Sosial dan Budaya - Pertengahan Februari 2020, akhirnya Virus Corona masuk Indonesia, menimbulkan guncangan yang cukup memilukan bagi segenap elemen bangsa. Setelah sebelumnya kita bercanda menertawakan betapa perkasanya Bangsa Indonesia dengan segala kelucuannya, namun tetap saja negeri ini menjadi sasaran berikutnya dari COVID-19.

Hal ini tak pelak langsung memaksa pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan. Mulai dari meliburkan sekolah dan pegawai negeri hingga menetapkan social distancing dan physical distancing.

wabah covid-19
Laksanakan Sila Ke-3 Pancasila!

Jika Anda membaca artikel ini sambil mengeluh karena pembatasan ruang gerak, entah itu gagal nonton bareng rekan kantor incaran atau harus menunda liburan bareng atasan ke luar negeri, maka semoga keluh kesah tersebut bisa sedikit luntur.

29 Maret 2020, jumlah korban meninggal karena virus COVID-19 mencapai lebih dari 100 orang. Sedang daftar mereka yang ODP maupun PDP semakin panjang. Tetapi sadarkah anda, saudara kita sebangsa dan setanah air nasibnya sedang berada di ujung tanduk?

Sore ini saya bertemu dengan seorang penjual pentol keliling. Sejak pagi, sayalah pembeli pertama. Liburnya sekolah dan sepinya masyarakat yang berlalu-lalang membuat dagangannya lebih sepi dari kuburan Cina.

Saya yakin bapak ini sudah mengayuh sepedanya dengan cukup keras. Mungkin sambil memaki. Mungkin sambil berdoa. Tetapi semua itu belum cukup untuk mendatangkan rupiah ke kantongnya. Lalu dikemanakan pentol-pentol itu nantinya? Lebih menohok lagi, bagaimana ia bertatap muka dengan istrinya?

Jika boleh memilih, para penjual cilor, kernet angkot maupun penjaja stan akan sukarela bekerja dua kali lipat lebih keras, asal ada kepastian penghasilan. Tetapi tidak. Jikalau mereka berevolusi menjadi kaum rebahan, itu perkara yang mudah. Tahapan yang ditempuh tidak sulit. Tetapi siapa yang akan menyumpal mulut anak-anak mereka dengan nasi?

Aku teringat ketika kemaren siang terpaksa menelusuri wilayah utara yang memang menjadi teritori para sopir truk. Sebuah tulisan dari kertas karton terpampang nyata di belakang box sebuah truk. Menamparku yang ketakutan diam di rumah karena Corona. Tulisannya singkat. "Mbelani Corona Bakal Ora Mangan, Bos". Tidak tahu artinya? Tanya pada tetangga atau saudara Anda yang paham. Intinya ada yang takut mati karena Corona, ada yang sedang berjuang supaya tidak mati kelaparan.

Aku tahu mungkin ada beberapa dari Anda yang menganggap ini penderitaan. Atau mungkin kesempatan untuk mempraktikkan skill berdagang dan membaca peluang. Tetapi selama Anda masih digaji oleh perusahaan apalagi negara, rasa-rasanya bersyukur adalah hal yang paling utama. Para bakul pentol dan abang ojol tidak mendapatkan hal itu. Social Distancing berkumandang, angan mereka untuk mendapatkan keuntungan juga langsung melayang. Kepala pusing bukan kepalang. Badan tiba-tiba bertambah meriang.

Wabah Flu Wuhan memang melanda berbagai negara, mulai dari pemukiman mewah di Bergamo, hingga gang-gang padat penduduk di India. Semua pemerintah berjuang dan menghadapi dilema meski dengan level yang berbeda. Ada yang mantap mengerahkan aparat untuk menegakkan lockdown, ada yang harus berpikir 3 milyar 21 kali karena kondisi ekonomi, sosial, budaya dan religi masyarakatnya. Kabar terakhir, pemerintah negeri Komunis Cina berhasil menghentikan penyebaran penyakit ini dengan cukup efektif. Namun setiap orang membawa takdirnya masing-masing. 

Bagi yang biasa bekerja di kantor, dianjurkan bekerja dari rumah. Mengubah work from office menjadi work from home. Namun bagaimana dengan mereka yang bekerja di pabrik. bengkel, pantai, pasar dan jalanan? Apakah bisa memotong plat dari rumah? Menangkap ikan dari rumah? Menjalankan mesin dari rumah?

Mungkin mudah bagi kita mengucapkan kalimat #dirumahsaja tetapi bagi sebagian besar kaum proletar tentu ini hal berat. Terlebih pedagang dan pekerja informal dengan pendapatan harian.

Apapun frasanya, entah itu lockdown atau karantina wilayah, pokoknya pendapatan mereka berkurang. Mungkin susah bagi Anda yang tetap digaji hingga hari ini untuk mencerna kalimat saya. Tetapi bagi para ojol dan penjual pentol, inilah kenyataan. Mati disikat corona atau mampus karena tak kuat melihat anak istri kelaparan.

Inilah saatnya untuk lebih mempedulikan kesehatan sekaligus menunjukkan solidaritas kita. Mengaplikasikan sila ketiga, Persatuan Indonesia dalam hal yang paling nyata. Kita bersatu merasaka pedihnya mereka, sekaligus meringankan beban tersebut.

Aku yakin #dirumahsaja pasti sukses jika semua orang digaji, bukan hanya yang WFH. Karena pada dasarnya semua orang juga butuh uang. Namun sekaya apa negara kita? Pantaskah hanya menuntut pemerintah saja? Tidak. Bekerja keraslah, jangan terlalu tergantung pada negara. Saling tolong-menolonglah dalam kemanusiaan dengan menyisihkan sebagian rejeki kita. Setidaknya mereka tahu merekat tidak sendirian. Mereka masih dimanusiakan.