Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengemis, Salah Siapa?

Salah satu hal yang membuat saya tidak betah tinggal di suatu kota adalah keberadaan pengemis. Jadi pengemis, termasuk juga pengamen jalanan dan sebangsanya bagi saya mengurangi keindahan kota serta mengganggu kenyamanan warga. Masalahnya adalah, siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas keberadaan mereka.

Jika melulu kita menyalahkan mereka, siapapun rejim dan bentuk kebijakannya, pasti hal ini tidak akan pernah selesai. Pengemis akan selalu ada. Apakah ini ada kaitannya dengan mental kere atau mental miskin? Bisa jadi.

Saya pernah menulis artikel di blog ini juga tentang premis : apakah ketika semua kekayaan di dunia ini dibagi sama rata, kemiskinan akan hilang? Kesimpulan yang saya dapatkan adalah tidak. Selama masih ada mental kere, akan selalu abadi yang namanya pengemis.

pengemis dan mental kere
Mental Kere


Jenis-jenis Pengemis

Ada banyak sekali pengemis. Mereka yang berpenampilan lusuh dan pakaiannya compang-camping lalu menengadahkan tangan meminta belas kasihan berupa uang. Mereka adalah jenis pengemis yang paling sering terlihat mata secara terang-terangan. 

Memberantas mereka tidak mudah. Ada yang memang suka mengemis. Ada yang terpaksa jadi pengemis. Lantas apa solusinya? Tentu akan dibutuhkan banyak diskusi, penelitian dan percobaan. Namun yang terutama adalah memberantas mental pengemis.

Aku suka melihat lelaki cacat dengan tubuh tidak lengkap tapi berjuang mempertahankan hidup yang diberikan oleh Tuhan dengan cara terhormat. Berjualan makanan, melukis atau jadi juru pijat. Mereka orang-orang hebat yang kepadanya masyarakat bisa belajar apa itu ikhlas serta kerja keras.

Sedangkan di saat golongan yang demikian berpeluh nanah mencari sesuap nasi, apakah etis kita memberi uang pada mereka yang cuma genjreng sekali dua kali dengan nada seenaknya atau melotot sambil meminta sedekah? Tentu saja tidak etis. Uang itu lebih baik diberikan pada siapa yang bekerja keras. Bukan yang meminta paling keras.

Jenis pengemis yang kedua adalah oknum berdasi yang memalak masyarakat pekerja dengan dalih potongan untuk ini itu, iuran untuk ini itu dan sumbangan untuk ini itu tetapi dana yang diberikan lari ke perutnya sendiri. Sungguh nista yang demikian, terlebih jika menggunakan rasa kemanusiaan orang lain demi meraup kepentingan diri sendiri.

Mental Kere

Mental pekerja keras adalah modal utama meraih kesuksesan yang hakiki. Sedang mental kere adalah potret betapa hina manusia yang melulu menuntut belas kasihan tetapi melupakan berkat Tuhan berupa tubuh yang kuat dan jiwa yang waras. 

Mental kere harus dimusnahkan. Itu bisa dimulai di bangku sekolah, yakni mendidik siswa agar punya jiwa petarung, jangan lembek apalagi pengecut.

Orang-orang yang berebut beasiswa yang seharusnya diberikan pada mereka yang tak mampu adalah contoh binatang, karena manusia waras tidak selayaknya berbuat senista itu.

Juga oknum yang mengelabui data demi mendapatkan bantuan dari sana-sini. Mereka telah menggeser berkat yang harusnya diterima oleh kaum yang lebih berhak. 

Tetapi mental kere tidak akan musnah jika sistem yang menyuburkannya tidak diberangus. Dihancurkan total. Inilah sasaran sejati dari revolusi. Sebuah penindasan yang melanggengkan eksploitasi yakni, salah satunya, dengan menciptakan mental penghisap, mental lembek.

Baca juga cerpen Hikayat Empat Generasi yang akan mengajarkan pada kita bagaimana buah dari kerja keras untuk keturunan kita. 

Jangan Mengemis

Pejuang sejati pantang mengemis. Ada banyak contoh orang cacat yang sukses dan mulia hidupnya, menjadi insan berguna dan bermartabat tinggi. Jika ada orang sehat jasmani dan waras rohani tetapi mengemis karena malas, maka lebih baik baginya untuk tidak usah melanjutkan hidup sekalian. 

Meski demikian, yang terpenting adalah merubah sistem agar budaya mental kere bisa lenyap. Setiap orang harus memiliki pandangan dunia yang benar. Semua manusia harus diajarkan apa itu kerja keras. Sekaligus juga menghancurkan pemiskinan sehingga rakyat benar-benar sadar bahwa mereka adalah pejuang sejati dengan masa depan cerah yang harus menyingkirkan keinginan bermental kere. 

Catatan Adi
Catatan Adi Seorang penulis freelance dan pengamat fenomena sosial.

Posting Komentar untuk "Pengemis, Salah Siapa?"

Artikel Bisnis dan Peluang Usaha

Recent Posts Label

Artikel Pendidikan

Recent Posts Label

Artikel Teknologi

Recent Posts Label

Kumpulan Cerpen

Recent Posts Label