Apakah Proletar Adalah Marhaen?

Catatan Adi - Kami menutup Seri Artikel : Catatan Marhenis dengan artikel mengenai "Apakah kaum Proletar adalah bagian dari Marhaen? Ini adalah artikel ke empat belas dan semoga bermanfaat bagi Anda.


catatan adi / catatan marhaenis

Jelas sekali bahwasannya intinya Marhaen adalah Rakyat miskin, atau lebih tepatnya dimiskinkan. 

Salah satu hal yang paling ditekankan dalam kursus-kursus Marhaenis (yang makin langka tersebut) adalah perbedaan antara Marhaen dan Proletar.

Dalam kursus tersebut, Marhaen adalah rakyat yang miskin namun masih memiliki alat produksi, semisal petani yang memiliki cangkul, abang becak yang memiliki becak atau tukang gerobak yang memiliki gerobak.

Lalu Proletar adalah kaum buruh yang tertindas yang tidak memiliki alat produksi apapun. Mereka sepenuhnya tergantung pada kebijakan orang lain, dalam hal ini bos mereka.

Hal ini tidak salah karena pada kenyataannya Bung Karno juga pernah mengungkapkannya. Namun satu hal yang dilupakan adalah Marhaenisme itu dinamis. Sebagai sebuah ideologi, ia tidak stagnan, namun awas pada perubahan jaman.

Lihat saja penjelasan Bung Karno bahwasannya Marhaen terdiri dari tiga unsur, yakni unsur kaum proletar yang miskin, kaum tani yang melarat dan kaum melarat lain-lain.

Jelas sekali bahwasannya intinya Marhaen adalah Rakyat miskin, atau lebih tepatnya dimiskinkan.
Jika melulu mempertentangkan istilah Marhaen dan Proletar, maka perlu rasanya untuk menggali kembali serta mengikuti perkembangan ideologi Marheanisme dari masa ke masa.

Kenapa Bung Karno menggunakan istilah Marhaen? Setidaknya ada beberapa tafsir berikut:

  1. Karena pada waktu itu (1920-1950) kelas buruh belum begitu banyak dan kesadarannya juga belum terlalu kuat. Justru masyarakat Indonesia paling banyak didominasi petani, khususnya petani merdeka (bukan buruh tani). Hal ini sesuai dengan profesi Akang Marhaen asal Jawa Barat yang diceritakan sebagai petani. Jadi Marhaen adalah petani.
  2. Kenapa bukan Proletar? Karena istilah Proletar seolah-olah sudah jadi ‘jualannya’ kaum komunis, khususnya PKI. Bung Karno ingin menggali lebih dalam lagi sebuah hal yang memang berasal dari bumi Nusantara waktu itu. Maka muncullah Akang Marhaen si petani miskin. 
  3. Bung Karno ingin merangkul semua golongan, termasuk golongan nasionalis-abangan-islam yang tidak terlalu suka dengan PKI dan Proletarnya. Dengan menggunakan istilah Marhaen, diharapkan mampu diterima (lebih) banyak pihak dibanding menggunakan istilah Proletar.
  4. Bung Karno menyadari bahwasannya salah satu musuh terbesar yang masih jaya waktu itu adalah Feodalisme. Dan Feodalisme ini harus dihancurkan dengan cara menyadarkan mereka yang ditumbalkan demi langgenggnya ideologi tersebut. Hal ini tak lain merujuk pada warga Marhaen alias petani. 

Masalahnya kemudian, Bung Karno juga menjelaskan bahwa Marhaen mencakup : Petani miskin, Kaum Proletar dan Rakyat Miskin Lain-lain.

Bahkan jika perlu, Marhaen juga mencakup kaum proletar dan kaum miskin lainnya. Ini adalah karakter sosio-nasionalis dari Marhenisme, yakni berdiri di atas semua golongan. Tidak hanya Marhaen, namun juga Proletar dan Borjuis kecil.

Marhaen Masa Kini

Jika hanya berpatokan pada pengertian Marhaen haruslah memiliki alat produksi sendiri, maka proletar dan lumpen-proletar tak akan bisa masuk. Lalu, apakah Bung Karno bermaksud merevisi ideologinya sendiri?

Justru jika Marhaenisme hanya berpijakan pada uapaya pembebasan kaum tani yang memiliki sawah sendiri, maka dipastikan organ Marhaenis akan berkonfrontasi dengan golongan-golongan miskin lain yang tidak memiliki apapun alias benar-benar jelata. Maka satu-satunya cara adalah istilah
Marhaen harus diperluas.

Bahkan jika perlu, Marhaen juga mencakup kaum proletar dan kaum miskin lainnya. Ini adalah karakter sosio-nasionalis dari Marhenisme, yakni berdiri di atas semua golongan. Tidak hanya Marhaen, namun juga Proletar dan Borjuis kecil.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Sekali lagi, Marhaenisme harus berkembang!

Bahkan bukan hanya proletar yang tidak memiliki apapun, Marhaen masa kini juga adalah mereka yang dimiskinkan secara terstruktur!

Maka definisi Marhaen masa kini haruslah menjadi : setiap orang yang tertindas oleh sistem neo-kolonialisme, neo-imperialisme, dan kapitalisme yang mana akhirnya mereka dijauhkan dari kesejahteraan yang seharusnya mereka dapatkan.

Dan kesejahteraan ini bukan hanya tentang makan tiga kali sehari, namun menikmati hidup yang berkualitas sesuai dengan kerja keras mereka.

Justru yang perlu benar-benar dilakukan adalah penggalangan kekuatan sesama kaum progresif untuk menjebol kemudian membangun suatu sistem yang adil dan merata demi kemakmuran bersama. Suatu sistem tanpa penghisapan manusia atas manusia.

Lalu siapa saja kaum Marhaen masa kini? Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan dan juga mereka yang teralienasi / terasing dari kesempatan untuk belajar, bekerja, dan menikmati hidup berkualitas. Mereka yang menjadi korban penghisapan oleh sistem kapitalisme.

Memecah Kekuatan Marhaen

Jika kaum Marhaenis terus menerus memperdebatkan perihal perbedaan Marhaen dan Proletar maka yang terjadi sebenarnya adalah sebuah tindakan pelemahan.

Padahal intisari kekuataan Marhaen terletak pada besarnya massa aksi yang bisa mereka lakukan. Sedang dengan mempertentangkan terus menerus Marhaen dan Proletar akan mempreteli kekuatan ini.

Justru yang perlu benar-benar dilakukan adalah penggalangan kekuatan sesama kaum progresif untuk menjebol kemudian membangun suatu sistem yang adil dan merata demi kemakmuran bersama. Suatu sistem tanpa penghisapan manusia atas manusia.

0 Response to "Apakah Proletar Adalah Marhaen?"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Baca Juga

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel