Liverpool dan Sindrom Next Year For Sure

Sepakbola-Hari ini dibuka dengan kenyataan pahit si perahu biru dari Manchester memetik poin penuh atas Leicester.

Sudah bukan rahasia umum, walau genderang penutupan Liga Inggris belum ditabuh, namun Kun Aguerro dan konco-konconya seperti sudah ditahbiskan jadi jawara.

Liverpool gagal
yang bener lu! 


Lalu bagaimana nasib Liverpool. Tentu saja suram. Ipul harus berjuang habis-habisan di laga akhir senantiasa berharap pada keajaiban, City keok.

Tapi mungkinkah itu terjadi? Tentu saja. Namun berapa persentasenya? Entahlah.

Sindrom Next Year Terus


Lalu apa sich yang salah dari Liverpool? Pelatih brilian sudah didatangkan. VVD, Alison Becker, plus Fabinho juga sudah dikontrak. Tapi nyatanya Ipul masih bermasalah tentang konsistensi.

Sangat menyedihkan melihat jutaan Kopites dan Liverpudlian harus dibully rekan-rekan mereka dengan adegium abadi : next year ya bos!?

What the crot! Kalo gini terus bisa hancur hati ini, Ferguso!

Quo Vadis Liverpool!


Apa yang terjadi musim ini sejatinya adalah gambaran tentang musim-musim lalu yang penuh kecerobohan serta proyeksi musim depan yang belum ada kepastian.

Melihat perkembangan sepakbola modern yang makin dinamis dan kreatif, maka Liverpool harus berubah.

Pertama, bongkar pemain-pemain yang inkonsisten. Beli pemain yang bisa menjadi pelapis yang setara. Kita bisa melihat ketika Ox cedera, belum ada pemain yang sebanding.

Belum lagi permasalahan lini tengah dan belakang yang kadang tokcer tapi kadang masih suka bikin gelak tawa.

Maka dari itu, Ipul kudu beli pemain pelapis yang handal. Kalo perlu yang level top one player sekalian, jangan nanggung-nanggung.

Kedua, Liverpool harus berani untuk mengubah taktik permainan. Gegenpressing jilid 2 ternyata sudah kebaca. Harus ada jurus baru, racikan baru, taktik baru.

Tak ada rotan, akar pun jadi. 


Bahkan daun dan batang juga boleh. Lolosnya piala Liga Inggris dari genggaman nyatanya tidak dibarengi dengan berita gembira di palagan UCL.

Di kompetisi antar jagoan Eropa itu, The Reds dibikin malu anak-anak Catalan 3 gol tanpa bisa membalas.

Milner boleh marah, Klop boleh kecewa tapi tidak ada asap tanpa api. Semangat dan yakin itu harus namun realistis itu wajib.

The Reds harus bekerja 101% kemampuan mereka. Tidak ada yang tidak mungkin, tapi jadikan ini pelajaran di hari depan agar tak kecolongan begitu banyak gol di saat-saat krusial. Semifinal misalnya.

Apa kesimpulan yang bisa kita dapatkan. Entah nanti ada keajaiban atau tidak, Liverpool menunjukkan trend abadinya, sulit konsisten. Semoga tahun depan bisa jadi lebih baik.

YNWA!

Call For Action! 

Catatan Adi selalu berusaha memberikan artikel bermutu dan berkualitas bagi Anda secara gratis. Dukung terus blog kecil ini dengan cara share artikel kami ke media sosial atau whatssapp Anda agar makin banyak orang yang mengenal dan mendapat manfaat dari Catatan Adi. 



Setiap hari kami usahakan untuk selalu update 1 artikel. Daftarkan email Anda agar bisa berlangganan artikel dari kami langsung ke alamat email Anda. 



0 Response to "Liverpool dan Sindrom Next Year For Sure"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel