Mengenang Surat Cinta Bp Suwarsana, Kepala Sekolah Dari Bantul

Membaca surat dari Bapak Suwarsana, M.Pd, kepala sekolah SD Mutiara Persada yang sedang viral tersebut, membuat saya terkejut. 

Saking terkejutnya, saya sempat terdiam beberapa saat (untung tidak selamanya) untuk kemudian membongkar-bongkar lagi kardus-kardus lusuh saya, tempat saya menyimpan ratusan buku, kliping dan kertas-kertas lainnya. Setelah membolak-balik buku-buku lusuh yang ternyata sudah diduduki secara ilegal oleh kecoa-kecoa nakal, saya akhirnya menemukan yang saya cari. Sebuah surat. 

Tapi ini surat hutang, jadi ga ada hubungannya. Lalu saya juga menemukan sebuah buku. 

Selembar foto indah Maria Ozawa yang tersimpan rapi, nyelempit di tengah-tengah halaman buku pelajaran biologi saya.

Surat Bapak Suwarna Guru SD Mutiara Persada Bantul
Surat Bapak Suwarna Guru SD Mutiara Persada Bantul

Membaca surat dari Bapak Suwarsana, M.Pd, kepala sekolah SD Mutiara Persada yang sedang viral tersebut, membuat saya terkejut. Saking terkejutnya, saya sempat terdiam beberapa saat (untung tidak selamanya) untuk kemudian membongkar-bongkar lagi kardus-kardus lusuh saya, tempat saya menyimpan ratusan buku, kliping dan kertas-kertas lainnya. Setelah membolak-balik buku-buku lusuh yang ternyata sudah diduduki secara ilegal oleh kecoa-kecoa nakal, saya akhirnya menemukan yang saya cari. Selembar foto indah Maria Ozawa yang tersimpan rapi, nyelempit di tengah-tengah halaman buku pelajaran biologi saya.

Tentu saja Cece Maria Ozawa tidak ada hubungannya dengan Bapak Suwarsana. Ce Maria ada di Jepun, beliau ada di mBantul, terpisah jarak yang begitu panjang. Karena tidak ada hubungannya, maka saya tidak akan membahasnya melainkan akan fokus menganalisa surat beliau.

Oke, mari kita kupas hal itu.

Pertama, saya setuju dan mengapresiasi surat yang beliau tujukan untuk walimuridnya. Itu adalah surat yang unik, tidak biasa dan kreatif. Seingat saya waktu sekolah dulu, surat dari kepsek saya isinya cuma dua hal: 1) rapat untuk menarik iuran walimurid dan 2) mengingatkan kalau ortu saya belum membayar iuran dari hasil rapat di point 1)

Surat beliau yang kemudian menjadi viral itu setidaknya telah memulai sebuah era baru bahwasanya melalui surat resmi, kepsek juga bisa mengingatkan para ortu agar terus mendorong progress anak-anaknya apapun bentuknya itu. Biasanya ini cuma disampaikan secara verbal dan dengan suasana yang semi-formal. Sungguh, sikap dari pak kepsek yang so wise ini patut diapresiasi. Tepuk tangan yang meriah anak-anak. Plok10x…….

Kedua, terlepas dari pengakuan beliau bahwa isi surat yang cetar membahana gilar-gilar itu berasal dari sebuah kiriman WA yang ia terima sebelumnya, tetap itu harus diapresiasi. Tadinya saya mengira untaian kalimat indah sarat makna yang ada disurat tersebut adalah buah pemikiran dari beliau. Mungkin beliau belajar dari sosok seleb remaja belia dadakan sebelumnya yang menjadi buah bibir masyarakat karena artikel-artikelnya yang luar biasa cemerlangnya tetapi kemudian menjadi sasaran nyinyiran berkepanjangan ketika tahu bahwa doski ‘hanya’ memplagiat tulisan-tulisan yang ia baca sebelumnya.

Tetapi itupun tidak mengurangi kekaguman saya terhadap inisiatif beliau untuk mengingatkan para ortunya agar kembali ke khittah, bukannya terus mem-pressure anak agar bisa menjadi yang mereka inginkan.

Dewasa ini, persaingan di dunia kerja semakin keras. Banyak orang yang menganggap jika anak yang cerdas secara akademis akan mampu memenangi persaingan yang semakin tsadieest ini. Ini mungkin benar, anak harus mendapat bekal ilmu yang cukup agar dapat sukses di masa depan. Tetapi kemudian, hal ini menghilang, terganti dengan obsesi orang tua agar anak menjadi cerminan diri mereka. Agar anak menjadi pelampiasan nafus birahi mereka untuk pamer dan berkoar-koar bahwa karena perjuangan mereka yang berdarah-darah akhirnya putra-putri kesayangannya juara olimpiade akutansi tingkat galaksi, menang kompetisi berkuda yang diadakan kedutaan besar Mongolia atau jago berbahasa Inggris, Mandarin, Portugal, Swahili, Tetum, dll.

Saya kagum terhadap pemikiran revolusioner yang beliau utarakan melalui suratnya. Pak Kepsek ternyata mampu membaca fenomena orang tua yang terlalu menuntut anak berprestasi. Pak Kepsek juga mampu, melalui suratnya, setidaknya mengingatkan bahwa anak harus berkembang sesuai dengan talentanya dan tidak wajib bagi seorang anak untuk jago dan hebat dalam semua bidang.

Semua hal itu menjadikan Bapak Suwarsana sebagai salah satu inspirator saya. Tetapi dari semua decak kagum saya, entah kenapa ada yang mengganjal di gusi hati saya. Saya baca surat itu lebih detail lagi tetapi kemudian semakin saya membacanya, saya menjadi semakin galau. Pikiran saya serasa buntu, hati saya gelisah. Baru saya sadari ternayata saya belum makan.

Selesai makan saya tidak langsung membaca surat itu lagi. Saya nyalakan tivi saya, kepoin Instagram mantan sebentar, ngopi segelas jumbo kapal api ditemani kue cubit rasa apem lalu tertidur. Setelah bangun badan saya kembali segar, pikiran menjadi prima dan hati berasa lega. Baru kemudian saya ambil laptop dan menulis artikel tidak penting yang tetapi tetap anda baca ini.

Apa yang ditulis Pak Suwarsana memang ada benarnya. Tetapi kita harus ingat bahwasannya tujuan sekolah memang untuk mencerdaskan siswa-siswanya, serumit apapun formulasi kalimat yang dipakai.

Kalau mau cerdas, ya sekolah. Kalau sudah bersekolah, ya harus cerdas. Kalau ada anak tidak sekolah tapi cerdas, berarti anak itu cerdasnya dobel. Selain cerdas, dia kreatif. Kalau ada anak sekolah tapi ga cerdas? Ingat, tidak ada anak bodoh. Yang ada hanyalah anak yang malas atau belum mengerti. Di bawah bimbingan yang tepat, dengan fasilitas yang mendukung dan atas berkat rahmat Tuhan yang Maha Kuasa, maka sebenarnya semua anak itu berpotensi cerdas.

Tapi definisi cerdas ini kadang jadi bias. Selain harus bisa matematika, juga harus mahir membuat puisi, ahli fisika, pandai berenang, jago menyanyi, juara badminton,  tangkas membuat kerajinan dari kulit landak dan sebagainya dan sebagainya. Kalo itu definisi cerdas maka hampir dipastikan semua manusia  kecuali jonru di dunia ini adalah bodoh.

Harus disadari bahwasanya cerdas alias pintar a.k.a pandai (menurut saya semuanya setali tiga uang) itu adalah mampu mengoptimalkan bakat yang dimiliki, menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, dan atau menguasai suatu ilmu yang diberikan/ia pelajari.

Tidak mungkin ada seseorang yang hebat dalam segala hal. Bahkan para superhero yang hebat tapi fiktif tersebut sudah membuktikannya. Superman, seperti layaknya orang Krypton, bisa terbang melintasi cakrawala. Tetapi belum tentu ia secerdas Batman dalam menciptakan senjata-senjata canggih. Atau sepintar Iron Man dalam membangun dan memimpin sebuah perusahanan. Atau semanis Spongebob, sebuah spons laut yang takut tenggelam di air.

Tetapi itu bukan berarti kita menggampangkan penyelenggaraan sistem pendidikan. Walau anak jago olahraga, ia harus tetap diajari rumus bangun datar dan sejarah perjuangan kemerdekaan. Seorang juara matematika tetap harus diajari proses fotosintesis dan cara mewarnai yang benar. Begitupula seorang anak dengan talenta menyanyi yang luar biasa, harus tetap diajari caranya membaca dan diberi pengetahuan mengenai daur air di alam.

Para peserta didik, khususnya di tingkatan TK dan SD membutuhkan pengajaran mengenai ilmu-ilmu yang pokok. Matematika, Sains, Bahasa, Seni, Olahraga dan lainnya. Entah ilmu-ilmu itu diintegralkan karena temanya sama (tematik) atau berdiri sendiri. Dengan mempelajari ilmu itu, maka mereka akan memiliki bekal dasar yang sangat penting dalam meningkatkan talenta mereka berikutnya.

Mungkin ini yang kurang. Indonesia kurang ramah terhadap anak yang pandai menari tetapi lemah di berhitung. Untuk itulah, guru dan terutama sekali orang tua, harus terus memantau dan mengarahkan talenta si anak, tetapi di saat yang sama tetap memberikan bekal dasar kepadannya.

Apakah penting seorang dancer mempelajari matematika. Penting! Tetapi matematika seperti apa? Matematika tidak melulu mencari jawaban dari sebuah proses hitung yang njelimet. Memperkirakan kapan ia harus berangat jika jarak rumahnya dari tempat ia latihan menari adalah x dengan perkiraan kecepatan mobil yang bisa ditempuh ada y, itu sudah matematika.

Begitupula dengan ilmu-ilmu sosial social club yang berorientasi pada etika. Ini juga sangat penting. Mengajarkan harus mengucapkan salam ketika bertamu, menolong teman yang jatuh dari sepeda dan tidak sembarangan mengucapkan  kafir pada teman-temannya juga adalah sesuatu yang wajib diajarkan.

Duh kok jadi serius gini sih, katanya serius udah bubar? Intinya surat dari beliau sungguh sangat indah. Tetapi kita harus menginterpretasikan dengan benar.

Ilmu-ilmu dasar tetap harus terus diajarkan, mengenai mereka mampu berprestasi di bidang yang mana, itulah yang harus kita optimalkan. Karena semua anak berpotensi cerdas, sama seperti kenyataan bahwa semua anak itu berbakat.

Walau begitu, harus kita ingat bukan hanya bakat yang menentukan kesuksesan. Lain kali kalau tidak sedang sibuk tidur kerja, saya ingin mengajak pembaca yang budiman untuk membahas mengenai masalah bakat vs kerja keras. Tapi kali ini cukup sekian ya, takut kepanjangan. Entar, sakit lagi.

Demikian surat Bapak Suwarsana sudah kita bahas hari ini. Besok surat siapa lagi?

0 Response to "Mengenang Surat Cinta Bp Suwarsana, Kepala Sekolah Dari Bantul"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel