Misteri Darah Perawan : Kematian Lisa

Namaku Lesmana dan sehari-hari aku bekerja sebagai manager operasional di sebuah perusahaan iklan di Surabaya. Aku sebenarnya benci pekerjaan ini. Selain pekerjaannya tidak jelas, juga karena aku tahu sebenarnya keuangan perusahaan ini sedang kacau. Untung para pemiliknya masih royal menggelontorkan dana.

cerita hantu / cerita pembunuhan / cerita misteri


Hanya karena gaji yang lumayan dan belum dapat tempat baru, aku tak berani untuk resign. Mau kuberi makan apa istri dan empat anakku? Batu? Bahkan batupun di negeri ini tidak gratis lagi.

Selain gaji, ada satu hal lagi yang membuat diriku betah. Apalagi kalau bukan sang Direktur sekaligus salah satu pemilik perusahaan, Melisa Hartono.

Walau bagi banyak orang dia jahat dan bengis, tetapi sebenarnya mereka salah. Dia halus, lemah dan rapuh. Bahkan tanpaku, dia tak akan mampu berdiri seperti sekarang lagi.

Semua bermula empat tahun lalu, ketika aku berhasil menaklukkan hatinya. Ya, politik kantor memang jahat. Semua harus mengambil peran, ikut bertarung atau mati konyol sebagai korban.

Aku terkenal sebagai seorang yang tak pernah takut. Apalagi cuma sama wanita. Dan sekarang rasa-rasanya tak ada yang perlu kutakutkan lagi di sini. Kecuali neraca keuangan perusahaan yang makin hancur.

Setelah mengetahui kerapuhan wanita itu, aku datang bak pahlawan. Mengusir sepi dan kalutnya. Ya, wanita memang seperti itu. Siapapun mereka, tak lebih dari sebuah boneka cengeng yang rapuh. Dan Don Juan sejati sepertiku tak akan pernah membuang peluang.

Dia jatuh kepelukanku. Tanpa seorangpun tahu. Dia yang paling ditakuti kawan maupun lawan bisnisnya akhirnya tersungkur, berlutut memohon cintaku. Sungguh mudah.

"Sayang aku bingung."

"Kenapa cinta?"

"Keuangan perusahaan kita kok makin parah ya. Apa ada yang salah?"

Seketika jantungku laksana berhenti berdetak. Ketakutan itu muncul lagi. Namun bukan Lesmana Raharja jika tidak bisa mengambil alih situasi.

Kubelai rambutnya, kucium mesra keningnya. Ah, wangi khas oriental. Kulihat sosok wanita yang dari tadi memperhatikan persetubuhan kami. Seorang wanita jepang yang cantik jelita dengan kimono bermotif bunga. Tangan kanannya memegang kipas yang kiri menggandeng bocah kecil berambut panjang. Lukisan yang indah.

"Sayang, kita pikirkan itu besok ya. Di atas kasur, kamu cuma boleh mikirin aku." ku sedot bibirnya dan kumainkan bagian favoritku. Dia kegelian sambil menggelinjang.

"Kau pintar menggombal. Pasti dulu istrimu kau gombali ya."

"Kayaknya gitu. Kamu juga ga bisa kan kalau ga kurayu?"

"Iya sayang. Rayu aku. Cumbu aku. Aku milikmu."

Malam itu, entah untuk yang keberapa ratus kali kami hanyut dalam keringat dan peluh. Dua insan bercinta sampai pagi di sebuah kamar di hotel terbesar di kota ini.



Banyak orang bilang aku hebat. Apa pasal? Karena aku bisa bertahan bekerja bersama nenek lampir itu lebih dari 3 tahun. Huh! Padahal aku juga tidak betah.

"Hebat kau, boy! Dulu-dulu ga ada yang kaya kamu. " Seloroh Mamet, teman seperjuanganku yang sebenarnya sudah sangat senior di sini. Namun jabatannya tidak kunjung naik, hanya jadi operator mesin cetak.

"Masa sih? Memangnya dulu yang lain cuma bertahan berapa lama?"

"Bentar aku inget-inget ya. Si Mahmud cuma 3 bulan. Pak Kristian setahun. Ibu Yayan setahun. Toni 6 bulanan. Bahkan Pak Michael yang sebenarnya masih keponakan Bu Lisa, cuma bertahan ga sampai 4 bulan!"

"Wah rekor dong gua?"

"Iya lah! Eh ke kantin yuk."

"Gila lu! Ini belon kelar. Deadlinenya jam 8 bro!"

"Halah, masih 4 jam lagi. Ayolah pak Manager. Pliss" Muka ndeso Mamet mulai muncul. Demi melihatnya aku ingin muntah bercampur geli.

"Oke tapi jangan di kantin. Ada Pak Amin sama gengnya. Ntar nguping omongan kita lagi."

"Terus kemana boy?"

"Ke Depot Mbak Priska aja. Ayam gepreknya enak."

"Sekalian godain yang jual ya? Pinter juga lu"

"Kan elu yang ngajarin. Jangan songong lu!"

"Oh iya. Eh, jangan pake bahasa ibukota ya. Pake bahasa ibu kandung aja. Ga enak di dengar konco-konco"

"Oke deh"

Mamet alias Markus adalah kawan sejatiku. Dia orang pertama yang berada di sisiku ketika yang lain berjuang menjatuhkanku. Dan ketika aku naik hingga level manajer, dia tetap jadi sahabatku. Satu-satunya orang yang berhak menepuk pundakku atau meminta traktir. Bagiku itu setara dengan jasanya membocorkan semua politik dan intrik kantor yang keji ini.

Selain Mamet sebenarnya ada dua orang lagi yang cukup dekat denganku namun tak sudi aku jadikan sahabat. Aminudin Hanafi, HRD yang sudah bangkotan dan tak tahu malu. Dia selalu menyudutkanku. Mempertanyakan hari-hari aku menghilang dari kantor. Tentu saja aku tak mau terus terang bahwa semua itu kugunakan bercinta dengan bosnya atau klien-klien perusahaan. Itu urusanku.

Juga ada Jonathan Brandon, seorang peranakan Taiwan-Sunda yang juga naik daun dan kini menjadi kepala litbang. Dia sangat ingin meniduri Lisa dan tentu saja selama aku ada itu tak akan berhasil.

Laki-laki di kantor ini mayoritas memang laknat. Semua haus kekuasaan dan wanita tetapi tak pernah mau terang-terangan. Semua saling menjatuhkan satu sama lain. Padahal jika bisa bersatu, pasti kami akan dengan mudah menguasai perusahaan ini. Dasar otak licikku.



Malam itu kami selesai sesuai rencana. Ratusan banner dan leaflet sudah berhasil dicetak. Aku, Mamet dan Ojak pulang ke rumah masing-masing.

Biasanya Jum'at malam seperti ini aku akan menginap di apartemen Lisa dan memacu adrenalin bersama. Namun sudah hampir seminggu aku tak melihatnya. Kami juga tak pernah saling mengirim pesan. Bagiku teknologi justru akan membuat segalanya rusak.

Pukul sebelas aku sampai rumah. Sebuah bangunan kecil namun indah. Istriku membukakan pintu dan membantuku membawa tiga tas berat ini. Satu berisi laptop, dua yang lain kertas dan majalah-majalah tak berguna.

Entah kenapa malam itu terasa berbeda. Ia terlihat sangat cantik bahkan jauh lebih cantik dari Lisa. Cahaya seakan membuat wajahnya bersinar. Terlebih ketika ia tersenyum lalu membisikkan sesuatu.

"Mas, mau ngga?"

Malam itu kututup dengan sempurna. Memadu kasih dengan wanita yang sah. Anak-anak juga nampaknya kompak membebaskan kami dengan baik.

Oh indahnya hidup ini, andai bisa terus seperti ini.



Keesokan paginya aku bangun kesiangan. Sabtu memang aku sering bangun lebih telat. Rasanya aku berhak untuk itu.

Jam sembilan aku sudah ada di beranda belakang sambil melihat Ken, Panji, dan Luis bermain di kolam renang. Sedang si kecil Gita membantu ibunya di dapur. Keluarga bahagia. Entah mengapa kadang aku merasa sangat brengsek. Tetapi bukankah begitu kehidupan ini. Brengsek dan jahat. Hanya orang berjiwa petarung yang bisa menaklukkannya.

Kuambil koran pagi. Berita politik tentang partai dan tetek bengeknya selalu aku lewati. Aku lebih suka membaca halaman berita lokal.

Kalista datang dengan dua cangkir teh panas. Dia lalu duduk di sebelahku sambil menggendong Gita. Kuambil secangkir dan kuminum sambil mataku menjelajah sebuah halaman tentang kriminalitas.

"Mas!" Kalista berteriak cangkirku jatuh dan pecah berkeping-keping. Air teh panas juga membahashi kaosku. Dia menggendong Gita lalu menjauh beberapa langkah. Anak-anakku yang lain bengong melihat kami.

"Mas, kamu kenapa?"

Aku tahu dia memanggilku dan menyebut namaku beberapa kali. Tetapi tiba-tiba kepalaku mendadak pusing. Hal terakhir yang kuingat adalah aku berada di atas permadani Turki sedang Lisa berada di atas badanku. Kami saling menindih.

Kata istriku aku pingsan selama hampir satu jam. Pak Made, tetangga kami yang baik, datang setelah ditelepon istrikku. Berdua mereka mengangkatku ke kamar.

"Mas, aku turut berduka. Pasti Mas Lesmana kaget ya?"

Aku ingat sekarang. Berita itu. Siapa juga yang tak kaget. Aku ingat betul judul beserta cuplikan isinya.

Seorang Wanita Telanjang Ditemukan Tewas Di Taman Kota

Korban diduga bernama Melisa Hartono (36 tahun), seorang wanita karir dan anak Samuel Hartono, konglomerat dan bos Group Naga Kembar. Saksi mengatakan melihat mayat korban sekitar pukul 4 dini hari. Dari hasil analisa sementara, korban tewas karena kehabisan nafas. Selain itu ada beberapa luka sayatan di tubuh korban. 

Ada apa ini? Siapa yang tega berbuat sekeji itu? Lalu bagaimana nasib karirku nanti?

Bersambung....

Ikuti kisah selanjutnya hanya di Catatanadi.com

1 Response to "Misteri Darah Perawan : Kematian Lisa"

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Artikel Populer

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel