Bukan Salah Ibu Mengandung

Cerpen - Salah satu kesalahan terbesar dari sebuah keluarga adalah terlampau memanjakan anak mereka sehingga lupa mengajarkan nilai-nilai kemandirian. Hal itu pernah terjadi pada seseorang yang harusnya tumbuh menjadi orang  sukses namun pada akirnya justru berakhir menyedihkan.

sebuah cerpen politik - catatanadi.com
sebuah cerpen politik

Sebut saja namanya Rico. Seorang bocah tak tahu malu yang tidak bisa diandalkan dan hanya membuat kekacauan saja.

Ayahnya seorang pejabat dengan pangkat mentereng. Ibunya pengusaha sembako yang punya beberapa kios di pasar, kampung dan bahkan ruko di tengah kota. Semua terkesan menyenangkan.

Sejak kecil Rico menikmati banyak hal yang tidak dipunyai orang lain seangkatannya. Ia bersekolah di tempat yang bagus dengan uang pangkal yang mahal dan iuran bulanan setinggi langit.

Namun ternyata hal itu tidak menjamin otaknya berisi atau kecerdasannya berkembang. Sewaktu TK, ibunya pernah berduel dengan sesama wali murid karena tak terima Rico dituduh mencuri makanan.

Padahal memang itu kenyataannya. Namun siapa berani dengan istri pejabat, apalagi keluarganya juga punya andil dalam mendirikan gedung sekolah.

Di sekolah dasar semuanya bertambah parah. Sejak kelas 1 hingga 6 ia tak pernah dapat nilai bagus. Sekali dapat hasil jelek, ibunya datang melabrak sekolah. Kali ini ia sering membawa suaminya yang kumisnya mirip Hitler tersebut. Kadang mereka juga mengajak penilik sekolah, kepala dinas, hingga preman kampung untuk menakuti para guru. Maklum, ayah Rico juga pembina sebuah ormas.

Rico jadi tolol bukan kepalang. Kelas 4 dia butuh waktu 10 menit untuk menghapal Pancasila, itu saja sila keempat sering salah. Kelas 5 dia tak tahu ibukota Indonesia dan menganggap keris adalah senjata khas Maluku.

Walau nilai EBTANAS-nya hancur luar biasa, dia tetap masuk sekolah negeri favorit. Kebetulan waktu itu ayahnya naik pangkat, sehingga kepala sekolah tak punya nyali menolak bocah tak berkompeten itu. Harapannya Rico akan segera bertobat.

Tapi nyatanya tidak. Kelas 1, dia sudah membentuk pasukan geng dengan para begundal dan anak-anak yang rutin tidak naik. Mereka rajin tawuran, memeras siswa lain dan merusak properti sekolah. Tapi ayahnya selalu datang dengan dua lembar cek kosong. Satu untuk sekolah satu untuk kepala sekolah.
Kelas 2, Rico makin menjadi. Ia sering meremas dada teman wanitanya lalu lari. Guru BK juga tak bisa berbuat banyak. Semua anak takut padanya. Namun ia lancar naik kelas tiap tahun.

Kelas 3, ia nyaris membakar laboratorium karena merokok dengan pacar dan anggota gengnya. Bukan itu yang membuat bulu kuduk ibu kepala sekolah merinding. Kabarnya, mereka menghisap ganja sambil bercinta gila-gilaan.

Walau tidak paham persamaan kuadrat dan membuat satu kalimat sempurna dalam Bahasa Indonesia dengan benar, nilai rapotnya tetap tanpa catatan. Setelah ujian akhir, ia lulus. Semua guru membuat syukuran. Ayah ibunya bahagia.

Di SMA seperti yang bisa diduga ia berhasil menyempurnakan nakalnya. Tiga orang kepala sekolah dimutasi. Orang yang terakhir adalah wanita oportunis yang ingin pensiun tanpa gangguan. Ia diam saja mengetahui Rico menghamili 4 anak gadis orang dan bikin rusuh tiap hari.

Wajah gantengnya membuat banyak gadis baik-baik terpincut. Dua guru wanita juga berhasil ia pacari. Salah satunya bahkan harus menggugurkan kandungan sebelum perbuatan mereka diketahui suami si guru.

Rico makin bengal. Dua geng sekolah dihajar babak belur karena mempertanyakan kekuasaannya. Ia jadi preman di kotanya. Bahkan beberapa polisi dipensiun dini karena berupaya mengungkap sindikat narkoba yang menyangkut Rico si anak pejabat.

Rico tak punya niat sekolah. Ia hanya foya-foya sambil menebar teror. Apes bagi para pelajar yang seangkatan dengannya. Beruntung bagi Rico, ayahnya melambung jadi bupati.

Rico lulus sempurna. Semua guru dan adik kelasnya mengadakan pesta diam-diam. Tak perlu ditanya, tentu saja ia kemudian kuliah di kampus terbaik. Ia pergi ke ibukota.

Rico meminta sebuah mobil buatan Jerman dan lengkap degan asesorisnya. Ia bahkan punya ponsel, sesuatu yang dosen-dosennya saja hanya bisa iri dan membayangkan.

Rico sukses masuk fakultas kedokteran. Tapi keluar dan pindah ke jurusan ekonomi. Katanya ia muak melihat darah. Padahal ia rutin membuat anak orang pendarahan.

Sudah tak terhitung jumlah mahasiswi dan dosen yang berhasil ia tiduri. Kali ini ia punya banyak beking. Bu Dekan yang jatuh cinta padanya serta wakil rektor yang butuh dukungan sang bupati agar anaknya bisa diangkat jadi pegawai di sebuah kantor dinas di bawah kekuasaan bapaknya.

Walau tidak becus memimpin organisasi, ia jadi ketua cabang sebuah pergerakan mahasiswa yang mentereng. Ia juga selalu dapat nilai bagus. Semua berkat amplop yang dikirim ibunya kepada para dosennya.

Tetapi petaka itu tiba. Ayahnya ketahuan selingkuh di sebuah hotel. Kali ini ia memilih partner yang salah. Lawan mainnya adalah istri seorang Menteri. Ia kalah posisi. Hanya butuh waktu satu minggu sejak kejadian itu, dia dipecat. Empat bulan kemudian dia dipenjara karena tuduhan korupsi. Tepat pada saat Rico diwisuda, ayahnya bunuh diri di dalam bui.

Ibunya frustasi. Wanita itu sering mengurung diri di kamar. Pada sebuah pagi yang sendu, pembantunya curiga kenapa kamarnya sepi. Ia meminta bantuan Rico dan ketua RT untuk mendobrak pintu. Mayat ibunya ditemukan membusuk. Sudah empat hari wanita itu mati karena serangan jantung.

Semua bersimpati pada Rico. Ia mendapatkan uang banyak hasil belasungkawa banyak orang. Walau lebih banyak lagi yang bergunjing diam-diam. Mereka takut melakukannya terang-terangan karena anak buah dari ayah Rico masih bergentayangan di kota.

Rico jadi seorang direktur menggantikan ibunya. Wanita itu memang berhasil membangun sebuah perusahaan impor barang mewah. Ia senang  bukan kepalang. Tak sedikitpun sedih karena ditinggal mati orang tua.

Hanya butuh waktu tiga bulan untuk perusahaan itu hancur lebur di tangan Rico. Omzet menurun drastis, manajemen kacau dan keuangan rusak. Intinya berkat Rico, ratusan orang jadi pengangguran.

Sisa uang ia berikan pada seorang makelar kasus. Rico selamat dan tidak jadi dipenjara. Sedang para buruhnya luntang-lantung tanpa pesangon yang jelas. Beberapa yang frustasi akhirnya membakar kantor berikut propertinya.

Dua tahun Rico menghabiskan uang orang tuanya. Apa dikata, begundal itu masih punya cukup tabungan hasil korupsi bapaknya. Ia kemudian ganti identitas dan menyewa beberapa broker politik untuk nyaleg. 

Nasib terlalu jahat pada kota itu, ia terpilih jadi caleg. Orang-orang datang memohon ijin ini dan itu. Rico dengan bakat preman berhasil menghasilkan banyak uang dari proyek kiri dan kanan. Uangnya cukup, ia mendekati seorang wanita karir yang terkenal bersih. Gadis itu klepek-klepek karena ketampanan dan modus nyongor dari Rico. Mereka menikah dan punya seorang anak. 

Kota itu makin bobrok. Rico berhasil jadi bupatinya. Wanita itu juga sudah berubah jadi culas, licik, dan serakah. Berdua mereka mendirikan dinasti politik dan menguasai semua sektor perekonomian. Belajar dari ketololan bapaknya, Rico makin cerdik dalam memburu wanita. Walau ia berhasil mengagahi istri orang-orang di atasnya, tetapi tidak pernah ketahuan sampai ajal tiba.

Sedang istrinya sibuk mempersiapkan anak mereka menjadi penguasa berikutnya. Ia kembangkan bisnis ke berbagai lini, mulai dari hotel mewah hingga kolam lele. Ia berjualan emas batangan hingga krim pembesar rudal. 

Sedang Rico mengangangkat orang-orangnya untuk jadi camat, sekda, kepala dinas, dan lain-lain. Partai politik juga sudah disuapnya. Ia bahkan membeli orang-orang cerdik untuk pura-pura mengkritiknya dan mengumpulkan para pengkritik kebijakannya. Setelah itu, mereka akan melapor pada Rico. Sebelum matahari terbit, bangkai para pengkritiknya sudah terapung lautan tanpa satu orangpun peduli.

Itulah Rico, yang sukses membuat kotanya miskin akut. Tidak ada kemajuan yang ada hanyalah gontok-gontokan agar lupa sumber masalah sebenarnya, yaitu penguasa mereka sendiri. Semula bermula dari anak kurang ajar yang dimanja, namun kebetulan punya posisi dan kekuasaan. Semua bukan salah ibu mengandung, tetapi salah memanjakan anak berlebihan hingga menghancurkan sebuah masyarakat.

***********************************************************

Terima kasih sudah membaca. Silahkan nikmati cerpen kami yang lain dengan tema yang berbeda. Baca juga beberapa esai yang mungkin menarik bagi Anda hanya di Catatan Adi - Blog Kaum Progresif.

6 Responses to "Bukan Salah Ibu Mengandung"

  1. Ikut gemas membaca karakter si Rico yang menyebalkan begitu.

    Eh, tapi tokoh Rico ini hanyalah kisah rekaan kan ya, bukan mewakili karakter aslimu, mas .. ,hahaha 😄🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh kalau saya Rico ga perlu ngeblog nih. Eh mas dah bagus belum cerpennya?

      Delete
  2. Rico, namanya yang familiar untuk tokoh cowok yang super nakal. Aih cerpennya kok ya bikin emosi, inilah keselahan sejak kecil hingga kesalahan-kesalahan yang ada membesarkannya.

    Dibesarkan dengan cara yang salah, akhirnya tumbuhlah ia dengan segala kebobrokan yang ada. Sedih sih kalo melihat kondisi nyata saat ini, dimana-mana korupsi, ya jangan-jangan dulunya dibesarkan seperti rico ini :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe tapi gag semua Rico ya. Menyedihkan memang. Menurut mbak dah bagus belum nih cerpennya?

      Delete
  3. Gatau kenapa, selain kesel baca ini jadi bikin kasihan dan sedih.
    Aku rasa itu Rico ceritanya mengulang sejarah bapaknya ya..

    ReplyDelete

  4. Karakter Rico sangat buruk .
    Memang bukan salah bunda mengandung.
    Tapi orang tua yang salah mendidik anaknya.
    Anak hanya dimanja dengan uang tapi lupa tidak didik dengan moral yang baik.
    Tidak dididik dengan agama yang baik.
    Sangat disayangkan kalau ada orang tua yang seperti itu.
    Cerpennya bagus bisa membawa emosi para pembaca..


    ReplyDelete

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Artikel Populer

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel