Alasan Kenapa Seseorang Menjadi Ateis

Bukan merupakan sebuah hal yang mengagetkan ketika Pew Research mengemukakan hasil temuannya mengenai peningkatan jumlah penganut ateis di seluruh dunia.

alasan seseorang menjadi ateis - catatan adi
Alasan Kenapa Seseorang Menjadi Ateis


Hal yang demikian sebenarnya sudah lama terlihat jauh sebelum era teknologi digital dan revolusi industri 4.0 datang. Dalam rilisan terbaru tahun 2019, banyak lembaga dan organisasi survey menyebutkan bahwa jumlah ateis barada di kisaran 15% - 20% dari total populasi manusia di seluruh dunia.

Peningkatan Jumlah Ateis Secara Global

Tren pertumbuhan ateis bisa terlihat melalui cuplikan grafik berikut yang diambil dari npr.org berdasarkan riset dan survey mendalam dari Gallup Poll. 

Data kenaikan jumlah penganut ateis - catatanadi.com
Grafik peningkatan non-religius 1950-2010 oleh Gallup Polling Institute 
Dari grafik tersebut terlihat bahwasanya hanya dalam kurun waktu 60 tahun saja, jumlah penduduk Amerika Serikat yang tidak terafiliasi dengan agama dan kepercayaan manapun meningkat sebanyak 14% dari hanya 2% di tahun 1950 menjadi 16% di tahun 2010.

Survey terkini yang dilakukan Gallup International dan WIN kepada responden di 65 negara menyebutkan angka yang sangat fantastis dimana ternyata 22% menyatakan diri tidak terafiliasi dengan aliran kepercayaan apapun.

Khusus untuk Eropa, data dari Eurostat Eurobarometer tahun 2014 mengungkapkan dari semua negara anggota Uni Eropa. hanya 56% yang percaya bahwa adanya Tuhan, sedang 26% lainnya merasa mungkin ada kekuataan supranatural yang eksis di luar manusia.

Lebih spesifik lagi, data tahun 2012 menyebutkan 23% orang Eropa tidak bergabung dengan aliran agama apapun. Golongan ini dikenal sebagai unaffiliated dan ini jauh lebih besar dari pemeluk Islam di Eropa yang jumlahnya adalah 3%.

Lebih jauh lagi, sosilog terkemua Phill Zuckerman menyatakan bahwa jumlah mereka yang tidak percaya Tuhan di seluruh dunia berada di kisaran 500 juta hingga 750 juta orang, dengan Rusia dan Cina menjadi penyumbang terbesarnya.

Tidak Beragama Belum Tentu Atheis

Walau begitu penting sekali untuk memahami bahwa ada perbedaan yang cukup jelas antara tidak menganut suatu agama dengan tidak mempercayai adanya Tuhan.

Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat infografs yang cukup menarik di bawah ini dimana dikatakan bahwa jika hanya ada 100 orang di dunia, maka 33 orang dari mereka adalah Kristen, 22 orang Muslim, 14 penganut Hindu dan 12 tidak beragama.

Data penganut agama di dunia - catatanadi.com
12 dari 100 orang di dunia memilih tidak beragama

Ini menarik dimana ternyata mereka yang tidak beragama belum tentu adalah Atheis. Mengapa bisa demikian. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena pada dasarnya ada pandangan lain yang berada di tengah antara memeluk agama dan tidak percaya Tuhan. Pandangan tersebut antara lain adalah Agnostikme, Deisme, Panteisme dan Naturalisme.

Secara umum ada banyak sekali agama dan kepercayaan di dunia ini selain kelompok arus utama yang biasa dikenal seperti Kristen, Islam, Hindu maupun Buddha. Agama 'minor' tersebut ada yang hanya dipeluk oleh masyarakat di wilayah tertentu namun ada punya yang penganutnya sudah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Beberapa minor religion yang ada seperti Yahudi. Zoroastrian, Shinto, Bahai, Pelbegu, Taoisme, Sunda Wiwitan, Yazidi, Kaharingan, dll.

Atheisme adalah paham yang meyakini bahwa tidak ada Tuhan ataupun entinitas sejenisnya. Penganut Ateisme disebut ateis dan pastilah tidak sudi untuk memeluk agama atau bergabung dengan aliran kepercayaan apapun.

Sedang Agnostikme adalah paham yang menyebutkan bahwasanya sangat tidak mungkin bagi manusia untuk tahu sepenuhnya bahwa Tuhan itu ada ataupun tidak. Jadi seorang agnostik tidak peduli ataupun tidak bersikeras untuk berdebat apakah Tuhan itu ada atau tidak. Karena definisi yang demikian, tentu saja para agnostik tidak mengikat diri pada agama atau pandangan iman tertentu.

Bertentangan dengan Ateis maupun Agnostik, para penganut Deisme berpendapat Tuhan atau kekuataan supranatural yang maha kuasa itu ada, namun tidak memberi pengaruh apapun pada kehidupan manusia dan alam semesta. Mereka tentu saja tidak beragama.

Panteisme sendiri menyatakan bahwa alam semesta ini, dengan berbagai variasi perwujudannya, merupakan Tuhan. Mereka punya beragam cara untuk menyembah apa yang mereka percaya ataupun memilih untuk tidak melakukan ritual apapun.

Sedang Naturalisme lebih kompromistis. Mereka yang berpandangan naturalisme lebih mengutamakan norma, hukum sosial dan pengetahuan untuk memandu kehidupan. Sebagian diantaranya bisa termasuk ateis, sebagian lain mungkin agnostik,  deis maupun panteis. Apakah memungkinkan seorang naturalis juga memeluk suatu agama? Bisa jadi dan bahkan mungkin sekali ada kelompok tertentu yang menganggap naturalisme sebagai sebuah agama tersendiri.

Untuk lebih singkatnya, silahkan melihat grafik berikut. Di situ tertera sekali bahwasanya manusia terbagi menjadi dunia, yakni yang mengikat diri dengan agama dan mereka yang tidak terafiliasi dengan aliaran iman atau kepercayaan apapun.

perbandingan orang beragama dan tidak beragama - catatan adi
Beragama dan Tidak Beragama

Infografis diatas tidak disusun berdasarkan kuantitas atau jumlah pemeluk namun lebih menunjukkan dua kutub pandangan, yakni mereka yang menganut agama dengan yang tidak alias believer dan non-believer.

Apakah semua yang tidak beragama adalah ateis? Ternyata tidak.

data ateis, agnostik. panteis. deis dan naturalis- catatan adi
Tidak beragama belum tentu ateis.

Alasan Mengapa Seseorang Menjadi Ateis

Ada korelasi yang cukup kental dan erat antara alasan seseorang menganut ateis dengan kenaikan jumlah penganut ateisme di seluruh dunia. Dalam hal ini, Catatan Adi akan memberikan pandangan mengenai isu tersebut.

Ada 9 alasan mengapa seseorang menjadi ateis dan akhirnya mempengaruhi kenaikan jumlah orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan.

1. Kecewa Pada Agama

Banyak orang akhirnya mengaku ateis setelah mereka kecewa pada agama. Mereka mengangap agama hanyalah produk omong kosong belaka yang dijadikan alat oleh sekelompok orang atau kelas tertentu untuk kepentingan semata.

Kekecewaan kepada agama juga bisa terjadi ketika menyaksikan bagaimana orang-orang yang disebut pemuka agama ternyata justru terjerat korupsi, percabulan dan memanipulasi ajaran yang mereka sendiri khotbahkan pada orang lain dan bahkan menjadi seorang motivator hanya demi tujuan uang dan kekayaan. Uniknya, para pemuka ini masih saja disanjung-sanjung ketika melakukan aksi berkelit.

Agama hanya dijadikan alat untuk mendapatkan kursi politik, baik itu presiden, raja, gubernur, ataupun walikota. Mereka memobilisasi masa dengan isu perbedaan keyakinan dan membela Tuhan, alih-alih dengan seruan untuk membangun kesadaran ataupun retorika yang mencerdaskan.

Agama juga dipandang sebagai sebuah pemaksaan daripada pembebasan dan sama sekali tidak menghasilkan kebaikan apapun. Institusi agama juga dianggap gagal menjalankan fungsinya dan justru melakukan hal yang sebaliknya.

Dalam sejarah memang banyak sekali perang dan pertumpahan darah yang diakibatkan oleh persoalan agama, baik perbedaan keyakinan maupun semata-mata perebutan kekuasaan namun dipoles sedemikian rupa dengan ayat-ayat suci.

Kekecewaan inilah yang akhirnya membuat banyak orang berbondong-bondong keluar dari agama, baik dengan menjadi ateis ataupun agnostik. Ini sesuai dengan apa yang dituliskan Jalaluddin Rakhmat dalam Agama dan Kekerasan yang sampai pada konklusi bahwa kekerasan di dalam praktik keagamaan justru akan menjauhkan orang dari iman yang telah mereka percayai.

Hal senada juga diungkapkan oleh seorang wanita yang juga publik figur penting dalam satu dekade ini, yakni Ayaan Hirsi Ali yang dengan terang-terangan bahkan mengkritik Islam. Ia adalah wanita mantan Muslim yang juga putri seorang Hirsi Magan Isse, intelektual dan politikus tersohor dari Somalia.

Sejak peristiwa teror 11 September atas World Trade Centre di Amerika Serikat, ia mulai mempertanyakan agamanya dan kemudian menjadi seorang ateis. Dirinya hanyalah satu dari sekian banyak contoh orang yang akhirnya memilih menjadi ateis karena kecewa pada agamanya.

2. Tradisi 

Tahukah Anda bahwa ada sebuah fakta unik dimana sebenarnya Ateis bisa dianggap sebagai agama tersendiri, yakni agama yang tidak percaya adanya Tuhan? Mengapa demikian.

Seperti dilansir dari The Conversation, ternyata orang bisa menjadi ateis karena mereka dibesarkan di lingkungan keluarga yang juga ateis.

Jadi ini bukan lagi soal kepercayaan internal atau pencarian jatidiri, namun lebih pada tradisi turun temurun yang diturunkan dari satu generasi kepada generasi yang lebih muda.

Orang menjadi ateis bukan karena mendialektika-kan ajaran iman ataupun kitab suci dengan sains, tetapi ketika mereka melihat bagaimana ayah atau ibunya juga tidak percaya Tuhan.

Kondisi yang mirip juga terjadi, dimana seseorang akhirnya tidak mempercayai Tuhan karena orang tua mereka tidak mengajarkan hal tersebut.

Di Indonesia hal di atas mungkin bukan merupakan sebuah kewajaran, tetapi di negara yang kini memiliki kultur kebebasan yang kuat, dimana agnostikme, deisme, maupun non-teisme juga diakui secara legal, tradisi tidak mengajarkan iman pada Tuhan merupakan sesuatu yang lumrah.

Jadi pada kasus ini, ateisme berkembang karena memang telah melembaga sama seperti dua orang ayah dan ibu Kristen yang mengajarkan tentang Yesus adalah Tuhan pada anak-anak mereka.

Di negara atau masyarakat tertentu, ateisme akan berkembang semakin luas karena selain generasi non-teis juga semakin banyak, pemerintah menjalankan kebijakan sekuler yang bersifat netral terhadap agama, antara lain melarang atribut keagamaan di dunia pendidikan, tidak memberikan hari libur pada momen keagamaan hingga dukungan dana yang semakin sedikit pada upaya pengenalan agama kepada non-believer. 

3. Kontradiksi Antara Agama dan Sains

galileo melawan gereja katolik - catatan adi
Galileo Galilei Vs Gereja Katolik

Kasus ketiga ini nampaknya juga akan semakin sering terjadi dimana ternyata banyak orang melihat melalui persepsi pribadi mereka bahwa Sains sangat bertolak belakang dengan agama. Ini jugalah salah satu alasan membuat orang menjadi ateis.

Alhasil pandangan ini menghasilkan suatu konklusi bahwasanya agama pada dasarna adalah sesuatu yang kuno, usang dan tidak sejalan dengan kemajuan zaman yang ditandai dengan berbagai penemuan mengagumkan di bidang teknologi.

Pertentangan antara agama dan sains semakin terasa ketika kita melihat beberapa kasus yang nyata-nyata memang sangat tidak ilmiah. Contohnya adalah peristiwa gerhana bulan.

Di dalam budaya dan kepercayaan tertentu, bulan menjadi gelap karena ditelan oleh sesuatu, bisa raksasa, monster, kekuatan jahat ataupun lainnya. Untuk mencegah hal itu terus terjadi, maka ajaran tertentu mewajibkan para pengikutnya melaksanakan ritual dan sembhayang agar bulan bisa kembali.

Hal ini terasa sangat janggal ketika ilmu pengetahuan membuktikan dengan sangat nyata bahwa itu semua peristiwa alam biasa dan rutin terjadi, tanpa campur tangan iblis, setan, kekuataan jahat ataupun semacamnya. Contoh ini adalah satu dari sekian banyak peristiwa lain sejenis yang membuktikan bahwa agama dalam pandangan orang tertentu adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Karena tidak masuk akal alias tidak ilmiah, maka sudah sepantasnya hal itu ditinggalkan. Sebagai opsinya, mereka akan memilih menjadi ateis, agnostik maupun deis.

4. Pragmatisme

Apakah agama membuat hidup menjadi lebih nyaman dan tenteram? Sebagian menjawab iya, namun bagi para ateis, salah satu hal dimana membuat mereka tidak mau terafiliasi pada kepercayaan tertentu adalah perkara satu hal : keruwetan dan birokrasi dalam tubuh agama.

Ritual-ritual rutin yang wajib dilakukan ternyata membuat manusia modern bukan hanya kesulitan mengikutinya, namun juga terganggu. Simbol dan aksi-aksi yang mempertontonkan iman secara massal juga dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan bukan lagi personal melainkan sudah seperti sebuah rutinitas. Alhasil mereka memilih untuk menjadi non-believer agar tidak perlu melakukan hal tersebut.

Keengganan untuk melakukan ritual dari kepercayaan yang mereka anut sebelumnya juga memainkan peran penting dalam keputusan menjadi seorang unaffiliated, yakni ingin menjalani hidup secara lebih simpel tanpa perlu ikut aturan-aturan yang ribet dan belum tentu mereka pahami.

Memang jika dilihat lebih jauh, ritual yang ada di banyak kepercayaan telah tercampur dengan budaya, tradisi dan bahkan aturan dari kelompok tertentu sehingga terasa sangat banyak, ruwet, ribet dan memberatkan. Hal ini membuat religiousitas menjadi sangat sulit untuk diikuti.

5. Tidak Mengenal Tuhan

Buddha agama tanpa Tuhan? - catatan adi
Apakah Buddha agama non-teistik?

Bagaimana jika sedari kecil Anda tidak pernah diperkenalkan pada tokoh yang disebut nabi, rasul maupun orang suci? Atau tidak punya ingatan sama sekali perihal sesuatu yang disebut Tuhan? Tentu Anda akan tumbuh menjadi seorang ateis.

Hal inilah yang kini banyak berkembang dimana ternyata ada banyak keluarga yang membesarkan anak-anaknya tanpa perasaan untuk berkewajiban mengenalkan sosok Tuhan dalam diri mereka.

Apakah mereka akan tumbuh sebagai seorang berandal dan sosok yang jahat? Belum tentu. Norma, nilai dan hukum yang berlaku di negara-negara tertentu sudah cukup kuat untuk membuat seseorang menjadi warga negara yang baik tanpa perlu mengenal Tuhan.

Dalam sebuah artikel berjudul Religion Without God yang diterbitkan oleh kanal online Lionsroar.com, Buddha disebut sebagai sebuah agama unik yang tidak menekankan eksistensi Tuhan seperti kepercayaan yang lain, Katolik misalnya.

Seperti yang disebutkan di artikel tersebut, banyak yang mengangap bahwa agama Buddha bukanlah sistem kepercayaan yang memiliki Tuhan, melainkan sebuah non-theistic religion yang sangat cocok dengan kehidupan modern. Ternyata tidak sedikit orang yang berpandangan hal yang sama, di luar bahwa perdebatan apakah memang benar Buddha tidak mengajarkan Tuhan yang personal benar atau tidak.

Apa implikasinya? Tentu generasi muda yang tidak diperkenalkan pada Tuhan yang personal tidak akan mempercayai adanya sosok tersebut dengan mudah meski orang-orang di sekelilingnya melakukan dan mempercayai adanya hal tersebut.

6. Tidak Mendapat Ketenangan

Inilah selanjutnya alasan menjadi ateis. Ada orang yang menjadi tenang ketika melakukan sholat tahajud, berpuasa, meditasi di kuil ataupun melakukan derma. Namun justru sebaliknya, adapula insan yang menjadi tidak nyaman karena selama ini mereka terpaksa berbohong, yakni percaya pada sesuatu yang tidak mereka percayai.

Mereka inilah yang kemudian menjadi ateis karena justru merasa aman dan nyaman dengan pandangan yang tidak mempercayai Tuhan serta menolak semua ritual dan aktivitas spiritual. Seperti tulisan mengejutkan dari Pew Research mengenai 10 Hal Tentang Ateis, para non-believer ini lebih memaknai keluarga, karir dan hobi sebagai tujuan dan inti dari kehidupan, alih-alih aktivitas keagamaan.

Artikel dari IDNTimes mengatakan bahwa ternyata jumlah orang Islam yang menjadi ateis di Amerika jauh lebih besar daripada orang dari agama lain. Mayoritas mereka berasal dari Iran yang dikenal sangat ketat dalam menjalankan ajaran Islam Syiah secara fundamental.

7. Politik

Mao Ze Dong, pemimpin Partai Komunis Cina - catatan adi
Poster Mao, pemimpin Partai Komunis Cina

Pada dasarnya komunisme bukanlah paham yang anti-agama. Banyak sekali tokoh komunis yang juga beragama dan bahkan gerakan komunis di berbagai belahan bumi berafiliasi dengan ajaran agama, semisal munculnya teologi pembebasan.

Namun pada praktiknya, komunisme sering berbenturan dengan kepercayaan dan iman kepada hal-hal yang supranatural. Hal ini bisa dibuktikan dari semakin merosotnya kehidupan Kristen Ortodoks semasa komunis berkuasa di Uni Soviet dan fakta ini tidak bisa dibantah dengan retorika apapun juga.

Ketika Uni Soviet runtuh, kekuatan gereja akhirnya bangkit juga. Bahkan kita Vladimir Putin, Presiden Federasi Rusia nampaknya semakin gemar mempertontonkan imannya sebagai seorang Kristen, sesuatu yang membuat bangsa Rusia tidak malu mengakui diri sebagai pengikut Tuhan Yesus dan anggota Gereja Ortodox. 

Di tempat lain, Cina yang secara hukum masih menganut Komunisme tetap membatasi gerak dari para penganut kepercayaan, baik itu Buddha, Kristen, maupun aliran kepercayaan lokal. Para petinggi dan anggota dari PKC atau Partai Komunis Cina diwajibkan memeluk ateisme. Hal yang sama nampaknya juga terlihat dilakukan di Korea Utara di bawah kendali rejim Kim. Inilah alasan menjadi ateis, yakni karena faktor politik.

Di sinilah kita melihat bahwasanya politik dan ideologi bisa membuat seseorang menjadi seorang ateis. Kebijakan negara yang tidak mendukung perkembangan agama akhirnya membuat masyarakat juga tidak ragu untuk menolak keberadaan Tuhan.

8. Fase Kehidupan

Salah satu hal paling manusiawi dalam kehidupan seseorang adalah mencari jatidiri. Dalam proses itu terkadang seseorang pada akhirnya melepaskan sesuatu yang selama ini sudah mereka percayai untuk kemudian menggantinya dengan hal lain.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan kenaikan jumlah ateis, walau nampaknya bisa sangat sementara, yakni upaya untuk mencari jatidiri.

Dalam The Freethinker Blog dijelaskan bahwa ketidakpercayaan pada hakikat Tuhan adalah sebuah upaya membebaskan pikiran. Di sinilah sangat kental upaya untuk menemukan sesuatu dalam diri manusia, yakni dengan cara mempertanyakan hal yang selama ini mereka percaya itu ada.

Berbeda dengan faktor yang lainnya, faktor yang satu ini bisa saja justru mengubah seorang yang tadinya ateis menjadi teis. Sebagai contoh adalah Bill Hayden. Seperti dilansir dari Tempo, tadinya mantan Gubernur Jenderal Australia sekaligus tokoh utama Partai Buruh itu tidak percaya akan adanya Tuhan maupun semua peristiwa di kitab suci. Namun pada perkembangan berikutnya ia kini justru menjadi salah satu aktivis Kristen paling berpengaruh.

Selain dia juga ada banyak kasus orang yang menjadi ateis namun kembali percaya pada Tuhan, tetapi tidak melalui agama melainkan spiritualisme, seperti Harre Khrisna, Panteisme, maupun filsafat kuno.

9. Tidak Menyukai Agama

Apa lagi alasan menjadi ateis? Ada cukup banyak alasan mengapa orang tidak menyukai agama dan konsep tentang Tuhan. Bisa jadi karena trauma di masa lalu ataupun karena doktrin dari orang-orang di sekeliling mereka.

Alih-alih percaya kepada Tuhan, mereka justru menganggap keberadaan agama dan konsep mengenai Tuhan hanyalah sebagai batu sandungan bagi peradaban manusia sekaligus salah satu alasan terjadinya banyak hal buruk; perang antar-agama, penindasan, kekacaun, kemiskinn, manipulasi dan bahkan kebodohan.

Sudah menjadi kenyataan bahwa banyak pemuka dan tokoh agama menentang perilaku LGBT maupun aborsi. Barangkali hal ini mengusik pandangan beberapa orang yang pada akhirnya mereka berubah dari tidak mempercayai Tuhan menjadi ke posisi yang lebih jauh lagi, membenci konsep tentang Tuhan, agama, doktrin, surga dan negara, dll.

Untuk semua orang yang mengaku beragama, hal ini bisa jadi bahan instropeksi mendalam mengapa bisa sampai orang membenci Tuhan justru ketika peraturan dan ajaran dari 'kitab suci' dilakukan. Apakah pelaksanaan ajaran tersebut sudah sesuai dengan yang seharusnya atau hanyalah sebuah pemaksaan yang berujung pada kepentingan semata, semisal kesombongan dan keserakahan untuk mempertahankan ajarannya sendiri?

Kritik-kritik semacam ini dirasa perlu ketika di dunia nyata sudah terlihat bagaimana makin banyak hal buruk terjadi justru karena orang-orang merasa sedang menjalankan perintah agama. Bukan malah membuat orang lain menerima Tuhan dengan sukacita malah membuat mereka menjadi ateis.

Kesimpulan : Jumlah Ateis Akan Semakin Meningkat

Satu hal yang bisa kita simpulkan dari kondisi dunia dewasa ini : jumlah ateis akan meningkat, tidak hanya di Eropa, Amerika Utara dan Australia, bahkan juga di kawasan yang selama ini dianggap sangat konservatif dengan ajaran kepercayaan tertentu.

Apakah hal ini menggelisahkan Anda? Ingin marah dan emosi lalu mulai mencari kambing hitam? Silahkan, dan mungkin langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengambil cermin dan mulai melihat bayangan Anda sendiri.

0 Response to "Alasan Kenapa Seseorang Menjadi Ateis"

Post a Comment

Komentar Anda akan muncul setelah kami review.

Tulisan Menarik Lainnya

    Mau Kirim Artikel? Atau Tanya-Tanya? Boleh Kok

    Name

    Email *

    Message *

    Artikel Populer

    Artikel Terbaru

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel