Menyeragamkan Tafsir Marhaenisme

Catatan Adi - Marhaenisme sudah berkembang menjadi sangat dinamis. Kali ini tulisan Seri Artikel : Catatan Marhaenisme yang kesembilan akan membahas mengenai aneka tafsir dari ideologi para Marhaenis tersebut. 

Sejak ditemukan (digali?) Bung Karno pada masa mudanya, Marhaenisme menjadi salah satu isme yang paling populer, baik di kalangan para akademisi untuk diteliti, terlebih di kalangan politikus sebagai sarana mendapatkan kursi.

Adalah sangat menarik ketika kemudian banyak tafsir bermunculan seputar makna Marhaenisme. Ini adalah sebuah fakta. Masing-masing penafsiran berpendapat bahwa tafsirannya yang paling benar. Atau setidaknya mendekati kebenaran.

Upaya merangkum tafsir yang ada seputar Marhaenisme berpotensi memunculkan tafsiran baru yang lain juga.

Setelah Bung Karno wafat, maka terputus jugalah benang merah untuk menelusuri arti Marhaenisme dari Sang Penciptanya.

Bangsa Indonesia patut meratap. Marhaenisme berpotensi menjadi sebuah bahan yang mampu memperkaya khazanah filsafat Indonesia. Namun karena peristiwa 65, banyak buku-buku dan literatur yang secara sembrono dimusnahkan. Hal ini membuat upaya menelusi Marhaenisme dan peristiwa-peristiwa penting di masa lalu menjadi sulit.

Mari berterima kasih kasih pada internet yang akhirnya mengunggah beberapa literatur yang bisa diselamatkan. Juga pada kaum reformis yang berhasil mengakhiri kekuasaan Golkar dan Suharto yang gemar membredel buku-buku yang tidak sepaham dengan garis kebijakan orde baru.

Meneliti Marhaenisme.

Upaya merangkum tafsir yang ada seputar Marhaenisme berpotensi memunculkan tafsiran baru yang lain juga. Akhirnya yang ada hanyalah variasi-variasi definisi tentang Marhaenisme.

Walau begitu, tidaklah boleh dikata sia-sia sebuah upaya untuk menggali definisi Marhaenisme. Terlebih di zaman post-ideologi seperti sekarang ini dan meningkatkanya fundamentalisme agama yang berpotensi menghancurkan keberadaan Indonesia.

Marhaen, Marhaenis, Marhaenisme.

Secara singkat Marhaen adalah Rakyat Indonesia pada umumnya. Tetapi harus diingat bahwa periode 'penciptaan' sosok Marhaen ini adalah ketika Indonesia masih di jajah Belanda. Sebagai rangkuman, berikut adalah keadaan zaman ketika Bung Karno konon menciptakan istilah Marhaen.

Bung Karno, menurut Cindy Adams, menemukan (bertemu?) seorang petani miskin bernama Marhaen di Bandung Selatan pada sekitar tahun 1921.

  • Periode itu adalah periode dimana Belanda masih kuat mencengkeram Indonesia dan praktis penindasan serta penghisapan manusia atas manusia atau yang dikenal dengan exploitation de l'homme par l'homme mencapai puncaknya.
  • Pada saat itu, di berbagai daerah sudah mulai kesadaran untuk berorganisasi. Beberapa organisasi yang ada terpolarisasi dalam beberapa kekuatan yang bisa dikata sama kuatnya, yakni Islam-Politik, Nasionalisme, Marxis-Leninis, Primodialisme, dan Liberalisme. 
  • Terjadi pembersihan besar-besaran kaum kiri dalam tubuh Sarekat Islam. Unsur Sarekat Islam Komunis, yakni kader-kader SI yang beraliran Komunis memisahkan diri di bawah komando beberapa tokoh, antara lain Semaun dan Tan Malaka.
  • Budi Utomo tidak lagi menarik bagi para intelektual. Organisasi itu mulai tergantikan dengan pergerakan-pergerakan yang lebih kiri dan progresif.
  • Komunisme sedang hangat-hangatnya menyebar ke seantero dunia. Di Hindia-Belanda, Komunis bahkan menjadi santapan sehari-hari para organisatoris yang radikal.
  • Serikat-serikat buruh mulai menjamur.
  • Rakyat Indonesia masih mengandalkan bercocok tanam sebagai mata pencaharian utama. 
  • Sebagian besar rakyat Indonesia masih teralienasi dari ilmu pengetahuan.
  • Masih sedikit organ yang memikirkan sebuah formula untuk menuju suatu Hindia-Belanda yang bersatu tanpa melihat latar belakang agama dan suku. Selain Perhimpunan Indonesia dan (Nationale) Indische Partij.

Pada faktanya, terjadi sebuah perluasan makna, dimana Sukarno memperkaya (merevisi) istilah Marhaen menjadi tiga golongan ; golongan 'borjuis kecil, golongan proletar, dan golongan miskin lain-lain.


Di masa dengan keadaan-keadaan yang demikianlah Marhaen muncul. Marhaen adalah sarana Bung Karno untuk mendefinisikan rakyat Indonesia pada umumnya.

Sehingga melihat dari uraian di atas maka Marhaen adalah "suatu golongan yang ada di tengah-tengah bangsa Indonesia (Hindia-Belanda) yang dihisap, dimiskinkan dan ditindas oleh sistem kapitalisme, kolonialisme dan imperialisme".

Terkait dengan definisi tersebut maka dapatlah pula dijelaskan lebih lanjut bahwa ;

1.   Marhaen adalah suatu golongan. Ini berarti Bung Karno juga menyadari ada golongan-golongan lain di luar golongan Marhaen.
2.   Marhaen mencakup semua orang yang ada di bumi Indonesia, baik Bumiputera, pendatang Arab, minoritas Indo, warga Tionghoa, dll. 
3.   Marhaen juga tidak memandang agama, kepercayaan atau aliran filsafat yang dianut.
4.   Marhaen memiliki musuh, yakni sistem yang menindasnya.

Sekilas penjelasan mengenai Marhaen ini sangat mirip dengan uraian Marx, Engels dan Lenin mengenai Proletar. Seperti diketahui Bung Karno sudah pernah menyinggung mengenai hal ini. 

Bahkan Soegiarso Soerojo menyebut Marhaen sebagai kependekan dari Marx, Hegel dan Engels. 

Hal ini juga semakin jelas ketika membaca potongan ucapan Bung Karno
Dan siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis? Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot Bangsa. Yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu, dan Yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imprealisme, kolonialisme, dan Yang bersama-sama dengan massa Marhaen itu membanting tulang untuk membangun Negara dan masyarakat, yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur.

Bahkan dalam kursus maupun pendidikan di organ-organ Marhaenis, materi mengenai perbedaan Marhaen dan Proletar menjadi bahasan yang penting.

Secara umum, Marhaen sangat mirip dengan Proletar. Namun Marhaen menitikberatkan pada golongan yang tertindas yang sebenarnya memiliki alat produksi, seperti contoh petani yang memiliki sawah, ladang, kerbau, dan bajak.

Bukan melulu petani, penjual gerobak, pedagang kecil dan pengrajin bisa masuk golongan ini. Mereka memiliki alat produksi dan melarat. 

Berbeda dengan proletar menurut pengertian Sukarno muda, yang melulu hanya mengandalkan tenaga untuk ditukar dengan uang. 

Pada faktanya, terjadi sebuah perluasan makna, dimana Sukarno memperkaya (merevisi) istilah Marhaen menjadi tiga golongan ; golongan 'borjuis kecil, golongan proletar, dan golongan miskin lain-lain. 

Tentu hal ini berbeda dengan kondisi abad 21 dimana revolusi Industri 4.0 menyapu sawah menjadi perumahan, kantor, pabrik dan apartemen. 

Kemungkinan besar, andaikan Bung Karno masih hidup, ia juga akan kembali merevisi istilah Marhen ini. 

Upaya Membebaskan Kaum Marhaen. 

Dalam kondisi yang demikian, maka Marhaen perlu untuk melakukan upaya. Upaya inilah yang disebut Pembebasan. Untuk memandu proses pembebasan kaum Marhaen, maka diperlukan sebuah pandangan / idelogi. Maka muncullah Marhaenisme.

Secara garis besar, Marhaenisme adalah sebuah ideologi untuk membebaskan kaum Marhaen. Sedang Marhaenis adalah para penganut Marhaenisme.

Beda Tafsir Berujung Ricuh.

Pernah suatu kali, paska ricuh 65, PNI se-Jabar mengutuk komunisme dan PKI-nya serta 'mencabut' gelar Bapak Marhaenisme milik Bung Karno. Ini adalah sebuah pernyataan politik sekaligus tafsir yang menyatakan Marhaenisme bukan Marxisme.

Sontak semua terkejut. Pertentangan Partindo Asmara Hadi dan PNI / Front Marhaenis akhirnya sampai ke telinga Presiden Sukarno. Hasilnya, Presiden Sukarno yang dijuluki Bapak Marhaenisme itu mengiyakan bahwa Marhaenisme adalah Marhaenisme dalam praktik. Partindo menang lagi.

Tidak sesederhana perdebatan dalam ruang kuliah, perbedaan tafsir Marhaenisme ini mengakibatkan suatu prahara besar yang menyedihkan.

Salah satu perdebatan abadi yang pada periode 1955-1970 menjadi isu hangat sekaligus landasan bagi terpecahnya PNI adalah : hubungan antara Marhaenisme dan Marxisme.

Tidak hanya melahirkan Partindo dan PNI OSA, melainkan lebih dari itu. Salah mengartikan Marhaenisme bisa membuat seseorang diciduk kaki-tangan Suharto untuk kemudian dilabeli simpatisan PKI.

Setelah kemenagan PNI / Front Marhaenis di pemilu 1955, muncul semacam upaya untuk mendefinisikan ulang Marhaenisme. Salah satu alasannya adalah karena organ dan orang-orang PNI / Front Marhaenis sudah melenceng dari jiwa Marhaenis. 

Hal itu tidak hanya diungkapkan Asmara Hadi.  Buntutnya, Asmara Hadi membentuk Partindo. 

Tentu hal ini bikin pengurus Front Marhaenis berang. Lebih jauh, Partindo mengartikan Marhaenisme sebagai Marxisme dalam kultur Indonesia, atau Marxisme dalam praktik.

Sontak semua terkejut. Pertentangan Partindo Asmara Hadi dan PNI / Front Marhaenis akhirnya sampai ke telinga Presiden Sukarno. Hasilnya, Presiden Sukarno yang dijuluki Bapak Marhaenisme itu mengiyakan bahwa Marhaenisme adalah Marhaenisme dalam praktik. Partindo menang lagi.

Namun apakah benar Marhaenisme adalah Marxisme dalam praktek. Nyatanya ada anasir-anasir PNI yang didukung eksponen yang cukup berpengaruh yang menyatakan terang-terangan bahwa Marhaenisme bukanlah Marxisme. 

Pernah suatu kali, paska ricuh 65, PNI se-Jabar mengutuk komunisme dan PKI-nya serta 'mencabut' gelar Bapak Marhaenisme milik Bung Karno. Ini adalah sebuah pernyataan politik sekaligus tafsir yang menyatakan Marhaenisme bukan Marxisme.

Hal yang senada juga diungkapkan PNI se-Jateng dan Jatim yang mengeluarkan pernyataan sikap bahwasannya : (1) Marhaenisme adalah Pancasila, bukan Komunisme, (2) Akan menghadapi semua upaya pendongkelan terhadap Bung Karno dengan kekuatan penuh.

Ada yang berbeda di sini. Jabar terkesan berkonfrontasi dengan Bung Karno, pendiri PNI yang sejati. Sedang Jateng dan Jatim walau menolak tafsir Marhaenisme adalah Komunis, tetapi tetap bersedia membela Bung Karno. Semua itu terjadi sekitar tahun 1966, yakni ketika Suharto sudah mulai beraksi namun Sukarno masih bertahta di istana. 

Paska 1966, PNI Pusat melalui Hadisubeno dengan tegas mendukung Suharto sebagai Presiden. Sungguh politik itu dinamis.

Makin Hari Makin Banyak.

Walau makin jarang ditemukan, istilah Marhaen, Marhaenis, dan Marhaenisme masih bisa membuat banyak orang bergetar telinga dan hatinya. Namun setelah generasi mereka usai, istilah Marhaen, Marhaenis dan Marhaenisme bisa saja hanya menjadi penghangat debat-debat kusir di lingkungan akademisi. 

Suatu ketika Rahmawati berniat menghidupkan kembali Gerakan Pemuda Marhaenis. Ia pun mempersiapkan semuanya. Tetapi kemudian ia ditanya oleh Departemen Dalam Negeri, mau menggunakan dasar apa nantinya. Puteri Bung Karno itu menjawab akan menggunakan ajaran Bung Karno.

Lantas ia disodori 5 tafsir ajaran Bung Karno dan diminta untuk memilih. Semua itu terjadi di tahun 1987, ketika Suharto masih berkuasa namun kekuatan-kekuatan yang menentangnya (dan saling bertentangan) mulai menemukan bentuknya. 

Kini dengan semakin mudahnya internet diakses, seseorang bisa saja mengrtikan Marhaenisme menurut dirinya sendiri lalu mengunggahnya. Namun seberapa dekat definisi tersebut dengan Marhaenisme yang dimaksud Bung Karno, tidak ada yang bisa memutuskan. 

https://catatanadi.blogspot.com/2019/04/menyeragamkan-tafsir-marhaenisme.html
Menyeragamkan Tafsir Marhaenisme, Mungkinkah?

Marhaenisme masa kini juga tidak seperti era dimana kakek nenek kita berseru-seru mengganyang Amerika dan Inggris. 

Marhaenisme masa kini hidup bersama Khilafah yang diusung HTI dan kapitalisme modern yang makin berkembang seiring datangnya era Industri 4.0

Walau makin jarang ditemukan, istilah Marhaen, Marhaenis, dan Marhaenisme masih bisa membuat banyak orang bergetar telinga dan hatinya. Namun setelah generasi mereka usai, istilah Marhaen, Marhaenis dan Marhaenisme bisa saja hanya menjadi penghangat debat-debat kusir di lingkungan akademisi. 

Dikutip dari berbagai sumber.

Bacaan lebih lanjut


0 Response to "Menyeragamkan Tafsir Marhaenisme"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel