Ada yang Basah tetapi Bukan Celana


sajak celana dalam

Sajak - Ada yang menonjol tetapi bukan bakat. Mungkin tongkat. Ada yang besar tetapi bukan harapan. Mungkin penderitaan. Inilah jika semua orang bisa berpikir tapi hanya yang itu-itu saja yang diberi panggung untuk nyerocos. Hidup serasa membosankan. Seperti makan nasi. Tanpa sayur. Tanpa garam. Tanpa kornet. 

Barangkali memang hidup adalah doa yang panjang. Namun ada yang pilih untuk berdoa sambil berjalan. Berdoa sambil berlari. Dan tidur panjang tanpa berdoa.

Kata siapa hidup mudah. Mungkin yang bersabda sedang ada di atas, tanpa perlu mikir besok bersiasat apa menghindari tukang tagih. Atau beralasan apa menyelamatkan muka keluarga.

Kalau hidup mudah itu berarti engkau belum benar-benar hidup. Mungkin kau hanya sedang mimpi. Lalu merasa merasa itu adalah hidup.

Hidup itu keras, tanya saja pada para pemecah batu. Membawa bongkahan-bongkahan besar untuk dipecah dengan palu. Suaranya nyaring, makin nyaring makin baik. 

Agar tidak mendengar rintihan pertiwi yang mendendam durja melihat anak-anak manusia merusak alam hanya demi bisa makan.

Hidup itu melelahkan, tanya saja pada bapak tukang becak. 60 tahun mengayuh becak tetapi nasib masih gini-gini juga. Inikah takdir itu, ada yang hidup kaya sedang yang lain miskin. Atau jangan-jangan dia sedang dimiskinkan. 

Dijadikan dolanan, mainan, wayang dan orang-orangan. Oleh orang yang tidak pantas disebut orang.

Mungkin bagi koruptor hidup kelewat mudah. Colong sana maling sini dan tetap tampil di tipi dengan jas serta setelan necis. Aih, kuingin sentil ginjal mereka. Barangkali bisa bikin sadar.

Ada yang tegak tetapi bukan keadilan. Mungkin rambutku. Ada yang bulat tetapi bukan tekad. Mungkin pantatku. Dan ada yang tertawa di kala saudara sebangsanya terhina, tersisihkan, tercaci, teralienasi. Itu jelas bukan aku.

Kiri dikira komunis. Kanan dicap kapitalis. Padahal baca buku saja tidak pernah. Tetapi hobi bakar-bakaran. Tetapi bukan bakar jagung. Mungkin memang sependek itu pemikiran kita. Atau sejauh itu kita dari peradaban.

Dengar aku melantur dan makin melantur. Salah siapa kau jamu dengan susu, santan, aren serta gula padahal aku minta kopi. Mungkin jaman sudah berubah. Semua jadi suka ngopi. Tetapi hobi rebahan tetap jalan terus.

Itu kenapa dengan yang di sana. Merintih mengeluh menangis berduka. Bukankah kau manusia. 

Kucing saja mencakar bila terdesak. Masak kau diam saja tanah leluhurmu diambil orang. Atau trotoar tempatmu berjalan dijajah dan dirampas. Masak kau hanya melongo lalu nyemprot sana sini di medsos. Masak kau hanya bisa mencaci dalam hati. Masak. Masak. Masak. Masak air biar anget. Masak rudal biar binal. Ah, banal. 

Jangan kau kira ini puisi. Rimanya kacau strukturnya hancur. Ini juga bukan esai. Ide pokoknya melompat-lompat, seperti kanguru yang rumahnya terbakar hebat. Mungkin ini curhatan. Ah sereceh itukah?

Hujan datang tanpa ditanya. Dan imajinasimu kemana-mana. Tiba-tiba kau jadi sangat spirituil. Gerimis mengingatkanmu pada kenangan. Hujan mengingatkanmu pada mantan. Dan banjir baru kau ingat Tuhan. Ah, manusiawi.

Ingat kau pada saat kali ini bersih. Suci. Indah. Tanpa sampah plastik ataupun pembalut. Limbah ataupun ludah? Ya waktu itu. Ketika belum ada manusia. Ah, manusiawi.

Spesies kita katanya datang dari Afrika. Entah bareng-bareng entah sendiri-sendiri, tetapi pada akhirnya ada banyak jenis manusia. Yang matanya sipit, kulitnya coklat, rambutnya ikal, hidungnya bengkok, ekornya bercabang, sayapnya patah, dan hatinya terluka. Ah, manusiawi.

Karena dunia ini diukur menurut pertimbangkan manusia. Manusiawi. Hanya beberapa orang berhasil membuat beberapa hal menjadi sedikit lebih, uhuk... sakral. Ah, suci.

Tetapi ingat, sehebat apapun itu, manusia bisa mereka-reka yang lebih tak masuk akal. Bahkan imajinasi mereka sanggup menembus waktu. Karena pada dasarnya kita abadi, yang fana itu waktu. Dan celana dalam.

**************************************************
Terima kasih sudah membaca. Untuk menikmati konten dari Catatan Adi lainnya, silahkan kunjungi juga rubrik puisi maupun esai. Baca juga cerita bersambung kami. 

Dukung terus Catatan Adi untuk menciptakan konten berkualitas dengan share semua postingan di sini ke sosmed Anda agar makin banyak orang tertarik dengan Catatan Adi - Blog Kaum Progresif.  

0 Response to "Ada yang Basah tetapi Bukan Celana"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Populer

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel