Resensi dan Refleksi Buku Things Fall Apart

Review Buku Things Fall Apart - Sebuah kisah memilukan dari seorang pria konservatif suku Ibo bernama Okonkwo. Ia adalah seorang ksatria kampung yang hebat lagi perkasa. Selain kekuatan fisik, kekayaan yang melimpah dan kepatuhannya pada nilai-nilai tradisi membuat dirinya menjadi sosok yang berwibawa dan disegani.

Apa yang membuat novel ini menarik? Seperti apa kengototan Okonkwo dalam mempertahankan nilai-nilai lama dan melawan laju perubahan jaman?

Things Fall Apart bercerita tentang perjuangan Okonkwo dalam mempertahankan sesuatu yang benar-benar ia hormati. Ini bukan hanya sekedar novel, melainkan jalinan yang indah antara amarah yang membara, kesedihan menyanyat hati, sukacita yang sederhana dan keteguhan yang tidak mengenal kata menyerah.

review novel things fall apart - catatan adi
Novel Things Fall Apart


Sinopsis Novel Things Fall Apart

Buku menarik ini dimulai dari pertarungan satu lawan satu antara si tokoh utama, Okonkwo melawan Amalinze yang punya julukan si kucing. Sebuah duel sarat makna karena terjadi di arena yang sah. Inilah tribun untuk melihat bagaimana lelaki dinilai : dari kekuatan fisiknya dan keterampilannya bergulat.

Praktis apa yang dikisahkan buku ini semua adalah seputar Okonkwo. Sebenarnya plot yang digunakan tidak bisa dikatakan progresif, melainkan melompat-lompat. Walau begitu ada narasi-narasi indah yang digunakan sehingga setiap episodenya terasa apik dinikmati tanpa perlu berpikir terlampau keras.

Okonkwo tumbuh dari seorang bocah miskin menjadi salah satu penguasa desa. Padahal bapakknya hanyalah pria tak berguna yang menghabiskan hidupnya dengan bermalas-malasan. Alih-alih warisan, ayahnya malah meninggalkan hutang dan rasa malu.

Berbeda dengan bapaknya, Okonkwo adalah seorang pekerja keras. Ia mengolah tanah untuk ditanami berbagai tanaman berharga, mulai dari sayuran hingga ubi rambat, yang nampaknya adalah raja diantara semua tanaman pangan.

Umuofia hanyalah sebuah desa tetapi dalam kisah ini terasa sangat luas seperti sebuah semesta tersendiri. Di dalamnya, Okonkwo dan para istrinya tinggal, bersama tahayul tentang dewa-dewi, hukum yang terlampau kejam dan peradaban yang berada di ujung tanduk.

Alam yang nampaknya tak terlalu bersahabat akhirnya membentuk pribadi Okonkwo dan semua yang ada disitu menjadi sekeras baja. Memukuli wanita dan anak-anak atas nama kepatuhan pada hukum adalah sebuah kewajaran, termasuk menyembelih seorang bocah sebagai pertanda perdamaian dua suku yang tadinya berperang.

Ikemefuna, bocah malang itu menjadi tumbal agar dua suku bisa hidup damai. Sebuah peraturan aneh yang biasa disebut kearifan lokal. Anak itu tinggal bersama Okonkwo dan semua istri serta anak-anaknya.

Tak dinyana kehadiran Ikemefuna memberikan arti tersendiri bagi keluarga Okonkwo, terutama Nwoye, salah satu anaknya. Ikemefuna sangat terampil dan pintar. Ia juga ceria dan pandai mendongeng.

Tapi akhirnya waktu itu tiba, Ikemefuna harus disembelih oleh para pria Umuofia. Tragis, ketika bocah itu lari ketakutan akibat terjangan parang, ia menjerit meminta pertolongan Okonkwo. Atas nama harga diri sebagai seorang kesatria, ia justru menghunus pedangnya dan mengakhiri itu semua. Ikemefuna mati di tangan seorang pria yang selama ini memeliharanya bak anaknya sendiri.

Tragedi tak berhenti sampai di situ. Okonkwo yang memang kasar dan brutal akhirnya kena karma. Ia tak sengaja membunuh seorang bocah berusia 16 tahun, seorang remaja putra dari seorang pembesar desa.

Sebagai hukuman, Okonkwo harus pergi dari desa dan mengalami pengasingan. Rumahnya dibakar dan dihancurkan warga, walau semua itu ditulis sebagai sebuah upaya memberikan keadilan bagi korban tanpa sedikitpun ada rasa benci.

Nwoye berada di persimpangan ketika menyadari bagaimana suku ayahnya terkadang memiliki serangkaian hukum tak masuk akal yang jelas-jelas kental dengan kebengisan.

Gayung bersambut, ketika ia galau dan mempertanyakan itu semua, Kekristenan akhirnya tiba di pintu depan Umuofia. Agama baru itu telah dipeluk banyak orang Afrika lainnya yang ingin sesuatu yang lebih manusia.

Nwoye melihat terang. Ia kini meninggalkan para Dewa ayahnya yang tidak masuk akal itu dan menyambut Kristus yang hadir melalui para kolonialis Eropa berbaju putih dan menaiki sepeda.

Seusai menjalani hukuman, Okonkwo berang sekaligus heran. Desanya kini telah berubah. Hukum adat harus meminta ijin pada peraturan dari kolonial. Wibawa leluhur semakin luntur dan para Dewata tersingkir digantikan oleh Tuhan baru bernama Yesus.

Amarahnya kian memuncak mengetahui Nwoye ada di barisan para murtad itu. Bersama dengan mereka yang selama ini teraniya oleh Dewa-Dewi orang Ibo, generasi muda Afrika tak ragu lagi memeluk sesuatu yang memberikan kesempatan untuk hidup dalam bayang-bayang perdamaian, bukan lagi parang dan perang.

Tindakan ceroboh Okonkwo yang brutal akhirnya menjadi antitesa dari semua kisah ini. Ia akan dikenang sebagai kesatria hebat yang sayangnya terlambat lahir.

Refleksi Novel Things Fall Apart

Lalu apa refleksi yang bisa kita ambil dari novel hebat Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart ini? Ada banyak sekali. Catatan Adi menilai, setidaknya ada 4 hal yang bisa kita pelajari : Barbarisme Bertopeng Kearifan Lokal, Kepatuhan Tolol Pada Peraturan Bodoh, Persinggungan Budaya Penuh Darah dan Kemenangan Kolonialisme

Budaya lokal yang dalam kasus ini adalah serangkaian peraturan dan nilai masyarakat Umuofia sebenarnya tak lebih dari perangkat hukum kuno yang barbar, tidak masuk akal, kejam, serta layak untuk direvisi.

Bagaimana mungkin untuk menghindari amarah Dewa, masyarakat diminta membuang anak-anak yang lahir dengan perhitungan konyol dan tanda tertentu ke hutan untuk kemudian mati secara mengerikan di sana. Ini hanyalah sedikit dari hukum bodoh nan kejam yang akan sangat berbahaya jika terus dilestarikan.

Kewajaran untuk beristri banyak dan memukili mereka semua di muka umum juga bukti bahwa mental masyarakat tersebut masih sangat terbelakang, dimana seseorang dianggap sudah sepantasnya dilahirkan untuk dianiaya.

Begitupula dengan peran sentral para dukun yang entah atas pemikiran apa, melakukan serangkaian tindakan nirfaedah serta berlindung di balik wibawa para Dewa.

Jelas apa yang terjadi di Umuofia selama ini merupakan barbarisme dan tidak ada nuansa arifnya. Persinggungan masyarakat yang akhirnya harus diselesaikan oleh para tetua desa dengan cara yang bertele-tele juga merupakan salah satu perwujudan keterbelakangan orang-orang di desa Okonkwo dalam menimbang suatu perkara.

Hal lain yang bisa kita dapatkan adalah bahaya dari kepatuhan total pada omongan orang. Okonkwo berkali-kali melakukan itu, mulai dari menyembelih anak angkatnya sendiri, hingga merelakan dirinya diasingkan.

Ini menjadi pelajaran bagi siapapun agar tetap menjaga diri supaya waras, yakni menggunakan otak yang sudah diberikan Tuhan kepada setiap manusia. Jangan sampai doktrin dan dalil ajaran apapun membuat kita mematikan logika dan akhirnya hanya menyulap manusia menjadi monster yang rela menghabisi nyawa orang lain karena perbedaan. Kepatuhan Okonkwo adalah sebuah tindakan maha bodoh dan seharusnya berhenti dalam bentuk novel saja.

Akan sangat berbahaya jika suatu kelompok diisi dengan orang-orang yang sudah dibodohi seperti itu lalu membunuh nuraninya sendiri. Jelas semua ini bersumber dari keinginan untuk dipuja. Okonkwo ingin dianggap paling sholeh dalam menjalankan agama Umuofia. Ia juga ingin tampil hebat dan perkasa. Walau untuk mendapatkan itu semua ia mengubah dirinya menjadi monster yang sangat keji.

Dari novel Things Fall Apart ini juga bisa kita dapatkan hal menarik lainnya seperti bagaimana tergagap-gagapnya orang-orang lokal Umuofia dan Ibo yang selama ini dianggap perkasa dan kuat. Mereka sontak tak mampu berbuat banyak ketika berhadapan dengan tentara Inggris dan senapannya.

Apa yang terjadi? Persinggungan budaya antara Ibo dan Barat akhirnya terlihat seperti sebuah pertarungan yang sudah pasti memakan korban.

Terakhir, jelas sekali isu kolonialisme sangat berperan di akhir cerita. Semua wiracerita dari Okonkwo dan para kesatria Umuofia tidak berguna dan hanyalah menjadi dongeng saja ketika para imperialis datang membawa agama dan cara hidup baru yang bersumber dari Eropa.

Para dewa kuno Okonkwo dan leluhurnya harus memberi jalan bagi jaman baru yang lebih manusiawi, tanpa menyembelih anak tak bersalah dengan kejam. Walau sebenarnya kolonialisme juga sama kejamnya dengan budaya yang mereka gusur.


Data Buku

Judul : Things Fall Apart

Penulis : Chinua Achebe

Tahun : 1958

Tebal : 274 Halaman

Penerjemah : Cahya Wiratama

Penerbit : Hikmah / Mizan


Kesimpulan

Secara umum dari review buku Catatan Adi kali ini, novel All Things Fall Apart memang Must Read / Wajib Baca. Novel ini bisa menjadi rekomendasi untuk siapapun yang ingin belajar lebih jauh tentang Afrika. Ada banyak budaya dan tradisi yang menarik di sini, seperti menggigit biji kola, meminum tuak palem, dll.

Chinua Achebe selain menceritakan tradisi unik Afrika juga mampu mengaduk-aduk emosi para pembaca dan membiarkan mereka memilih antara berdiri bersama Okonkwo yang kolot atau mendukung Nwoye yang bosan pada tradisi yang sarat dengan kekejaman tetapi memihak bangsa asing.

Penceritaan setiap karakter juga sangat apik. Alih-alih sibuk menjelaskan detail fisik dari masing-masing tokoh (seperti novel kebanyakan), Achebe memakai narasi dengan plot yang melompat-lompat.

Tepuk tangan juga harus diberikan pada Cahya Wiratama sang penerjemah hingga diksi dan narasi yang dihadirkan tetap memukau walau sudah dalam bentuk Bahasa Indonesia.

Dengan semua uraian ini maka Catatan Adi memberikan skor ★★★★ (Must Read!)

0 Response to "Resensi dan Refleksi Buku Things Fall Apart"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Populer

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel