Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Saya Mencoba Mengadu Si Pintar dan Si Pekerja Keras? Ternyata Hasilnya Mengejutkan

cerdas vs pekerja keras
Si Cerdas Vs Si Pekerja Keras


Siapa Lebih Hebat : 

Orang Cerdas Atau Pekerja Keras?


Catatan Adi - Ada dua dikotomi besar yang berasal dari pemikiran salah kaprah : Mana yang lebih baik, mereka yang cerdas tapi malas dengan mereka yang bodoh namun pekerja keras?

Mungkin Anda pernah mendengar pertanyaan ini, entah dari seorang motivator yang sedang berceramah di depan sorot kamera, seorang dosen yang berusaha menarik perhatian mahasiswanya atau seseorang di dalam kepala Anda – yaitu Anda sendiri.

Lalu apa hasilnya? Siapa yang menurut Anda pasti lebih sukses dari yang lain, orang malas tapi cerdas atau si bodoh namun pekerja keras?

Sedari awal saya sudah tahu pemenangnya. Namun untuk mengujinya, beberapa tahun yang lalu saya adakan riset kecil-kecilan menggunakan dua orang sahabat saya tanpa mereka ketahui. Tentu saja riset ini sangat subyektif dan bahkan Anda berhak mengatakannya tidak ilmiah. 

Oke jadi mari kita mulai hasil riset abal-abal ini. Pertama saya akan jelaskan kedua sahabat sekaligus sumber penelitian kita.

Pertama kita punya Dania, seorang yang sudah bertahun-tahun saya kenal. Kantornya cukup bagus dan ia sangat dikenal ramah pada semua orang. Wajahnya cantik dan ceria. Semua orang pasti akan merindukan bisa sekedar ngopi bareng atau nonton bioskop dengannya.

Siapa dia? Dialah si cerdas namun pemalas. Orangnya supel dan ramah. Lalu apakah dia pemenangnya?

Yang kedua adalah seorang gadis manis yang selalu tampil modis. Mari kita sebut sahabat ini dengan nama Maya. Dia juga hobi berselancar di dunia maya, sambil sesekali menyeruput Americano yang pahitnya setengah mati.

Seperti apa sosok Maya ini? Dia tidak pintar, suka banyak tanya, sering tidak nyambung dan selalu jadi bulan-bulanan teman-temannya. Beberapa kali presentasinya membosankan dan di dalam rapat ia lebih sering menjadi pendengar yang sangat baik, sambil sibuk mencatat ini itu. ternyata nilai rapotnya sejak SD sampai kuliah memang pas-pasan.

Walau begitu ada beberapa hal yang membuat gadis manis ini begitu dipuji. Ia tak pernah telat dan selalu datang paling awal dari yang lain. Penampilannya modis dan rapi sempurna. Teman-temannya juga bercerita bagaimana ia seperti seekor hiu di kantor, menyabet semua kesempatan lembur maupun pelatihan luar.

Sebelum saya beritahu siapa pemenangnya – dan pasti Anda sudah bisa menebak juaranya – mari kita perjelas sedikit fakta di sini.

Sangat sulit bagi saya untuk mencari sampel yang merepresentasikan dua karakter berlawanan itu : Cerdas namun pemalas, bodoh tapi pekerja keras.

Bagi saya, ini sangat tidak mudah. Setidaknya mereka harus memiliki latar belakang yang hampir sama dengan karakter sampingan yang mirip. Perbedaannya hanya di empat spektruk tadi, cerdas/pemalas dan bodoh/pekerja keras. Jika ada faktor yang membedakan, maka (bagi saya) tidak sahih lah kesimpulan yang akan disajikan.

Sebagai contoh, tidak mungkin membandingkan seseorang yang cerdas namun super malas, tetapi ternyata dia adalah anak dari sang pemilik pabrik. Nonsense!

Atau seorang bodoh dan pekerja keras, tetapi dia sendiri adalah seorang wiraswasta, yaitu bos bagi dirinya sendiri.

Pekerja kantor harus dibandingkan dengan pekerja kantor.

Wanita dibandingkan dengan wanita.

Begitupun faktor lainnya, semisal sama-sama jomblo. (Kabar terakhir beberapa tahun lalu Dania sudah menikah).

Jadi, mereka berdua memiliki banyak persamaan. Sama-sama dari keluarga terdidik kelas menengah. Berasal dari dua kota besar metropolitan walau beda tempat, dan juga merupakan alumni dua perguruan tinggi swasta yang cukup beken.

Lalu Siapa Pemenangnya?


Tidak ada! Ya, benar, tidak ada! Keduanya sama-sama menang!

Mengapa bisa begitu? Dalam pengamatan super amatir saya, ada tiga kondisi yang membuat saya membandingkan keduanya :

1. Karir.

2. Opini beberapa teman.

3. Daya tarik personal keduanya.

Mari kita mulai dari Dania. Ia mengaku bahwa dirinya seorang pemalas yang sering telat masuk, benci merapikan desk dan laptopnya serta paling bikin pusing mas-mas OB karena bilik kerjanya paling acak adut.

Tetapi ia ternyata tidak sepemalas itu :”iya kali gua males, tapi ga cukup males buat bikin si bos pecat gua. SP aja ga pernah!”

Itu lebih mirip pembelaan tapi itulah yang terjadi. Buktinya, karir dan gajinya selalu mengalami peningkatan yang signifikan. Tentu itu bukan karena dia malas.

Beberapa teman memang menyebutnya si cerdas namun pemalas. Tetapi mereka tetap menganggap tingkat kemalasannya masih bisa ditolerir. Hal itu tentu senada dengan pendapat bosnya. Buktinya ia tidak dipecat.

Ia juga seorang yang menarik, ceria dan tak pernah membuat siapapun menjadi mati gaya. Ada saja hal yang ia jadikan bahan pembicaraan.

Lalu bagaimana dengan teman kita Maya? Ia sungguh pekerja keras dan hal itulah yang membuat tidak satupun dari atasannya berpikir menendangnya keluar dari kantor. Ia juga terus mendapat promosi dan tentu saja kenaikan salary.

Apakah seseorang yang tak tahu nama ibukota Perancis, letak Gunung Bromo dan hewan khas Sulawesi adalah bodoh? Mungkin iya, dia bodoh dalam geografi.

Bisa saja seseorang lemah dalam satu bidang, namun sangat jago di bidang lainnya. Ini fakta yang tidak bisa ditolak.

Dan Maya tidak separah itu untuk membuat akhirnya atasannya memecatnya. Kerja kerasnya justru menutupi semua kekurangannya.

Terlebih ia seorang wanita yang meraik. Semua kerja kerasnya terlihat dari cara ia berdandan, kasual dan menyenangkan.

Baca Juga :

Tips Terhindar Dari Begal Motor

Tutorial Ini Akan Membuatmu Jadi Pelajar SMA Yang Sukses

Cerpen Milenial : Ben Dan Senja

Jangan Terjebak, Ini Cara Jadi Pengguna Teknologi Yang Produktif

Kesimpulan


Jadi apa kesimpulannya? Mungkin beberapa hal yang bisa saya tarik dari kisah ini. Tidak ada perbandingan yang sesuai, dalam arti apa benar ada orang cerdas namun benar-benar sangat pemalas? Atau seorang bodoh tetapi juga pekerja keras?

Sejauh pendapat saya, jika ia memang cerdas, maka ia bukan orang malas. Kadar kemalasannya setidaknya masih bisa ditolerir. Tidak ada orang yang bisa cerdas namun menyerahkan hidupnya pada kemalasan akut.

Hal yang sama juga berlaku untuk sebutan orang bodoh tetapi pekerja keras. Apa benar ia pekerja keras? Maka pastilah ia tidak bodoh. Mungkin lemah di satu bidang tetapi punya keahlian di bidang lain.

Jadi kamu pilih mana, guys?
Adi
Adi Saya adalah seorang bloger yang sudah mulai mengelola blog sejak 2010. Sebagai seorang rider, saya tertarik dengan dunia otomotif, selain juga keuangan, investasi dan start-up. Selain itu saya juga pernah menulis untuk media, khususnya topik lifestyle, esai lepas, current issue dan lainnya. Blog ini terbuka untuk content placement, sewa banner atau kerja sama lain yang saling menguntungkan.

Posting Komentar untuk "Saya Mencoba Mengadu Si Pintar dan Si Pekerja Keras? Ternyata Hasilnya Mengejutkan"