Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jiwa-jiwa yang Kerdil

Aku pernah ketakutan ketika mendapat undangan ulang tahun sahabatku yang diselenggarakan di KFC. Kenapa? Karena aku belum pernah masuk ke sana. Bagiku, KFC, MCD, Hanamasa ataupun Pizza Hut seperti sebuah zona terlarang yang terlalu mewah untuk kukunjungi.

Itulah jiwa-jiwa kerdil. Merasa diri tidak pantas dan takut untuk melakukan sesuatu. Rendah diri sekaligus minder luar biasa. Semua itu tentu saja disebabkan oleh kemiskinan.

Kemiskinan membuat banyak kesulitan. Orang miskinpun sebenarnya membayar jauh lebih mahal dari orang kaya dalam perjuangannya untuk mempertahankan hidup. Dan di sanalah aku pernah menghabiskan hari-hariku.

Bung Karno berupaya keras menghapus jiwa kerdil bangsanya, bangsa yang ratusan tahun di jajah orang asing. Secara kebangsaan memang banyak sekali bukti bahwa kita selalu merasa inferior jika berhadapan dengan orang asing, entah itu Arab, Cina atau Barat. Kita merasa rendah diri dan minder luar binasa. Fokus kita selalu berupaya untuk bangkit tetapi dalam hati masih menyimpan kekaguman luar biasa pada bangsa-bangsa itu. 

Alhasil jiwa-jiwa kerdil terbentuk secara luas. Jika lihat media sosial, khususnya Instagram dan Tiktok, terpampang nyata standar kecantikan bangsa kita adalah gambaran dari kehadiran orang Arab, Cina dan Barat. Padahal sejatinya kita ini sawo matang. Mata besar. Rambut banyak yang ikal. Dan hidungnya menjorok ke dalam. 

Jiwa kerdil hadir kepada insan yang ditindas kemiskinan. Aku bahkan punya teman yang takut mengobrol dengan orang kaya. Mungkinkah dia pernah dipermalukan dan trauma karena hal itu? Bisa jadi.

Jiwa kerdil
Jiwa kerdil

Pendidikan yang sejati, adalah pendidikan yang membebaskan. Termasuk membebaskan insan dan ancaman menjadi pemilik jiwa kerdil. 

Dahulu hanya anak Sultan yang bisa jadi penguasa berikutnya. Setelah feodalisme dihancurkan, semua orang boleh bermimpi jadi pemimpin asal menang pemilu. Namun inipun juga tidak sempurna. Para kapitalis dan politikus yang berada di lingkarang oligarki kekuasaan tentu juga berupaya merebut kursi tersebut.

Pada akhirnya bisa aku katakan jiwa kerdil hanya memberikan dampak negatif. Dampak buruk yang mengganjal laju kehidupan. Inilah alasan orang miskin akan tetap miskin. Anda tidak akan pernah jadi Rafathar atau anaknya Bill Gates. Namun Anda bisa menjadi jauh lebih baik dari hari kemaren. Dan jika hari-hari Anda busuk, maka menjadi lebih baik dari hari kemarin juga adalah prestasi yang patut dibanggakan. 

Adi
Adi Saya adalah seorang penulis dan blogger yang sudah mendalami dunia blog sejak 2010. Saya menulis tentang banyak hal, seperti games, teknologi, filsafat, pendidikan, politik, fashion, olahraga, buku, kuliner, dll. Pernah mengikuti berbagai pelatihan dan kursus dari NGO maupun pemerintah.

Posting Komentar untuk "Jiwa-jiwa yang Kerdil"