Sejarah - Sudah bukan rahasia bahwa Israel dan negara-negara Arab sangat tidak rukun. Mereka bahkan beberapa kali terlibat konflik, mulai dari perselisihan ringan hingga yang berujung perang.

Latar Belakang Perang Enam Hari

Israel adalah negara yang spesial bagi tiga agama, yakni Kristen, Yahudi dan Islam. Di negara itu terdapat kota Bethlehem yang merupakan tempat kelahiran Yesus Kristus. 

Tidak hanya sekali Israel berkonflik dengan tetangganya, namun pada tahun 1967, hal itu bahkan melahirkan sebuah tragedi yang bernama perang enam hari.

Kenapa disebut Perang Enam Hari? Karena pertempuran secara efektif hanya berlangsung dari tanggal 5 hingga 10 Juni 1967.

Apa penyebab dari Perang Enam Hari? Ternyata ada banyak analisa yang menarik untuk dibahas. Di kesempatan kali ini, Catatan Adi akan membahasnya untuk Anda.

Hipotesis pertama yang bisa dipertimbangkan mengenai apa alasan terjadinya Perang Arab 1967 adalah ulah dari Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser yang menutup Selat Tiran sehingga mempersulit perdagangan laut oleh Israel.

Israel berkali-kali mengatakan bahwa jika Mesir berani mengganggu aktivitas niaga di Selat Tiran, maka negeri Yahudi itu tak segan-segan akan melakukan tindakan militer. Entah karena terlalu yakin akan kekuatan bala tentaranya atau meragukan gertak sambal Israel, maka Nasser tetap menutup wilayah genting tersebut.

Padahal apa yang dilakukan pemimpin berhaluan Islam Nasionalis tersebut jelas merupakan pelanggaran. Semua aktivitas perniagaan di laut harus dijamin keamanannya dan berhak dilakukan dengan tenang oleh semua bangsa.
Sejarah Perang Arab Israel
Perang Enam Hari 1967

Alih-alih berkonsultasi dengan PBB, Gamal Abdul Nasser justru mengusir para pasukan penjaga perdamaian di bawah komando UNEF. Ia lalu menempatkan pasukan Mesir di sepanjang perbatasan Sinai dan Tiran.

Hal ini tentu saja membuat Israel berang dan negeri itu bukanlah pihak yang ragu-ragu akan keputusannya. Pada tanggal 5 Juni dini hari, angkatan udara Israel memberi pelajaran berharga pada bangsa Mesir. Pesawat dan instalasi penerbangan negeri Firaun itu hancur lebur. Lebih dari 150 pesawat tempur mahal Mesir musnah.

Hipotesa kedua adalah soal desa As-Samu. Di desa itu, sering terjadi serangan terhadap wilayah Israel yang diduga dilakukan oleh simpatisan gerakan Pro-Palestina. Wilayah yang masuk teritori Suriah itu kemudian menjadi target balas dendam negeri Ibrani.

Suriah sendiri punya perjanjian dengan Mesir yang intinya adalah akan saling membantu jika salah satu dari mereka diserang. Hal ini membuat Nasser mengirim pasukan ke perbatasan. Justru ternyata negara piramida itu yang pertama dihajar Israel.

Perang 1967  : Solidnya Militer Israel, Hancurnya Tiga Negara Arab

Front yang cukup penting untuk dibahas dalam Perang Enam Hari tentu saja Sinai. Di sini, pasukan Israel berhasil menghancurleburkan pertahanan militer Mesir hanya dalam hitungan hari.

Mesir jelas terkejut dengan serangan udara pembuka yang dilakukan oleh Israel. Namun kejutan utama sebenarnya ada di Sinai. Prajurit mereka berhadapan dengan militer Ibrani dari dua arah.

Langkah cerdik pertama para jenderal Israel adalah melakukan penerjunan pasukan terbaik mereka di belakang garis pertahanan Mesir. Ini jelas merupakan sebuah hal yang tidak diduga. Pasukan Nasser berhadapan dengan infantri dan tank dari depan sedang dibelakang sudah ditunggi para troopers.

Hanya butuh waktu empat hari, tepatnya 8 Juni 1967 Israel berhasil mengusai Sinai dan menendang keluar Mesir dari sana.

Sebuah front muncul di Dataran Tinggi Golan, yang pada saat itu masuk wilayah Suriah. Puluhan ribut tentara Arab Suriah berjuang mati-matian melawan agresi negeri Yahudi.

Perang terus berkobar. Pada tanggal 7 dan 8 Juni, Dataran Tinggi Golan jadi saksi sengitnya pertempuran antara 75 ribu pasukan artileri dan infantri Suriah melawan angkatan udara dan darat Israel.

Perang berlangsung sengit. Berkat persiapan yang baik dan koordinasi tangkas dari para jenderal Israel, negara berlambang Bintang Daud itu berhasil membombardir pertahanan Suriah. Mereka bahkan mampu menembus barikade tersebut dan terus ke utara. Hanyda dalam tiga hari, Golan jatuh. Pasukan Arab Suriah lari pontang-panting setelah melihat rekan-rekannya tewas.

Anglatan Udara terus bergerak membombardir Suriah sedang pasukan darat kokoh menduduki Golan. Tidak ada perlawanan yang berarti setelah tanggal 9 Juni. Bahkan bisa dikatakan ketika fajar menyingsing di keesokan harinya, Israel sudah menang di front tersebut.

Tidak hanya mempermalukan Suriah dan Mesir, Israel juga berhasil menunjukkan pada Yordania bahwa bermain-main dengan Israel akan berakibat fatal.

Pertempuran melawan Yordania terjadi di Tepi Barat dan Yerusalem. Hal ini tentu saja membuat dunia terpana bagaimana ternyata Israel yang belum genap berumur 20 tahun mampu mengalahkan sebuah negara Arab yang disegani.

Awalnya Yordania menyerang dengan hujan artileri dan serangan udara. Israel mati-matian membalas dan bertahan. Namun hanya butuh tak sampai tiga hari bagi negara yang mengaku keturunan Nabi Musa dan Sulaiman untuk mengalahkan Yordania.

Walau dikenal sebagai salah satu negara Arab dengan militer terbaik, tetapi kombinasi serangan darat dan udara Israel yang efektif mampu mematikan perlawanan Yordania yang heroik. Pada tanggal 8 Juni, Yerusalem dan Tepi Barat jatuh ketangan mereka.

Dampak Perang Enam Hari

Hanya ada satu hasil : Kemenangan untuk Israel. Negeri itu makin berkibar dan membuat tetangga-tetangganya. Mereka mulai mencari cara untuk melawan namun tidak sekonyol seperti sekarang atau yang sudah-sudah, baik di perang tahun 1948 atau 1956.

Israel sukses memperluas wilayahnya. Negara-negara Arab makin membencinya. Dan Amerika Serikat, Inggris serta Uni Soviet mulai memperhitungkan ulang bagaimana geopolitik yang baru ini. 

Apapun itu, penderitaan adalah kepastian dari sebuah perang. Ada ratusan ribu orang tewas, cacat, terluka atau kehilangan harta benda. Mayoritas dari mereka adalah orang Arab namun juga ada dari pihak Israel. Itulah dampak buruk dari Perang Arab - Israel 1967.