Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membayangkan Indonesia yang Luar Biasa

Bayangkan saja tiba-tiba sebuah momen paling mengejutkan dalam sejarah muncul. Para negeri perkasa yang punya kekuatan militer hebat luar biasa saling berperang. Seperti peribahasa kuno menang jadi abu kalah jadi arang, semua terluka, semua hancur lebur tenggelam dalam duka.
Tidak ada lagi polisi dunia, tidak ada lagi pos militer yang bercokol di tanah air orang lain. Semua sedang mengobati luka yang menganga dan sibuk memperbaiki diri.
gambar bendera merah putih di langit
Indonesia

Sang Ratu Adil
Lalu seperti memenuhi ramalan para leluhur, seorang sakti mandraguna lahir dari rahim pertiwi. Dialah yang disebut Ratu Adil, tokoh mitos yang dinanti-nanti segenap warga bangsa dari jaman kerajaan hingga era industri 4.0 ini. 
Sang Ratu Adil mengembalikan tatanan bangsa yang sudah lama terkoyakan. Mengintegrasikan kembali suku-suku yang terserak, menebarkan cinta kasih, menumbuhkan persatuan nasional, membiakkan kerja keras, menggembangkan ilmu pengetahuan, mengenyahkan kemiskinan dan membangkitkan hati yang apatis. 
Sang Ratu Adil memiliki lidah yang lebih sakti dari api, sehingga semua terbakar semangatnya untuk bekerja keras. Rakyat mengeluarkan segenap potensinya. 
Para petani berhasil membuat negara swasembada pangan, para peternak menyuplai daging-daging kualitas terbaik kelas dunia untuk generasi muda. 
Anak-anak yang berkesempatan menikmati segala panganan bergizi tumbuh lebih besar fisiknya dari orang Eropa dan lebih cerdas otaknya dari orang-orang Jepang. Semangat mereka untuk rajin bekerja juga melampaui orang Cina. 
Para insinyur terlecut untuk menyediakan infrastruktur yang mengagumkan : indah dari segi seni, efisien dari segi ekonomi, namun efektif dan kokoh dari segi teknis. 
Pertama kali dalam sejarah, semua pulau terhubung oleh jembatan raksasa dengan arsitektur mengagumkan. Bandara dan pelabuhan dipugar dengan hebat. Arus ekonomi terputar lebih cepat dari gangsing. Padi, semen, besi, dan konveksi dari barat dengan mudah mengalir ke timur. Minyak, daging, kayu dan emas dari timur juga tersebar ke barat tanpa halangan . 
Semangat dan kerja keras membuat rakyat tidak punya waktu mengkonsumsi hoax. Para penebar kebencian jadi pengangguran. Mereka akhirnya malu dan bertaubat lalu ikut serta dalam suasana positif yang kental dengan nuansa produktif. Tivi-tivi enggan membuat acara bermutu rendah, karena akan dijauhi rakyat. Mutu sinetron, lomba nyanyi, dan film-film kita naik drastis. Bahkan kemudian dibuat versi Inggris, Jerman, Perancis, Rusia, Burkina Faso, Belanda, Zimbabwe, Cina, dan Laos. 
Imajinasi Awal Terbentuknya Realita
Mari sudahi cerita di atas dengan mengingatkan kembali bahwa itu adalah harapan. Sebuah cita-cita tentu bukanlah sebuah realita. Dia masih dalam tataran imajinasi.
Namun jangan pernah sekali-kali meremehkan imajinasi. Einstein pernah berkata bahwa the true sign of intellegence is not knowledge, but imagination. 
Maka berangkat dari sini, seharusnya Indonesia sebagai sebuah bangsa tidak boleh malu, segan, ragu apalagi merasa jijik dengan imajinasi. Bung Karno, pemimpin bangsa pernah menegaskan, 'bermimpilah yang tinggi karena jika Engkau jauh, Kau akan jatuh di antara bintang-bintang'. 
Awal dari kesuksesan adalah cita-cita. Permulaan dari sebuah aksi adalah perencanaan. Sudahkah kita sebuah bangsa memimpikan hal tersebut di atas? Bukan tidak mungkin jika esok atau lusa, persinggungan di sekitar Laut Cina Selatan makin parah dengan ikut campurnya Amerika Serikat, NATO dan India. Sudah siapkah kita?
Imajinasi tidak pernah salah. Tidak boleh ada yang mengadili impian. Namun, sudahkah kita bermimpi dengan benar? Jangan-jangan dalam mimpi sekalipun kita masih sibuk untuk memuaskan egoisme pribadi, menyingkirkan saudara sebangsa sendiri, dan memuaskan hasrat kerakusan kita. 
Jikalau bermimpi menjadi bangsa yang besar saja kita tidak mampu, bagaimana mewujudkannya?
Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

Posting Komentar untuk "Membayangkan Indonesia yang Luar Biasa"

Berlangganan via Email