Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hutan, Masa Depan Umat Manusia

Hutan, Masa Depan Umat Manusia - Sudah sejak lama manusia menyadari pentingnya peran hutan bagi kehidupan. Hutan, dengan ribuan pohon-pohon rindangnya yang terkadang berusia ratusan tahun, adalah sumber penghasil oksigen bagi dunia.

Oksigen inilah yang menjadi salah satu syarat utama bagi eksistensi kehidupan berbagai makhluk lainnya. Untuk perannya sebagai produsen oksigen tersebut, hutan pun mendapat gelar sebagai paru-paru dunia.

Selain itu hutan juga adalah penyimpan cadangan air tanah terbesar di dunia. Dari hutan, sering memancar mata air nan menyegarkan yang akhirnya menjelma menjadi sungai-sungai jernih yang bermuara ke lautan luas.

Hutan menyerap dan menyimpan air hujan melalui tanah dan juga tanaman-tanaman yang ada dalam dirinya. Itulah mengapa ketika hutan digunduli, pohon-pohonnya ditebang secara sewenang-wenang, maka bencana seperti banjir dan tanah longsor pun mengintai.

Manfaat hutan bagi manusia - catatanadi.com
Hutan Sangat Penting Bagi Kehidupan


Hutan juga adalah rumah bagi jutaan makhluk hidup. Mulai dari hewan-hewan bertubuh raksasa seperti gorilla, gajah hingga jamur dan berbagai macam amuba yang tak kasat mata.

Ada yang mengatakan, tingkat keanekaragaman makhluk hidup di hutan adalah yang paling tinggi dan bervariasi dari pada tempat lainnya di seluruh muka bumi.

Kehidupan yang berlangsung dalam hutan menciptakan berbagai jenis hubungan yang cukup rumit antara berbagai makhluk hidup warga hutan tersebut. Dalam istilah ekologi, hubungan tersebut dinamakan simbiosis. 

Simbiosis sendiri berasal dari dua buah kata dari bahasa latin, yakni syim dan biosis. Syim dapat diartikan sebagai ‘dengan’, sedang biosis dapat bermakna sebagai kehidupan. Sehingga secara harfiah simbiosis dapat diartikan sebagai hubungan atau pola interaksi yang cukup erat antara makhluk hidup yang berbeda spesies dalam suatu waktu tertentu. Sedang makhluk hidup yang melakukan simbiosis disebut sebagi simbion.

Ada berbagai macam simbiosis. Yang pertama adalah simbiosis mutualisme, yakni suatu jenis simbiosis di mana masing-masing simbion mendapatkan keuntungan.

Sebagai contoh yang paling sederhana adalah hubungan antara kerbau dan burung jalak. Sang burung jalak hinggap di punggung kerbau tersebut, untuk mencari dan mendapatkan kutu yang tak lain adalah makanan favoritnya.

Sedang kerbau merasa senang juga dengan kehadiran sang jalak, karena ia dapat terbebas dari rasa gatal akibat kutu-kutu tersebut.

Yang kedua adalah simbiosis komensalisme, yakni hubungan antara dua makhluk hidup, di mana yang satu mendapat keuntungan, sedang yang lain pun tidak dirugikan. Contohnya adalah anggrek dengan pohon jati.

Si anggrek menjalari pohon jati yang kokoh dan kuat agar mendapat sinar matahari, sedang pohon jati pun tidak keberatan, karena keberadaan anggrek tidak mengganggu kehidupannya.

Sedang yang ketiga adalah simbiosis parasitisme, yakni hubungan antara dua makhluk hidup di mana yang satu mendapat keuntungan, sedang yang lain mendapat kerugian. Contoh yang paling jelas dan tragis adalah hubungan antara harimau dan manusia. Manusia mendapat keuntungan dari kulit dan tulang harimau, sedang harimau harus berakhir hidupnya. Selain dengan harimau, ternyata manusia juga menjalin simbiosis parasitisme dengan banyak warga hutan lainnya, seperti gajah, monyet, pohon mahoni, dan lainnya.

Sebagai makhluk yang mengaku paling jenius, ternyata manusia lebih sering menjadi ancaman bagi makhluk lainnya, dari pada sebagai pelindung.

Ambil contoh kasus harimau tadi. Keberadaan manusia yang melakukan perambahan ke hutan-hutan ternyata juga berbanding lurus dengan berkurangnya jumlah populasi harimau. Hal yang sama juga berlaku bagi gajah, rusa dan berbagai hewan malang lainnya.

Padahal dengan mati atau punahnya salah satu spesies, juga berdampak pada keberlangsungan hidup spesies lainnya. Rusa yang ditembaki dan diburu secara membabi buta, menyebabkan populasi harimau dan singa menjadi turut berkurang, kerena makanan utamanya lenyap. Selain itu manusia juga secara kejam melakukan perburuan pada gajah demi gading, badak demi cula 
dan cendrawasih demi bulunya.

Begitu pula jika manusia terus menebangi pohon dan menggunduli hutan, maka tidak hanya burung, melainkan juga serangga, monyet dan tupai yang bergantung dari pohon-pohon tersebut akan terancam pula keberlangsungan hidupnya.

Apakah hutan harus dibuat angker seperti hutan Aokigahara di Jepang agar tetap terjaga dari para pembalak liar?

Baca juga 11 pembawa berita Indonesia yang memiliki wajah cantik rupawan. Nomor 1 dan 3 bikin hati bergejolak.

Kerusakan Hutan Karena Alasan Ekonomi

hutan hujan tropis - catatanadi.com
Banyak flora dan fauna hidup di hutan

Ada banyak alasan mengapa hutan harus ditebang. Yang paling sering adalah karena faktor ekonomi. Sempitnya lapangan pekerjaan membuat beberapa orang merasa ‘dibenarkan’ untuk merampok dan membalak pohon-pohon di hutan. Pohon-pohon tersebut nantinya akan dijadikan bahan baku berbagai produk, seperti kertas, bahan bangunan, dan lain-lain.

 Padahal, kerugian yang dapat timbul dari penggundulan dan pembalakan ini juga tidak kecil. Selain banjir, tanah di hutan akan menjadi tandus, sehingga tunas-tunas baru pun tidak bisa tumbuh seperti sebelumnya. Akibatnya pun fatal, jumlah pohon berkurang dan hutan pun terancam hilang.

Selain karena penebangan pohon untuk dijadikan berbagai bahan baku industri hutan juga terancam dengan keberadaan pabrik-pabrik tambang raksasa, yang mengaduk-aduk kandungan tanah di hutan untuk mencari emas, batu-bara dan barang tambang lainnya.

Memang jika dilihat secara singkat, pertambangan dapat meningkatkan pendapatan negara, tapi di kemudian hari ini akan meninggalkan masalah yang cukup serius yang akan ditanggung oleh anak cucu kita kelak.

Baca juga petualangan Che Guevarra, pahlawan dari Amerika Latin yang dibunuh oleh CIA karena menentang imperialisme.

Belum lagi masalah kebakaran hutan. Masyarakat yang tidak mau ambil pusing, lebih suka membakar hutan yang akan lahannya kemudian akan mereka gunakan untuk pertanian ataupun perkebunan. Bahkan ditengarai, konglomerat pemilik pabrik-pabrik perkebunan besar juga melakukan cara ini untuk memangkas biaya produksi.

Padahal terbakarnya hutan, yang sering merembet ke pemukiman warga akan menimbulkan berbagai kerugian. Udara akan tercemar karena asap, sehingga pernfasan pun menjadi terganggu. Tak jarang jadwal penerbangan pesawat pun menjadi kacau. Belum lagi berbagai satwa yang tewas karena tak mampu menyelamatkan diri.

Cara Melindungi Hutan

foto wanita cantik dari dayak - catatanadi.com
Foto wanita dayak

Tindakan-tindakan ceroboh yang berakibat fatal tersebut, sebenarnya tidak harus terjadi, jika masyarakat memiliki sense of belonging atau rasa memiliki atas hutan. Jika menganggap hutan hanya sekadar sebagai komoditas yang dapat dikeruk hasilnya, maka hutan pun akan terus-menerus dirusak tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Tapi jika menganggap hutan sebagai bagian dari kehidupan bersama, maka hutan pun akan tetap lestari.

Masyarakat Dayak Meratus adalah salah satu masyarakat yang mampu menyatu dengan hutannya. Orang Dayak Meratus sendiri adalah salah satu sub-suku Dayak yang sebagian tinggal di sekitar hutan di gunung Meratus, Provinsi Kalimantan Selatan.

Bagi masyarakat Dayak Meratus, hutan sangat berperan penting dalam kehidupan mereka. Bahkan lebih dari itu, hutan juga adalah salah satu sumber kehidupan yang paling berharga. Untuk itulah mereka senantiasa menjaga dan melestarikan keberadaan hutan.

Baca juga artikel Mengapa Orang Miskin Tetap Miskin walau sudah bekerja dengan keras setiap hari. 

Kecintaan orang Dayak Meratus pada hutan dapat dilihat dari berbagai tindakan yang mereka lakukan, seperti yang terjadi pada orang Dayak Meratus yang tinggal di desa Lahung, Kecamatan Loksado, Kalimantan Selatan. Masyarakat di sana membagi hutan menjadi dua jenis, yakni hutan budidaya dan hutan lindung.

Hutan budidaya adalah jenis hutan produksi yang boleh dimanfaatkan oleh warga untuk kepentingan ekonomi. Sedangkan hutan lindung dibagi lagi menjadi dua jenis. Jenis yang pertama boleh dimanfaatkan kayunya, tapi hanya untuk kepentingan pribadi dan tidak boleh dijual.

Sedang untuk jenis yang kedua adalah hutan lindung yang sama sekali tidak boleh dijamah. Hukum ini ditetapkan secara adat kepada semua masyarakat dan tetap berlaku serta dipatuhi hingga saat ini.

Itulah mengapa desa Lahung dan hutan di sana tetap lestari. Sungai-sungai di desa tersebut selalu jernih dan tak pernah kering. Desa kecil tersebut juga memiliki sebuah pembangkit listrik microhydra, yang turbinnya digerakkan oleh aliran sungai.

Listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tersebut digunakan untuk penerangan dan aktivitas lainnya bagi semua warga desa.

Kearifan lokal masyarakat yang masih menghormati hutan juga ditunjukkan oleh masyarakat di desa Bentek, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Mereka memiliki aturan adat yang membuat desa dan hutan mereka tetap lestari.

Dalam aturan adat tersebut, siapapun dilarang menebang pohon di hutan. Barangsiapa yang ketahuan melanggar akan langsung didenda. Dendanya pun tidak main-main, yakni harus menyembelih kerbau. Jumlah dan ukuran kerbau pun disesuaikan dengan pohon yang ditebang. Makin banyak atau besar pohon, makin banyak dan besar pula kerbau yang harus disembelih.

Masyarakat desa Bentek memang telah lama menghayati manfaat hutan bagi kelangsungan hidup mereka. Hutan lah yang selama ini memberikan pasokan air bersih kepada warga sekitar. Dengan air bersih itu, warga dapat menggunakannya untuk berkebun dan aktivitas sehari-hari.

Tapi sayangnya, di berbagai tempat lain, hutan terus digunduli dan di rampok. Investor dan pengusaha asing merayu warga sekitar dengan berbagai fasilitas, seperti memberikan lapangan pekerjaan, membangun rumah sakit, menyalurkan listrik bahkan membagikan beasiswa. Rayuan-rayuan yang manis itu sejatinya menutupi segala niat jahat yang bersumber pada satu hal : Keuntungan. 

Setelah keuntungan diraih, maka hutan pun akan ditinggal begitu saja. Maka nantinya masyarakat hanya akan mewarisi lahan kosong yang tandus, tanpa pohon, air dan kicau burung nan merdu.

Hutan adalah anugerah, tapi bukan berarti kita berhak sewenang-wenang merompak dan menebangi hutan sekehendak hati kita. Hutan adalah titipan Tuhan, yang harus kita menjaga hutan dan lestarikan bagi anak cucu kita kelak. Karena dalam hutanlah, masa depan umat manusia tersimpan. Salam lestari.
Adi
Adi Saya adalah seorang bloger yang sudah mulai mengelola blog sejak 2010. Sebagai seorang rider, saya tertarik dengan dunia otomotif, selain juga keuangan, investasi dan start-up. Selain itu saya juga pernah menulis untuk media, khususnya topik lifestyle, esai lepas, current issue dan lainnya. Blog ini terbuka untuk content placement, sewa banner atau kerja sama lain yang saling menguntungkan.

Posting Komentar untuk "Hutan, Masa Depan Umat Manusia"