Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Thor: Love and Thunder, Mengecewakan dan Penuh Kontroversi?

Hai-hai, saatnya kita ngobrolin film lagi. Kali ini saya akan membahas tentang salah satu film andalan Marvel berjudul, Thor: Love and Thunder.

Sebenarnya agak telat menulis review film Thor: Love and Thunder ini, tetapi seperti kata pepatah, lebih baik sedikit terlambat daripada tidak sama sekali. Apalagi kali ini saya akan ajak Anda muter-muter membahas banyak sisi dari film ini.

Cerita Thor: Love and Thunder

Saya rasa tidak perlu membuang waktu terlalu lama menguliti sutradara, produser atau sisi bintang filmnya, karena saya lebih tertarik langsung membahas mengenai alur ceritanya.

Intinya saya kecewa berat, karena film ini jauh sama sekali berbeda dibanding versi komiknya. Asal diketahui saja, film ini harusnya diambil dari cerita komik Marvel Thor The God of Thunder issue 1 -11

Oke, yuk bahas dulu cerita versi film. Peringatan, konten ini mengandung spoiler. Lanjutkan jika Anda sudah mengerti.

Thor Odinson sudah berubah. Dia bukan lagi sosok yang tempramental. Hidupnyapun seperti pertapa yang mencari kesunyian dan baru bergerak jika ada yang meminta bantuan. Suatu saat ia pergi ke suatu tempat yang sedang kacau untuk membantu seorang kenalannya yang sedang di serang musuh.

Dari tempat itu, Thor akhirnya tahu bahwa ada sosok yang sedang membanti para dewa. Perlu diketahui bahwa dewa di dunia Marvel ini ada di setiap bangsa dan planet. Mereka punya tanggung jawab untuk mengurus umatnya masing-masing.

Tetapi siapakah yang membantai para dewa tersebut? Ia bernama Gorr yang punya senjata yang sangat mengerikan bernama pedang Necrosword. 

Sang Gorr sangat membenci dewa karena mereka tidak mempedulikan nasib keluarganya hingga anaknya yang bernama Love meninggal.

Pada akhirnya Gorr menyerang bumi dan menculik anak-anak, termasuk Astrid, seorang pengungsi dari Asgard.

Thor, bersama Raja Valkyrie yang bergender wanita, Korg si manusia batu serta Jane Foster sang Mighty Thor bergerak.

Sadar mereka tidak mampu mengalahkan Gorr, maka mereka meminta bantuan dewan para dewa yang dipimpin Zeus.

Ternyata Zeus tidak mau ikut campur dan bahkan mempermalukan Thor. Akhirnya dua dewa petir dari mitologi yang berbeda ini bertarung. Seperti diketahui, Thor adalah dewa Viking, sedang Zeus adalah ketua pantheon utama Yunani.

Zeus akhirnya mati dan Thor bersama teman-temannya berhasil membawa Thunderbolt, senjata petir milik Zeus.

Kelompok Thor akhirnya berhasil mengejar Gorr yang berusaha mencapai Eternity. Meski mampu mengalahkan Gorr, tetapi pada akhirnya si pembantai dewa ini mampu mencapai Eternity dan meminta agar Love, anaknya dikembalikan.

Pada akhirnya semua bahagia: Thor memelihara Love dan mendapatkan kembali visi hidupnya, anak-anak yang diculik berhasil dibebaskan, serta Gorr akhirnya mati. 

Poster film Thor: Love and Thunder
Poster film Thor: Love and Thunder

Itulah cerita versi film yang disutradarai oleh Taika Waititi. Ada banyak hal yang membuat saya pribadi tidak puas. Bahkan menurut saya, film ini jauh lebih rendah kualitasnya dari End Game.

Kisah Gorr The God Butcher versi Komik

Saya menikmati betul cerita Gorr The God Butcher versi komik. Selain penuh plot twist juga kaya konflik yang bisa dikatakan menyentuh dimensi ideologis, filsafat hingga kemanusiaan.

Ingin tahu sekilas cerita dari Gorr si pembantai dewa versi komik. Begini ceritanya...

Gorr dikecewakan oleh dewa di planetnya. Keluarganya punah dan dia hidup menderita. Suatu saat ia melihat dua entinitas kuat saling bertarung, yakni Knull dan seorang dewa berzirah emas. Alih-alih membantu sang dewa, Gorr dengan bantuan All-Black dan Necrosword, elemen milik Knull, ia membunuh sang dewa.

Dari situ ia membantai para dewa dari berbagai galaksi dan planet. Ini akhirnya mengundang Thor untuk turun tangan. Tapi Gorr sangat over-power di sini. 

Singkat cerita, diperlukan tiga orang Thor untuk menghancurkan Gorr, yakni Thor masa lalu, Thor masa depan dan Thor masa kini.

Kontroversial dan Kurang Menarik

Memang pada umumnya versi asli jauh lebih baik dari versi adaptasi. Tetapi ini jauhnya keterlaluan.

Inilah poin-poin yang ingin saya sampaikan: 

  1. Konflik pada film ini terlalu dangkal dan jauh dari dimensi ideologis-filsafat-kemanusiaan yang ditampilkan dengan apik di versi komik.
  2. Terlalu memaksakan alur, dengan menampilkan pertarungan antara Thor vs Zeus.
  3. Berusaha berkompromi dengan fenomena WOKE dalam hal memaksakan adanya unsur keragaman gender, seperti Raja Valkyrie yang terindikasi LGBT. Juga latar keluarga Korg serta mungkin adanya Astrid yang berubah menjadi Axl. 

Lantas bagaimana pendapat Anda. Setuju dengan opini saya, atau sebaliknya, jauh lebih baik versi filmnya daripada aslinya?

Gorr, Vilain Pengusung Visi Atheisme

Saya melihat Gorr mewakili pengusung realisme yang mempertanyakan keberadaan entinitas ghaib yang terlalu dikultuskan padahal keadaan tidak berubah meski masyarakat sudah dalam waktu lama hidup relijius. 

Apa yang Gorr (dalam versi komik) tampilkan melalui perlawanannya pada paham kultus dewa, seperti semangat kebangkitan humanisme melawan doktrin teistik. Ini dekat dengan semangat ateisme mapun agnostikme.  

Semangat kekiri-kirian yang kemudian berkembang menjadi semangat anti-dewa ini bisa jadi refleksi seperti yang ada di dunia nyata, yakni mengapa kemudian orang memilih menjadi atheis, yakni karena muak atas kesengsaraan absolut yang terus melanda sementara lingkungan semakin relijius buta. 

Ketika Gorr bahkan berhadapan dengan Thor, ternyata ia masih terlalu hebat. Bahkan di film, Thor harus dibantu Mighty Thor dan Valkyrie. Sedang di komik, harus ada 3 Thor. 

Meski begitu, ada satu kritik yang selalu saya sampaikan terkait karkter-karakter dari Marvel ini, yakni terlalu mudah mencuplik karakter dari tradisi-tradisi populer yang sudah ada untuk kemudian dijadikan superhero maupun villain. 

Harus diketahui, Thor, Odin dan Loki dalam agama bangsa Viking adalah makhluk sakral. Tetapi dalam Marvel Universe, mereka semua turun level menjadi superhero. 

Karakter pop-culture dari Marvel terbilang asal comot dan merendahkan sosok-sosok yang sebenarnya pada suatu waktu adalah entinitas suci. 

Misal, dalam Akhenaten di komik Marvel Universe: The End #1 - #4, muncul kisah Amenhotep, Tutankhaten dan Atenisme. Apakah itu karya kreatif Marvel? Tidak sepenuhnya, karena itu diambil dari mitologi Mesir plus kisah Tutankhamun

Jadi, budaya-budaya populer di seluruh dunia, diambil dan dikapitalisasi oleh Marvel untuk membuat universe-nya agar mampu lebih menarik dan diterima oleh masyarakat. Bukan hanya mitologi Eropa dan Agama Mesir Kuno, sebenarnya Marvel juga mengambil tokoh-tokoh dari Hinduisme, Buddhisme, dll. 

Kesimpulannya, saya cukup kecewa dengan edisi Marvel kali ini meski dalam grafis dan momen baku-hantam antar karakternya memang sangat menarik. Namun jika dibanding versi lainnya, misal dalam film Doctor Strange in the Multiverse of Madness, Thor: Love and Thunder ini tidak lebih baik. 

Adi
Adi Saya adalah seorang bloger yang sudah mulai mengelola blog sejak 2010. Sebagai seorang rider, saya tertarik dengan dunia otomotif, selain juga keuangan, investasi dan start-up. Selain itu saya juga pernah menulis untuk media, khususnya topik lifestyle, esai lepas, current issue dan lainnya. Blog ini terbuka untuk content placement, sewa banner atau kerja sama lain yang saling menguntungkan.

Posting Komentar untuk "Thor: Love and Thunder, Mengecewakan dan Penuh Kontroversi?"