Setia aku mendaki ke gunung itu, aku selalu mampir ke kedainya. Selain untuk menikmati paras cantik si penjual, kopinya memang enak. Selain itu aku bisa bercengkerama dengan warga sekitar. Nampaknya orang-orang itu selalu nongkrong di sana.

Hari ini, aku berhasil mengajak teman-temanku hiking bersama. Di tengah perjalanan, aku menawari mereka untuk mampir ke kedai favoritku. Mereka terkejut. Lalu salah satu dari mereka berkata, "Sejak bencana letusan gunung 3 tahun lalu yang menewaskan semua warga desa, tak ada satupun orang yang tinggal di sini."



Lift


Salah satu yang tak kusuka adalah kabar tentang apartemenku yang katanya bekas kuburan. Uh, siapa yang masih percaya hal begitu. Banyak orang memperingatkanku agar aku tak pulang lebih dari jam 11 malam.

Tapi hari ini aku terpaksa lembur. Seorang pengunjung memintaku menemaninya minum. Sekarang hampir jam 12, aku sudah berdiri di depan lift. Kamarku ada di lantai 19.

Ketika aku masuk lift, aku cukup lega. Hanya ada aku sendiri, itu berarti aku tak perlu berbasa-basi. Lift naik. Berhenti di lantai 11,12,13,14. Tetapi anehnya tiap pintu terbuka, tak ada orang sama sekali. Lift ini pasti sudah rusak.

Sampai di lantai 15, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku. Pintu terbuka lagi. Kali ini disertai dengan alarm bahwa lift kelebihan muatan.



Boneka Salju


Aku suka sekali ketika musim dingin tiba. Biasanya aku akan membuat boneka salju yang besar di halaman depan bersama ayah dan ibu. Ketika malam tiba, kami akan minum coklat panas dan membaca cerita horor di kamarku. Sebelum tidur, aku akan membuka jendela untuk menyapa bintang-bintang ataupun melihat pohon-pohon yang diberi lampu oleh ayah di halaman belakang. Tak lupa juga kepada boneka saljuku.



Bully


Teman-teman selalu membullyku. Mungkin karena aku miskin dan jelek. Apalagi ibuku sudah tiada. Kadang aku sangat merindukannya walau ia selalu memarahiku. Sedang ayahku hanya seorang tukang jagal sapi. Walau begitu ayahku sangat mencintaiku. Aku juga mencintai ayah dan teman-temanku. Untuk itu aku tak pernah berterus terang pada ayah atau mereka akan bernasib sama seperti ibuku.



Selimut


Seorang gelandangan nyaris mati kedinginan. Tiba-tiba ia menemukan sebuntal selimut yang teronggok di sebelah bak pengangkut sampah. Iapun bersyukur dan mengambil selimut itu. Masih hangat dan baru. Hanya saja ada sedikit noda berwarna merah di sana. Tak apalah, daripada ia mati seperti wanita itu. Musim dingin kali ini memang menyiksa.



Reuni


Aku tak pernah ikut reuni yang diadakan setiap akhir tahun, setidaknya sebelum aku lulus. Ya, akhirnya aku lulus dengan predikat cumlaude. Sekarang aku berani mengikuti reuni. Satu-satunya yang ingin kutemui adalah Ibu Fauzia. Beliau guru kimiaku yang selalu menghinaku dan menyebutku bodoh. Namun kali ini ia pasti akan menarik kembali ucapannya. Demi bertemu dengan beliau aku sudah menyiapkan pakaianku yang terbaik. Hanya saja aku lupa dimana meletakkan sebuah botol sianida tadi.



Rumah Tua



Akhirnya suamiku naik jabatan. Kamipun pindah ke sebuah rumah di pinggiran kota. Kata agen properti kami, rumah ini memiliki sejarah panjang. Suamiku memang suka sejarah. Tetapi tidak denganku. Hampi setiap malam aku bermimpi seseorang mengendap-endap mendekatiku. Beberapa barang juga berpindah tempat. Puncaknya adalah ketika aku sedang mandi, aku melihat bayangan seseorang dari celah-celah pintu. Aku memang tak pernah mengunci pintu ketika mandi. Esoknya aku mengajak paman ke rumah ini. Syukurlah, kata paman ia merasakan aura keberadaan makhluk halus apapun. Walau masih sedikit takut, tetapi aku cukup lega.



Sinterklas


Setiap akhir tahun, Bos selalu memintaku berpakaian Sinterklas lalu membagikan permen kepada orang-orang yang melintas di depan kantor kami. Katanya hal itu akan meningkatkan omset perusahaan. Sebagai bawahan aku menurut saja. Hanya satu hal aneh dari permintaan bosku, yakni bahwa aku tak boleh melepas baju sinterklas sebelum pukul 10 malam.

Malam itu entah kenapa pakaian ini membuatku gatal. Terlebih dari kemaren ada seoran wanita yang mengawasiku dari sebuah kafe di ujung sana. Ia baru pulang sekitar pukul 9. Akhirnya karena tidak betah, aku mencopot pakaian ini. Lalu wanita itu terkejut. Ia cepat-cepat pergi.

Besoknya ada berita heboh di kantor. Bosku diceraikan oleh istrinya. Parahnya, istrinya ternyata adalah anak pemilik perusahaan ini. Ketika aku membantunya membereskan barang-barang, kulihat sebuah foto wanita. Aku merasa tak asing dengan wanita itu. Terlebih dengan tatapannya yang serasa mengawasiku.



Chirstmas Carol


Sudah lama sekali terakhir ada yang mengunjungiku saat Natal. Aku bahkan tak ingat kapan itu. Tetapi nampaknya Natal kali ini berbeda.

Pada malam hari, ketika jalanan sudah sepi, mereka datang. Mereka nampaknya orang baik tapi sedikit pemalu. Aku memang tak pernah mengunci pintu, jadi mereka sedikit terkejut.

Salah satu dari mereka membawa sekantung penuh barang, mungkin permen atau coklat. Ah baik sekali mereka. Ketika seseorang dari mereka menemukan saklar dan menekan tombolnya, suasana hening sejenak. Lalu mereka semua berlarian ke luar.

Ah, aku sendirian lagi.



Ibu Tiri


Ibuku yang sekarang bukanlah ibu kandungku. Walau demikian ia sayang sekali dengan aku dan adikku. Buktinya setiap kami melakukan kesalahan, ibu hanya tersenyum dan menasihati kami.

Seperti saat itu, kami tak sengaja mematahkan pohon natal kecil miliknya. Ia bukannya marah, malah tersenyum dan membersihkan kekacauan yang kami buat. Aku berniat membantunya. Kuikuti dia dari belakang. Ternyata ia ke gudang belakang.

Ia lalu membuang sampah itu, mengambil spidol dan menulis sesuatu di dinding. 'Selasa, 22 Desember. 1 point untuk John dan Joshua. Tersisa 18 points'.

Sejak saat itu aku selalu memarahi adikku jika ia berbuat ulah.



Ponsel


Ini Natal yang paling menyebalkan. Ponselku hilang. Padahal aku yakin tadi sudah memasukkannya ke dalam tas ketika sedang make-up tadi. Apakah sekuriti atau salah seorang fansku yang mengambilnya. Setibanya sampai rumah, aku menyalakan ponselku yang satunya dan mengirim pesan. Ternyata masuk. Berarti ponselku aktif.

4 jam kemudian, tepat tengah malam, seseorang menelponku. Suaranya ramah dan terdengar bersahabat. Ia mengaku menemukan ponselku di meja rias. Uh, aku lega. Lalu kami sempat berbincang sebelum akhirnya aku memohon agar ia sudi mengembalikan ponsel itu. Ia mengatakan bersedia. Lalu kubertanya padanya apakah ia bisa ke kantor agensiku besok tengah hari. Ternyata ia sibuk dan menawarkan akan mengantarkannya besok malam.

Aku senang sekali. Lalu kukatakan dimana rumahku. Ia hanya menjawab singkat. "Iya, aku tahu. Yang berpagar hijau dengan mobil merah di depan garasinya khan?"



Bercanda


Gunawan suka sekali bercanda. Ia mengatakan kepada kami bahwa besok ia akan datang dipesta Natal fakultas dengan topeng badut serta membawa senapan. Ia meminta kami untuk menemaninya. Walau malas, aku mengiyakan.

Besoknya kami bertiga memakai kostum badut konyol dan masuk ke ruangan lewat pintu belakang. Ternyata yang lain tidak takut sama sekali. Mereka bahkan memakai kostum yang jauh lebih mengerikan. Ada seseorang dengan kostum serigala, yang lain memakai riasan mirip vampir, mayat hidup dan penyihir. Ternyata teman-temanku punya selera humor tinggi.

Tetapi tiba-tiba aku tersadar. Harusnya pestanya digelar di gedung sebelah. Saat itulah kami tahu bercanda berlebihan sangat tidak baik.

Bagaimana, apa kalian suka? Coba pecahkan riddle di atas jika bisa ya.

Jika kalian memiliki riddle, urban legend atau cerita seram (baik fiksi maupun non-fiksi), dan ingin itu ditayangkan di blog ini, maka jangan ragu-ragu.

Kirim cerita kalian melalui formulir di sisi kanan (jika memakai PC) atau bawah postingan (jika memakai ponsel). 

Baca juga konten misteri lainnya tentang hantu, fenomena aneh dan supranatural hanya di rubrik misteri Catatan Adi ya. Atau baca juga di rubrik riddle. 

2 Responses to "25 Riddle Akhir Tahun - Jangan Coba Baca Jika Anda Penakut!"

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Populer

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel