Tokoh dan Sejarah - Hugo Chavez adalah mantan Presiden Venezuela yang dengan berani menantang hegemoni Amerika Serikat. Semasa hidup dia dipuja rakyatnya dan disegani musuh. Kebijakan Revolusi Bolivarian telah mengantarkan negaranya menuju sebuah jalan baru, yakni sosialisme.

Biografi Hugo Chavez 

Presiden Hugo Chavez dari Venezuela
Presiden Hugo Chavez dari Venezuela

Sejak kecil Hugo Chavez sangat mengagumi para patriot Amerika Latin, khususnya Simon Bolivar. Legenda hidup yang berhasil membebaskan Venezuela dari jajahan Spanyol itu sangat menginspirasinya.

Lahir dan tumbuh di daerah pedesaan, Hugo memiliki minat yang luar biasa pada sejarah, sains dan olahraga. Dia juga cerdas dan pemberani. Alhasil bakatnya membawanya masuk dunia militer dari kesatuan Angkatan Darat Venezuela.

Semasa berdinas, dia mengalami banyak sekali momen yang tidak diduga. Salah satunya adalah penugasan untuk memadamkan pemberontakan berbau kiri yang dilancarkan organisasi bernama Partai Bendera Merah yang menganut ideologi Marxis.

Ia kecewa melihat bagaimana tentara menyiksa dan menganiaya para pemberontak itu. Suatu kali, di sebuah rongsokan, ia menemukan banyak literatur Marxis yang mungkin sekali milik para anggota Partai Bendera Merah. Alih-alih melaporkan ke kesatuannya, ia justru menyimpan dan mempelajarinya.

Muak atas korupsi dan kesewenang-wenangan pemerintah, ia diam-diam mendirikan sebuah gerakan bernama MBR atau Gerakan Revolusi Bolivarian yang terdiri dari para tentara. Bolivarian adalah sebuah formula hasil pemikiran Chavez yang menggabungkan komunisme, sosialisme, demokrasi, dan bahkan liberalisme.

Beberapa waktu kemudian, ia ditugaskan sebagai pengajar di akademi militer. Di sana ia mendoktrin para calon perwira untuk menjadi seorang sosialis yang kritis dan berjiwa patriot. Dia bahkan berhasil menambah banyak pengikut.

Para senior di kesatuan Angkatan Darat mulai mencurigainya. Akhirnya dirinya dimutasi ke sebuah wilayah pedalaman yang dihuni suku asli Indian. Di sana, Hugo Chavez melihat sendiri bagaimana ketimpangan sosial dan keterbelakangan rakyatnya.

Pada tanggal 4 Februari 1992, ia bersama para tentara dari Gerakan Revolusi Bolivarian melakukan kudeta terhadap Presiden Carlos Andres Perez. Kudeta itu gagal total dan Chavez ditahan. Walau tidak berhasil tetapi peristiwa tersebut berhasil melambungkan nama Hugo di kalangan rakyat miskin Venezuela.

Pada tahun 1994, Presiden baru Venezuela, Rafael Caldera membebaskan Chavez. Walau begitu, hal tersebut dianggap sebagai langkah populis sementara karena pemerintahannya dan Partai Konvergensi Venezuela tetap terikat dengan IMF dan Amerika Serikat.

Setelah bebas, Chavez berkeliling Amerika Latin untuk mencari dukungan bagi misi barunya, sebuah revolusi sosialis bernama Bolvarianisme. Ia diterima para pemimpin kiri lainnya, seperti Fidel Castro dari Kuba.

Pada pemilihan umum 1998, ia mendirikan MVR atau Gerakan Revolusi Kelima, sebuah partai beraliran sosialis. Ia sadar butuh dukungan dari kelompok politik lain.

Lawannya bukan main-main, yakni Irene Saez dan Salas Romer. Hugo Chavez akhirnya membentuk koalisi Pilar Patriotik yang terdiri dari gabungan MVR, Partai Patria Para Todos, Partai Komunis dan Gerakan Menuju Sosialisme.

Chavez menang cukup telak dari lawan-lawannya. Iapun didapuk menjadi Presiden Venezuela selanjutnya. Tak butuh waktu, lama Revolusi Bolivarian akhirnya dijalankan.

Chavismo berkembang luas dan revolusi Bolivarian mendapat dukungan penuh rakyat. Ini tak lain karena Hugo berhasil memberantas korupsi, mengirim para tentara yang gemar suap ke penjara, melindungi hak petani serta melambungkan nama Venezuela di kancah politik internasional.

Revolusi Bolivarian semakin menjadi-jadi tatkala sebuah fenomena hadir di Amerika Latin. Di berbagai negara, partai komunis dan sosialis menang pemilu. Maka kini bukan hanya Venezuela dan Kuba, tetapi juga Paraguay, Nikaragua, Uruguay, Brazil, Argentina, Chili, dan Bolivia yang memilih sistem ekonomi kiri dan menantang kapitalisme.

MVR semakin kuat. Hugo yang makin mematangkan ideologi Bolivarianisme akhirnya mengubah organisasi itu menjadi PSUV atau Partai Persatuan Sosialis Venezuela.

Walau begitu, perjalanan pemerintahan Bolivarian tidak selamanya mulus. Ada dua peristiwa yang menandai tantangan besar bagi Venezuela dan Hugo Chavez. Pertama adalah kudeta para jenderal Angkatan Darat. Kedua, protes rakyat yang melahirkan referendum nasional.

Awal April 2002, terjadi pergerakan militer di bawah para Jenderal yang diduga mendapat pengaruh Amerika Serikat. Puncaknya, pada pagi har tanggal 12, mereka masuk ke istana Miraflores dan memaksa Presiden Hugo Chavez mengundurkan diri.

Chavez lalu ditahan di sebuah pulau terpencil dengan penjagaan ketat. Sedang para jenderal mengangkat Pedro Carmona sebagai presiden sementara.

Namun Jaksa Agung menolak pengunduran diri Chavez dan menyatakan Carmona sebagai presiden ilegal. Ternyata para tentara berpangkat menengah dan rendah masih loyal pada Hugo. Mereka melancarkan gerakan kontra kudeta. Peristiwa ini juga memantik kemarahan rakyat Venezuela dan para simpatisan PSUV.

Bentrokan tidak bisa dihindari. Hanya kurang dari 48 jam, para jenderal menyadari rakyat tidak menyukai mereka. Chavez dikembalikan ke ibukota dan menduduki jabatannya lagi. Kudeta itu gagal.

Pada Agustus 2004, Hugo terpaksa menggelar referendum di tengah demonstrasi massal dan berkepanjangan yang dicurigai disokong para kapitalis Amerika Serikat dan partai-partai anti-Chavizmo. Namun sekali lagi, rakyat tetap loyal dan mendukung Chavez.

5 Maret 2013, Hugo Chavez wafat. Kematiannya ditangisi puluhan juta rakyat Venezuela dan Amerika Latin. Nicholas Maduro, wapres Venezuela saat itu langsung mengambil alih pemerintahan. Ia sendiri adalah seorang anggota PSUV dan loyalis Bolivarian.

Sepeninggalan Chavez, gerakan anti-sosialis merebak. Pemberontakan dan demonstrasi yang menuntut Maduro mundur makin menjadi-jadi. Ekonomi Venezuela yang bersandar penuh pada minyak goyang.

Harga-harga melambung tinggi. Mata uang nasional jatuh ke level yang memprihatinkan. Kini negeri sosialis Venezuela menjadi salah satu negara gagal.

Buah Pemikiran Hugo Chavez : Sosialisme Ala Venezuela 

Jika Sukarno merumuskan Marhaenisme, maka Hugo Chavez berhasil melahirkan ideologi baru yang sangat fenomenal yakni Bolivarianisme.

Tidak melulu berbicara mengenai filsafat dan politik, Bolivarianisme juga menyinggung masalah ekonomi, budaya dan militer. Beberapa poin dari buah pemikiran Hugo Chavez adalah :

  • Komunalisme, yakni pembentukan dewan-dewan lokal yang berfungsi sebagai pusat aktivititas dan kerja bagi masyarakat. Ia ingin mengenyahkan individualisme dan kapitalisme di tataran komunitas. 
  • Menolak kapitalisme global dan neo-liberalisme dengan cara menegakan koperasi dan sistem ekonomi sosialis.
  • Menggalang kekuatan antar kekuatan sosialis dan komunis di kawasan Amerika Latin.
  • Memajukan pembangunan nasional dari pemanfaatan minyak dan sumber daya alam.
  • Merangkul kembali suku pribumi yang selama ini ditelantarkan pemerintah.
Itulah sedikit kisah mengenai perjuangan Hugo Chavez. Apakah Anda juga memfavoritkan beliau? Silahkan tulis di kolom komentar, termasuk mengenai kegagalan Venezuela dalam meneruskan Revolusi Bolivarian.