Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wayang Kulit, Sejarah dan Penjelasan Lengkap

Wayang kulit adalah salah satu bentuk kesenian dan produk budaya berbentuk wayang yang cukup populer di sebagian wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa dan Bali. 

Sama seperti namanya, wayang kulit terbuat dari kulit, khususnya kulit kerbau atau sapi. Kerbau untuk wayang kulit didatangkan dari wilayah Nusa Tenggara. 

Sebagai sebuah produk budaya yang sarat akan nilai-nilai luhur, wayang kulit terus berupaya untuk dikembangkan dan dilestarikan, meski hal ini tidaklah mudah. Gempuran budaya populer membuat popularitas wayang di generasi muda menjadi menurun. 

Asal Usul Wayang Kulit

asal usul wayang kulit
sejarah wayang kulit

Ada banyak versi mengenai asal-usul wayang kulit. Bahkan istilah wayang sendiri ditengarai punya lebih dari satu versi arti. 

Versi pertama, wayang berasal dari kata bayang atau bayangan. Ini bisa diterima karena untuk menikmati pagelaran wayang, penonton bisa melihat tampilan bayangan dari tabir yang ada.

Versi kedua, wayang berasal dari kata 'Ma' dan 'Hyang'. Ma artinya menuju sedangkan Hyang artinya Tuhan atau Dewata. Jadi arti kata wayang adalah menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Versi ketiga, menurut Kusumajadi, wayang adalah leluhur yang sudah meninggal. Wa berarti trah atau keturunan. Sedang Hyang artinya leluhur atau eyang. 

Bagaimana sejarah wayang kulit? Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai sejarah dan perkembangan wayang, khususnya wayang kulit. 

Menurut GA.J. Hazeau, peneliti dari Belanda, wayang adalah sebuah seni mengukir kulit kerbau yang biasa disebut linukir wadulang. Hal ini sesuai dengan hasil karya tulisnya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel yang diterbitkan di Leiden pada 1897. 

Beberapa pendapat meyakini wayang adalah produk asli tanah Jawa dan sudah ada sejak abad 9 atau abad 10. Jika wayang memiliki fungsi sebagai instrumen keagamaan, maka budaya dan kesenian ini masih terkait dengan agama asli penduduk Indonesia.  

Sedangkan beberapa tokoh seperti Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings dan Rassers meyakini wayang berasal dari India dan dibawa oleh para penjelajah dari Hindustan ke Nusantara.

Memang kisah-kisah dalam wayang sangat erat kaitannya dengan wiracerita Mahabarata dan Ramayana, juga kisah-kisah lokal lainnya. 

Wayang sudah menjadi kesenian populer sejak era Raja Airlangga yang bertahta di Kerajaan Kediri, salah satu kerajaan tua di Jawa.

Pada masa kerajaan Hindu dan Buddha, wayang menjadi semakin terkenal dan digunakan secara luas untuk menceritakan dua epos terkenal dari India, yakni Mahabarata dan Ramayana

Meski demikian patut diingat bahwa para pujangga Nusantara, khususnya di pulau Jawa melakukan penulisan ulang kisah Mahabarata dan Ramayana sehingga terdapat beberapa bagian yang berbeda dari versi aslinya dari Hindustan.

Di era Majapahit, wayang semakin berkembang dan bahkan kepopulerannya meluas hingga ke luar Jawa, misalkan ke Kalimantan bagian selatan, Bali dan bahkan menurut beberapa pendapat, hingga ke kerajaan kuno di Malaysia dan Thailand. 

Di Thailand, khususnya bagian selatan terdapat kesenian bernama wayang Nang Yai, yang seperti ditulis oleh Tempo, memiliki akar budaya yang dipengaruhi oleh Kerajaan Sriwijaya.

Pada masa Demak, wayang berkembang menjadi sarana dakwah. Sunan Kalijaga dan para pendakwah Islam menyebarkan agama Muslim melalui pagelaran wayang yang berisi ajaran-ajaran dari Al Quran.

Voice of Indonesia dalam salah satu lamannya menulis bahwa beberapa kisah baru muncul seperti Centhini, Cebolek dan Tajusalatin. Semuanya bernuansa Islam. 

Lebih jauh dalam artikel berjudul Jejak Wayang Kulit dalam Dakwah Islam Nusantara, VOI memaparkan demikian : 

Adalah Sunan Kalijaga dari Wali Songo yang erat menggunakan wayang kulit untuk menyebarkan Islam ke segala penjuru Pulau Jawa. Jasa besar Sunan Kalijaga bagi Islam tak lain karena dirinya melakukan kreasi baru dalam pentas wayang kulit. Kreasi itu dilakukan supaya kesenian wayang cocok dengan selera zaman. Apalagi sebagai media dakwah. Ia pun mencoba memasukkan unsur-unsur Islam ke dalam wayang.

Sebagai contoh Sunan Kalijaga menjadikan Pandawa yang beranggotakan lima orang penegak kebenaran sebagai lambang dari lima Rukun Islam. Sedang Dharmakusuma sebagai putra Pandu yang pertama diberi jimat yang disebut “kalimasada” alias kalimat syahadat. Pun sosok Bima yang selalu berdiri tegak dan kokoh dilambangkan sebagai Sholat. Arjuna yang senang bertapa dilambankan sebagai puasa. Yang terakhir, Nakula dan Sadewa sebagai lambang zakat dan haji.

Perkembangan selanjutnya, wayang mulai tersebar seiring dengan gelombang rantau orang Jawa, baik itu ke pulau-pulau lain di Indonesia hingga ke luar negeri. 

Pada masa perjuangan dan orde lama, wayang digunakan sebagai sarana doktrinisasi, propoganda dan kampanye demi tujuan tertentu, misalkan mengajak rakyat untuk berjuang atau memilih partai politik tertentu.

Di masa orde baru, wayang juga digunakan untuk kampanye, misal Golkar. Selain itu pemerintah menggunakan media wayang untuk menjelaskan pesan-pesan kepada masyarakat, misalkan kampanye tentang keluarga berencana (KB).

Pagelaran Wayang Kulit

pagelaran wayang kulit
penjelasan wayang kulit

Wayang kulit dimainkan oleh seorang yang disebut dalang. Pendalang memainkan cerita wayang mengikuti pakem yang ada, meski kemudian pada kenyataannya muncul banyak improvisasi dan inovasi.

Dalam memainkan wayang, dalam membutuhkan seperangkat wayang, kelir sebagai tabir, oncor atau lampu dan gedebok atau pohon pisang untuk tempat wayang berdiri. 

Dalang juga ditemani oleh para pemain musik gamelan yang memainkan musik untuk membuat adegan menjadi lebih dramatis. Gamelan adalah salah satu alat musik tradisional dari Jawa. Tim musik biasanya memiliki beberapa penyanyi wanita yang disebut sinden

Selain itu untuk membuat pagelaran wayang menjadi jauh lebih menarik, ada juga dua atau lebih orang yang berfungsi melawak atau membuat banyolan di tengah-tengah pagelaran. 

Cara Pembuatan Wayang Kulit

cara membuat wayang kulit
cara membuat wayang kulit

Di jaman yang maju seperti sekarang, perajin wayang kulit ternyata masih ada. Sambil berbisnis untuk mencari keuntungan dan sebagai mata pencaharian, mereka secara tidak langsung juga ikut melestarikan budaya nasional.

Berikut adalah 5 tahapan proses pembuatan wayang kulit meliputi : 

  1. Pemilihan kulit
  2. Penjemuran
  3. Pembersihan
  4. Pembuatan Pola dan pewarnaan
  5. Pemotongan sesuai pola

Cerita Wayang Kulit

cerita wayang kulit
cerita wayang kulit

Seperti disinggung di atas, cerita wayang kulit utamanya berpusat pada epik Mahabarata dan Ramayana dari India. Meski demikian, sang pembawa cerita bisa saja mengubah atau memilih cerita lainnya untuk dipentaskan sesuai tujuan yang diinginkan.

Meski bersumber dari Mahabarata dan Ramayana, uniknya leluhur orang Jawa memasukkan tokoh-tokoh asli Nusantara yang tidak ditemui di India, semisal Punakawan.

Punakawan adalah abdi dalem para Pandawa yang terdiri dari empat tokoh, yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka semua diyakini adalah karakter asli ciptaan orang Jawa. 

Mahabarata dan Ramayana sendiri tidaklah terdiri dari satu versi. Di beberapa negara mayoritas Hindu selain India, misalkan Srilanka, tokoh antagonis Rahwana  dalam Ramayana justru dipuja sebagai pahlawan. 

Polemik Wayang Kulit

apakah wayang haram?
polemik wayang kulit

Apakah wayang kulit haram? Ya, wayang kulit haram menurut beberapa orang. Tetapi menurut sebagian besar lainnya, wayang kulit boleh saja dinikmati bahkan harus dilestarikan sebelum punah atau diakui oleh bangsa lain.

Wayang kulit sendiri oleh UNESCO (Badan PBB urusan pendidikan dan kebudayaan) ditetapkan  pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Polemik selanjutnya adalah perihal Malaysia yang dikatakan mengklaim wayang kulit sebagai budaya mereka. Tentu ini cukup tragis, karena meski Indonesia berupaya mematahkan klaim tersebut, kita seharusnya juga bangga wayang tersebar ke luar negeri.

Isu terkait wayang kulit selanjutnya adalah menurunnya minat generasi muda dalam mempelajari atau menonton wayang. Untuk itulah muncul berbagai inovasi, misal dengan melakukan pagelaran wayang berbahasa Indonesia. 

Adi
Adi Saya adalah seorang blogger yang sudah menulis di blog sejak 2010. Blog ini terbuka untuk berbagai kerjasama, seperti sewa banner, content placement ataupun review produk.

Posting Komentar untuk "Wayang Kulit, Sejarah dan Penjelasan Lengkap"